Sebenarnya apa sih yang membuat seseorang memilih untuk menjadi perencana keuangan?

Penasaran dengan jawabannya?

Yuk simak artikel berikut ini, karena kita akan membahas pertanyaan-pertanyaan seputar perencana keuangan dengan salah satu financial planner di Finansialku.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Mengapa Menjadi Perencana Keuangan?

Hallo sobat Finansialku… kira-kira diantara sobat Finansialku, adakah yang ingin menjadi perencana keuangan?

Apakah kamu tahu, ternyata di bulan Oktober itu ada yang namanya World Financial Planning Day, atau Hari Perencana Keuangan Sedunia lho…

Nah, di podcast FinTalk episode 92 ini, saya akan ngobrol dengan salah seorang perencana keuangan baru di Finansialku, kita akan gali bersama mengapa dia mau menjadi seorang financial planner.

Dan seperti biasa, saya akan jawab salah satu curhat dari sobat Finansialku yang ada di tiket Aplikasi Finansialku.

Tetapi sebelum bahas lebih detail, sobat Finansialku juga dapat mengirimkan pertanyaan atau curhat keuangan melalui fitur Konsultasi Keuangan di Aplikasi Finansialku, dan jangan lupa memberi hashtag #curhatkeuangan.

 

Salah satu curhatan kali ini membahas,

“Hallo kak Melvin, kak saya sudah sempat beberapa kali nonton Ig Live dan YouTube Live Webinar Finansialku. Saya ingin curhat kak, sekarang ini saya adalah seorang fresh graduate dan apakah boleh saya langsung berinvestasi? Dan investasi apa yang cocok untuk pemula seperti saya?”

 

Jawaban Melvin

“Halo Pak Melvin, saya R dari Kota Surabaya, Saya baru pertama mendengar podcast bapak ketika berkendara di mobil. Saya mau curhat nih Pak, saya adalah seorang karyawan bank tapi saya merasa keuangan saya ini kok berantakan. Sekarang ini saya terlilit dengan pinjaman bank tempat saya bekerja, mulai dari kartu kreditnya, KTA dan KPR.

Saya bingung sebenarnya bagaimana cara mengatur keuangan yang baik, saya ingin lepas dari jeratan hutang dan menjadi manusia yang bebas. Saya capek kerja tiap bulan untuk bayar cicilan terus. Terima kasih ya Pak.”

 

Jawaban Melvin

#LetMeShareMyView

Hallo R, thank you ya udah curhat…

Aku tau kalau hidup, kerja, bangun pagi, pulang sore, kemudian untuk bayar cicilan ya benar-benar berat banget sih, dan teman-teman sorry nih aku gak bisa jelasin atau sebutin angka-angkanya tetapi yang bersangkutan sudah share semua data-datanya, income-nya dia dan utang-utangnya dia dan cukup fantastis.

Okey kak R, seorang yang bekerja di industri keuangan termasuk industri perbankan itu tidak menjamin keuangannya dia rapi. Hal ini adalah hal yang sangat wajar dan banyak banget orang-orang yang bekerja di industri keuangan tetapi terjerat utang.

Teman-teman saya rangkum ya beberapa saran yang saya buat khusus untuk R. R sudah saya berikan angka-angkanya di tiket Aplikasi Finansialku dengan lebih detail, tetapi di podcast ini aku jelasin secara garis besarnya aja buat teman-teman.

 

Pertama, stop dulu utang baru, karena tidak ada ceritanya gali lubang tutup lubang bisa menyelesaikan permasalahan. Yang ada, lubangnya itu makin banyak dan makin dalam.

 

Langkah ke dua, aku sarankan supaya kamu bisa nambah penghasilan sebesar dua sampai tiga juta rupiah perbulan. Melihat background pekerjaan dan kamu sudah cerita berapa lama pengalaman kerja, aku yakin angka itu masih bisa diusahakan meskipun tidak mudah, aku tahu.

Dan dari tambahan pemasukan tersebut, sebagian kamu masukin ke dana darurat dan sebagian untuk mempercepat pelunasan hutang, dalam case ini aku sarankan satu juta itu untuk tambah dana darurat dan sisanya untuk percepatan pelunasan pinjaman.

R kamu start dulu ya beresin kartu kredit yang nomor 3, yang sisa utangnya tinggal Rp 10 juta lagi. Kalau kamu lunasin itu ke hutang kartu kredit, itu cicilan Rp 600 ribu per bulan itu bisa dipake buat beresin utang lainnya. Dan selanjutnya kamu ikutin aja apa yang sudah aku saranin, aku udah urutin itu satu per satu plan-nya.

Beresin kartu kredit nomor 3 dulu, kemudian KTA satu, kartu kredit 1 dan kartu kredit 2, terakhir baru KPR kamu.

Ketika kamu sudah lunas tuh semua kartu kredit dan KTA, lakukan langsung yang namanya financial planning supaya kamu bisa kejar target untuk dana pendidikan anak kamu.

Jangan sampai anak kamu kesulitan biaya pendidikannya hanya karena orang tuanya terlilit utang konsumtif.

So sobat Finansialku jika kalian juga mengalami kegalauan mengenai keuangan, investasi, asuransi atau apa pun itu mengenai keuangan, langsung saja curhat ke podcastnya Finansialku ya…

Caranya GAMPANG bangeeet!!!

Kamu cukup perlu download Aplikasi Finansialku di Google Play Store buat pengguna Android ataupun melalui Apps Store buat kamu yang menggunakan iOS. Baru setelahnya, kamu langsung saja buka dan masuk ke menu yang namanua menu Konsultasi Keuangan, trus baru deh kamu bisa langsung curhat dengan perencana keuangan dari Finansialku.

Eits, jangan lupa juga buat ngasih hashtag #curhatkeuangan ya… karena dalam seharinya itu ada banyak tiket, kadang-kadang bisa belasan sampai 30-40 tiket, dan bahkan pernah juga sampai 50.

Nah itu sudah benar-benar kelabakan, so supaya saya tau kalau tiket kamu boleh dimasukin ke podcast, maka masukin hashtagnya #curhatkeuangan.

 

Download Aplikasi Finansialku Sekarang!!

Download Aplikasi Finansialku

 

Oh iya, teman-teman juga bisa mendapatkan informasi, motivasi dan inspirasi seputar keuangan lebih banyak lagi di akun Instagram @finansialku_com dan juga di akun Instagram pribadi saya @melvin_mumpuni, serta di program Melek Finansial Bersama Melvin Mumpuni di YouTube channel Finansialku.com yang tayang setiap hari rabu.

 

Belajar dari Pengalaman Financial Planner aka. Perencana Keuangan

Kali ini kita akan berdiskusi dengan Rizqi Syam, CFP, salah satu perencana keuangan di Finansialku.

Nah, penasaran kan dengan pengalamannya sebagai Financial Planner? Yuk simak diskusinya sampai selesai ya…

 

Menjadi Certified Financial Planner (CFP)

“Bagaimana nih rasanya sudah selesai ujian dan sudah menjadi seorang CFP?”

Kata Rizqi,

Tentunya happy banget, dan semoga bisa memberikan yang terbaik bagi klien dan partner yang ada di Finansialku.

 

“Kenapa sih kok kamu akhirnya memutuskan dan yakin gitu untuk menjadi seorang financial planner?”

Cerita Rizqi,

Awal mulanya bekerjanya aku itu sebenarnya sebagai professional di bidang fotografer dan desainer, nah kerja dari kuliah semester 4 aku udah mulai tuh dapat job jasa freelance fotografer, editor desainer dan sebagainya.

Aku belajar cari duit tapi ada sebuah masalah besar yang aku yakin semua orang juga alami, yaitu sulitnya mengatur keuangan.

Kalau buat aku pribadi ya, urusan cari uang sih aku percaya gak usah yang namanya dimotivasi karena kalau misalnya orang sehat, mereka pasti akan cari cara bagaimana caranya untuk mendapatkan uang.

Tapi problem-nya banyak orang yang ekonominya gak level up atau bertumbuh dan mereka gak bisa berubah untuk menjadi lebih baik karena gak tahu bagaimana caranya mengalokasikan uang yang sudah miliki.

Aku kerja di kreatif industri dari tahun 2015 sampai tahun 2018. Sebagai freelancer kerja aku juga gak nentu, tergantung sama yang namanya project tetapi sekalinya dapat, mungkin kerja cuma dua hari itu bayarannya udah kayak gaji seorang fresh graduate.

Tetapi problem-nya selama kerja tiga tahun itu, tabunganku tuh kosong. Lalu aku tuh coba berpikir “sebenarnya kerja itu cari apa sih?”

Rasanya lelah banget, sudah kerja letih, apalagi sebagai fotografer kalau kerja sebagai dokumenter itu bisa kerja selama 6 jam dalam sehari di mana seharian aku pegang kamera dengan lensa tele yang gede banget, yang kadang buat leher sakit besoknya.

Aku merasa ada yang salah nih dengan diri aku sendiri.

Pegetahuan aku mengenai keuangan di keluarga juga bukanlah hal yang umum untuk dibicarain di meja makan, mungkin banyak juga teman-teman yang relate sama aku kalau ngomongin hal ini.

Jadi dari rumah sendiri gak ada edukasi untuk yang namanya ngatur keuangan, yang namanya selalu diingatkan sama papa mama aku adalah nabung, nabung dan nabung.

Tetapi tidak dikasih tau tujuan menabungnya itu untuk apa, instrumen tabungannya itu apa, dan gak mungkin tau dengan yang namanya platform investasi, yang aku tahu saat itu cuma deposito saja karena setau aku juga orang tua aku cuma nabung deposito dan emas.

Jadi cuma disuruh “ayo qi nabung, nabung, nabung” dan di sekolah juga kan kita tidak diajari sama yang namanya mengelola duit, dan teman-teman yang juga kuliah di bidang akuntan juga mungkin diajar financial planning tetapi tidak sedalam itu, mereka ujung-ujungnya juga kewalahan, dan ini case-nya releate sama teman-teman aku.

Setelah lulus, selang beberapa bulan kemudian aku ketemu dengan temenku yang berprofesi sebagai agen asuransi, dan aku harus makasih banyak sama dia juga karena dia yang membukakan aku dengan semua pemikiranku sekarang di bidang keuangan. Awalnya aku kenal produk keuangan adalah asuransi.

Kita ngomongin keamanan keuangan nih, akhirnya aku belajar sama beliau gimana sih caranya asuransi dan industrinya selama dua tahun lebih dan ini sangat-sangat membukakan mata dan pikiranku dalam financial planning khususnya.

Finansialku Podcast Eps 92 - Mengapa Menjadi Perencana Keuangan_ Belajar Dari Pengalaman CFP 01

[Baca Juga: Finansialku Podcast Eps 78 – Rumah Dulu Atau Nikah Dulu – Strategi Menyiapkan Properti Pertama]

 

Punya banyak klien, ketemu banyak kasus dan sebagainya aku berfikir sebagai financial advisor sebenarnya kita gak bisa bantu banyak, kalau klien gak mau produknya kita bawain, kita gak akan over produk yang lain. Bahayanya adalah kalau kita tau ada produk yang sebenarnya pas untuk klien yang saya temuin itu.

Jadinya malah perang batin, ini mikirin antara uang atau kebaikan. Dan aku tidak berkata produk atau perusahaan yang ada pada saat itu kurang bagus ya, tetapi menurut kasus di lapangan itu ya emang ga bisa semua klien itu cocok dengan satu produk yang sama.

Semua orang itu sebenarnya beda background, beda kasus dan beda juga obat yang dikasih. Kalau penyakitnya pilek, masa kita kasih obatnya obat DBD? Kan gak match gitu. Aku merasa kalau ngebantu dalam bidang asuransi aja juga, itu gak kompherensif, suatu waktu aku blind side (buta) mengenai kondisi klien.

Aku ngomongin diriku, tanpa menyinggung pihak mana pun, tanpa menyinggung perusahaan mana pun, aku merasakan perasaan yang menyenangkan ketika aku juga bisa membantu klien itu untuk mempersiapkan banyak hal.

Sebagai penasihat keuangan atau financial advisor, kekayaan kita adalah pembendaharaan kasus. Semakin banyak case yang di lapangan kita bawa, menurutku maka semakin kaya lah seorang financial planner itu.

Bukan hanya beberapa banyak klien yang kamu temui tetapi juga latar belakang dari klien-klien yang berbeda itu ganggu pemikiran saya sejujurnya. Aku berasal dari orang yang gak punya pemikiran apa pun mengenai financial planning dan sekarang banyak kasus di lapangan.

Dan belajar dari Finansialku juga, aku bisa warranty kalau ada yang menjadi klien kami, sebenarnya yang beruntung itu kalian. Di sini sebagai financial planner aku sekarang sudah berfikir seperti itu, jadi kalau ada klien yang datang kepada kita itu sebenarnya beruntung banget, bukannya kita mau jualan atau apa tetapi aku merasa seperti itu sekarang.

Karena ada sebuah perbedaan yang aku rasa ketika dulu menjadi advisor yang terikat dengan perusahaan dan sekarang menjadi planner yang independent. Perbedaannya apa?

We put our client first!

Ada yang mengharuskan kita membantu kamu para klien kita, bukan hanya mementingkan kebutuhan perusahaan doang, jadi benar-benar yang mau kita kasih adalah sebuah obat dan segala macam itu benar-benar untuk klien.

Kalau misal kita ketemu klien, dulu kan ketika aku menjadi financial advisor gitu ya kalau misalnya dia ngambil produkku ya aku gak dapat komisi, aku gak dapat bayaran, tetapi kalau misalnya disini kita justru dibayar dulu sebelum kita kasih advice. Dan kalau kita sudah dibayar duluan, kita benar-benar mementingkan kebutuhan klien, jadi rasanya tidak ada udang di balik batu.

Dan disini, aku merasa sebagai financial planner kita benar-benar ngajarin klien sebenarnya, kayak klien itu gak butuh kita selamanya tetapi misalnya aku punya klien sekarang kan di Finansialku dan klienku ini benar-benar tau detail mengenai asuransi misalnya, apa yang menjadi kebutuhan dia, gimana caranya mengetahui kebutuhannya dia, perbedaan produk A dengan B itu apa.

Klien jadinya sudah tercerdaskan, kalau ada yang over ke dia pun dia gak mesti hubungin aku pun dia mestinya sudah mengerti filternya dia kayak gimana.

Itu ngomongin asuransi, kalau kita ngomongin investasi, yang awalnya si klien ini gak ngerti mengenai deposito, reksa dana, saham, maka dengan cara seorang financial planner kita tuh membuat mereka itu menjadi mandiri sebenarnya.

Seperti kita menggunakan jasa seorang personal trainer aja, awalnya kita gak ngerasa ada yang berubah, kita gak gerti cara pakai alat angkat beban dan sebagainya, tetapi kalau kita menggunakan jasa personal trainer kan ketika kita tau kalau ternyata kita progresnya menjadi jauh lebih cepat.

Sama halnya dengan financial planner, dibandingkan kamu coba sendiri dan mencari cara sendiri yang sebenarnya tentu perbendaharaan kasus kamu mungkin tidak sebanyak kita-kita yang dilapangan dan kita yang bedah polis, kita yang bedah reksa dana, saham, ya pasti kita jauh lebih kompherensif dan kita bisa kasih reason yang jelas kenapa lebih baik membeli produk A dibandingkan yang B, kenapa yang ini lebih baik dan kenapa yang itu tidak, yang mana yang sesuai dengan tujuan dan segala macam.

Jadi ibaratkan sebuah mobil juga, kita kayak spion dan kita juga seperti speedometer-nya yang ngasih tau ke kamu bahwasanya “oh kalau kamu ngambil keputusan ini dalam keuangan, maka blind spot-nya kayak gini loh”.

Berbicara soal financial planner, hal yang paling aku suka juga adalah karena ketika datang itu kan klien sudah membawa data, sudah ngisi bagaimana kondisi keuangannya, pemasukannya berapa, utangnya berapa, cicilannya berapa, targetnya dan segala macam.

Jadi kita tuh benar-benar ngasih sebuah jawaban yang berdasarkan faktanya. Balik lagi, dulu aku mana tau klien aku tuh keuangannya bagaimana, gak bisa.

 

Kata Melvin juga,

Tidak semua orang itu cocok untuk menjadi seorang financial planner, salah satu yang dibutuhkan untuk menjadi financial planner adalah hati yang otentik untuk melayani, bukan seorang dengan hati yang mau pamer, yang mau kelihatan kaya, yang harus kaya dan berbeda, bukan!

Tetapi seorang financial planner adalah seorang yang mau dengan tulus melayani orang, karena kita belain klien dan bukan belain produk.

 

Kata Rizqi Syam,

Aku merasa menjadi financial planner itu lebih membantu sekarang, aku tidak berbicara tentang uang, aku berbicara tentang kebebasan dalam waktu.

Ketika klien mau membuat perencanaan atau membeli sebuah produk keuangan misalnya asuransi, investasi, dan permasalahan apa pun mengenai keuangan, ketika ketemu financial planner kita pasti akan bertanya kondisi keluarga dulu.

Terkadang banyak klien yang tidak tau sebetulnya kalau mereka diambang kebangkrutan atau sedang berjalan kesana sebenarnya, banyak juga kasus di lapangan seperti membeli produk keuangan yang mereka sendiri gak ngerti, ambil dari orang yang salah, kebanyakan bersantai ketika mereka mau pensiun, membebani anak dengan masalah keuangan.

Atau mungkin juga kita masih muda tidak membuat plan untuk orang tua yang lanjut usia, membeli produk asuransi yang salah atau bahkan gak punya sama sekali itu juga salah, tidak punya kemauan untuk berinvestasi dan sebagainya.

Aku harap kehadiran kita sebagai financial planner juga dapat membantu permasalahan keuangan klien kita, jadi kalian bisa lebih tenang menghadapi hidup.

Finansialku Podcast Eps 92 - Mengapa Menjadi Perencana Keuangan_ Belajar Dari Pengalaman CFP 02

[Baca Juga: Finansialku Podcast Eps 54 – Mau Sukses? Benerin Mindset Terlebih Dahulu]

 

Keuangan menurut aku menjadi masalah yang berat dalam hidup, dan sebenarnya kalau pembelajaran menganai keuangan ini diajarkan di sekolah maka sebenarnya kita tuh hidup jauh lebih tenang.

Seharusnya tenang kalau kita menjadi tau perencanaan keuangan kita, seperti misalnya beli emas dalam 10 tahun lagi, goals aku tuh kayak gini, nanti aku pas mau tua kayak gini.

Terkadangkan orang tuh gak mau aja berfikir masa depannya mau kayak gimana aja, nah itu kan sudah tugas kita untuk ngajak mereka diskusi dan mereka nanti maunya gimana.

Kalau misalkan mereka terbuka dengan kita, maka kita punya financial planner dalam bidang keluarga kalau ngomongin perencanaan keuangan bidang pendidikan.

Atau juga misalnya kita ada financial planner di bidang properti kalau kita mau beli rumah pertama, apakah mau beli sekarang atau mau nyewa itu bisa didiskusikan dengan beliau.

Menurut aku, kalau misalnya kita bertanya orang yang tepat dan mengedepankan kondisi kita dan diri kita, maka lebih mudah.

 

banner_cara_mengelola_keuangan_keluarga_dengan_tepat_dan_benar (1)

 

Awal Mengenal Financial Planner, dan Keputusan untuk Menjadi Financial Planner

“Qi, awalnya gimana tuh kamu tau profesi financial planner atau perencana keuangan dan sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi financial planner”

 

Jawaban Kak Rizqi,

Aku itu orang yang sangat-sangat percaya sama yang namanya data, katakanlah kita mau jalan-jalan naik kapal, kita sudah punya tujuan, tujuannya kita ingin ke Jakarta dari Lampung.

Tetapi kalau misalnya kapalnya ini miring satu derajat saja dan kita tidak tau, pasti akhirnya bukan ke Jakarta tetapi bisa saja berlabuh ke Kalimantan.

Cuma miring sedikit padahal tetapi menurut aku akibatnya itu fatal. Aku merasa kalau misalnya tujuan keuangan seseorang itu tidak jelas, buat aku pribadi dia itu sekarang kerja cuma untuk ngabisin waktu.

Banyak teman-teman aku yang bekerja itu aku tanya “kenapa lu kerja disini?” dan jawabannya “iya Qi soalnya aku nanti pingin menjadi direktur di perusahaan A, B, C”, aku tanya lagi “trus kenapa masih di KAP?” dan katanya “iya soalnya rata-rata orang kayak gitu”.

Mereka cuma ngikutin kata orang, tetapi mereka tidak pernah benar-benar mencari tau. Jadi, banyak orang kaum milenial zaman sekarang tuh kerja yang lompat-lompat kesana kemari, menurut aku itu cuma karena mereka tidak tau end game-nya itu mau ngapain, tujuan hidup itu mau ngapain.

Di industri ini aku melihat selain karena sebagai financial advisor dulu, aku ketemu beberapa financial tersertifikasi di luar, di US, dan jujur aku sangat-sangat tercerahkan, aku melihat mengatur keuangan itu ternyata tidak sekompleks yang dibayangkan oleh banyak orang.

Dan kalau kita lihat, di negara luar itu sertifikasi CFP ini khususnya sudah tidak asing lagi sama sekali, dan gak sembarangan untuk mendapat gelar CFP karena ada ujian dan kelasnya juga buat kita punya bekal ketika handle klien nanti.

Selain karena industri sebagai financial advisor dulu, aku juga ketemu sama beberapa financial planner di Indonesia dan jujur kalau di Indonesia sendiri pas aku tau financial planner itu apa, aku tuh denger podcast yang judulnya adalah CFP atau CFA yang dibawain sama Ko Melvin.

Aku harus berterima kasih sama Finansialku, Finansialku adalah yang pertama kali kenalin aku dengan industri ini di Indonesia, terutama dari podcast Pak Melvin sendiri, yang setia nemenin aku di Spotify.

Ketika podcast Spotify pertama kali booming dan kita mencari podcast tentang keuangan, ya yang pertama kali ada itu adalah Finansialku.

Dan dari dengerin pak Melvin di Spotify, aku juga akhirnya memutuskan untuk punya financial planner sendiri dan itu lah pertama kali aku ketemu sama Mbak Rista Zwestika.

Aku ketemu Mbak Rista Zwestika itu aku bawa keluarga, papa mama aku, dan itu pertemuan yang singkat yaitu cuma 2 jam tetapi itu merubah cara pandangku dan keluarga tentang keuangan.

Itu kayak kita benar-benar dijitak, benar-benar melek, dan aku merasa pas tau begitu perencanaannya sekomprehensif itu, dari sudut pandangku sendiri ini dari keuangan papa mama aku sebenarnya sangat-sangat bisa kita level up lagi nih, kita benar-benar bisa memaksimalkan uang yang masuk.

Dan akhirnya kita menjadi tau cashflow-nya kita itu bocornya dimana, uang itu larinya kemana, ya dan itu karena aku aku pakai itu dan coba ngobrol dengan financial planner.

Aku merasa sangat-sangat bersyukur karena ngomong sama keluarga itu susah, tetapi kalau ada financial planner yang menjembatani ya jadi pas ketemu dikasih pr buat papa, mama, aku, kakak dan suaminya.

Dan akhirnya ketika bertemu dengan Mbak Rista aku belajar yang namanya investasi, dan adikku sendiri yang sekarang meskipun masih kuliah akhirnya semangat untuk invest dan sekarang sudah kelihatan hasilnya, dan ternyata happiness itu dapat bukan hanya karena kamu membeli barang tetapi juga ketika melihat saldo kamu bertambah

 

“Qi pernah join di kelas aku yang ngobrolin tentang bagaimana caranya menjadi financial planner kan, kenapa waktu itu mau join?”

 

Alasan Rizqi,

Aku pribadi sebelum join di Finansialku itu aku masuk di kelas reksa dana, kelas saham, dan pas aku ngambil kelas yang CFP ini, yang aku suka dari Finansialku adalah pertama murah, kedua kelas dari Finansialku itu gak ada yang ditutup-tutupin sama sekali, betul-betul ingin berbagi.

 

banner -mengupas pentingnya dana darurat

 

Dreams Seorang Perencana Keuangan

Cerita Rizqy.

Dulu aku itu kan SMA di Kota Serang dan Kota Cilegon dan pas kuliah aku kuliah di Tanggerang, Jakarta. Dan di universitas ini orangnya benar-benar beda jauh, aku melihat gaya hidupnya berbeda, pemikirannya berbeda, dan aku melihat banyak banget teman-temanku yang di kampus saat itu mereka tidak ada yang namanya financial consent lagi orang tuanya.

Aku juga melihatnya jauh lebih relax gitu teman-teman aku yang ada di kuliah dulu, itu orang tua mereka yang sudah ngerti leterasi keuangan itu mereka sudah bisa mengambil yang namanya pensiun muda.

Mereka itu nyekolahin anak itu cuma dari hasil investasi, mereka benar-benar udah beres dengan keuangannya, dan mereka sudah gak pusing.

Sedangkan dulu aku tuh secara background keluarga bukan dari keluarga yang kaya raya, dan aku sangat-sangat mengkhawatirkan nanti bagaimana kalau papa mama aku pensiun, sedangkan ada juga loh keluarga yang pensiunnya gak khawatir, jadi anaknya itu tidak stress dan gak jadi generasi sandwich, padahal teman-teman aku yang SMP dan SMA itu juga banyak yang kasusnya menjadi generasi sandwich.

Aku melihat, seharusnya kalau literasi keuangan sudah merata, maka aku adalah orang yang setuju dengan pensiun dini dan menikmati hidup. Hidup tidak selalu tentang kerjaan.

 

Mau Jadi Spesialis di Bidang Apa?

 “Rizqi kan sekarang sudah menjadi seorang financial planner, certain dong nanti kira-kira mau jadi spesialis di bidang apa?”

 

Katanya Rizqi,

Aku berangkat dari kita itu Indonesia yang kaya banget, saking kayanya itu banyak banget bonusnya. Salah satu bonus yang aku lirik adalah kita itu dapat yang namanya bonus demografi, kalau kita ngomongin tentang bonus demografi ya kita ngomongin milenials yang sekarang itu banyak banget jumlah populasinya di Indonesia.

Milenials itu sangat banyak dan aku mau sebagai milenials kita itu berfikir masa depannya jauh ke depan, kita ngomongin tentang hari tua kita, kita mau mempunyai hari tua yang seperti apa, karena aku percaya kalau misalnya hari tua sudah kita pikirin dari sekarang maka hari ke hari kita itu ngarahnya kesana.

Udah tahu tujuannya mau kemana ya arahnya akan jelas, tetapi kalau kita tidak tau tujuannya mau kayak gimana, mau kayak apa, kita gak tau visualnya seperti apa, nanti kita akan takut untuk mikirinnya.

Suatu hari, dari kasus yang ditemui di lapangan, banyak orang yang seperti kerja untuk buang-buang waktu.

Mereka tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tetapi mereka tetap melakukan itu, walau itu tidak mengarah ke tujuan mereka.

Aku pingin tuh kita punya waktu kepada diri kita untuk duduk dan ngobrolin ke diri kita masing-masing, kita tanya mau apa sebenarnya, tujuan kita mau apa.

Kalau misalnya kamu masih mencari, ini tidak masalah, belajar dari pengalaman itu penting. Kayak aku, aku tuh belajar dari pengalaman, ini aku tau-tau bekerja sebagai desainer selama 3 tahun, lalu aku menjadi financial advisor itu 2 tahun, dan itu membentuk aku sekarang menjadi financial planner.

Yang penting kita harus pernah ngomong ke diri kita masing-masing tentang tujuan hidup kita itu mau apa. Kalau misalnya kalian gak punya tujuannya, kalian bingung, ya berarti kalian butuh orang yang bisa menuntun, salah satunya mungkin dengan menggunakan jasa financial planner.

Karena begini, kalau misalnya kalian cuma mau “aku pengen punya rumah, pengen punya mobil mewah” tetapi kamu tidak pernah hitung gimana itu caranya, biaya hidupnya berapa, pajaknya nanti berapa, ya itu cuma sekedar menjadi mimpi aja. Itu enak saja membayanginnya, tetapi kalau tidak punya datanya maka sebenarnya itu omong kosong, dan kasian waktu yang sudah kita buang.

Ya makanya aku percaya, dengan mikirin jangka panjang itu sangat-sangat berhubungan dengan financial planning, kita bisa benar-benar merencanakannya, dan itu lah gunanya kita sebagai financial planner, kita ngasih tau apa yang kalian gak tau karena kita sudah punya kasus di lapangan.

Kemudian aku pengen setiap orang punya waktunya, mereka itu ngasih deadlinenya masing-masing, aku tidak berkata pas pensiun di usia 65 tahun, 55 tahun atau mungkin 50 tahun, itu adalah usia yang salah untuk pensiun, tidak juga, karena kalau orang-orang yang usia segitu dan sekarang masih bekerja ya mungkin mereka enjoy dengan itu.

Tetapi alangkah lebih baiknya kalau sebenarnya kita bisa hidup dan juga bisa nikmatin waktunya, punya duitnya dan punya waktunya.

Itu kan yang sebenarnya semua orang inginkan, ada orang yang bekerja dan punya uang tetapi tidak punya waktu, ada orang yang punya waktu tetapi dia tidak punya duit, tetapi kita kan maunya kita bekerja untuk masa depan dan kita bisa nikmatin secepat-cepatnya.

Jadi kalau aku kadang gak begitu setuju dengan konsep “aku mau pensiun di usiaku 35 tahun, berarti aku harus punya akumulasi total kekayaan Rp20 miliar, dimasukin ke deposito dengan return 0.5% per bulan, dan aku dapat Rp100 juta”.

Aku gak pengen pemikiran kita nominalnya berapa, karena memang kalau seseorang membuat planning dan mereka tau apa yang mereka jalanin, aku yakin itu bisa tercapai, tetapi aku lebih percaya kalau kita itu bukan punya batasan usia, kita itu menanam tumbuhan.

Dan ketika kita nanam tumbuhan itu artinya kita investasi dan kita mikirin bahwa tumbuhan ini bakalan besar, akarnya merambat, rindang dan kita bisa duduk di bawahnya dengan nyaman.

Jadi teman-teman bisa pikirin kenyamanan teman-teman itu seperti apa, dan itu dalam waktu yang panjang kalau tumbuhannya kita siram, kita pupuk dan segala macam, maka investasi bukanlah hal yang sulit.

Seharusnya investasi justru menjadi hal yang kalian tunggu-tunggu setiap bulannya, karena kalian berfikir jangka panjangnya “aku pingin punya pohon yang besar, yang mana kalau aku dan keluarga ada di bawahnya, kita semua nyaman”.

Ini saya ngomongin target waktu itu supaya kita punya dead-line juga, kapan pohon ini mau kita singgahin.

Dan yang ketiga adalah dream about retainment more, karena banyak orang itu yang takut bermimpi, padahal mimpi itu kan gratis. “gue takut nih kalau pensiun usia segini, kalau nanti kayak gini, kayak gini, kayak gini, gue gak tau nih Qi apakah pensiun gue tuh pingin punya gaya hidup yang gimana, gue gak tau nanti sekolahin anak dimana, dan bla bla bla”.

Finansialku Podcast Eps 92 - Mengapa Menjadi Perencana Keuangan_ Belajar Dari Pengalaman CFP 03

[Baca Juga: Finansialku Podcast Eps 46 – Sandwich Generation, Ini Dia Salah Satu Strategi Keluar Dari Jebakan!]

 

Ya coba aja dulu pikirin, coba aja dulu untuk miliki sebuah mimpi, karena kalau kita memiliki sebuah mimpi ya kita punya sebuah tujuan, dan kalau kita punya sebuah tujuan maka apa yang kita gerakkan dari tubuh ini pasti ngarahnya kesana juga.

Jadi, mimpi mengenai hari tua itu penting!

Kalau kalian gak tau, coba tanya sama orang-orang yang sudah di level keuangan yang kamu suka, bagaimana mereka caranya mencapai level itu, tanya prosesnya.

Kalau kalian suka hasilnya, ya tanya prosesnya, kalau prosesnya kalian suka ya jalanin apa yang dia jalanin, fokusnya dia, hari-harinya dia segala macem.

Dan aku pikir kalau pemikiran untuk jangka panjang, ngomongin hari tua itu clear, kalian mau kerja apa pun di bidang kalian maka kalian akan menjadi masternya. Belajar mengenai keuangan, makin ke sini tuh aku belajar buat fresh graduate terutama atau pun yang tidak fresh graduate juga yang belum melek keuangan.

Hal yang paling penting yang harus kita pelajari itu ketika kita bekerja adalah ngomongin ekonominya, ekomoni secara global dimana keuangan dalam dunia itu berpengaruh dengan apa yang kita jalanin.

Kedua adalah mikirin industrinya, kita itu bekerja di industri apa, dari hulu ke hilirnya itu seperti apa, dan kita nantinya itu bisa melihat peluangnya itu seperti apa.

Yang terakhir adalah pelajari tentang uang, ikuti uangnya, kita juga dapat belajar banyak tentang bagaimana keputusan dibuat dengan mengikuti uang. Pahami siapa yang membayar gaji kita, bukan atasan kita tetapi pelanggan kita, dan bagaimana kita bisa berkontribusi dan menyukseskan mereka.

Aku tadi sempat singgung mengenai ekonomi, kenapa sih kita bekerja harus juga ngerti mengenai geo-ekonomi, geo politik?

Alasannya adalah karena dengan begitu kita juga bisa melihat ini industri yang kita masukin ini dalam beberapa tahun ke depan apakah bagus atau tidak.

Ketika aku memilih industri sebagai financial planner, aku tau ini marketnya gede banget, orang-orang Indonesia itu literasi keuangannya itu sangat minim, orang-orang yang mau pensiun itu cuma 3% orang Indonesia yang siap akan pensiun dan sisa mereka kerja lagi, mereka membuat generasi sandwich yang baru.

Kalau kalian setidaknya ngerti saja, belajar aja sedikit-sedikit, kalian bakalan jauh tenang seharusnya, hidup ini seharusnya menjadi lebih tenang karena kalian tau dimana posisinya kalian berada, kalian tau kalian aman atau tidak, jadi ngerti yang namanya ekonomi.

Ngomongin bisnis pun, kalau kalian diajak-ajak bisnis segala macam tetapi kalian tidak ngerti bagaimana flow keuangannya itu, ya banyak juga klien yang ketipu sana sini karena mereka gak ngerti bagaimana cara kerjanya ketika mereka mau berinvestasi disebuah tempat, gak ngerti perputaran uang itu seperti apa, mereka gak ngerti cara compeni itu bekerja, dan sebenarnya itu bukan hal yang berat kok.

Cuman pertanyaannya, kalian mau untuk belajar atau tidak, sesimpel Finansialku yang selalu ngebuat yang namanya kelas, dan kelas kita pun ya murah banget sebenarnya. Jadi di Finansialku itu sudah dirangkumin, kelasnya murah, dan kalau kalian gak mau ikut, ya ini benar-benar ketahuan apakah kalian mau berubah atau tidak.

Tapi kalau kalian misalnya memang mau berubah, ya ikutin aja bagaimana alurnya segala macam dan pilih perencana keuangan kamu yang paling tepat, dan ini mudah kok.

Sebenarnya hidup tidak sesusah itu, dan omonganku sebenarnya bukan kayak “segampang itu” tapi seharusnya we don’t have to worry to much.

 

Apa yang Sudah Kamu Siapkan Untuk Menghadapi Risiko?

Simak Video Playlist Berikut Ini! GRATIS!

Video Finansialku 6

 

Pesan dari Rizqi Syam, CFP

Di akhir podcast Eps 92 – Mengapa Menjadi Perencana Keuangan? Belajar Dari Pengalaman CFP, Rizqi Syam, CFP berpesan buat sobat Finansialku,

“Sekarang lagi kondisi pandemi, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, atau omset bisnisnya turun dan sebagainya, banyak banget masalah dalam keuangan dan yang terpenting adalah teman-teman wajib punya yang namanya perencanaan keuangan, teman-teman harusnya lebih tenang untuk menjalani hidup.

Aku percaya, ngobrolin tentang keuangan itu kebanyakan orang menjadi pusing, banyak orang yang menganggap remeh, orang yang nunda untuk ngomongin ini baik ke diri sendiri maupun ke pasangan.

Omongin keuangan harusnya tidak tabu sama sekali, omongin keuangan harusnya nenangin hari kita juga. Kalau punya perencanaan keuangan yang jelas dan kita merencanakan keuangan kita sendiri sejak sekarang, seharusnya mulai dari sekarang kita sudah bisa hidup jauh lebih tenang dan lebih bahagia kedepannya.”

 

Oke teman-teman, ini lah cerita dari salah satu perencana keuangan di Finansialku yang ternyata menjadi perencana keuangan karena mendengar podcastnya Finansialku.

 

Semoga pembahasan kali ini bisa berguna bagi teman-teman semua, dan akhir kata,

Make A Plan And Get Your Financial Dreams Come True!

 

Sumber Gambar:

  • 01 – http://bit.ly/3dAncSX
  • 02 – http://bit.ly/3um8pB5
  • 03 – http://bit.ly/3bqjyZ3

 

Finansialku Talk Podcast juga dapat kamu dengarkan di:

Logo Spotify