Cerita Ramadan:Kuatkan Hati, Berdiri Diatas Kaki Sendirimerupakan kisah hidup seorang bapak penjual kemoceng yang setiap harinya berjualan menyusuri jalanan Kota Bandung di tengah keterbatasan yang ia miliki.

 

Kuatkan Hati, Berdiri Diatas Kaki Sendiri

Cuaca Kota Bandung saat itu begitu terik, tidak terlalu ramai bahkan kendaraan hanya di dominasi angkutan kota dan beberapa mobil pribadi.

Agaknya menghadapi cuaca seperti ini di tengah bulan Ramadan membuat banyak orang enggan beraktivitas di luar rumah karena cukup menguras dahaga.

Namun kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Pak Abdurrahman, yang akrab disapa Pak Abdur untuk menjemput rezeki.

Meski dengan terpogoh, Pak Abdur menyusuri jalanan Kota Bandung sembari menggendong tas cukup besar yang hampir menutupi setengah badannya.

Berbekal topi lusuh dan sandal jepit, menjadi pelindung Pak Abdur dari teriknya matahari siang itu dan panasnya aspal jalanan.

Di tangannya, juga dikepal beberapa batang kemoceng, salah satu alat pembersih debu yang terdiri dari bulu-bulu dan terikat menjadi satu bagian.

Pak Abdur menjajakan kemoceng dengan penuh semangat meski langkahnya tak lagi sempurna.

Kondisi pria paruh baya yang berusia 64 tahun ini memang bukan bawaan lahir, tetapi akibat stroke yang diderita hingga salah satu kakinya terlihat membengkak dan membuatnya tidak dapat berjalan seperti sedia kala.

 

Meski dengan keterbatasan, Pak Abdur tak menyerah begitu saja. Setiap harinya berjualan kemoceng ke berbagai daerah di Kota Bandung, mengikuti langkah kaki yang diyakini sebagai jalan menjemput rezeki.

Harga kemocengnya berkisar Rp30.000 – Rp40.000. Mungkin harga tersebut cukup tinggi untuk sebuah kemoceng dari bulu ayam, tapi bukan karena Pak Abdur mencari keuntungan berlipat melainkan karena ia harus memberikan setoran kepada pemilik barangnya.

Kemoceng yang dijajakan Pak Abdur bukanlah miliknya, melainkan ia membantu menjualkan dari orang lain. Pak Abdur mengatakan:

“…berjualan seperti ini memang harus banyak sabar, tidak setiap hari orang yang beli kemoceng saya, sekalinya beli kadang nawar murah, pengen emosi tapi saya ingat harus sabar apalagi sekarang lagi bulan puasa.”

Rasa lelah dirasakan setiap harinya demi memperoleh keuntungan tidak seberapa, tetapi menjadi modal Pak Abdur memenuhi kehidupan sehari-hari meski seringkali tidak terpenuhi.

Sebelum menjadi penjual kemoceng, Pak Abdur sempat bekerja di salah satu perusahaan cukup besar, bahkan stroke yang diderita pun terjadi saat dirinya masih bekerja di perusahaan tersebut.

Meski pengobatan Pak Abdur saat itu dibantu oleh perusahaan tempatnya bekerja, namun karena terbentur usia dan kondisi tidak seperti sedia kala, mengharuskan Pak Abdur meninggalkan pekerjaannya.

Pak Abdur bertekad melanjutkan hidupnya seorang diri di Kota Bandung, meninggalkan daerah asalnya yakni Majalengka. Sang istri pun entah kemana, pergi begitu saja ketika Pak Abdur divonis stroke.

Meskipun Pak Abdur sebenarnya mempunyai tiga orang anak, tapi ia tidak ingin membuat orang lain susah terlebih ketiga anaknya sudah mempunyai kehidupan rumah tangga masing-masing.

Hidup terus berjalan, roda berputar dan waktu tidak akan bisa diputar. Hal inilah yang menjadi pemantik semangat Pak Abdur untuk tidak sekedar meratapi nasibnya, tapi berusaha mengubahnya. Pak Abdur berprinsip:

“Saya tidak mau membuat orang lain susah termasuk anak-anak, selagi hidup saya akan terus berusaha karena saya yakin Allah SWT akan selalu membantu umat-Nya yang tidak menyerah dan selalu berusaha.”

 

Saat ini Pak Abdur menikmati jalan hidupnya di Kota Kembang, walaupun jalan pulangnya tidaklah menentu. Dari Masjid ke Masjid menjadi tempat ia beristirahat untuk sekedar memejamkan mata juga berucap syukur atas setiap hari demi hari yang ia lalui.

Berapa pun rezeki yang diperoleh, Pak Abdur mensyukurinya dengan harapan esok kan lebih baik.

 

Memaknai Arti Berjuang dan Bersyukur

Tekad dan semangat Pak Abdur dalam menjalani hidup patut diacungi jempol dan mengingatkan kembali kita untuk tidak lupa bersyukur dalam berbagai keadaan yang dialami.

Secara tidak langsung, Pak Abdur juga memaknai arti hidup yang terus berjalan. Maka selagi kita diberikan kesempatan hidup, gunakan sebaik mungkin untuk hal-hal positif.

Janganlah menjadikan keterbatasan sebagai penghalang karena setiap orang akan selalu mempunyai versi terbaik di dalam dirinya.

Yuk, kita jalani hidup ini dengan penuh rasa syukur. Berusaha dan berjuanglah, untuk menggapai apa yang diharapkan.

 

Semoga cerita Ramadan ini dapat menginspirasi sehingga kita tidak akan pernah berhenti untuk berucap syukur.

 

Sumber Gambar:

Dokumentasi Pribadi

 

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up