Cerita Ramadan: Menengok Kisah Pak Bongkok adalah cerita seorang pria tua dengan berbagai kekurangan, namun dari kekurangannya itu menginspirasi kita untuk lebih bersyukur.

 

Menengok Kisah Pak Bongkok

Sepulang dari tempat kerjaku, aku melewati jalan yang tak biasa karena pikirku aku bosan melewati jalan yang itu-itu saja. Seperti biasa, jalanan di sore hari kira-kira waktu ngabuburit di Pukul 4 sore cukup padat namun tetap lancar.

Saat melewati jalan Lingkar Selatan – Bandung, laju kendaraanku terhenti sejenak dan membuatku menepi karena ada seseorang bertubuh kecil, berbaju hitam dan kulihat beberapa orang memberi sejumlah uang sebagai sedekah.

Saat aku berhenti di pinggir jalan untuk menengok sosok itu, satu dua mobil terhenti dan tampak ada orang beberapa orang turun dari mobil untuk memberi sedekah pada orang itu.

Aku memberanikan diri untuk mendekat dan ikut bersedekah sembari beberapa pertanyaan terbersit di pikiranku hendak kutanyakan pada orang tersebut.

Ketika aku mendekat, sosok seseorang itu begitu kecil dan ternyata tubuhnya bongkok dan meringkuk di pinggir jalan.

Seorang bapak dengan usia yang kurasa sudah mendekati 70 tahunan karena saat kutanya usianya, ia sendiri lupa kapan ia lahir dan KTP pun ia tak memiliki.

 

Sambil memberi sejumlah uang, aku bertanya:

“Bapak tinggal dimana? Jauh? Sama siapa tinggalnya, pak?”

 

Dengan lirih Bapak itu menjawab:

Nyalira jang.” (Sendiri nak)

 

Ia menjelaskan bahwa ia tinggal sendiri dan sudah tidak ada sanak saudara lagi yang tinggal bersamanya. Sehari-hari yang ia lakukan hanyalah berkeliling jalanan Bandung dengan memohon belas kasihan dari orang-orang sekitar.

Kembali aku bertanya:

“Bapak aslina timana?” (Bapak asli orang mana?)

 

Ternyata ia orang asli Tasik dan sekitar tahun 70-an ia menyusul saudaranya yang tinggal di Bandung yang kini telah meninggal entah beberapa tahun ke belakang karena ia tidak begitu mengingat dengan jelas, mungkin karena usianya yang sudah lanjut.

Saat kutanya kemanakah ia akan pergi, ia menjawab bahwa ia akan pulang ke Tasik keesokan harinya untuk kembali ke rumahnya sendiri di sana dimana keponakan dari anak saudaranya yang lain tinggal di sana.

Sebenarnya, masih ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan, tapi sepertinya ini adalah pertanyaan terakhirku padanya sebelum aku pergi meninggalkan Pak Bongkok:

“Puasa bapak lancar?

 

Dengan mata sumringah dia menjawab:

“Alhamdulilah jang, puasa bapak lancar.”

 

Dalam keadaan tertelungkup, aku terjongkok sambil menanyainya dan kulihat ada beberapa pejalan kaki mendekati arah kami dan memberikan uang kepada sang bapak bongkok ini.

Seraya meninggalkannya aku hanya bisa berkata:

“Hati-hati ke Tasiknya Pak!”

 

Sambil mengendarai motorku, aku berpikir dan merenung meski tetap harus berkonsentrasi di tengah berkendara.

Banyak ucapan syukurku mengalir dalam pikiranku setelah sedikit berdialog sore dengan Pak Bongkok dan berderma.

Aku bersyukur masih lebih beruntung dari Pak Bongkok, bahkan dari setiap aspek dalam hidupku, kesehatan, kondisi fisik, keadaan finansial dan masih banyak lagi.

 

Tapi, sudahkah aku menggunakan kesempatan dan setiap anugerah yang sudah Tuhan beri dengan sebaik mungkin?

Sudahkah aku menginvestasikan yang terbaik untuk hidupku untuk masa depanku agar aku lebih berguna bagi orang lain di sekitarku?

Melihat kondisi Pak Bongkok, tentu tidak ada yang mau memiliki hidup seperti dia, demikian juga denganku. Tapi, kisah Pak Bongkok mengingatkanku dan memberi teguran padaku, untuk lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki.

 

Bagaimana denganmu? Apakah yang kamu renungkan setelah melihat secuil kisah dari Pak Bongkok?

Semoga cerita di atas bisa membuat kita semua belajar agar lebih bersyukur terhadap apa yang kita miliki ya..

Jika cerita di atas menginspirasi Anda, jangan lupa bagikan kepada teman dan kerabat Anda, semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Gambar:

Dokumentasi Pribadi

 

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up