Bagi Sobat Finansialku yang baru mulai berinvestasi, sudah tahu apa itu stock split? Simak penjelasannya, berikut dampaknya bagi kamu, Sang Investor!

 

Summary

  • Stock split adalah aksi korporasi memecah nilai saham dengan rasio tertentu. Dengan mengecilnya nilai nominal per lembar saham, maka otomatis harga per lembar saham pun turut turun mengikuti rasio pemecahan.
  • Perusahaan melakukan aksi korporasi stock split dengan tujuan untuk menjaga tingkat harga dan likuiditas saham. Sebab, jika harga per lembar saham sudah  terlalu tinggi, maka investor ritel seperti kita-kita cenderung berpaling ke emiten lain.
  • Berita mengenai stock split akan meningkatkan daya tarik saham sehingga ramai diperdagangkan. Namun, perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengurus pencatatan, penyesuaian pencatatan, administrasi, dan distribusi atas peningkatan jumlah saham yang beredar tersebut.

 

Apa Itu Stock Split?

Sobat Finansialku, kalau kamu ngikutin berita mengenai saham, pasti belakangan ini istilah stock split semakin sering muncul.

Per artikel ini saya buat saja (November 2021), sudah ada 3 emiten yang melakukan stock split selama 3 bulan terakhir, masih ingat emiten yang saya maksud apa? Yuk, pahami apa itu stock split, siapa tahu bisa berguna dalam strategi investasimu!

 

Pengertian Stock split

Melansir dari IDXChannel, stock split adalah aksi korporasi memecah nilai saham dengan rasio tertentu. Rasio tersebutlah yang menjadi kunci penting dalam kegiatan aksi korporasi ini dan patut Sobat Finansialku pahami.

Sebagai contoh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang di bulan Oktober 2021 kemarin melaksanakan stock split dengan rasio 1:5. Artinya, BBCA memecah nilai nominal sahamnya dari yang semula Rp 62,5 per lembar saham menjadi Rp 12,5 per lembar saham (= 62,5/12,5).

Jadi, terlepas dari naik turunnya harga suatu saham yang biasa Sobat Finansialku lihat di aplikasi, internet, maupun berita, terdapat jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan nilai nominal per saham yang sudah ditetapkan oleh emiten.

Saat perusahaan melakukan stock split, nominal tersebutlah yang dipecah sehingga jumlah saham yang tercatat pun bertambah.

Misalnya, melanjutkan contoh stock split BBCA di atas, sebelum dilakukan stock split BBCA mencatatkan sebanyak 24,65 miliar saham.

Setelah stock split dengan rasio 1:5, maka jumlah saham BBCA yang tercatat di Bursa Efek menjadi 5x lipat lebih banyak yaitu sebesar 123,27 miliar saham.

Seiring dengan mengecilnya nilai nominal per lembar saham, maka otomatis harga per lembar saham pun turut turun mengikuti rasio pemecahan.

Misalnya, harga penutupan BBCA sebelum stock split adalah sebesar Rp 36.600 per lembar saham, dengan kata lain setelah stock split harga tersebut setara dengan Rp 7.320 per lembar saham.

[Baca Juga: BCA Akan Stock Split dengan Rasio 1:5, Jadi Berapa Harga Sahamnya?]

 

Analogi: Lebih Mudahnya Mengenai Stock Split

Masih bingung? Tenang! Sederhananya, ibarat kamu memiliki 1 loyang pizza yang semula akan kamu bagi ke 4 temanmu yang sedang nongkrong di rumahmu.

Setelah dipotong 4, kamu baru sadar masih ada teman-teman lain yang mungkin akan datang menyusul, maka kamu memutuskan untuk membagi kembali 4 potongan pizza tersebut. Alhasil, 1 loyang pizza yang semula ada 4 potong pizza, kini menjadi 8 potong pizza.

Layaknya pada stock split, jumlah potongan pizza atau jumlah lembar saham yang ada akan meningkat, namun ukuran pizza atau jatah per orangnya akan mengecil persis seperti nilai nominal saham yang menurun.

Dan, kalau kamu beli pizzanya patungan, otomatis 1 loyang pizza seharga Rp 160 ribu tersebut akan lebih ekonomis jika kamu bagi ke 8 temanmu, dari pada jika kamu bagi ke 4 temanmu, kan?

[Baca Juga: Sisi Lain Dari Stock Split]

 

Kenapa Perusahaan Melakukan Stock Split?

Lalu, Sobat Finansialku mungkin bertanya-tanya untuk apa sebuah perusahaan “repot-repot” melakukan stock split. Perusahaan melakukan aksi korporasi stock split dengan tujuan untuk menjaga tingkat harga dan likuiditas saham.

Sebab, jika harga per lembar saham sudah terlalu tinggi, maka investor ritel seperti kita-kita cenderung berpaling ke emiten lain. Akibatnya, perdagangan lesu karena frekuensi jual beli menurun, dan likuiditas saham pun menurun.

Nah, dengan adanya stock split, harga per lembar saham yang telah menurun menjadi menarik kembali bagi investor ritel. Perdagangan yang sempat lesu akan kembali aktif dan menggenjot frekuensi transaksi jual beli saham emiten tersebut.

Bisa kita bayangkan, sebelum melakukan stock split, Sobat Finansialku perlu merogoh kocek sekitar Rp 3.660.000 untuk membeli 1 lot saham BBCA (minimal transaksi saham adalah 1 lot, dengan 1 lot = 100 lembar saham).

Namun, setelah stock split Sobat Finansialku “hanya” perlu mengeluarkan sekitar Rp 700 ribuan untuk mendapatkan 1 lot saham BBCA. Lebih terjangkau, bukan?

 

Dampak positif stock split bagi Investor

Selain harganya berkurang, ada juga dampak positif lainnya bagi investor dari stock split ini, yaitu

 

Penambahan Jumlah Kepemilikan Saham

Bagi investor yang belum memiliki saham dari emiten yang melakukan stock split tersebut, tentunya akan merasa senang karena dengan stock split harga per lembar saham menjadi lebih terjangkau.

Lalu bagaimana dengan investor eksistingnya, alias investor yang sudah memiliki saham dari emiten yang akan melakukan stock split?

Meskipun nilai nominal sahamnya menurun, Sobat Finansialku tidak perlu khawatir sebab jumlah saham yang Sobat Finansialku miliki akan bertambah secara proporsional sesuai dengan rasio stock split.

Misal, semula kamu hanya memiliki 5 lot saham BBCA. Setelah tanggal pelaksanaan stock split, saham BBCA pada portfoliomu bukan lagi 5 lot melainkan menjadi sebanyak 25 lot. Lumayan juga kan! Niatnya baru nabung 5 lot, tetiba jadi 25 lot?

Sebagai tambahan informasi, dengan kemajuan teknologi dan mekanisme pasar modal di Indonesia, investor ritel juga tidak perlu berbondong-bondong ke perusahaan sekuritas untuk mengurus penambahan jumlah kepemilikan saham akibat stock split.

Pasalnya, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang merupakan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) transaksi efek di pasar modal Indonesia, yang akan mendistribusikan penambahan jumlah saham tersebut ke rekening efek Sobat Finansialku sesuai dengan jadwal pelaksanaan stock split yang diumumkan perusahaan.

[Baca Juga: Istilah-Istilah dalam Investasi Saham, Investor Pemula Wajib Tahu]

 

Euforia Stock Split

Umumnya, berita pelaksanaan stock split akan memberikan katalis positif bagi perdagangan saham tersebut. Sesuai tujuan perusahaan, stock split akan meningkatkan daya tarik saham sehingga ramai diperdagangkan.

Oleh karena itu, nggak heran deh, harga suatu saham cenderung mengalami trend kenaikan sebelum dan setelah stock split, seiring dengan hype aksi korporasi stock split tersebut.

Contohnya saja saham BBCA yang langsung menembus level Rp 8.250 per lembar saham pada hari pertama perdagangan dengan nilai nominal baru. Atau saham dari emiten yang terafiliasi dengan Sandiaga Uno yaitu PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

SRTG tercatat diperjualbelikan pada harga Rp 5.600 per lembar saham sebelum stock split di awal 2021 lalu. Meski sempat mengalami sedikit penurunan, namun SRTG terus menunjukkan trend kenaikan hingga kini diperdagangkan pada kisaran level Rp 2.100.

Namun trend kenaikan tersebut tidak selamanya terjadi dan tidak selalu terjadi pada semua perusahaan. Contohnya saja harga saham emiten PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) yang pada perdagangan perdananya setelah stock split langsung mengalami penurunan.

Belum lagi saham perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang sebelum stock split di tahun 2020 lalu harganya sempat mencapai level Rp 43.000-an namun kini ambles di kisaran Rp 4.700 per lembar saham.

[Baca Juga: Sudah Tahu Tentang Reverse Stock Split? Simak di Sini!]

 

Dampak Negatif dari Stock split

Selain dampak positif yang dirasakan, ternyata ada juga dampak negatif bagi perusahaan dan investor, yaitu sebagai berikut.

 

Bagi Perusahaan

Terlepas dari segi aktivasi perdagangan di bursa dan kemungkinan potensi kenaikan harga saham pasca stock split, sebenarnya tidak ada tambahan suntikan modal/dana secara langsung kepada emiten dalam aksi korporasi stock split ini, lho.

Malahan, perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengurus pencatatan, penyesuaian pencatatan, administrasi, dan distribusi atas peningkatan jumlah saham yang beredar tersebut.

Oleh karena itulah keputusan untuk melakukan aksi korporasi stock split tidak dapat dilakukan sembarangan dan membutuhkan restu dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

 

Bagi Pemegang Saham

Meskipun dapat kita katakan stock split lebih menguntungkan bagi pemegang saham, namun ada pula dampak negatif dari aksi korporasi ini.

Masih ingat analogi pizza di atas? Dengan terbaginya 1 loyang pizza ke 8 temanmu, tentunya porsi pizza per orangnya menjadi semakin kecil. Setali tiga uang dengan dividen pada perusahaan pasca stock split.

Semakin banyak jumlah saham yang beredar, semakin kecil pula porsi dividen per lembar sahamnya (dividend per share/DPS).

Bagi kita investor eksisting, sekali lagi kita tidak perlu khawatir. Pembagian dividen dihitung berdasarkan jumlah kepemilikan saham dan setelah stock split jumlah saham yang kita miliki pun meningkat secara proporsional.

Namun, bagi investor yang baru memiliki saham tersebut setelah stock split, porsi dividen yang dapat ia tuai dari kepemilikan saham tersebut lebih sedikit dibandingkan jika ia berencana membelinya sebelum stock split.

Meskipun efek stock split mempengaruhi beberapa rasio keuangan seperti Dividend per Share (DPS) dan Earning per Share (EPS), namun sejatinya stock split tidak mempengaruhi kinerja keuangan dan core bisnis perusahaan.

[Baca Juga: Defensive Stocks – Definisi, Jenis, dan Keuntungan]

Karenanya, dapat saya katakan stock split adalah salah satu aksi korporasi yang mempengaruhi mekanisme pasar dalam jangka waktu pendek dan memberikan dinamika dalam investment journey kita sebagai investor.

Mahal murahnya dan bagus buruknya suatu saham kembali lagi kepada kinerja keuangan dan bisnis perusahaan. Demikian mengenai aksi korporasi stock split, semoga bermanfaat bagi kamu yang sedang menyusun strategi dalam berinvestasi.

Bagikan artikel ini ke teman kamu yang panik takut sahamnya berkurang setelah mendengar berita stock split atau ke teman Sobat Finansial yang baru mulai belajar tentang saham.

Sebagai tambahan referensi soal investasi saham, yuk dengarkan audiobook ini.

banner_jangan_asal,_ketahui_ini_dulu_sebelum_investasi_saham

 

Sobat Finansialku juga dapat berdiskusi sekaligus konsultasi terkait investasi ataupun keuanganmu dengan Perencana Keuangan Finansialku. Hubungi kami di menu Konsultasi Keuangan pada aplikasi Finansialku. Download aplikasinya sekarang!

Download Aplikasi Finansialku Sekarang!!

Download Aplikasi Finansialku

 

Disclaimer: penyebutan emiten saham di artikel ini semata-mata untuk tujuan edukasi, bukan saran jual beli.

 

Nah Sobat Finansialku, sekarang sudah paham kan mengenai stock split? Bagaimana pendapatmu mengenai informasi ini? Yuk, tulis opini kamu pada kolom komentar di bawah ini.

 

Editor: Ratna SH

Sumber Referensi:

  • Aldo Fernando. 13 Oktober 2021. Ada yang Sukses & ‘Gagal’, Deretan 14 Emiten Ini Stock Split! Cnbcindonesia.com – https://bit.ly/3G4PK1K
  • Mutia Fauzia. 23 Oktober 2021. Mengenal Apa Itu Stock Split Saham dan Dampaknya Bagi Investor. Money.kompas.com – https://bit.ly/3EnRqDo
  • Novita Sari Simamora. 13 Oktober 2021. Arti Stock Split dan Manfaat Bagi Investor. Market.bisnis.com – https://bit.ly/3ojPNAS
  • Redaksi. KEUNTUNGAN STOCK SPLIT BAGI EMITEN DAN INVESTOR. sikapiuangmu.ojk.go.id – https://bit.ly/3pkBOKl