Bagaimana performa komoditas 2018? Apa sajakah kondisi yang membentuk terjadinya volatilitas harga komoditas tahun lalu?

Di awal tahun 2018, banyak yang memprediksi bahwa tahun itu adalah tahun bullish untuk komoditas logam mulia dan sektor energi.

Analisa tersebut juga ada benarnya, karena sektor ini sebagian sempat bullish sebentar namun lebih banyak trend turun. Menariknya justru tahun ini performa terbaik diperoleh dari sektor soft commodity seperti kakao dan tepung gandum.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Logam Mulia

Tahun 2018 ini merupakan tahun yang unik bagi pergerakan harga logam. Seluruh logam mulia seperti emas, perak, dan platinum mengalami penurunan harga jika dibandingkan harga awal tahun 2018.

Pada semester pertama, logam mulia memiliki harga yang stabil namun mulai memasuki trend penurunan menjelang semester kedua.

 

Hal ini disebabkan perang dagang antara negara Tiongkok dan Amerika Serikat serta perkembangan kebijakan suku bunga The Fed.

Logam mulia berusaha menutupi penurunan dengan mengejar sedikit kenaikan menjelang akhir bulan Desember 2018.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pelemahan pasar modal yang mendorong permintaan logam mulia sebagai safe haven konvensional. 

Berikut ini adalah grafik harga emas, perak, tembaga dan platinum pada periode mingguan sepanjang tahun 2018.

Performa Komoditas 02a Grafik 1 - Finansialku

[Baca Juga: Jangan Ketinggalan Timing! Ayo Kenali Arah Trend Komoditas]

 

Energi

Pada tahun 2018 ini sektor energi paling aktif diperankan oleh minyak mentah dengan penurunannya yang dramatis menjelang akhir tahun dan naik turun harga gas alam menyerupai roller coaster.

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Reksa Dana untuk Pemula

Download Panduan Berinvestasi Reksa Dana untuk Pemula -Finansialku.com

Download Ebook Sekarang

 

#1 Crude Oil

Jika pada tahun 2017 minyak mentah mencatatkan kenaikan hingga belasan persen. Tahun 2018 ini justru harga turun hingga 25% dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan selama 12 hari berturut-turut minyak mentah mengalami penurunan tanpa koreksi.

Kondisi ini dipengaruhi karena berbagai faktor seperti puncak volume produksi minyak di AS yang mencapai 10 juta barrel, kesepakatan perdagangan AS dan Tiongkok hingga pelonggaran sanksi AS terhadap Iran.

Berikut ini adalah grafik harga crude oil di tahun 2018.

Performa Komoditas 03 Grafik 2 - Finansialku

 [Baca Juga: Berbagai Komoditas Unik pada Bursa Berjangka Dunia (Futures)]

 

#2 Natural Gas

Pada sektor energi, gas alam jarang dipantau dalam transaksi dan volume transaksi tidak sebesar minyak bumi. Biasanya trader dan investor lebih menyimak harga emas hitam yaitu minyak mentah.

Gas alam sempat bergerak pada kisaran harga sempit di semester pertama 2018. Menjelang musim panas, gas alam mengalami kenaikan signifikan karena permintaan untuk konsumsi pendingin ruangan.

Permintaan gas alam berlanjut juga pada musim dingin untuk sumber energi bagi penghangat ruangan.

Harga kontrak berjangka gas alam sempat mencapai puncak tertingginya di bulan November 2018 pada harga US$5 per MMBtu (per million British thermal unit) yang merupakan harga tertinggi sejak tahun 2014.

 

Namun kenaikan harga tidak bertahan lama karena supply gas alam yang terlalu tinggi tidak sebanding dengan permintaannya. Permintaan menjadi tidak menentu karena perubahan cuaca yang tidak stabil.

Hal ini sempat membuat harga gas alam turun dalam 3 minggu berturut-turut. Meski sempat mengalami kenaikan, akhirnya di penutupan tahun 2018 harga gas alam kembali ke kisaran harga pembukaan tahun yaitu US$3 per MMBtu.

Menurut perkiraan cuaca di AS dan Eropa diperkirakan cuaca akan stabil sehingga permintaan gas alam belum akan kembali tinggi. Kecuali cuaca dingin kembali datang maka diperkirakan harga gas alam mencapai US$4 per MMBtu.

Berikut ini adalah grafik harga gas alam pada tahun 2018.

Performa Komoditas 04 Grafik 3 - Finansialku

 [Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Logam di Bursa Komoditas]

 

Soft Commodities

Di luar kejadian biasanya, tahun 2018 ini justru soft commodities secara konstan mengalami kenaikan sepanjang tahun.

Berikut ini beberapa produk soft commodities yang mencatatkan kenaikan terbesar bahkan mengalahkan kenaikan sektor logam mulia dan energi.

 

#1 Gandum

Kontrak berjangka gandum pada tahun 2018 mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 18% sejak tahun 2012.

Hal ini terjadi setelah penurunan produksi yang besar oleh eksportir utama dunia yaitu Rusia, Uni Eropa dan Australia.

Jika dilihat histori harga gandum tahun-tahun sebelumnya, harga gandum mencapai trend penurunan sejak tahun 2013 dan mencapai level terendah di tahun 2016.

Diperkirakan saat itu harga gandum telah mencapai titik nadirnya sehingga trend berbalik arah menjadi bullish hingga saat ini.

Secara fundamental, kondisi cuaca yang tidak stabil pada beberapa negara penghasil gandum seperti Amerika Selatan akan mendorong penurunan kualitas gandum.

Hal ini menjadi salah satu faktor kenaikan harga gandum dalam beberapa waktu ke depan.

Berikut ini adalah grafik harga gandum dalam tahun 2018.

Performa Komoditas 05 Grafik 4 - Finansialku

 [Baca Juga: Bagaimana Cara Mengendalikan Risiko Trading Komoditas?]

 

#2 Kakao

Harga kakao pada tahun 2018 naik mencapai 49% karena meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit cadangan kakao di musim ini.

Permintaan kakao naik signifikan sedangkan supply menurun karena penurunan lahan pohon kakao. Selain itu cuaca kering juga berpengaruh terhadap kualitas pengeringan biji kakao di Afrika Barat.

Jika mengulas sejarah harga kakao di beberapa tahun lalu, pada tahun 2017 harga kakao turun sebesar 11% yang merupakan lanjutan pelemahan di tahun 2016 sebanyak 33% secara gabungan.

Menjelang perayaan Natal tahun ini, coklat sebagai salah satu menu favorite dalam bahan pangan pesta Natal dan tahun baru juga mendorong peningkatan kebutuhan kakao.

Coklat yang merupakan hasil olahan kakao banyak digemari oleh seluruh usia. Secara luas olahan produk coklat disukai baik sebagai minuman maupun makanan, bahkan ekstraknya juga dipakai untuk kosmetik dan parfum.

Berikut ini adalah grafik harga kakao dalam 5 tahun terakhir.

Performa Komoditas 06 Grafik 5 - Finansialku

[Baca Juga: Indeks-Indeks pada Bursa Komoditas]

 

Banyak analis berpandangan bahwa harga kontrak berjangka kakao akan mengalami trend kenaikan harga. Secara teknikal, terlihat bahwa harga kakao telah mencapai titik support terendahnya pada tahun 2017.

Terlebih lagi ketidakstabilan cuaca di Afrika sebagai salah satu negara penghasil kakao mengancam hasil panen sedangkan pasar dunia khususnya Asia tetap membutuhkan pasokan kakao dalam jumlah besar.

 

Komoditas Tahun 2018

Bagaimana dengan portofolio komoditas Anda di tahun 2018? Meskipun sebagian besar komoditas mengalami penurunan pada tahun 2018, belum tentu trader komoditas mengalami kerugian lho!

Karena tetap ditemukan banyak peluang membuka posisi dan closing dalam kondisi profit di waktu-waktu yang tepat.

 

Tuliskan pertanyaan dan tanggapan Anda pada kolom komentar yang sudah disediakan di bawah. Jangan lupa juga untuk membagikan artikel ini kepada orang lain di sekitar Anda, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Admin. 21 Desember 2018. After Dramatic Run, Natural Gas Sees Squeeze In Final Dash Of 2018. Investing.com – https://goo.gl/N9WH7S
  • Barani Khrisnan. 27 Desember 2018. Commodities 2018 Review: Tweets To Murder Accompany Boom-To-Bust Markets. Investing.com – https://goo.gl/R5eP9a
  • Julie Ingwersen & P.J. Huffstutter. 31 Desember 2018. GRAINS-Wheat Eases In Thin Holiday Trade But Posts 18 Pct Yearly Rise. Cnbc.com- https://goo.gl/L2tLrw
  • David Russell. 18 Oktober 2018. Energy Waffles as Iran Sanctions Draw Near. Tradestation.com – https://goo.gl/9eVKWL

 

Sumber Gambar:

  • Komoditas – https://goo.gl/XoXpzC
  • Grafik 1 – https://goo.gl/486JhD
  • Grafik 2 – https://goo.gl/6ibsbU