Salah satu strategi dalam investasi reksadana adalah dollar cost averaging. Mungkin Anda juga pernah mendengar istilah tersebut. Finansialku akan membahas mengenai strategi investasi reksadana dengan dollar cost averaging (DCA).

Strategi Investasi Reksadana Dollar Cost Averaging dollar-cost-averaging-criticisms

 

Apa itu Dollar Cost Averaging?

Strategi investasi reksadana dengan dollar cost averaging adalah strategi investasi secara rutin setiap periodenya (contoh setiap bulan) dalam jumlah yang sama tanpa mempedulikan atau memperhatikan harga NAB (nilai aktiva bersih). Secara mudah dan singkatnya strategi investasi yang mirip dengan menabung, apapun kondisinya tetap menabung dengan jumlah yang sama. Contoh setiap bulan menabung sebesar Rp 500.000 untuk membeli reksadana X.

 

Simulasi Investasi Reksadana dengan Strategi Dollar Cost Averaging

Pak Aan memiliki sebuah tujuan untuk memenuhi dana berlibur ke China. Setelah dilakukan perencanaan dana berlibur, ternyata Pak  Aan harus menginvestasikan dana sebesar Rp 843.000 selama 12 bulan dengan imbal hasil 5% per tahun. Selengkapnya mengenai perhitungan dana berlibur China.

pertama-kali-ke-luar-negeri-apa-saja-yang-harus-disiapkan-finansialku

[Baca juga : 5 Tips Mempersiapkan Dana Liburan]

 

Pak Aan memanfaatkan strategi investasi reksadana berupa strategi dollar cost averaging, dengan jumlah Rp 850.000 tiap bulan. Pak Aan menggunakan produk autodebet miliki bank. Contoh simulasi:

Simulasi Strategi Investasi Reksadana Dollar Cost Averaging

Perhitungan di atas sifatnya simulasi, karena fasilitas autodebet biasanya dilakukan dengan kelipatan 50.000 atau 100.000 (Jadi Kita tidak bisa investasi sebesar tepat sebesar Rp 843.000 tetapi menjadi Rp 850.000 atau Rp 900.000 per bulan).

 

Konsekuensi Investasi Reksadana dengan Strategi Dollar Cost Averaging

Berbicara mengenai konsekuensi investasi reksadana dengan strategi dollar cost averaging adalah:

 

Keuntungan

  1. Strategi Dollar Cost Averaging memperkecil volatilitas investasi reksadana.
  2. Strategi Dollar Cost Averaging dapat dilihat sebagai suatu bentuk cicilan pada investasi reksadana. Jadi jika belum tersedia dana yang besar untuk diinvestasikan sekaligus (lumpsum) investor dapat mulai melakukan investasi.
  3. Sistem model cicilan membuat strategi investasi rekadana menjadi lebih obyektif.
  4. Strategi ini sederhana dan tidak terlalu sulit untuk diaplikasikan, terutama oleh investor pemula.

 

Kerugian

Tentunya hasil dari investasi model Dollar Cost Averaging kurang maksimal. Coba lihat simulasi di atas, bagaimana kalau keadaannya terbalik?

Simulasi 2 Strategi Investasi Reksadana Dollar Cost Averaging

Pada saat kondisi harga nab mahal, maka jumlah unit yang didapat menjadi lebih sedikit. Sebaliknya pada saat harga nab murah, maka jumlah unit yang didapat menjadi lebih banyak. Menjadi masalah jika pada saat terakhir (contoh di bulan 12) saat akan merealisasikan investasi, investor malah mengalami kerugian karena harga nab sedang murah.

 

Kesimpulan

Salah satu strategi investasi reksadana adalah strategi dollar cost averaging. Pelajari dan pahami strategi dollar cost averaging sebelum melakukan investasi dengan strategi tersebut.

 

Kami akan sangat senang sekali jika Anda mau berbagi atau sharing pengalaman Anda mengenai strategi investasi reksadana Anda atau pengalaman dengan dollar cost averaging.

 

Artikel-artikel Finansialku terkait dengan topik investasi:

finansialkuApa itu Aturan 72 dalam Investasi?Baca
finansialkuBagaimana Alokasi Aset yang Pas?Baca
finansialku8 Faktor yang Memperkecil Risiko Investasi ReksadanaBaca

 

Jangan lupa baca artikel-artikel Finansialku:

finansialkuDiet Badan dan Diet KeuanganBaca
 finansialkuMembuat Rencana Bisnis atau Business PlanBaca
 finansialkuPerencanaan Keuangan: Paduan Ilmu Keuangan dan SeniBaca