X

Tradisi Menabung dari Masa ke Masa, Ternyata Ada Sejak Abad 13 Lho!

Sejarahwan Pantura, Wijanarto mengatakan, tradisi menabung sudah ada sejak lama yakni sekitar abad 13 sampai 15.

Cek selengkapnya yuk! dalam artikel berikut.

 

Tradisi Menabung dari Masa Ke Masa

Menabung merupakan salah satu tradisi masyarakat Indonesia yang masih dilestarikan secara turun temurun hingga saat ini.

Tradisi tersebut pun kini makin luas maknanya. Bukan hanya sekedar menyisihkan uang di suatu benda atau tempat, namun banyak yang beralih menjadi sebuah barang.

Sejarahwan Pantura, Wijanarto mengatakan, tradisi menabung sudah ada sejak lama yakni sekitar abad 13 sampai 15.

Menurutnya, ada dua asumsi awal mulanya tradisi menabung dikenal masyarakat di Nusantara.

Yang pertama, tradisi itu berawal dari temuan gerabah berbentuk hewan di situs kerajaan Majapahit, seperti celeng atau babi, kura-kura dan gerabah bentuk lainnya.

Pada saat penggalian kawasan Majapahit oleh para arkeolog, ditemukan semacam gerabah berbentuk celeng atau babi, kura-kura dan lainnya.

Yang paling menarik, banyak ditemukan gerabah yang berbentuk celeng. Badannya gemuk dan tambun, jelasnya.

Ia mengatakan, gerabah-gerabah tersebut kemudian digunakan untuk menabung atau menyimpan uang. Saya sendiri belum tahu, apakah dari kata celeng ini kemudian dikenal dengan istilah celengan, ucapnya.

Ia menuturkan, seorang Arkeolog, Supratikno Rahardjo menyebut bahwa celeng juga dikaitkan dengan simbol lain dari Dewa Kuwera. Dalam ajaran agama Hindu, dewa tersebut melambangkan kekayaan atau kemakmuran.

[Baca Juga: Ini Dia 4 Zodiak yang Pandai dan Rajin Menabung!]

 

Jadi temuan gerabah yang menyerupai celeng itu, banyak yang menyebut itu simbol dari Dewa Kuwera, tuturnya.

Kedua, pendapat dari Sastrawan Perancis, Denys Lombard dalam karyanya ‘Nusa Jawa’. Di situ, ia menyebut bahwa tradisi menabung masyarakat di Nusantara itu meniru tradisi masyarakat Tionghoa.

Jadi Denys Lombard menyebut tradisi menabung dikenal sejak masyarakat Tionghoa mulai masuk ke Jawa.

Mereka mulai meniru budaya menyisihkan uang dari masyarakat Tionghoa yang dikenal pandai mengelola harta kekayaan. Itu sekira abad 15 dan 16, ujarnya.

Menurut Wijan, Denys juga mengaitkan istilah celengan dengan hewan pembawa rezeki dalam mitologi masyarakat Tionghoa, yakni celeng atau babi.

Masyarakat Tionghoa dikenal makmur. Dari sini lah istilah celeng dikaitkan dengan kebudayaan masyarakat Tionghoa, babi merupakan simbol kemakmuran, ungkapnya.

Meski demikian, tradisi menabung di sebuah celengan kini mulai tergeser. Hal itu menyusul dengan adanya perkembangan zaman.

Masyarakat mulai mengembangkan tradisi menabung dalam bentuk hewan ternak, investasi tanah, emas dan lainnya. Hingga akhirnya, masyarakat mengenal tradisi menabung secara modern atau melalui lembaga perbankan.

 

Masuknya Lembaga Perbankan Ke Wilayah Nusantara

Wijan mengatakan, lembaga perbankan kali pertamanya dikenalkan oleh orang-orang barat. Namun, dibutuhkan waktu lama untuk menyadarkan masyarakat agar bisa menabung di bank.

Sampai menjelang abad ke 20, seorang priyayi asal Purwokerto menginisiasi untuk membentuk lembaga perbankan.

Ada seorang inisiator dari Purwokerto yang membentuk lembaga perbankan. Itu menjadi cikal bakal perbankan di Indonesia, yaitu yang kita kenal sebagai Bank Rakyat Indonesia (BRI), ujarnya.

Baru kemudian, berkembang menjadi menabung dalam bentuk asuransi, yang diawali oleh Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera.

Selanjutnya, Pemerintah Kolonial mulai membentuk lembaga pegadaian. Masyarakat mulai dikenalkan dengan kredit tanpa agunan.

Lembaga pegadaian inilah yang menghubungkan masyarakat di Nusantara dengan tradisi menabung. Walaupun konsepnya berbeda, tetapi salah satunya adalah pinjam tapi dalam bentuk barang, tuturnya.

Ia menilai, banyaknya lembaga perbankan di Indonesia saat ini menandakan masyarakat mulai tertarik untuk menabung di bank. Sementara tradisi menabung di celengan sudah mulai tergeserkan.

 

Mempertahankan Tradisi Menabung di Celengan

Di tengah tergesernya tradisi menabung di celengan, masyarakat mulai berkreasi mengembangkan bentuk celengan menjadi beraneka ragam.

Seorang warga Jalan Ababil, Kelurahan Randugunting, Kota Tegal, Siswanto (35) misalnya. Ia sengaja membuat celengan unik dan menarik untuk mengajak anak-anak gemar menabung.

Siswanto membuat celengan berbentuk kartun dan karakter dari gipsum, seperti kartun minion, doraemon, thomas, boneka LOL, keroppi, hello kitty dan lainnya.

Tak disangka, usahanya yang dirintis baru delapan bulan itu mendapat respon baik dari masyarakat. Hasil kerajinan tangannya laris manis diserbu anak-anak.

Ditemui di rumahnya belum lama ini, Siswanto mampu mencetak 20 hingga 25 celengan karakter dalam sehari. Bahkan dalam satu bulan, ia mengaku dapat mengumpulkan Rp 3 juta sampai Rp 4 juta dari hasil penjualan celengan karakter.

Alhamdulillah peminatnya masih ada. Kebanyakan anak-anak. Karena memang saya sasarannya anak-anak agar gemar menabung, ucapnya.

 

Sobat Finansialku masih pake celengan untuk menabung, alasannya apa? Yuk berbagi di kolom komentar di bawah ini

Bagikan informasi ini seluas-luasnya lewat berbagai platform yang tersedia, agar kawan atau sanak-saudaramu tahu apa yang kamu ketahui.

 

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara Finansialku dengan Ayosemarang.com, isi artikel menjadi tanggung jawab sepenuhnya Ayosemarang.com

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • https://bit.ly/3spuEE0
  • https://bit.ly/3sm8pz6
  • https://bit.ly/2RBmko5

 

Categories: Ekonomi Tabungan
Ari. A. Santosa, S.I.Kom.: Ari A. Santosa telah merampungkan kuliah Ilmu Komunikasi di Universitas Pasundan. Sesekali memboroskan waktu hanya untuk membaca dan menonton film.