Saham GoTo banyak dilirik investor. Apakah GoTo benar-benar layak untuk dipinang?

Yuk, cari tahu jawabannya lewat artikel video Finansialku satu ini!

 

Supaya kegiatan investasimu maksimal, jangan pernah bosan untuk menambah wawasan terkait keuangan dan investasi melalui video dari Finansialku, secara gratis di akun Youtube resmi Finansialku, ya!

 

Jangan lupa untuk tekan tombol subscribe di bawah ini dan nyalakan lonceng agar Sobat Finansialku tidak ketinggalan video-video terbaru dari Finansialku, ya!

 

 

 

4 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Beli Saham GoTo

Saham GoTo sebentar lagi IPO dan bakal melantai di bursa saham Indonesia. Apakah kamu sudah meminang sahamnya?

Kalau belum, sebaiknya nggak perlu terburu-buru. Ayo, kita pertimbangkan lagi apakah keputusan ikut euforia ini hal yang tepat atau tidak.

Sebelum itu, terlebih dahulu kita berkenalan dengan perusahaan GoTo, yang merupakan hasil merger dari 3 perusahaan, yaitu:

  • Gojek (Bergerak di bidang on-demand service)
  • Tokopedia (Bergerak di bidang e-commerce)
  • Go-Finance (Bergerak di bidang fin-tech service)

 

Rencananya, perusahaan ini akan melakukan IPO pada 4 April 2022 mendatang. Sekarang, mereka sedang melakukan penawaran awal dari tanggal 15-21 Maret 2022, dengan harga per lembar sahamnya di rentang Rp 316 – Rp 346.

 

Masih ada waktu untuk mempertimbangkan, apakah saham GoTo cocok untuk masuk ke dalam daftar portofoliomu?

Sebab, kita semua tahu kalau nggak semua saham cocok untuk dipinang.

Ada empat hal yang harus dipertimbangkan sebelum membuat keputusan, diantaranya:

 

#1 Valuasi Saham

Hal pertama yang harus kita pertimbangkan adalah valuasi saham GoTo.

Berdasarkan sumber berita, saat ini kapitalisasi pasar GoTo mencapai Rp 255 triliun, dan diperkirakan bakal mencapai nilai Rp 376,6 – Rp 413,7 triliun.

Dengan asumsi pra-valuasi Rp 200 triliun dan PBV 1,5-1,75x, potensi kapitalisasi pasar GoTo bisa mencapai Rp 300-350 triliun.

Artinya, nggak menutup kemungkinan kalau saham GoTo  akan masuk lima besar bersama BCA yang memuncaki market cap sebesar Rp 800 triliun.

IPO GoTo juga diprediksi akan mendongkrak market cap BEI secara signifikan, karena diprediksi market cap GoTo mencapai US$ 35-40 miliar.

 

#2 Greenshoe

GoTo mengatakan kalau pihaknya akan menerapkan skema greenshoe atau stabilisasi harga saham.

Lebih rinci, greenshoe ini bisa diketahui sebagai klausa yang terkandung dalam pernjanjian penjaminan IPO yang memungkinkan penjamin emisi untuk membeli hingga 15% saham tambahan pada harga penawaran.

Tujuannya, untuk stabilisasi harga apabila harga saham yang diperdagangkan berada di bawah harga IPO.

GoTo menentukan aturan lock up untuk existing investor antara 8 bulan hingga 2 tahun.

Artinya, para pemegang saham existing dilarang untuk menjual atau memindahtangankan saham GoTo yang dimilikinya selama periode lock up tersebut.

 

#3 GTV GoTo

Selanjutnya, yang harus kamu pertimbangkan adalah Gross Transaction Value (GTV).

Selama 3 tahun terakhir, GoTo mencatat pertumbuhan nilai transaksi bruto (GTV) positif.

Dalam waktu 12 bulan terakhir sampai kuartal 3-2021, GoTo telah membukukan lebih dari Rp 414 triliun transaksi.

Melibatkan lebih dari 55 juta konsumen yang bertransaksi dalam periode tersebut.

 

#4 Rugi GoTo

GTV-nya  memang besar, pendapatan brutonya pun besar, tapi perlu diperhatikan juga kerugian yang dialami oleh GoTo ini.

Berdasarkan laporan keuangannya, Goto mencatatkan kerugian sebesar Rp 14,20 triliun sepanjang 2020.

Sedangkan per September 2021, GoTo masih merugi Rp 11,58 triliun

 

Nah, dari empat pertimbangan di atas, apa keputusanmu sekarang? Buy atau bye?

Sampaikan pendapatmu di kolom komentar, ya!

Jangan lupa untuk bagikan informasi ini kepada teman-teman investormu agar mereka nggak gegabah dalam membuat keputusan, ya!

 

Editor: Ismyuli Tri Retno