Fanatik produk keuangan? Apaan, tuh? Ada risikonya pula! Ketahui arti fanatik dengan produk keuangan dan risikonya di bawah ini!

Lebih lengkap ada di artikel rangkuman Finansialku di bawah ini!

 

Selain video soal risiko fanatik dengan produk keuangan atau influencer yang akan dibahas di bawah ini, sobat Finansialku juga bisa menonton ratusan video lainnya secara gratis di kanal youtube resmi Finansialku, lho! Jangan lupa mampir, ya!

 

 

Kalau sudah ditonton, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan menekan tombol subscribe di bawah ini, ya!

 

 

 

Risiko Fanatik dengan Produk Keuangan atau Influencer?

Apa itu fanatik dengan produk keuangan?

Fanatik pada produk keuangan adalah ketika sobat Finansialku berada di titik di mana sobat Finansialku menuhankan satu produk keuangan saja.

Menuhankan dalam hal ini, merujuk pada sikap sobat Finansialku yang merasa hanya ada satu produk keuangan yang dianggap paling baik, dan tidak membuka diri pada produk keuangan lainnya, bahkan dianggap tidak baik.

Sobat Finansialku pasti pernah merasakannya? Biasanya, fanatik dengan produk keuangan ini terjadi pada produk investasi atau asuransi.

Nah, di bawah ini ada rangkuman bahasan dari video di atas soal baik buruknya bersikap fanatik pada satu produk keuangan!

Melvin Mumpuni, dalam unggahan di insta-stories akun media sosial Instagramnya, pernah dihujat beberapa pihak, bahkan dituduh menerima endorsement dari sebuah perusahaan setelah mengatakan kalau dirinya kapok berinvestasi di reksa dana saham, dan lebih memilih utuk berinvestasi langsung ke saham.

Hal ini dikarenakan masih banyak investor pemula yang mengagungkan reksa dana saham dan menganggapnya investasi yang paling menguntungkan jika dibandingkan dengan produk investasi lainnya.

Padahal, banyak sudut pandang baru yang belum diketahui soal perbandingan antara portofolio saham dengan reksa dana saham.

Begitu pula dengan sikap fanatik pada produk asuransi. Kala itu, banyak agen asuransi yang merasa kalau unitlink adalah produk investasi yang paling menguntungkan.

Sebenarnya kita bukan sedang membicarakan asumsi mana yang salah dan asumsi mana yang benar, kita bicara sikap fanatisme yang membuat orang cenderung menutup diri pada pendapat-pendapat dan sudut pandang baru dari satu hal yang sudah mereka anggap paling benar.

Padahal, setiap hal pasti memiliki sisi positif serta negatif. Begitu juga dengan produk asuransi dan investasi yang tidak pernah mencapai titik kesempurnaan dan masing-masing memiliki kekurangan.

Intinya, kita tidak bisa bersikap fanatik dengan produk keuangan seperti asuransi dan investasi. Karena, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Menurut Melvin Mumpuni, perencanaan adalah gabungan dari seni, logika, dan ilmu perencanaan keuangan, yang mana ketiganya bukanlah ilmu eksak.

Berarti, tidak ada pemikiran saklek soal benar atau tidaknya sebuah produk ekonomi.

Jadi, jangan jadi orang yang fanatik, ya!

 

Untuk membekali diri agar tidak termakan oleh sikap fanatisme, sobat Finansialku bisa menambah wawasan soal investasi supaya tidak keblinger, sobat Finansialku bisa mengunduh e-book gratis di bawah ini! Selamat belajar!