Apakah kamu dan pasangan sedang merencanakan pernikahan? Sebelum melangkah ke jenjang selanjutnya, pastikan untuk membangun kesiapan finansial.

Kira-kira apa saja yang harus dilakukan? Temukan jawabannya di artikel ini!

 

Summary:

  • Menikah bukan hanya berbicara tentang kesiapan fisik dan mental, tapi juga dari segi finansial, untuk meminimalisasi konflik rumah tangga.
  • Ada beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan oleh setiap pasangan yang akan menikah, salah satunya keterbukaan soal keuangan.

 

Faktor Ekonomi dan Kegagalan Pernikahan

Sobat Finansialku, berbicara mengenai pernikahan bukan hanya tentang kesiapan fisik dan mental, tetapi juga finansial.

Sebab tak dipungkiri, meski uang bukan segalanya, tetapi segala keputusan yang kita ambil setiap harinya berkaitan dengan uang.

Oleh karena itu, uang bisa menjadi sahabat yang baik dalam menyelesaikan masalah. Tapi juga sebaliknya, bisa menjadi sumber masalah.

Bahkan salah satu penyebab tingginya tingkat perceraian pun disebabkan oleh faktor ekonomi.

Hal ini diungkapkan oleh Sonya Britt, seorang Asisten Profesor Studi Keluarga dan Layanan Manusia serta Direktur Program Perencanaan Keuangan Pribadi.

Ia mengatakan bahwa perselisihan tentang ekonomi di dalam keluarga, dapat menurunkan tingkat kepuasan terhadap pasangan (relationship satisfaction).

Faktanya di Indonesia pun menunjukkan hal yang sama khususnya di beberapa daerah.

Seperti di Lamongan, per Juni 2021, tercatat 1.597 kasus perceraian. Sebanyak 526 kasus diantaranya, terjadi karena perselisihan yang terus-menerus.
Sementara 416 kasus lainnya disebabkan oleh faktor ekonomi.

Penyebab perceraian yang di dominasi oleh faktor ekonomi, juga terjadi di kota besar seperti Tangerang.

Pada waktu yang sama, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Tangerang, mencatat 1.162 kasus perceraian per tahun.

Salah satu contohnya, kisah seorang istri yang ditinggalkan suaminya, ramai diperbincangkan di twitter beberapa waktu lalu.

Alasannya diduga karena utang yang dimiliki oleh istri dan keluarga.

Utang tersebut diketahui berasal dari orang tuanya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan keluarga.

Cerita ini bukan merupakan cerita yang langka dijumpai. Namun, selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari kejadian seperti ini.

[Baca Juga: Sederet Masalah Keuangan Keluarga yang Sering Diabaikan, Jangan Diulang, ya!]

 

Tips Membangun Kesiapan Finansial Sebelum Menikah

Menyikapi fenomena tingginya angka perceraian karena faktor ekonomi, maka sudah menjadi keharusan bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk membangun kesiapan finansial.

Karena, hal ini bisa menjadi upaya pencegahan terjadinya konflik rumah tangga. Lalu, Lapa yang sebaiknya kita lakukan dalam mempersiapkan dan menjalankan kehidupan pernikahan dari sisi finansial?

Simak penjelasan di bawah ini, ya!

 

#1 Menyadari Kondisi Keuangan Pribadi

Saat menikah, kita akan hidup berdampingan dengan pasangan, bahkan keluarga pasangan.

Mungkin beberapa hal yang semula hanya dijalankan sendiri, jadi harus dijalankan bersama pasangan.

Oleh karena itu, sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, pastikan kita dan pasangan sudah mengenali kondisi finansial masing-masing.

Agar lebih terarah, kita bisa mulai melakukan review terhadap beberapa hal ini:

 

#1 Pemasukan dan Pengeluaran per Bulan

Apakah pemasukan yang kita terima saat ini dapat memenuhi kebutuhan setelah menikah nanti?

Hal ini termasuk memperhitungkan jumlah tanggungan setelah menikah nanti. Misalnya, kita atau pasangan kita apakah termasuk sandwich generation?

Mengenai hal ini, kamu bisa baca lebih lanjut di artikel Sandwich Generation Ada 5 Tipe, Kamu Termasuk yang Mana?

 

#2 Dana Darurat dan Asuransi

Apakah kita sudah memiliki dana darurat dan asuransi yang cukup? Tentunya kedua hal ini menjadi sangat penting.

Apalagi jumlah dana darurat memiliki angka idealnya tersendiri mengikuti perkembangan kehidupan kita.

Untuk single, minimal 3 kali pengeluaran bulanan. Sementara ketika sudah menikah, 6 kali pengeluaran bulanan.

Sedangkan jika sudah punya 1 anak, perlu menyiapkan 9 kali pengeluaran bulanan, dan 12 kali pengeluaran bulanan untuk yang punya anak 2 atau lebih.

Sudahkah kamu mempersiapkan dana darurat tersebut? Agar lebih mudah dalam merencanakannya, kamu bisa baca ebook Finansialku berikut ini.

Ebook GRATIS, Cara Selamatkan Keuangan dari Pengeluaran Dadakan

Banner Iklan Ebook Cara Selamatkan Keuangan dari Pengeluaran Dadakan - PC
Banner Iklan Ebook Cara Selamatkan Keuangan dari Pengeluaran Dadakan - HP

 

#3 Aset dan Utang

Berapa jumlah aset dan utang yang kita miliki? Jika utang tidak lagi dapat dibayarkan, apakah aset yang dimilki dapat melunasi utang tersebut?

Perhitungkan juga soal ini bersama pasangan dengan transparan. Termasuk kebiasaan dalam mengatur uang, serta rencana finansial setelah pernikahan.

Ketika bersikap transparan, kita dapat menentukan apakah ini saat yang tepat untuk memulai kehidupan pernikahan.

Selain itu, kita juga bisa menyelesaikan masalah keuangan yang ada serta menyiapkan rencana untuk menjalani hidup setelah pernikahan.

 

#2 Tentukan Ekspektasi Pribadi dan Diskusikan dengan Pasangan

Setelah menyadari kondisi keuangan masing-masing, selanjutnya adalah tentukan ekspektasi pribadi dalam merencanakan dan menjalankan pernikahan.

Misalnya, setelah menikah kedua pasangan tetap ingin bekerja atau hanya salah satu yang bekerja?

Apakah setelah menikah, ingin langsung memiliki anak atau ingin menunda sampai waktu yang ditentukan?

Semua ekspektasi ini perlu disampaikan kepada pasangan kita secara jujur dan jelas. Tujuannya agar jika ada perbedaan ekspektasi terhadap satu sama lain, hal ini bisa segera diatasi dan tidak menjadi masalah di kemudian hari.

 

#3 Membuat Perjanjian Pra Nikah

Perjanjian pra nikah atau prenuptial agreement merupakan perjanjian antara kedua belah pihak (pasangan) yang dibuat sebelum menikah.

Tujuannya untuk mengatur akibat-akibat perkawinan terhadap kekayaan mereka. Karena di dalam Pasal 35 UU Perkawinan, dinyatakan bahwa harta benda yang diperoleh setelah pernikahan menjadi harta bersama.

Dengan membuat perjanjian pra nikah, kedua pasangan tidak lagi memiliki keharusan untuk menjalankan pasal ini.

Menurut Haedah Faradz dalam Jurnal Dinamika Hukum Vol.8, biasanya perjanjian pra nikah dibuat dalam kondisi sebagai berikut:

  1. Salah satu pihak atau pasangan memiliki sejumlah harta kekayaan yang lebih besar.
  1. Keduanya memiliki penghasilan yang sama-sama besar.
  1. Masing-masing pihak memiliki usaha sendiri, sehingga perjanjian pranikah dibuat untuk melindungi pihak lainnya apabila terjadi kepailitan.
  1. Salah satu atau kedua pihak memiliki utang sebelum menikah dan hendak bertanggung jawab sendiri.

 

Di Indonesia, perjanjian pra nikah masih cukup tabu dan menjadi kontroversi.

Karena sebagian orang menganggap pembuatan perjanjian pra nikah sama seperti mengharapkan hal buruk terjadi di dalam pernikahan.

Padahal, dengan membuat perjanjian pra nikah, pasangan dapat melindungi satu sama lain dan bahkan masa depan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya, ada sepasang calon suami istri yang hendak melangsungkan pernikahan. Keduanya sama-sama berlatar belakang sebagai pengusaha.

Sebelum menikah, keduanya memutuskan untuk membuat perjanjian pra nikah yang menyatakan pemisahan harta dan utang keduanya.

Seiring berjalannya waktu, salah satu dari pasangan ini ternyata menghadapi masalah finansial dalam bisnisnya dan bahkan terlibat utang.

Umumnya, utang ini akan ditanggung oleh suami, istri, dan bahkan anak-anaknya. Akan tetapi, karena ada perjanjian pra nikah yang menyatakan pemisahan harta dan utang antara pasangan, hal ini tidak terjadi.

Jika kamu dan pasangan berencana membuat perjanjian pra nikah, dan detail lainnya untuk mempersiapkan pernikahan.

Yuk, baca ebook gratis dari Finansialku Rahasia Bangun Pernikahan Penuh Berkah.

 

#4 Membuat Rencana Keuangan Sebelum dan Setelah Menikah

Selanjutnya adalah membuat rencana keuangan setelah menikah. Perencanaan ini perlu dilakukan secara jelas dan mendetail.

Kita bisa menerapkan metode SMART yang diperkenalkan oleh George T. Doran. SMART merupakan akronim dari specific (spesifik), measurable (terukur), achievable (dapat dicapai), relevant (relevan), dan time based (ada jangka waktu yang jelas).

Berikut adalah contoh penerapan metode SMART dalam merencanakan resepsi pernikahan:

  1. Specific. Ingin menikah di Bandung dengan konsep resepsi outdoor bertemakan rustic dan kapasitas tamu 100 orang.
  1. Measurable. Biaya resepsi pernikahan Rp 75.000.000 dengan rincian sebagai berikut.

 

  1. Achievable. Tabungan pernikahan saat ini sudah mencapai Rp 40.000.000 (lebih dari 50% target biaya menikah).
  1. Relevant. Poin ini menjawab, apakah ini saat yang tepat untuk menjalankan pernikahan? Atau diperlukan penyesuaian rencana?
  1. Time based. Ada rentang waktu yang jelas. Misalnya, ingin menikah di bulan Juni 2022 atau satu tahun dari sekarang.

Sekalipun diperlukan penyesuaian rencana, harus ada waktu yang jelas kapan tujuan itu ingin dicapai.

Adapun rencana keuangan lainnya setelah menikah antara lain, biaya kehamilan dan persalinan anak, biaya hidup dan biaya pendidikan anak, dana pensiun, dan lain-lain.

Mengenai rencana keuangan sebelum dan sesudah menikah, agar lebih mudah kamu bisa membangun perencanaannya dengan menggunakan Aplikasi Finansialku.

Terdapat fitur Kalkulator Keuangan yang bisa menggambarkan perencanaan dana pernikahan sesuai dengan yang diharapkan. Melalui simulasi perhitungan, lengkap dengan rekomendasi investasi jika diperlukan.  

 

#5 Jalankan Rencana Keuangan dan Pantau Berkala

Jika rencana keuangan sudah matang, saatnya mengaplikasikan rencana tersebut.

Dalam prosesnya, seringkali ada tantangan yang tidak dapat kita duga.

Jadi, tidak apa-apa jika ke depannya akan ada penyesuaian rencana, selama itu bisa membantu kita dalam mencapai tujuan.

Sebagai referensi tambahan, kamu juga bisa nonton video Finansialku berikut ini:

 

Itulah beberapa persiapan yang harus dilakukan sebelum menikah, terutama dari sisi finansial.

Meski topik keuangan ini cenderung sensitif, tapi jangan takut untuk mendiskusikannya bersama pasangan, ya.

Jika kamu memerlukan advice seputar perencanaan keuangan untuk pribadi atau rumah tangga, jangan ragu untuk konsultasikan dengan perencana keuangan Finansialku.

Hubungi melalui Aplikasi Finansialku atau via WhatsApp untuk buat janji. Terima kasih.

Banner Iklan Konsultasi via Apps - PC
Banner Iklan Konsultasi Apps - HP

 

Setelah membaca artikel ini, sudah sejauh mana persiapan keuanganmu dan pasangan jelang pernikahan?

Selagi masih ada waktu, manfaatkan sebaik mungkin, ya. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar sesuai harapan.

 

Editor: Ismyuli Tri Retno

Sumber Referensi:

  • Stephanie Jacques. 12 Juli 2013. Researcher finds correlation between financial arguments, decreased relationship satisfaction. K-state.edu- https://bit.ly/3yWhyVM
  • Imron Saputra. Faktor Ekonomi, Angka Penceraian di Lamongan Meningkat saat Pandemik. Idntimes.com- https://bit.ly/3NyaR09
  • Redaksi. 9 Januari 2022. Masalah Ekonomi Jadi Penyebab Utama Angka Perceraian di Kota Tangerang Tahun 2021 Naik 14 Persen. Tribunnews.com- https://bit.ly/3Gfphjy