Jika Anda ingin berinvestasi lebih, pilih beli saham sekaligus atau berkala? Sudah tahu belum bedanya apa dan lebih untung yang mana?

Kali ini Finansialku akan membahas mengenai perbedaan beli saham sekaligus dan berkala. Yuk simak ulasannya berikut ini, Selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Pandai Memulai Saham

Tidak semua orang pandai dalam membeli saham, tak sedikit juga investor yang harus menerima kerugian karena tidak tepat dalam membeli sebuah saham.

Hal ini dapat terjadi karena investor telah terjebak dengan iming-iming imbal hasil yang tinggi dalam waktu yang singkat.

Saham sendiri menjadi incaran demi mewujudkan impian atau keinginan untuk diri sendiri ataupun keluarga, maka dari itu seseorang membutuhkan perencanaan keuangan yang matang.

Ingin Berinvestasi Saham Inilah Tips Membeli Saham Untuk Investor Pemula 01 - Finansialku

[Baca Juga: Ingin Berinvestasi Saham? Inilah Tips Membeli Saham Untuk Investor Pemula]

 

Salah satunya adalah instrumen investasi yang dapat digunakan untuk mewujudkan rencana tersebut secara jangka panjang.

Awalnya, saham merupakan aset keuangan yang berbasis kertas (paper based asset), namun saat ini sudah berubah menjadi instrumen keuangan yang berbasis elektronik.

Selain saham, yang beralih dari kertas menjadi elektronik adalah reksa dana, ETF (reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa), obligasi, waran, HMETD dan beberapa efek lainnya.

Kenapa saham dapat dikatakan salah satu instrumen investasi jangka panjang? Hal ini karena saham dapat dengan mudah dipindahtangankan dengan potensi keuntungan atau imbal hasil yang tergolong tinggi.

 

Metode dalam Beli Saham Secara Sekaligus dan Berkala

Ada dua metode yang bisa dilakukan dalam berinvestasi yaitu dengan cara menyetor sekaligus (lump sum) atau dicicil secara berkala (Dollar Cost Averaging). Sebelum memilih, yuk ketahui dulu dari kedua metode tersebut.

 

#1 Metode Lump Sum

Investasi lump sum adalah menyetor sejumlah dana besar di awal investasi dan membiarkan uang investasi tersebut bergerak naik turun mengikuti perkembangan pasar, tanpa melakukan tambahan investasi (top up) sampai investor memutuskan untuk mencairkannya.

Membeli saham secara sekaligus ini sangat bagus jika digunakan bagi investor yang mahir berinvestasi saham, dengan memahami kondisi situasi pasar dan mengetahui pergerakan harga, metode ini sangat menguntungkan.

Tetapi metode membeli saham secara sekaligus ini kurang cocok jika digunakan di tengah pasar yang cenderung berfluktuasi, seperti contoh ilustrasi di bawah ini:

Seseorang investor bernama Thomas membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di harga Rp5.000/saham sebanyak 50 lot (5.000 unit saham) dengan dikenakan fee beli 0,15%. 

Sehingga uang yang dibutuhkan untuk membeli saham tersebut senilai Rp25.037.500, hasil dari: Rp5.000 x 5.000 x 100 unit saham, ditambah biaya 0,15%.

Seiring waktu berjalan, saham tersebut ternyata mengalami penurunan karena banyak dijual pelaku pasar karena kondisi ekonomi kedepannya dirasa kurang baik. Setelah 3 bulan harganya turun menjadi Rp4.500/saham.

Lalu 5 bulan kemudian, harganya kembali naik menuju harga awalnya di level Rp5.000/saham.

Dengan begitu, dapat dikatakan Thomas tidak memperoleh keuntungan apa-apa karena harganya berfluktuasi selama periode tersebut.

Bahkan Thomas mengalami kerugian atas investasinya karena dibebankan biaya pembelian atau fee 0,15%.

 

#2 Metode Dollar Cost Averaging/DCA

Investasi berkala yang dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA), pemodal dapat membeli produk investasi secara teratur atau berkala dengan nominal investasi yang biasanya tetap pada setiap periode pembelian, serta tanpa melihat kondisi pasar

Metode ini sangat baik untuk mengurangi fluktuasi harga sebuah saham dalam memaksimalkan keuntungan dari Investasi saham. Yuk simak ilustrasinya di bawah ini:

Thomas selalu menyisihkan gajinya sebesar Rp1.000.000/bulan untuk membeli saham BBRI, yang awalnya berada di harga Rp5.000/saham.

Ternyata saham tersebut mengalami penurunan seiring berjalannya waktu, karena faktor dalam negeri dan kondisi global yang kurang kondusif.

Di bulan kedua, harga sahamnya turun menjadi Rp4.750/unit. Thomas kembali membeli saham tersebut dengan jumlah yang sama yaitu Rp1.000.000.

Pada bulan ketiga harga sahamnya masih mengalami penurunan, kali ini berada pada level Rp4.500/unit dan Thomas pun kembali membeli saham BBRI tersebut senilai Rp1.000.000.

Bulan keempat harga sahamnya mengalami kenaikan menjadi Rp4.750/unit. Thomas kembali membeli saham itu dengan uang Rp1.000.000.

Sehingga dalam lima bulan itu, jika dirata-ratakan harga sahamnya menjadi Rp4.807/unit (5.000+4.750+4.500+4.750+5.000:5), Thomas mendapat keuntungan sebesar 3,85% yang setara dengan Rp192.500.

Jika dibandingkan dengan metode lump sum, metode CDA ini menarik untuk memperkecil fluktuasi pergerakan harga. Terutama bagi Anda yang kurang memiliki waktu karena pekerjaan dan kegiatan lainnya memilih metode CDA.

Masih bingung tentang saham? Yuk cari referensi terpercaya, Anda bisa membaca ebook dari Finansialku di bawah ini secara GRATIS, selamat membaca.

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Nah sudah tahu kan bagaimana perbedaan dari metode lump sum dan metode CDA?

Setelah membaca artikel di atas Anda pilih metode Beli Saham Sekaligus atau Berkala?

Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini. Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat!

 

Sumber Referensi:

  • Yazid Muamar. 16 Agustus 2019. Pilih Mana, Beli Saham Sekaligus atau Dicicil?. Cnbcindonesia.com – https://bit.ly/2H9ssfb
  • Bintang Yulanto. 24 Juni 2016.Strategi Investasi Sekaligus atau Berkala, Mana Lebih Untung?. Bareksa.com – https://bit.ly/2Z2t8gN

 

Sumber Gambar:

  • Beli Saham Sekaligus atau Berkala – http://bit.ly/2YWENyw