Pernah dengan istilah ‘berpikir diakronik’? Mungkin bagi kita asing di telinga, tapi tidak untuk para sejarawan lho. Kira-kira pendekatan berpikir seperti apa sih?

Yuk kita bahas lebih lanjut di artikel berikut ini. Check it out!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Lifestyle (rev)

 

Berpikir Diakronik, Mempelajari Sejarah sebagai Proses Waktu

Hai guys masih ingat materi sejarah yang dipelajari di bangku sekolah?

Tentang peperangan, sistem pemerintahan, sampai bahasan detik-detik kemerdekaan. Mungkin sedikit banyak udah mulai lupa nih.. hehe

Nah semua peristiwa itu bagian dari sejarah yang sejatinya tidak bisa sembarang dalam memahaminya lho.

Maka, para sejarawan pun menggunakan pendekatan diakronik untuk mempelajari sejarah sebagai proses waktu.

Apakah Mungkin Berpikir Positif Malah Menghancurkan Hidup Anda 02 - Finansialku

[Baca Juga: Cara Berpikir Positif yang Membawa Hidup Semakin Sejahtera]

 

Hal ini mengacu pada kata ‘diakronik’ yang berasal dari bahasa latin yaitu “dia” artinya melalui atau melampaui, dan “chronicus” yang artinya waktu. Sehingga memanjang dalam waktu tetapi menyempit dalam ruang.

Jadi, sejarah dipahami sebagai sejumlah rangkaian atau peristiwa yang saling berhubungan, bukan sekedar urutan tapi rentetan peristiwa yang mempengaruhi dan dipengaruhi. Istilah lainnya juga dikenal sebagai berpikir kronologis dalam menganalisis sesuatu.

 

Ciri Berpikir Diakronik dan Contohnya

Konsep berpikir ini sangat mementingkan proses terjadinya sebuah peristiwa.

Sehingga sejarah yang dipahami sebagai perkembangan proses belajar, bisa jadi pelajaran untuk menjadi lebih baik di masa selanjutnya.

Bagi para sejarawan, konsep berpikir diakronik digunakan untuk menganalisis dampak perubahan variabel sesuatu, memungkinkan mereka mengetahui “mengapa keadaan tertentu lahir dari keadaan sebelumnya” serta membantu merekonstruksi kembali peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat.

 

Ciri Konsep Berpikir Diakronik

Konsep berpikir diakronik berupaya menganalisis sesuatu dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan seseorang menilai bahwa perubahan itu terjadi sepanjang masa.

Maka tak heran, jika pendekatan ini yang digunakan para sejarawan dalam mempelajari peristiwa sejarah. Berikut adalah beberapa ciri konsep berpikir diakronik, antara lain:

  1. Bersifat vertikal, yaitu menjelaskan proses suatu peristiwa dari awal hingga akhir, mengacu pada kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu kejadiannya.
  2. Lebih menekankan pada proses durasi, karena berpikir diakronik adalah mempelajari sejarah sebagai proses waktu, sehingga lebih menekankan pada prosesnya.
  3. Cakupan kajian luas
  4. Mengurai pembahasan pada satu peristiwa
  5. Mengkaji masa peristiwa yang satu dengan yang lain atau berkesinambungan.
  6. Terdapat konsep perbandingan atau hubungan kausalitas (sebab-akibat), ada aksi ada reaksi, ada kejayaan ada pula kehancuran.

 

Contoh Konsep Berpikir Diakronik

Contoh konsep berpikir diakronik adalah sebagai berikut:

 

Contoh 1

Dalam materi demokrasi liberal 1950-1959, diuraikan secara kronologis pembentukan pemerintahan demokrasi liberal hingga adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dalam catatan sejarah, antara 1950-1959 terjadi tujuh kali pergantian kabinet, yaitu:

  • Kabinet Natsir (6 September 1050- 21 Maret 1951)
  • Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952)
  • Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 3 Juli 1953)
  • Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
  • Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)
  • Kabinet Ali II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957)
  • Kabinet Djuanda (9 April 1957 – 5 Juli 1959)

 

Pemikiran diakronis yang diterapkan dalam sejarah tersebut yaitu dengan memanjangkan waktu terjadinya Demokrasi Liberal sejak 1950 hingga dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

 

Contoh 2

Mengenai kondisi pasca perang dunia II, dijelaskan secara berurutan bahwa komunisme tampil sebagai kekuatan yang disegani selama hampir setengah abad. Dunia pun harus mengalami perang dingin yang mempengaruhi gejolak politik di banyak negara.

Namun, hanya dalam dua tahun (1989-1991), dunia menyaksikan bubarnya negara-negara komunis di Eropa Timur, yang menandai berakhirnya perang dingin dan runtuhnya komunisme.

 

Download Sekarang! Ebook PERENCANAAN KEUANGAN Untuk USIA 20-an, GRATIS!

15 Ebook Perencanaan Keuangan 20an

 

Jangan Lupakan Sejarah

Itulah penjelasan mengenai konsep berpikir diakronik dalam sejarah, yang umumnya digunakan para sejarawan untuk memahami rentetan peristiwa di masa lampau.

Nah sebagai generasi penerus, jangan pernah lupakan sejarah ya sebagai sarana berpikir.

Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri”.

 

Semoga artikel ini menambah pengetahuan kamu tentang konsep berpikir untuk memahami sejarah. Jika dirasa bermanfaat, jangan ragu untuk bagikan artikel kepada teman dan kerabat terdekat. Terima kasih.

 

 

Sumber Referensi:

  • Serafica Gischa. 22 Juli 2020. Konsep Berpikir Diakronis dan Contohnya. Kompas.com- https://bit.ly/36skVpns
  • Admin, 10 Juni 2020. Memahami Konsep Berpikir Diakronik. Kelaspintar.com- https://bit.ly/3jIkZoV