Pernahkah kamu merasa galau luar biasa, kehilangan harapan dan merasa stuck dengan kondisi pekerjaan saat ini?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Quarter Life Crisis

Rata-rata orang di usia 25 hingga 30-an biasa menghadapi Quarter Life Crisis. Biasanya seperti masalah pasangan hidup, penghasilan, karier, masa depan yang belum jelas, pekerjaan yang tidak sesuai keyakinan atau nilai hidup dan lain sebagainya.

Quarter Life Crisis disini artinya kondisi insecure dengan kondisi hidup yang sedang dihadapi.

Lantas, gimana solusinya? Apakah Quarter Life Crisis ini wajar dihadapi?

Kali ini kita akan kupas tuntas pembahasan tentang Quarter Life Crisis bersama dengan beberapa teman Melvin Mumpuni CFP® QWP, CEO Finansialku.com yang juga sempat mengalami Quarter Life Crisis dalam hidup mereka.

So…jangan galau-galau lagi kalau udah dengerin FinTalk Podcast Eps 42 kali ini!

 

Mengatur Keuangan Setelah Married

Sebelum bahas lebih detil, Sobat Finansialku dapat mengirimkan pertanyaan atau curhat keuangan melalui fitur TANYA PERENCANA KEUANGAN di Aplikasi Finansialku. Jangan lupa kasih hashtag #CURHATKEUANGAN.

 

Pertanyaan kali ini datang dari Mas AM dan Mbak PY, pasangan baru menikah satu bulan.

Pertanyaannya adalah:

“Bagaimana strategi mengatur keuangan untuk pasangan yang baru menikah?”

Saya baru menyadari bahwa mengatur keuangan sebelum dan setelah menikah itu berbeda. Pendapatan memang bertambah, tapi pengeluaran juga bertambah. Hal ini membuat kami bahkan jadi takut untuk punya anak, karena secara finansial itu akan sangat besar.

 

Jawaban Melvin Mumpuni:

Ketakutan yang dialami AM dan PY adalah ketakutan normal yang dihadapi banyak orang. Namun menurut pandangan saya, ada dua tipe orang yang menikah ya, terkait persiapan keuangannya.

Ada orang yang mempersiapkan dulu segalanya baru menikah, tapi ada orang yang nikah dulu baru memulai kehidupan. Nah, regardless orang tipe apa kamu, saya punya 5 tips keuangan untuk keluarga muda.

Ada 5 tips untuk menangani hal ini:

    1. Duduklah bersama pasanganmu dan lakukan FCU atau Financial Health Check Up. Tujuannya adalah untuk mengecek kesehatan keuangan. Jujurlah saat FCU ini, sehingga bisa tahu kondisi keuangannya secara riil.
    2. Mulai melakukan perbaikan. Contohnya rasio likuiditas hanya 1x saja, tambah lagi, karena saat ini sudah berkeluarga.
    3. Mulai amankan keuangan. Awali dengan catat keuangan, dana darurat, kurangi utang-utang konsumtif, jika kesulitan, bisa konsultasi dengan Perencana Keuangan.
    4. Manajemen risiko, perlu review kebutuhan asuransi; asuransi kesehatan, asuransi penyakit kritis, dan asuransi jiwa.
    5. Mulai dari perencanaan yang simpel, misalnya Dana Pendidikan Anak. Investasilah sesuai tujuan keuangan.

 

Pada podcast kali ini bersama dengan beberapa narasumber kita akan membahas mengenai Quarter Life Crisis.

 

Let’s Talk About It: Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis adalah suatu fenomena yang melanda orang-orang di usia antara 25 hingga 30-an, dimana mereka galau terhadap sesuatu seperti karier, income dan masa depan, apakah mau kerja dengan orang atau mau memiliki bisnis sebagai seorang entrepreneur.

Bagi mereka yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan, Quarter Life Crisis dirasakan saat menjalani rutinitas kantor dari jam 8 pagi ke 5 sore; apabila ada masalah dengan problem solving, yang diuntungkan adalah perusahaan; berbicara soal masa depan, kenaikan gaji rata-rata hanya 11% per tahun dengan bonus akhir tahun dan QPI yang sudah jelas.

Belum lagi berpikir tentang kondisi ekonomi saat ini, karyawan yang mengalami Quarter Life Crisis akan berpikir tentang kegalauan dalam membeli rumah, mobil atau naik ke jenjang hidup yang lebih tinggi apabila hanya ditunjang dengan penghasilan yang tidak signifikan kenaikannya.

Intinya, Quarter Life Crisis membuat beban hidup semakin lelah dengan berbagai tekanan atau pressure yang dihadapi tersebut.

 

Pengalaman Quarter Life Crisis

Saya seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan swasta yang mendapatkan promosi kenaikan pangkat menjadi supervisor di area Surabaya. Di satu sisi, saya merasa “lelah” dengan rutinitas sebagai seorang karyawan kantor. Pada titik tersebut, saya merasa galau.

Saat itu saya merasa membutuhkan kebebasan waktu dan kebebasan pendapatan. Itulah sebabnya saya berkomitmen untuk membuka usaha sendiri dan meninggalkan tawaran kenaikan jabatan dari perusahaan tersebut.

Menjalani komitmen tersebut, saya pindah ke Bali dan membuka usaha menjual plastik. Saya yakin dengan keyakinan dan kemampuan saya dalam bidang marketing untuk membuka usaha sendiri.

Selama 2 bulan membuka usaha sendiri, ternyata tidak ada barang yang terjual sama sekali, sementara biaya operasional terus berjalan dimana kala itu masih mengandalkan tabungan yang terkumpul semasa saya bekerja di perusahaan sebelumnya.

Ternyata, harapan dan impian saya tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi.

Karena saya membutuhkan income tambahan untuk tetap membiayai biaya operasional di samping beberapa cicilan yang harus dibayarkan, saya bertekad untuk menjadi driver taksi online.

Bahkan untuk bertahan hidup di Bali, di samping menjadi driver taksi online, saya juga menjual barang-barang pribadi.

Singkat cerita, saya merasa lelah dan bertanya kepada salah satu teman yang bekerja di perusahaan saya pernah bekerja untuk kemungkinan adanya lowongan pekerjaan.

Saat itu ada satu perusahaan yang menjanjikan saya bekerja dengan gaji sebesar Rp15 juta, tapi ketika saya ke sana, ternyata job tersebut sudah diambil oleh orang lain.

Alhasil, saya pulang ke rumah orangtua sambil mencari pekerjaan baru. Di titik tersebut, ada banyak omongan orang yang tentang hidup saya yang membuat saya sempat “down

Bertekad untuk bangkit, saya berpikir untuk membuka usaha yang tidak perlu banyak belajar lagi dengan mengandalkan background saya, yaitu leasing alat berat (mendanai orang yang membeli peralatan alat-alat berat) dan asuransi kerugian (asuransi untuk asset).

Kala itu, ada teman yang menawarkan asuransi kesehatan dan sudah beberapa kali saya di-approach. Tapi, saya tidak tertarik untuk membeli produk asuransi karena satu sisi saya merasa tidak perlu dan saya pun tidak punya uang.

Teman saya yang menjadi agen asuransi itu tidak kenal lelah untuk approaching saya. Dia memberi solusi kepada saya untuk bisa menjalankan bisnis agen asuransi dimana salah satu programnya ada guaranteed income selama 6 bulan ditambah komisi menjadi agen.

Awalnya saya rasa bisnis ini seperti “mengemis”, tapi ternyata pikiran saya salah saat menjalani proses bisnis ini. Akhirnya saya jalankan bisnis ini dan bertemu dengan salah satu nasabah yang appreciate dengan asuransi jiwa. Dari situ, level of confidence saya mulai naik.

Saya jalani satu tahun dan mendapat banyak feedback yang membangun tingkat ke-pede-an saya dari orang-orang yang juga menjual asuransi jiwa. Ternyata bisnis ini not bad dan kalau bisa dikatakan “noble”, bagus untuk kantong tapi juga bisa networking dan membantu orang.

Itulah yang membuat saya merasa enjoy untuk bekerja di bidang ini.

 

Pesan Singkat Bincang-bincang Fintalk Podcast Quarter Life Crisis

Bagi Anda yang mengalami Quarter Life Crisis, jangan sampai salah langkah dalam menentukan pilihan dan ingat selalu bahwa ada banyak hal besar terjadi di luar zona nyaman.

Jangan terlalu pusing dengan apa kata orang, just do what’s your heart saying dan jangan bandingkan diri kita dengan orang lain.

 

Semoga bahasan kali ini dapat memberikan manfaat bagi Sobat Finansialku, dan akhir kata Make A Plan and Get Your Financial Dreams Come True!