Terjebak dengan kondisi keuangan sebagai Sandwich Generation? Satu sisi harus membiayai orang tua dan di sisi lain banyak kebutuhan pribadi juga anak yang harus dipenuhi.

Yuk, temukan solusinya agar terlepas dari jebakan Sandwich Generation.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Pentingnya Merencanakan Keuangan

Banyak diantara para Sandwich Generation yang terjepit dalam konteks keuangan. So, untuk kamu yang mengalami hal serupa, Finansialku Podcast kali ini akan cocok buatmu.

 

But anyway, sebelum masuk ke pembahasan inti, Sobat Finansialku dapat mengirimkan pertanyaan atau curhat keuangan melalui fitur KONSULTASI KEUANGAN di Aplikasi Finansialku. Jangan lupa kasih hashtag #CURHATKEUANGAN

 

Berikut curhatan dari salah satu sobat Finansialku.

Saya RR dari Jakarta, berusia 35 tahun dan sudah berkeluarga. Saya dan istri bekerja dengan income gabungan Rp15 juta.

Bekerja lebih dari 10 tahun, dan saat ini baru mulai melek finansial karena menyadari bahwa selama ini saya belum punya bekal untuk masa pensiun termasuk untuk biaya pendidikan anak

Bekerja sebagai sales di sebuah pabrik, saya bisa mendapatkan bonus mencapai Rp20juta-Rp30 juta jika target penjualan masuk.

“Apakah saya terlambat untuk memulai merencanakan keuangan? Bagaimana cara mulai merencanakan keuangan?”

 

Jawaban Melvin Mumpuni:

Jangan pernah berpikir terlambat, justru tidak ada hari yang lebih tepat selain hari ini untuk mulai merencanakan keuangan. Seperti dalam penjelasan buku Make a Plan, langkah yang dilakukan sebagai berikut:

    1. Menganalisa kondisi keuangan, bisa dilakukan dengan fitur Financial Health Check Up yang tersedia di Aplikasi Finansialku.
    2. Perbaiki bagian yang belum ideal berdasarkan hasil Financial Health Check Up, misalnya liquiditasnya.
    3. Pastikan keuangan aman, salah satunya dilihat melalui cashflow dimana pemasukan harus lebih besar dari pengeluaran atau sama besar. Pastikan memiliki dana darurat sesuai kebutuhan, melunasi utang konsumtif dan memiliki proteksi.
    4. Menyiapkan rencana keuangan, seperti dana pendidikan anak dan menyiapkan dana hari tua.

 

Problematika Keuangan Sandwich Generation

Fenomena Sandwich Generation tengah menjadi perhatian, karena banyak diantara kita yang mengalami hal ini. Bekerja untuk membiayai orang tua juga adik atau anaknya.

Termasuk alasan saya membuat podcast kali ini, setelah membaca salah satu komentar di Youtube yang menceritakan kesulitannya mengatur keuangan sebagai Sandwich Generation.

 

Three Level Game of Income” untuk Sandwich Generation

Sebelum mencari solusi agar terlepas dari jebakan Sandwich Generation, saya akan mengilustrasikan logika sederhana.

Seorang anak muda bernama Bayu, bekerja 3-4 tahun di sebuah perusahaan dengan income Rp8 juta per bulan. Orang tuanya sudah pensiun dan menerima uang pensiun Rp2 juta per bulan.

Bayu mempunyai adik yang sedang kuliah semester 4 di perguruan tinggi. Sehingga Bayu harus membantu dana pendidikan adiknya sekaligus pengeluaran bulanan keluarga.

Ibaratnya Rp8 juta penghasilan Bayu, dialokasikan Rp5 juta untuk kebutuhan keluarga, Rp2 juta untuk kebutuhan pribadi dan transportasi, dan Rp1 juta untuk biaya pendidikan adiknya.

 

Lalu, kapan Bayu bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri? Seperti menikah, membeli rumah, dan sebagainya.

 

Ada 3 pilihan untuk Bayu:

  1. Tambah pemasukan dengan cara apapun
  2. Kurangi pengeluaran dengan cara apapun
  3. Tambah pemasukan dan kurangi pengeluaran

 

Menurut kamu, mana yang paling cocok?

 

Sebagian besar penasehat keuangan akan menyarankan para Sandwich Generation untuk berinvestasi. Terlebih dengan bantuan Financial Technology, kamu bisa investasi dari mulai Rp100 ribu.

Tapi, setelah dihitung jika investasi Rp100 ribu per bulan, dengan target investasi 12% per tahun. Maka 25 tahun berikutnya menjadi Rp160 juta.

Rasanya nominal tersebut belum menjadi solusi untuk 25 tahun yang akan datang.

 

Akhirnya saya pun tertantang untuk mencari solusi dari permasalahan ini, dengan membuat “Three Level Game of Income”. Let me share…

 

Level 1: Active Income

Sandwich generation harus menambah penghasilan aktif, salah satunya dengan meningkatkan personal skill.

Pelajari bidang yang dibayar mahal, seperti copy writing, video editing, dan sebagainya dengan memanfaatkan kursus online.

Gunakan ilmu baru untuk menunjang pekerjaanmu saat ini, misalnya mengejar bonus.

Tapi kalau pekerjaan kamu tidak memungkinkan untuk mengejar bonus, cari tambahan pekerjaan yang sifatnya komisi.

Misalnya jadi agen asuransi, agen properti, reseller atau dropshipper.

Jika sudah berhasil menambah income aktif sebesar 10-20 persen dari penghasilan, usahakan konsisten selama 1 tahun , baru kamu menuju ke level 2.

 

Level 2: Investment Income

Ibarat sebuah game, ketika naik level maka ada kekuatan baru yang dimiliki yaitu penghasilan tambahan. Gunakan penghasilan tersebut untuk mencari investasi yang menghasilkan capital gain.

Misalnya, kamu beli produk investasi seharga Rp1.000 dan dijual Rp1.500 artinya ada keuntungan Rp500.

Selama berada di level 2 ini, kamu harus tingkatkan skill sembari mempertahankan level 1 agar tetap mendapat penghasilan tambahan.

 

Level 3: Passive Income

Memasuki level akhir, waktunya kamu membeli bisnis bukan membuat bisnis. Contohnya dari keuntungan investasi, kamu bisa membeli waralaba yang sudah ada sistemnya dan memiliki branding.

Supaya keuntungan semakin berlipat, pendapatan bersih waralaba dan investasi jangan digunakan untuk spending, tapi menambah investasi sehingga bisa membeli waralaba yang lebih besar.

 

Yuk, keluar dari jebakan Sandwich Generation dengan Three Level Game of Income.

Semoga bahasan kali ini dapat memberikan manfaat bagi Sobat Finansialku, dan akhir kata Make A Plan and Get Your Financial Dreams Come True!

 

Finansialku Talk Podcast juga dapat kamu dengarkan di:

Logo Spotify