Rupanya Gojek telah berhasil menyandang gelar baru. Lantas, berapa kira-kira penghasilan dari Gojek hingga dinobatkan dengan nama decacorn?

Kali ini Finansialku akan membahas berita mengenai gelar baru Gojek. Agar lebih jelas, mari simak pembahasannya berikut ini. Selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Gojek Menyandang Gelar Decacorn

Mengingat perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh Gojek, sudah sewajarnya jika Gojek kini menyandang gelar baru.

Perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim akhirnya menjadi startup pertama asal Indonesia bergelar decacorn.

Pemberian gelar ini berdasarkan laporan dari lembaga riset CB Insights dalam laporannya yang bertajuk “The Global Unicorn Club”.

Pada laporan itu Gojek memiliki nilai valuasi sebesar US$10 miliar atau setara dengan Rp140 triliun. Gojek menduduki posisi ke-19 sebagai startup paling bernilai dari 300 startup di seluruh dunia.

Jika valuasi sudah mencapai US$10 miliar, maka Gojek sudah berhak untuk menyandang gelar decacorn. Decacorn merupakan istilah bagi startup yang memiliki nilai valuasi US$10 miliar lebih.

Di bawah istilah decacorn, ada istilah unicorn, yakni status yang diberikan bagi startup yang sukses menggenggam nilai valuasi US$1 miliar lebih. Gojek meraih status ini pada Mei 2017 lalu. 

Dalam laporan CB Insights, menyebutkan bahwa total pendanaan dari Seri F-II yang telah diterima Gojek mencapai US$3,3 miliar per 5 Maret 2019. Pada pendanaan seri F, Gojek mendapatkan tambahan modal US$1 miliar.

Tambahan modal tersebut dari Google, JD.com, Tencent, dan beberapa investor lainnya termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital pada awal 2019.

Dalam pendanaan seri F ini, CB Insights menyebutkan bahwa Astra Internasional telah mengucurkan dana sebesar US$100 miliar atau setara dengan Rp1,4 triliun.

Setelah mendapatkan kucuran dana dari beberapa investor ini, CB Insights menyebutkan bahwa valuasi Gojek sudah mencapai Rp140 triliun.

Tak Mau Kalah, Gelar Decacorn Kini Sudah Dalam Genggaman Gojek 02 Nadiem Makarim - Finansialku

[Baca Juga: Mudahnya Transaksi Dengan GO-PAY Gojek, Begini Ulasannya]

 

Selama 10 tahun beroperasi Gojek telah melakukan sembilan kali sesi pendanaan, ada sebanyak 24 investor yang menyuntikkan dananya dengan dana yang terkumpul mencapai US$3,1 miliar.

CEO Gojek Group Nadiem Makarim mengatakan, setelah putaran pendanaan Seri F ini, para pendiri Gojek akan tetap memiliki kontrol terhadap pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan.

Dengan begitu, mereka dapat merealisasikan visi jangka panjang perusahaan, ekspansi dan pengembangan bisnis.

Yang perlu diketahui bahwa nilai valuasi startup ditentukan oleh faktor-faktor lain, seperti penguasaan pasar, Gross Transaction Value (GTV) atau total transaksi yang dilayani dan sejenisnya.

Gojek berhasil menguasai pasar ride-sharing sangat besar di Indonesia. Catatan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Gojek memimpin pasar ride-sharing Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar 79,20 persen.

Meski Gojek berawal sebagai startup ride-sharing, dalam perkembangannya, startup ini juga jadi penguasa bisnis financial technology (fintech) di Indonesia melalui Go-Pay. 

Go-Pay menyumbang 31,34 juta transaksi uang elektronik Indonesia. Padahal, ada 32 penerbit uang elektronik lain yang beroperasi di Indonesia berdasarkan data Bank Indonesia. Go-Pay, merupakan pemimpin pasar di segmen ini.

Tahun lalu Gojek memiliki GTV lebih dari US$19 miliar dari nilai total transaksi yang diproses Gojek dari para pengguna yang menggunakan berbagai layanan mereka seperti Go-Ride, Go-Food, Go-Pay, dan lainnya. 

Iklan Banner Online Course Yuk Buat Sendiri Rencana Keuangan Anda - Finansialku 728 x 90

Iklan Banner Online Course Yuk Buat Sendiri Rencana Keuangan Anda - Finansialku 336 x 280

Sebelum mendapat predikat decacorn, Gojek telah merambah ke lebih banyak pasar, tepatnya empat negara tetangga di Asia Tenggara, yakni Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Hal ini dilakukan atas keinginan perusahaan untuk melakukan ekspansi adalah agar lebih banyak negara merasakan manfaat positif kehadiran perusahaan ini.

Dengan begitu, akan memberikan dampak luas bagi semua kalangan baik bagi konsumen yang menginginkan layanan yang cepat dan kompetitif, maupun mitra pengemudi yang mencari penghasilan tambahan.

Gojek memiliki pangsa pasar tertinggi diantara penyedia layanan e-commerce dilihat dari rata-rata pengguna aktif aplikasi per minggu (Weekly Active Users).

Berdasarkan data dari sebuah platform global yang menganalisis penggunaan aplikasi mobile sedunia.

Jumlah Weekly Active Users Gojek bahkan 55 persen lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi sejenis di Indonesia, berdasarkan data dari platform analisa yang sama.

 

Sumber Pendanaan Gojek Hingga Kini Menjadi Decacorn

Catatan CB Insights, Gojek sempat mendapat modal dari perusahaan asal Kanada, Vanedge Capital. Lalu, Gojek memperoleh pendanaan tahap awal (seed funding) dari modal ventura asal Singapura, Openspace venture pada Juni 2015.

Pada pendanaan seri A yang dilakukan Gojek pada 2015, Gojek mendapatkan pendanaan dari Sequoia Capital India dan Formation Group yang membuat valuasinya naik menjadi US$200-500 juta.

Pendanaan seri B pada 2016 senilai US$550 juta dari KKR, Warburg, Ferrara dan Capital Group Private Market. Pada saat itu valuasi Gojek mencapai US$1,3 miliar dengan menyandang gelar Unicorn.

Pada putaran pendanaan seri C di tahun 2017, Gojek dapat kucuran dana dari Tencent dengan nilai investasi US$150 juta, dimana pada putaran ini terkumpul dana US$1,2 miliar. Dengan begitu valuasi Gojek menjadi US$2,5 miliar.

Di tahun yang sama, Gojek kembali membuka pendanaan seri E. CB Insights menyebutkan Allianz sebagai investornya dengan nilai investasi US$35 juta.

Lalu putaran pendanaan seri F pada awal 2019 memperoleh dana sebesar US$1 miliar. Dan yang terakhir Gojek menggelar putaran pendanaan seri F-II pada 5 Maret 2019.

Prediksi Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara akan ada decacorn dari Indonesia semestinya terwujud.

Di samping itu, Rudiantara memperkirakan Indonesia bakal memperoleh dua decacorn. Pada Januari 2019 lalu, Rudiantara mengatakan:

“Setidaknya ada satu (decacorn). Tapi potensinya ada dua.”

 

Valuasi Gojek diperkirakan akan semakin membesar. Alasannya, sejak 24 Mei 2018 lalu, Gojek mengumumkan ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara, yakni Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Dengan faktor-faktor itu, faktor cemerlangnya kinerja Gojek dan proyeksi pasar yang masih bisa dioptimalkan, membuat Gojek memiliki nilai valuasi yang besar hingga dapat status decacorn bahkan bisa lebih dari itu.

Untuk ekspansi itu, Gojek merogoh investasi US$500 juta, nilai yang diambil dari penggalangan dana melalui Astra, Google, Tencent, JD.com, dan Meituan.

Ekspansi ke empat negara itu akan memperlebar cakupan operasional Gojek, yang berarti, menggenjot potensi Gojek.

Jadi tidak heran jika Gojek kini berstatus decacorn selain banyaknya investor, Gojek pun telah banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, belum lagi dengan mitra Gojek yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bagi Anda yang ingin merencanakan keuangan, Anda bisa membaca ebook Perencanaan Keuangan untuk usia 30 an di bawah ini secara GRATIS! Agar tujuan keuangan Anda bisa tercapai tepat sasaran.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

Download Ebook Sekarang

 

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca artikel di atas? Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini. Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Referensi:

  • Desi Setyowati. 5 April 2019. Perjalanan Panjang Gojek Menjadi Berstatus Decacorn. Today.line.me – https://bit.ly/2D2Qp66
  • Ahmad Zaenudin. 5 April 2019. Go-Jek Jadi Decacorn, Unicorn Adalah Masa Lalu. Tirto.id – https://bit.ly/2D0l97w

 

Sumber Gambar:

  • Gojek Decacorn – https://bit.ly/2G9BZSr
  • Nadiem Makarim – https://bit.ly/2UoaMoH