Pandemi membuat kita semakin sadar dan menerima akan adanya penyakit mental. Namun nyatanya, ada beberapa hal penting yang tetap tidak dibicarakan.

 

Kesadaran Masyarakat Tentang Penyakit Mental

2020 lalu merupakan tahun yang sulit bagi semua lapisan masyarakat. Karena, adanya pandemi yang membuat kita terkurung di dalam rumah, dan tidak bersosialisasi dengan sesama.

Akhirnya, muncullah suatu keresahan yang baru disadari, yaitu penyakit mental.

Namun, hal itu bukan selalu buruk, karena di tahun 2020 kesadaran masyakarat soal kesehatan mental menjadi trending topic yang tidak kunjung sirna akhir-akhir ini.  

Tentu, ini menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk bagi orang yang punya kondisi mental dan/atau penyakit mental.

Mengapa tidak? Kabar baiknya adalah masyarakat menjadi lebih sadar dan menerima isu krusial ini. Lalu, mulai paham akan pentingnya kesehatan mental, dan kondisi seperti depresi dan kecemasan adalah penyakit yang nyata.

Kabar buruknya datang karena kurangnya edukasi kesehatan mental, yang akhirnya makin banyak orang mendiagnosis diri sendiri lewat Google.

Lebih parahnya, orang non-profesional mendiagnosis followers media sosial mereka berdasarkan pengalamannya dan informasi umum Google.

Jangan Lupa 4 Poin Penting Ini saat Membicarakan Penyakit Mental 02

[Baca Juga: Manfaat Menabung, Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Mental]

 

Lainnya, ada yang sudah didiagnosis secara profesional, namun menyalahgunakan penyakitnya menjadi alibi atas perilaku buruk dan tidak bertaggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.

Tentu saja hal ini menjadi sebuah ironi, dan semua berakar dari beberapa pesan yang tidak dikomunikasikan dengan baik.

Hal tersebut harus diatasi agar upaya kesadaran kesehatan mental meningkat, dan mendorong masyarakat untuk menerima serta merangkul orang yang berpenyakit mental.

 

Hal Yang Dilupakan Ketika Berbicara Penyakit Mental

Jadi, apa saja yang kita lupakan saat berbicara penyakit mental? Berikut penjelasan lengkapnya.

 

#1 Kondisi Kesehatan Mental Tidak Menentukan Nilai Moral dan Etika

Seperti yang kita tahu, ketika para pengidap bipolar sedang kambuh, sering kali mereka melakukan perilaku yang berisiko, perasaan besar diri, euforia, dan lainnya yang berbahaya bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Meski kamu telah menyakiti orang lain dan membuat keputusan-keputusan yang buruk, namun itu tidak membebaskan kamu dari konsekuensi atas tindakanmu.

Kamu mungkin mengidap depresi, gangguan bipolar, atau lainnya, namun terlepas dari kondisi yang kamu rasakan, pedoman moral kemanusiaanmu tetap sama.

Jangan sampai melepas tanggung jawab dan menyalahkan kondisi mentalmu atas perbuatan burukmu.

 

#2 Harus Menjelaskan Kondisi dan Diri Kepada Orang Lain itu Melelahkan

Keterbukaan atas isu ini adalah suatu prestasi yang gemilang. Kamu bisa mencari banyak sumber referensi daring tentang penyakit mental secara umum.

Bahkan di Instagram, kamu dapat menemukan ribuan akun yang menyoal kesadaran dan pendidikan kesehatan mental.

Sehingga, jangan minta mereka selalu menjelaskan kepadamu tentang apa itu depresi atau kecemasan, seperti apa rasanya, dan apa yang mereka alami.

Mereka sudah lelah melawan penyakit dalam diri mereka masing-masing. Bantulah teman kita bertarung melawannya. Biarkan mereka istirahat, atau kirimkan mereka makanan.

Memberikan dukungan dengan siap memikirkan dan mendengarkan permasalahan mereka adalah salah satu solusi yang tepat. Menerima tanpa menilai adalah sebuah dukungan yang suportif.

 

#3 Gangguan Mental Tidak Mudah Hilang

Penyakit mental bukanlah seperti flu yang sekali sakit, mudah untuk sembuh dan tidak terdiagnosa kembali.

Namun, penyakit mental itu lebih seperti diabetes. Sekali terjangkit, penyakit ini bisa bertahan dalam hitungan atau puluhan tahun. Bahkan ada kondisi hingga seumur hidup.

Sehingga, meskipun bisa dikelola dengan baik, orang yang berpenyakit mental masih memiliki diagnosa nya, bahkan penyakit itu tidak akan benar-benar hilang.

Setiap orang memiliki kadar kontrol depresi yang berbeda. Ada yang mudah stress, namun mudah untuk pulih kembali.

Ada juga yang membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hingga akhirnya kembali ke situasi normal. Tentu saja, hal ini sangat melelahkan dan menyita waktu.

Bila kamu mulai peduli dan ingin menjadi teman yang suportif bagi orang yang berpenyakit mental, kamu harus paham bahwa keadaan tidak terkontrol tersebut akan tetap ada.

Bila kamu ingin di samping orang tersebut, kamu harus siap sepenuhnya dan tahu apa yang sedang kamu hadapi.

Bila kamu tidak bisa berada di samping orang tersebut, jangan membuat janji pada mereka. Jangan pula katakan “Aku akan selalu ada untukmu” hanya sebagai upaya menjadi teman yang baik.

Kamu tidak perlu membuat banyak janji, karena pasalnya memang tidak semua orang mampu bertahan di posisi tersebut.

 

#4 Tidak Perlu Mengasihani Para Penyintas Kesehatan Mental

Bagus sekali bila kita sebagai masyarakat umum lebih memahami penyakit mental sekarang, namun hal itu membuat kita merasa kasihan kepada mereka.

Sedih banget ya,” atau kita akan seperti, “Ya ampun, kasian banget dia”. Hindari menyikapi seperti ini.

Karena pada faktanya, para penyintas kesehatan mentak itu kuat dan berani, dan mereka tidak ingin dikasihani.

Jika ingin memberikan dukungan, jangan kasihani mereka. Sebaliknya, ingatkan mereka bahwa mereka kuat, berani, dan hebat bahwa telah berjuang pada pertempuran ini.

Sebelumnya mereka menang, dan akan menang lagi kemudian.

 

banner -Bagaimana Membantuk Money Habit yang Sehat (1)

 

Itulah beberapa hal yang sering luput kita bicarakan, namun penting sebagai etika dasar untuk menyikapi kepada para penyintas kesehatan mental. Sudah saatnya kita harus semakin memanusiakan sesama manusia.

 

Yuk share informasi ini supaya semakin banyak orang lebih sadar untuk mempedulikan kesehatan mental satu sama lain.

 

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara Finansialku.com dan Magdalene.co. Isi artikel menjadi tanggung jawab sepenuhnya Magdalene.co.

 

Sumber referensi:

 

Sumber Gambar:

  • 01 – https://bit.ly/2PNdXoo
  • 02 – https://bit.ly/3dkACAJ