Bagaimana prospek bisnis emiten Net TV (NETV) yang melantai di bursa pada 26 Januari 2022 di tengah bisnis hiburan yang masih ramai? Yuk, kita bahas!

 

Business Profile PT Net Visi Media Tbk.

PT Net Visi Media Tbk. merupakan perusahaan yang didirikan pada 2004. Perusahaan pengelola stasiun televisi Net TV ini diawali saat mengakuisisi anak usaha dengan nama PT Televisi Anak Spacetoon, yang merupakan pengelola stasiun televisi ‘Spacetoon’.

NETV adalah media yang menargetkan segmen millennial-GenX dan middle-affluent market dan segmen pemirsa televisi wanita, keluarga, dan anak-anak dalam menjalankan bisnisnya.

Perseroan ini juga mempunyai jaringan channel Youtube terbesar dari sisi subscriber dan most view di Indonesia mengalahkan seluruh jaringan channel TV yang ada di Indonesia.

Saat ini, NETV bergerak dalam bidang usaha industri media, dalam hal ini Manajemen (Artis), Penyiaran Televisi dan Rumah Produksi. Beberapa perusahaan anak yang bergerak dalam bidang usaha di industri media antara lain:

  • NMTV, yaitu, aktivitas bisnis yang bergerak di industri penyiaran televisi/ FTA.
  • Net Media Digital (NMD), yaitu aktivitas bisnis yang bergerak di bidang digital melalui OTT Platform dan Engagement/ Loyalty Platform.

Untuk OTT platform NMD mengembangkan aplikasi yang bernama NET Prime (dahulu bernama Zulu) di mana masyarakat dapat menyaksikan program-program acara.

  • Net Media Berita (NMB), yaitu aktivitas bisnis yang bergerak atau fokus di berita baik secara konvensional ataupun digital. Dengan memiliki kemampuan jurnalistik yang sangat baik dan dengan mengedepankan asas adil dan berimbang dalam membuat program berita.
  • Kreatif Inti Korpora (CREATIVE INC), yaitu aktivitas bisnis yang bergerak di bidang pembuatan program/ content
produksi konten

Konten Eksklusif CREATIVE INC.
Sumber: Netvisimedia

 

Kegiatan usaha dari NMD, NMB dan CREATIVE INC dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan, tentunya akan memberikan dampak yang positif bagi pendapatan Perseroan.

Tokopedia diketahui menjadi salah satu pemegang saham NETV sebesar 4,37% yakni 765.306.100 saham.

 

Dana IPO ditujukan untuk beberapa hal ini:

  • 18,5% untuk industri manajemen (artis), seperti biaya pengembangan    keahlian, keterampilan artis, dan biaya operasional di perseroan.
  • 53% sebagai bentuk setoran modal (membayar utang) dalam PT Net Mediatama Televisi.
  • 28,5%  untuk setoran modal dalam PT Net Media Digital.

 

Kinerja Keuangan PT NET VISI MEDIA Tbk.

Berdasarkan data rilis dari prospektus NETV, kinerja keuangan emiten masih buruk.  NETV selama beroperasinya masih merugi, karena pendapatan iklannya tidak pernah cukup untuk menutup biaya produksi siaran.

Pendapatan perseroan mencapai Rp 282,93 miliar hingga Juli 2021, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 209,98 miliar. 

Pada tahun 2018, 2019, dan 2020, perusahaan merugi masing-masing Rp 171, 423, dan 616 miliar. Demikian pula hingga 31 Juli 2021, NETV kembali merugi Rp 120 miliar.

Revenue NETV juga cenderung turun dari tahun ke tahun, yang kemudian menyebabkan ruginya naik dari tahun ke tahun.

Faktor lainnya, para pemirsa dari kelompok ekonomi menengah ke atas sejak beberapa tahun ini cenderung jarang lagi menonton televisi. Hal ini karena mereka berpindah ke tayangan streaming seperti Netflix, WeTV, hingga layanan streaming lainnya yang lebih lengkap.

[Baca Juga: Bisnis Big Data, Apakah TLKM Cocok untuk Investasi Jangka Panjang?]

 

Perseroan diketahui juga berupaya  untuk menekan biaya melalui strategi time belt, yaitu program-program yang berbiaya mahal hanya diproduksi pada jam-Prime Time. 

Sedangkan untuk jam Non Prime Time digunakan program-program akuisisi yang berbiaya murah ataupun program rerun.

Dari sisi Aset NETV mengalami penurunan selama 4 tahun terakhir ini, untuk Cash masih rendah jika dibandingkan dengan utangnya.

Sedangkan untuk Ekuitas NETV mengalami penurunan drastis pada tahun 2018, sempat naik pada tahun 2020 karena adanya convertible bonds.

Posisi Ekuitas NETV

Posisi Ekuitas NETV.
Sumber: Prospektus Emiten NETV

 

Outlook PT NET VISI MEDIA Tbk.

Manajemen Net TV berkomitmen untuk menghadirkan siaran yang menghibur, unik dan kreatif, serta mengandung fakta bukan rumor ataupun gosip.

Dengan penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif (15-65 tahun) berjumlah 177 juta atau 68% dari total penduduk.

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai target pasar potensial bagi produk konsumsi seperti produk makanan dan minuman maupun produk rumah tangga.

Belanja iklan per kapita di Indonesia pada tahun 2020 masih tercatat US$ 7, relatif rendah dibandingkan dengan Vietnam sebesar US$ 15 ataupun Filipina sebesar US$ 11.

Sementara, untuk negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Singapura, dan Australia berkisar antara US$ 212 – US$ 463.

 

Pergerakan saham PT NET VISI MEDIA Tbk.

Pergerakan saham NETV sejak IPO sempat ARA selama 3 hari berturut turut. Saham PT Net Visi Media Tbk (NETV) sempat melonjak sebanyak 162,75% terhitung sejak listing perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Januari.

Namun, pada 3 Februari 2022 mengalami ARB (Auto Reject Bawah) -6,7% di saat IHSG juga mengalami pelemahan sebesar 0,4% di sesi I perdagangan Kamis, 3/2/2022.

Saat tulisan ini dibuat (3/02/22), NETV diperdagangkan pada closing price 600/lembar.

Pergerakan Harga Saham NETV Sejak IPO Pada 26 Januari 2022

Pergerakan Harga Saham NETV Sejak IPO Pada 26 Januari 2022.
Sumber: tradingviews

 

Kesimpulan

Pergerakan saham digital ini sangat volatile. Dengan fundamental yang belum memuaskan, NETV belum layak dikonsumsi untuk kamu yang mencari dividen atau menyimpan untuk long term investment.

Sedangkan untuk prospek pasca pandemi di tengah Era Digital, NETV masih akan menarik.

Prospek yang menarik dan cerah ini tentu jika diiringi dengan kinerja yang lebih kuat, dapat terus berkembang dan memiliki masa depan yang menjanjikan.

Jika Sobat Finansialku ingin mengetahui informasi lebih mengenai investasi saham, Sobat Finansialku bisa mengikuti online course Value Investing Fundamental. Untuk info lengkapnya, klik gambar di bawah ini!

 

Disclaimer-on: Tulisan ini untuk EDUKASI, bukan SARAN INVESTASI. Penulis tidak memegang saham terkait. Penulis tidak terafliasi dengan perusahaan yang disebutkan atau anak usaha.

Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buys/sell atau pun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisa dari penulis. Berdasar laporan keuangan dan diambil dari sumber dianggap terpercaya.

Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

Bagaimana pendapat Anda mengenai informasi di atas? Tulis opini dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa untuk bagikan informasi ini pada rekan-rekan investor lainnya. Semoga bermanfaat.

 

Editor: Ratna sh

Sumber: Kontan.co.id, Market.bisnis.com, CNN Indonesia, RTI, Stockbit, IDX.co.id