Dalam artikel sebelumnya, kita pernah membahas mengenai manajemen risiko ala Sun Tzu, seorang ahli taktik perang dari Tiongkok, dalam memenangi peperangan.

Manajemen risiko memang sangat penting, dengan memahaminya, Anda sudah selangkah lebih maju dibandingkan investor lainnya. Apa saja risikonya? Artikel ini akan menjelaskannya.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

Risiko Berinvestasi Saham

Sun Tzu, adalah seorang ahli taktik perang dari Tiongkok, yang juga merupakan pengarang dari kitab Art of War. Manajemen risiko investasi saham ala Sun Tzu pun pernah kami bahas di sini.

Dalam artikel tersebut, kita mengetahui bahwa untuk memenangi peperangan, kita tidak hanya harus mengenali diri kita sendiri, namun juga mengenali siapa musuh yang kita hadapi.

Risiko Berinvestasi Saham

Manajemen Risiko Ala Sun Tzu Dapat Juga Diterapkan Pada Investasi Saham 

 

Demikian pula dalam berinvestasi di pasar saham, seorang investor yang bijak tidak hanya fokus dalam mengejar keuntungan, melainkan juga harus mengetahui tentang risiko yang dihadapi dalam berinvestasi di pasar saham.

Dengan kata lain, mengetahui jenis risiko yang dihadapi dalam berinvestasi di pasar saham adalah salah satu hal yang perlu diketahui untuk dapat beat the market.

Dengan mengenal risiko-risiko tersebut artinya kita telah mengenal musuh yang kita temui (atau akan kita temui) di pasar saham.

Lalu, apa saja risiko-risiko yang perlu kita ketahui (dan waspadai) dalam berinvestasi di pasar saham?




 

#1 Waspadai Kondisi Ekonomi dan Politik

Kondisi ekonomi dan politik sebuah negara merupakan hal yang amat krusial dan tidak dapat dipandang sebelah mata oleh seorang investor. Investor lebih menyukai berinvestasi di negara yang aman dan kondusif ketimbang berinvestasi di negara yang penuh dengan perang.

Mungkin kita masih ingat saat terjadi krisis ekonomi dan kerusuhan di tahun 1998, pasar saham Indonesia mengalami kehancuran. Harga saham berjatuhan bahkan beberapa saham sampai tidak ada harganya sama sekali (Rp0).

Atau jangankan kerusuhan 1998, tahun 2016 kemarin pun peristiwa besar seperti BREXIT (British Exit), di mana negara Inggris memisahkan diri dari Uni Eropa membuat bursa-bursa saham regional berjatuhan.

Pelajaran Berharga dari Kilas Balik Krisis Ekonomi 1999 Indonesia 01 - Finansialku

Pelajaran Berharga dari Kilas Balik Krisis Ekonomi 1999 Indonesia

 

Kasus lain misalkan kondisi politik terkait Pemilihan Presiden juga biasanya turut mempengaruhi pergerakan bursa saham.

Pertanyaannya, apa yang harus saya lakukan jika terjadi kondisi ekonomi dan politik yang tidak stabil? Secara teori, Anda sebaiknya mengalihkan uang Anda dari pasar saham ke pasar uang (obligasi atau deposito).

Saat terjadi krisis di sebuah negara, maka pasar saham akan jatuh tanpa mengenal ampun dan tidak ada yang bisa melawannya.

 

#2 Waspadai Risiko Nilai Tukar Mata Uang

Berikutnya, kita perlu mewaspadai perubahan nilai tukar mata uang. Perubahan nilai tukar mata uang juga dapat dikatakan sangat berpengaruh terhadap kestabilan bursa saham.

Perubahan nilai tukar mata uang yang stabil atau terjadi perubahan secara normal sebenarnya tidak akan menimbulkan gejolak di bursa saham. Berbeda halnya bila perubahan nilai tukar mata uang terjadi secara drastis dalam waktu yang singkat. Hal ini berpotensi membuat bursa saham bergejolak, terutama perusahaan yang memiliki hutang dalam bentuk mata uang asing.

Mungkin Anda masih ingat ketika di pertengahan 2013 yang lalu, di mana Dollar Amerika menguat dari Rp9.000 ke Rp12.000 dalam waktu beberapa bulan? Atau pertengahan tahun 2015 di mana Rupiah melemah terhadap Dolar Amerika dari Rp12.000 ke Rp14.500 juga dalam waktu beberapa bulan?

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah 2012 – 2017

 

Perhatikan bahwa di periode tersebut, IHSG melemah cukup signifikan. Sementara pada sisi sebaliknya, penguatan nilai tukar secara signifikan akan mengakibatkan terjadinya deflasi yang merugikan ekonomi secara keseluruhan. Dampak dari deflasi tersebut adalah melemahnya pertumbuhan negara karena tertutupnya pasar ekspor.

 

#3 Waspadai Risiko Bisnis Setiap Perusahaan

Dalam Laporan Tahunan, biasanya sebuah perusahaan menjelaskan apa saja risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Misalkan perusahaan batu bara menghadapi risiko volatilitas harga batubara, di mana harga-harga saham perusahaan batu bara berjatuhan ketika terjadi commodity crash di tahun 2012.

Contoh lain misalkan perusahaan otomotif dan pendukungnya (pembiayaan, produsen ban, dan lain-lain) yang menghadapi risiko pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi ketika penjualan mobil dan sepeda motor anjlok di tahun 2015, menyebabkan harga saham sekelas ASII (Astra) pun turun secara signifikan.

Selain ASII, produsen ban seperti GJTL (Gajah Tunggal), atau perusahaan pembiayaan seperti ADMF (Adira Finance) dan WOMF (WOM Finance), harga sahamnya pun berjatuhan.

Dengan mengetahui risiko bisnis dari perusahaan, kita akan bisa mengantisipasi risiko kerugian tersebut. Bagaimana cara kita mengetahui risiko bisnis dalam laporan tahunan? Caranya Anda bisa lihat pada bagian ”Risiko-Risiko yang Dikelola”.

 

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

#4 Waspadai Risiko Likuiditas

Risiko ini berkaitan dengan nilai kapitalisasi dan besarnya transaksi sebuah saham. Pentingnya likuiditas dari sebuah saham terutama karena adanya faktor yang tidak terduga yang mengharuskan Anda menjual seluruh kepemilikan saham.

Proses penjualan akan lebih mudah jika ada pembeli yang siap menampung, namun bagaimana jika tidak ada? Risiko ini juga akan lebih erat pada investor atau fund manager yang mengelola dana dalam jumlah besar (miliaran rupiah).

Kategori BUKU Bank

Belajar Mengelola Risiko Investasi Saham Dengan Menjadi Ahli Pasar Modal

 

Bayangkan apabila Anda ingin menjual cepat saham untuk kebutuhan biaya rumah sakit, namun karena harga saham tersebut tidak likuid, Anda harus menjualnya pada harga murah. Oleh karena itu, tetap perhatikan juga faktor likuiditas dalam berinvestasi di saham.

Saya sendiri memiliki hitungan bahwa position sizing kita di sebuah saham adalah maksimal 5% dari rata-rata volume transaksi harian saham tersebut. Misalkan rata-rata transaksi adalah Rp2 miliar, maka maksimal position sizing saya adalah Rp100 juta saja.

 

#5 Waspadai Risiko Emosional

Sebagai investor (atau trader), kita adalah manusia yang tidak lepas dari perasaan greed dan fear. Apabila harga saham naik biasanya muncul perasaan greed.

Para Investor, Kenali 2 Jebakan Psikologis yang Dapat Menggagalkan Investasi Anda! 01 - Finansialku

Ada 2 Jebakan Psikologis Dalam Investasi Saham, Yaitu Fear And Greed

 

Contoh, kita sudah dalam keadaan floating profit 10%, normalnya kita akan berpikir bagaimana rasanya jika kita menikmati keuntungan 20%?

Atau sebaliknya, ketika kita dalam keadaan floating loss 10%, normalnya kita akan takut bagaimana jika harga sahamnya terus turun menjadi 20%.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui nilai intrinsik sebuah saham sebagai landasan kita untuk meminimalisir greed dan fear ini.

 

Anda tertarik untuk berinvestasi saham? Silahkan download Gratis ebook: Panduan Berinvestasi Saham Untuk Pemula

Gratis Download Ebook Panduan Berinvestasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Kenali Risiko Berinvestasi Saham

Kurang lebih itulah risiko-risiko yang perlu kita waspadai sebagai investor saham. Sebenarnya ada beberapa risiko lainnya yang perlu kita waspadai, hanya saja dengan mewaspadai 5 risiko ini, kita sudah selangkah lebih maju dibandingkan dengan investor lainnya.

Apabila ada risiko lainnya yang menurut Anda belum dibahas pada artikel ini, feel free untuk memberikan comment di bawah ini. Selamat Berinvestasi!? Selamat Berinvestasi!

 

Apakah Anda sudah tertarik untuk memulai berinvestasi saham? Silahkan comment atau share ke pembaca lainnya ya. Terima Kasih.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Umbrella Risk – https://goo.gl/ak3V2W
  • Forex Chart –  https://goo.gl/e9kQV4