Model bisnis yang in-demand yaitu sharing economy, sebenarnya sudah ada dari dulu. Sekarang semakin marak sejak diimbangi dengan kemajuan teknologi.

Zaman dulu sering kali petuah dari orang tua untuk membeli aset, salah satunya berupa rumah.

Nah, zaman sekarang kayaknya membeli aset macam rumah dan mobil itu dianggap gak penting dan merugi. Masih relevan gak nih petuah sama keadaan zaman?

Sharing economy sendiri memanfaatkan ruangan, tempat dan kendaraan yang idle supaya menghasilkan dan sebenarnya tidak jarang menimbulkan keributan karena regulasi yang tidak jelas. Sebenarnya bagaimana pandangan sharing economy dari kacamata perencana keuangan?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Sharing Economy

Sharing economy bisa diartikan secara harfiah adalah ekonomi berbagi. Menurut Rhenald Kasali, Guru Besar FE UI: “Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian dan kesejahteraan”

Apa yang membedakan sharing economy dengan jenis ekonomi lainnya? Bahwa sharing economy faktanya semua orang bisa menghasilkan uang sendiri atas aset yang sudah anda miliki.

Secara pengertian akademis, “sharing economy is an economic model in which is individual are able to borrow or rent asset owned by someone else.” Bayangkan dengan sistem ekonomi ini kita dapat meningkat utilisasi aset secara maksimal.

Sharing economy membutuhkan internet untuk mempertemukan supply dan demand. Karena internet sifatnya borderless, supply dan demand dapat bertemu dengan bebas dari seluruh penjuru dunia.

Kita sudah tidak aneh lagi dengan layanan Uber, AirB&B, Go-Jek atau pun CoWorking Space. Layanan tersebut hadir karena adanya demand dan dibuat di aplikasi digital.

Apa Itu Sharing Economy 02 - Finansialku

[Baca Juga: Menelusuri Perbedaan Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro di Indonesia]

 

Orang-orang zaman now tidak pernah lepas dengan yang namanya handphone. Inilah yang terjadi dengan milenial terutama dan manusia zaman now.

Nah, dari dasar itulah banyak dari milenial yang berpikir ngapain punya rumah dan mobil pribadi, itu hanya akan jadi pemborosan dan beban.

Lebih baik uangnya dipakai untuk mencari pengalaman dengan travelling. Mendapatkan pandangan dan hal-hal baru dan klaim nya adalah lebih berarti daripada kepemilikan aset.

Sebenarnya apa sih sharing economy ini ada apa baik dan buruknya?

 

Sejarah Sharing Economy

Dunia telah mengalami berbagai sistem ekonomi. Dimulai dari sistem ekonomi pasca revolusi Prancis hingga era ekonomi modern sampai dengan ditemukannya internet. Kemudian muncul konsep sharing economy dimana seseorang bisa menjadi konsumen dan produsen pada saat yang bersamaan.

 

Revolusi Prancis

Pada tahun pertengahan 1700-an hingga awal 1800-an, Revolusi Prancis mengubah sejarah modern di dunia. Didorong tingkat ekonomi rakyat yang tidak semakin membaik, menjadikan sebuah gerakan yang sangat besar.

Perubahan secara garis besar mengganti wajah monarki absolut yang dipimpin oleh Raja Louis XVI yang sebagai kepala pemerintahan negara yang absolut.

Revolusi Perancis juga menunjukkan betapa kuat nya kekuatan rakyat yang mayoritas dengan sebesar 98% untuk melawan golongan otoriktrat kerajaan sebesar 2% mengontrol seluruh keputusan kepemerintahan.

Hasilnya adalah kejatuhan pada pemimpin monarki dan menjadikan Prancis negara yang demokrasi, by the people for the people.

 

Era Ekonomi Modern

Pada saat ini, situasi perekonomian secara makro hampir menyerupai era pra- revolusi prancis. Dalam konteks ekonomi, hanya beberapa jumlah golongan pengusaha yang menikmati keuntungan dari sistem ekonomi modern.

Sistem ekonomi modern mengajarkan tentang perusahaan harus mensejahterakan shareholder nya. Dengan justifikasi with great risk come great margin, sekelompok orang tertentu memanfaatkan sistem ekonomi modern tersebut untuk memperkaya diri nya sendiri.

 

Era Modern: Internet dan Kelahiran Ekonomi Digital

Di awal tahun 2000 an Internet mulai menjadi salah satu bagian kita yang tidak dapat di pisahkan. Walau pertama kali diciptakan pada tahun 1962 dan langsung diperuntukkan untuk keperluan pertahanan Amerika Serikat, perjalanan internet menjadi sangat krusial dengan menghasilkan sistem ekonomi digital.

Secara simpel, sharing economy dapat memotong kebutuhan kita terhadap kebutuhan yang kita perlukan tanpa harus membeli barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan internet, individu dapat dipertemukan supply dan demand nya. Tentunya, kita bisa meng-utilisasikan aset secara maksimal sehingga tidak terjadi waste.

 

Kelebihan Dan Kekurangan Sharing Economy

Konsep sharing economy adalah dimana seseorang dapat menjadi konsumen dan produsen pada saat yang bersamaan diperkirakan menjadi wajah baru bagaimana bisnis dilakukan. Internet menjadi media fasilitator yang sangat baik untuk menerapkan konsep sharing economy.

Kelebihan dari sistem sharing economy membawa pengaruh positif bagi masyarakat. Masyarakat mengaku dengan transaksi lewat dunia digital segala urusan menjadi mudah.

Apa Itu Sharing Economy 03 - Finansialku

[Baca Juga: Tabu Terhadap Keterbukaan Finansial, Apa Benar? Ketahui Penjelasannya]

 

Lihat saja aplikasi Go-Jek, Uber, dan Grab yang mudah diakses, pemberian servis yang memuaskan, driver yang ramah, serta tarif yang jauh lebih murah dari penyedia transportasi konvensional lainnya merupakan kelebihan yang diberikan oleh kegiatan ekonomi berbasis digital.

Konsumen akan diuntungkan dengan kecepatan pemenuhan kebutuhan, keberagaman pilihan, dan harga yang kompetitif. Harga lebih murah bisa diberikan karena pada umumnya, penyedia barang atau jasa adalah individu atau wirausahawan kecil yang memiliki struktur biaya lebih murah dibandingkan korporasi.

Kekurangannya dari sistem sharing economy adalah model ekonomi berbagi berbasis teknologi pasti bertemu dengan kendala regulasi. Ini terjadi di semua belahan negara, terkait pajak, izin dan lain-lain, maka sering terjadi kericuhan atau demo.

 

Hubungannya Dengan Kepemilikan Aset Milenial

Singkat kata berdasarkan penjelasan diatas, sharing economy itu easy way out. Tidak perlu surat kepemilikan tapi bisa memanfaatkan fasilitasnya.

Bisa jadi bahan renungan disini adalah apakah ini hanya jadi tren sesaat atau akan berlangsung lama?

Lalu bagaimana jika milenial tetap tidak mau punya aset dan modal sharing economy saja. Perlu dicatat ya, pengeluaran Gen X dengan milenial sama besarnya dalam urusan kebutuhan sehari-hari.

Kalau Gen X bisa beli aset dan settle, apakah milenial tidak mau hanya karena dari sudut pandang kekinian bahwa mempunyai aset adalah ketinggalan zaman?

Iya betul harta dan uang gak dibawa mati, tapi gak ada uang itu membimbing jalan kita ke arah penderitaan lebih cepat.

Ya tentu saja, semua itu kembali ke pilihan masing-masing.

 

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

Download Ebook Sekarang

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai artikel di atas? Bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda, semoga bermanfaat.. Terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Admin. 16 Desember 2015. Sharing Economy part 1: Revolusi Pada Era Ekonomi Digital. Fakhrurrojihasan.wordpress.com – http://bit.ly/2wlJl0m
  • Admin. 17 Desember 2015. Sharing Economy part 2: A New Destructive Wave of Creativity. Fakhrurrojihasan.wordpress.com – http://bit.ly/2M60WnM
  • Hani Nur Fajrina. 29 Maret 2016. Sharing Economy, Berbagi Aset dan Keuntungan. Cnnindonesia.com – http://bit.ly/2M60WnM

 

Sumber Gambar:

  • Sharing Economy 1 – http://bit.ly/2HPxVas
  • Sharing Economy 2 – http://bit.ly/2YP8mgU
  • Sharing Economy 3 – http://bit.ly/2W22VOC