Apa itu resesi? Belakangan ini muncul berita yang membeberkan tentang akan terjadinya resesi di tahun 2020!

Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Apa Itu Resesi? Mengapa Disebut Mengancam?

Sobat finansialku, mungkin akhir-akhir ini menjadi lebih sering mendengar kata “resesi” yang kabarnya akan terjadi di tahun 2020, lalu sebenarnya apa itu resesi?

Secara umum, resesi merupakan sebuah keadaan dimana kondisi ekonomi mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu setidaknya selama enam bulan.

Terdapat lima indikator ekonomi yang menjadi sasaran dari penurunan ini, yakni pekerjaan, penjualan ritel, manufaktur, pendapatan dan PDB (Produk Domestik Bruto) rill.

Ada juga yang mendefinisikan resesi sebagai masa dimana tingkat pertumbuhan PDB negatif dalam waktu setidaknya dua kuartal berturut-turut (enam bulan), dan bisa saja terjadi meski laporan PDB triwulan masih belum keluar.

Mengutip dari Cnbcindonesia.com, National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai “periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh ekonomi dan berlangsung selama lebih dari beberapa bulan”.

Sebelumnya, perlu terlebih dahulu diketahui bahwa sebuah negara akan disebut sebagai negara yang maju jika negara tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Ancaman Resesi 2020! Sebenarnya Apa Itu Resesi 02

[Baca Juga: Heboh Isu World War 3, Apa Dampaknya Pada Ekonomi Indonesia?]

 

Hal ini dapat dilihat dari seberapa besar pendapatan nasional atau nilai produk domestik brutonya (PDB).

Tentu saja, pertumbuhan ekonomi sebuah negara akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan.

Nah… terjadinya resesi juga akan sangat mempengaruhi bagaimana keadaan sebuah negara, yakni pada kegiatan ekonomi.

Contoh dampak yang bisa langsung kita lihat akibat terjadinya resesi ialah menurunnya daya beli masyarakat sehingga banyak perusahaan yang mengalami kerugian.

Selain itu, hal ini juga bisa menimbulkan melonjaknya angka pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja.

Apabila masalah ini tidak segera diatasi, maka resesi bisa saja terjadi dalam jangka waktu yang lama, sehingga negara yang mengalaminya mengalami kebangkrutan ekonomi.

Jika sebuah negara telah berada pada fase ini, maka akan susah untuk kembali bangkit dan memulihkan perekonomiannya.

 

Indikator Terjadinya Resesi

Resesi bisa saja menghantui semua negara, bahkan negara-negara maju sekalipun! Lalu kapan sebenarnya sebuah negara dapat dikatakan mengalami resesi?

Hal utama dan terpenting yang menjadi indikator terjadinya resesi ialah nilai dari PDB riil. Dan itu semualah yang diproduksi oleh bisnis dan individu di Amerika Serikat.

Hal tersebut dikatakan riil sebab inflasi dilucuti, sehingga ketika tingkat pertumbuhan dari PDB riil menjadi negatif, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya resesi.

Namun untuk memutuskan apakah sebuah negara tersebut berada dalam resesi akan cukup sulit jika hanya berdasarkan PDB saja, sebab tingkat pertumbuhannya tidaklah dapat dipastikan.

Mungkin saja saat ini pertumbuhan sedang negatif, lalu pada kuartal berikutnya berubah kembali menjadi positif.

Maka dari itu, ada indikator yang perlu diperhatikan untuk memastikan kapan sebuah negara dapat dikatakan sedang berada dalam masa resesi.

 

#1 Pertumbuhan Ekonomi dalam Dua Kuartal Berturut-turut

Pertumbuhan ekonomi menjadi tolok ukur dalam menentukan apakah kondisi ekonomi sebuah negara sedang baik atau tidak.

Negara akan dikatakan memiliki kondisi ekonomi yang sehat dan kuat jika pertumbuhan ekonominya mengalami peningkatan yang signifikan.

Tetapi jika PDB mengalami pertumbuhan yang lambat atau bahkan mengalami penurunan setidaknya selama dua kuartal berturut-turut, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut sedang mengalami resesi.

 

#2 Terjadi Inflasi dan Deflasi yang Tinggi

Inflasi memang diperlukan untuk beberapa kepentingan tertentu, hanya saja bukan berarti inflasi boleh terjadi secara terus menerus atau pun berada pada nilai yang begitu tinggi.

Sebab jika inflasi yang terjadi terlalu tinggi, maka kondisi ekonomi juga akan menjadi kian sulit sebab tidak semua kalangan mampu menghadapi inflasi tersebut.

Jika inflasi terjadi tanpa disertai dengan daya beli dari masyarakat, maka kondisi ekonomi akan menjadi semakin parah.

Begitu juga jika terjadi deflasi! Jika harga menjadi turun dengan drastis, maka perusahaan bisa saja tidak mampu menutupi biaya produksinya.

Hal ini tentu akan berdampak besar bagi perekonomian negara, terlebih jika banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk berdiri.

 

#3 Angka Pengangguran

Angka dari pengangguran juga bisa menjadi indikator terjadinya resesi, sebab tenaga kerja memegang peranan penting dalam menggerakkan perekonomian negara.

Tentu saja, tingginya angka pengangguran bisa menjadi tanda bahwa negara belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup.

 

#4 Nilai Impor yang Tinggi

Meskipun mengimpor barang memiliki manfaat yang besar untuk memenuhi kebutuhan negara, namun jika nilainya menjadi sangat tinggi maka bisa berisiko pada anggaran negara.

 

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Resesi?

Setiap negara bisa saja mengalami resesi, untuk itu perlu adanya kebijakan ekonomi yang baik sehingga dapat mengatasi jika terjadi masalah.

Selain itu, negara juga perlu selalu memantau laju dari pertumbuhan ekonominya.

 

Anda telah menambah wawasan baru setelah selesai membaca artikel ini. 

Tetapi mungkin tidak demikian dengan rekan atau kerabat Anda.

Mengapa tidak berbagi informasi bermanfaat ini kepada mereka, dan Anda akan menjadi sahabat pengetahuan.    

 

Sumber Referensi:

  • Wangi Sinintya Mangkuto. 23 Agustus 2019. Resesi, Resesi, Resesi! MemangApasihResesi?. Cnbcindonesia.com – https://bit.ly/2sVbOMI
  • Admin. Apa itu Resesi Ekonomi? Apa Indokatornya?. Simulasikredit.com – https://bit.ly/2TlBDAn

 

Sumber Gambar:

  • Resesi 01 – http://bit.ly/384GtG0
  • Resesi 02 – http://bit.ly/2QTsAoC