Cerita Ramadan: Berjuang untuk Hidup, Kini dan ‘Kelak’ adalah kisah tentang seorang ibu rumah tangga yang selalu memenuhi perintah Tuhan di sela kesibukannya berdagang takjil.

 

Berjuang untuk Hidup, Kini dan ‘Kelak’

Ramadan selalu berkesan di hati setiap orang yang menjalaninya. Momen buka puasa bersama keluarga menambah kehangatan dan kenikamatan berbuka. Saya sangat bersyukur akan hal ini.

Saya adalah salah satu orang yang merasa berat untuk berbuka puasa di luar rumah. Bagaimana tidak? Ibu saya selalu menyediakan takjil kesukaan saya dirumah.

Sore kemarin kebetulan pekerjaan masih numpuk, alhasil pulang kantor tidak tepat waktu dan saya pun terpaksa berbuka di luar.

Kebetulan, ada teman saya yang rumahnya tidak jauh dari kantor, dan orangtuanya berjualan takjil. Akhirnya, saya pun ke sana untuk berbuka sekalian silaturahmi.

Sesampainya di sana, warung di teras rumahnya sangat ramai, dipenuhi orang yang ingin membeli takjil.

Ada berbagai macam takjil, mulai dari kolak, candil, gorengan, macam-macam minuman dingin, hingga seblak dan basreng (baso goreng).

Ibu Juju, ibunda teman saya, melayani para pembeli dengan cekatan. Sambil menunggu sedikit lowong untuk memesan takjil, saya pun menunggu di rumahnya.

 

Iklan Banner Perencanaan Dana Membeli Rumah - 728x90

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Ibu Juju memiliki tiga orang anak dan seorang suami. Anak pertamanya seumuran dengan saya, 24 tahun, bekerja di Bandung.

Anak keduanya berumur 22 tahun, sudah menikah, dan saat ini tinggal di Cianjur bersama istrinya.

Terakhir, anak bungsunya berusia 15 tahun dan masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

Sementara itu, suami Bu Juju merupakan karyawan pabrik. Terkadang, sang suami menggantikan ibu Juju untuk menjaga warung di sore hari jika ia pulang lebih awal atau sedang libur.

Saat itu waktu menunjukan tepat pukul empat sore, ketika saya mendekat ke arah warung, ternyata Ibu Juju sudah tidak ada, warung yang semula ramai tiba-tiba mulai menyepi.

Selidik punya selidik, ternyata Ibu Juju meninggalkan warung karena harus mengajar mengaji di masjid kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya. Padahal saat itu warung sedang penuh-penuhnya.

 

 

Selepas magrib, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Bu Juju. Dari situ, saya tahu bahwa ia sudah mengajar mengaji kurang lebih 15 tahun. Ia menganggap mengajar mengaji sebagai hobi.

Saya pun bertanya, kenapa rela meninggalkan warung di saat warung sedang ramai?

Sembari meminum teh manis di hadapannya, ibu dari 3 anak ini menjawab:

“Ya, saya mah sebagai manusia biasa merasa masih banyak dosa. Semoga dengan amal yang saya lakukan (mengajar mengaji) bisa menjadi penghapus dosa-dosa saya. Masalah rezeki sudah ada yang atur.”

 

Sebagai manusia, Bu Juju merasa berkewajiban untuk bekerja dan berusaha memiliki kehidupan yang layak. Namun, menurutnya, kita tidak boleh melulu memikirkan urusan dunia, ada akhirat kelak yang benar-benar harus disiapkan.

Tak hanya mengajar anak-anak, setiap jam 8 hingga 10 pagi selama bulan Ramadan Ibu Juju juga mengajar ibu-ibu yang ingin bisa belajar baca Al-Quran. Setelah itu, jam 4 hingga magrib ia lanjut mengajar anak-anak.

“Jika datang semua, jumlah anak yang ikut pengajian bisa 100 anak, bisa setengahnya ataupun kurang. Yang mengajar hanya saya dan Pak Ustadz.”

 

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Walaupun jumlah anak yang harus dibimbingnya tidak sedikit, Bu Juju tidak pernah mengeluh ataupun terbebani. Apa yang ia lakukan tersebut, ia yakini akan mendapat balasan setimpal dari Allah.

“Saya merasa selama ini saya selalu diberikan kesehatan dan dicukupkan rezeki oleh Allah, mungkin ini salah satu ganjaran dari Allah atas apa yang telah saya lakukan.”

 

Banyak yang Lupa untuk Berjuang di Kehidupan ‘Kelak’

Banyak hikmah yang saya ambil dari kisah hidup Ibu Juju. Jujur, saya merasa malu karena sering mengesampingkan panggilan ibadah. Padahal, tidak ada pembeli yang sedang menunggu untuk dilayani seperti apa yang dialami Ibu Juju.

Kisah Bu Juju cukup menampar dan mengingatkan saya bahwa sejatinya kita harus bisa mengimbangi pekerjaan kita dan tak melupakan Tuhan, sang penguasa yang telah bermurah hati memberi kebaikan pada manusia.

Semoga cerita ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua.

 

Apakah Anda terinspirasi dengan kisah ini? Jika iya, bagikan artikel ini kepada rekan dan kerabat Anda dan saling mengingatkan kebaikan!

 

Sumber Gambar:

Dokumentasi Pribadi

 

Free Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG