Apa itu gaya kepemimpinan paternalistik? Pemimpin seperti apa yang disebut sebagai pemimpin paternalistik?

Yuk simak artikel berikut agar mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar gaya kepemimpinan paternalistik.

Selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Lifestyle (rev)

 

Gaya Kepemimpinan Paternalistik

kali ini kita akan membahas salah satu gaya kepemimpinan yang masih belum terlalu populer di Indonesia, tetapi sebenarnya tidak termasuk sebagai gaya kepemimpinan yang baru. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah gaya kepemimpinan paternalistik.

Yes… gaya kepemimpinan ini memang belum terlalu populer, namun jika kita melihat kultur dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia, kemungkinan besar sudah banyak yang sedikit menerapkannya.

Loh bagaimana bisa?

Anggapan ini dilandasi dengan pengertian dari gaya kepemimpinan paternalistik itu sendiri.

Bagaimana Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan 03 - Finansialku

[Baca Juga: Mengenal Gaya Kepemimpinan Represif yang Lebih Seram Dari Otoriter]

 

Yaitu jika menurut model tiga serangkai yang dikembangkan oleh Cheng dkk, gaya kepemimpinan paternalistik adalah gaya kepemimpinan yang menggabungkan integritas moral dan sikap kebapakan dengan otoritas dan disiplin yang kuat.

Pemimpin paternalistik pada dasarnya akan merasa bangga apabila orang-orang yang dipimpin olehnya mencapai sesuatu yang baik atau sukses dalam pekerjaannya, karena ia merasa telah mengambil bagian untuk membangun bawahannya itu.

Nah, bagaimana penilaian kamu terhadap gaya kepemimpinan ini? Apakah menurut kamu ini termasuk gaya kepemimpinan yang baik?

Eits, jangan buru-buru menilai ya… pasalnya gaya kepemimpinan paternalistik ini ada kelemahannya juga lho… penasaran? Yuk simak lebih lanjut.

 

Dimensi Gaya Kepemimpinan Paternalistik

Tapi sebelum membahas kekurangan dari gaya kepemimpinan paternalistik, kita bahas dulu dimensi kepemimpinannya.

Jadi, menurut Gul dan Ayse (2008), terdapat tiga dimensi dalam kepemimpinan paternalitik, yaitu:

 

#1 Gaya Paternalistik Otoriter atau Authoritarian

Seperti sebelumnya kita telah bahas, paternalistik juga memiliki unsur otoriter.

Nah dalam dimensi yang satu ini, seorang pemimpin sangat menampilkan sikapnya yang otoriter atau ketegasannya kepada para bawahannya.

Biasanya ini akan tampak ketika pemimpin merancang dan menetapkan sebuah keputusan yang adalah hasil pemikirannya sendiri, dan kemudian para pengikutnya diharuskan untuk mengikuti dan mendukung keputusan tersebut.

Secara fungsi, dimensi yang satu ini sangat cocok diterapkan pada organisasi yang sangat besar ataupun dalam sebuah negara yang termasuk high power distance.

Tapi berbeda dengan pemimpin gaya otoriter yang pada umumnya kerap berlaku semena-mena, pemimpin paternalistik dimensi otoriter tetap mengambil keputusan yang menurutnya akan berdampak baik pada bawahannya.

 

#2 Gaya Paternalistik Baik Hati atau Benevolence

Sedikit berbeda dengan dimensi yang sebelumnya, pemimpin yang ada pada dimensi paternalistik baik hati akan sangat menunjukan kebaikan hati yang ia miliki kepada para pengikutnya, atau dalam arti lain ia sedang menunjukan kalau ia sangat mengasihi mereka.

Kebaikan hati pemimpin paternalistik ini biasanya akan tampak dari bagaimana ia memberi kebebasan yang lebih kepada para bawahannya, sehingga bawahannya ini memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mengeksplor kemampuannya dan berkreativitas untuk perkembangan perusahaan atau organisasi.

Lebih dari itu, pemimpin paternalistik yang baik hati juga tidak jarang bertanya mengenai kehidupan pribadi anggotanya, seperti misalnya kesehatan orang tua, kondisi keluarga, masalah yang mereka hadapi, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya merupakan urusan pribadi si anggota.

 

#3 Gaya Paternalistik Bermoral

Pada dimensi yang terakhir ini, pemimpin paternalistik memang tetap mempertahankan karakternya yang baik dan juga tegas pada para pengikutnya, hanya saja di dimensi bermoral ia menjadi lebih cenderung menunjukan teladan yang baik pada mereka, sehingga para pengikut bisa meneladaninya.

Pemimpin akan berusaha menjadi seorang yang patuh dan taat pada peraturan, baik itu peraturan yang berlaku di kantor atau organisasi, ataupun juga peraturan yang berlaku di masyarakat umum.

Dalam bekerja sekalipun ia akan menunjukan yang terbaik.

Singkat kata, pemimpin berusaha untuk menjadi seseorang yang perfect di mata para pengikutnya, dengan harapan bahwa mereka akan mengikuti jejaknya.

 

Kelemahan Pemimpin dengan Gaya Paternalistik

Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan paternalistik sangat baik dan seakan tidak memiliki celah, mengingat banyaknya kelebihan yang dimiliki oleh pemimpin.

Namun kenyataannya, dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh gaya paternalistik, disitu pula lah terletak sumber kelemahannya.

Berikut pembahasannya.

 

#1 Berlaku Layaknya Seorang Ayah

Dengan berlaku layaknya seorang ayah, pemimpin memang mampu memberi dampak yang cukup besar. Dan tentunya, pemimpin akan disukai oleh para bawahannya karena ia mau membangun hubungan yang baik serta mengusahakan yang terbaik buat mereka.

Hanya saja, ini pun akan memiliki dampak yang kurang baik, yaitu pengikut akhirnya tidak memiliki inisiatif sendiri untuk bertindak, dan terlalu bergantung kepada pemimpinnya.

Selain itu, terkadang karena terlalu menekankan perannya sebagai seorang ayah, pemimpin akhirnya terlalu bersifat melindungi, yang akibatnya para pengikut menjadi kurang leluasa dalam berkarya.

 

#2 Pengambilan Keputusan

Pemimpin paternalistik selalu memutuskan berbagai hal secara sepihak, tanpa memberikan kesempatan kepada para pengikutnya.

Hal ini sebenarnya masih dipengaruhi oleh poin sebelumnya, yang mana pemimpin berlaku layaknya seorang ayah.

Dengan begitu, pemimpin merasa bahwa para pengikutnya belum memiliki kemampuan atau kematangan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan.

Pemimpin merasa bahwa orang-orang yang dia pimpin hanya perlu mendengar dan melakukan apa yang telah menjadi keputusan pribadinya.

Hal ini tentu saja kurang baik bagi perkembangan perusahaan atau organisasi, begitu pula bagi para bawahannya, karena daya imajinasi dan kreativitas mereka tidak akan terasah.

 

#3 Bersikap Maha Tahu dan Maha Benar

Untuk menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas, seseorang memang perlu memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh para bawahannya, atau selangkah – dua langkah lebih maju dari pada mereka.

Pemimpin perlu memiliki skill yang mumpuni, dan memiliki kecerdasan yang baik.

Namun hal ini bukan berarti pemimpin bisa mengesampingkan kemampuan orang-orang yang ia pimpin.

Malah sebaiknya, pemimpin perlu mengatur, mengembangkan, serta memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh para pengikutnya, sehingga mereka dapat menjadi asset yang bernilai bagi perusahaan.

Hal ini juga berlaku dalam hal-hal penting seperti pengambilan keputusan dan sebagainya.

Pemimpin terkadang sangat memerlukan masukan-masukan yang berguna dari para pengikutnya, sehingga keputusan ataupun strategi yang dibuat adalah strategi dan keputusan yang baik.

Sayangnya, pemimpin paternalistik memiliki sifat yang seakan-akan maha tahu dan maha benar, sehingga sering sekali mereka tidak mau menerima masukan dari luar.

Tentu saja ini memiliki dampak negatif yang sangat banyak, karena bisa saja ia mengambil sebuah keputusan yang salah, atau membuat strategi yang kurang tepat.

 

GRATISSS, Yuk Download SEKARANG!!!

Ebook Pentingnya MENGELOLA KEUANGAN Pribadi dan Bisnis

14 Ebook Mengelola Keuangan Bisnis dan Pribadi

 

Pemimpin Itu, Wajib Bijak!

Memang sangat baik jika seorang pemimpin mau berlaku baik hati dan membangun hubungan yang bersifat kekeluargaan dengan para pengikutnya.

Namun selain baik, seorang pemimpin juga perlu berlaku bijak! Jangan sampai karena merasa perlu melindungi atau semacamnya, pemimpin malah tidak memberi kesempatan untuk berkreasi dan mengemukakan ide.

Hal ini tentu bukannya mendatangkan hal yang baik bagi para pengikut, tetapi malah akan mengurangi kualitas mereka secara perlahan-lahan.

 

Yaps… setelah membahas banyak hal mengenai gaya kepemimpinan paternalistik, apakah ada pelajaran penting yang bisa berguna bagi kamu?

Kalau ada komen di bawah ya.

 

 

Sumber Referensi:

  • Endro Puspo Wiroko. 17 Mei 2020. Mengenal Kepemimpinan Paternalistik. Buletin.k-pin.org – https://bit.ly/2GRUAXc
  • Admin. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Paternalistik. Media.neliti.com – https://bit.ly/2SN4UT2