Harga saham GIAA meningkat! Apakah ini dampak setelah GIAA ambil alih operasional Sriwijaya? Bagaimana dengan Prospek GIAA?

Simak artikel berikut selengkapnya.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Bagaimana Prospek GIAA? Setelah GIAA Ambil Alih Operasional Sriwijaya

Baru-baru ini, GIAA secara resmi mengambil alih operasional dan finansial Sriwijaya Air Group yang tertuang dalam bentuk KSO. Menanggapi hal ini, market memberikan reaksi positif yang berdampak pada naiknya harga saham GIAA.

Sebelumnya di November harga saham GIAA berada di Rp200-an, dan saat ini (per Desember 2018) harga sahamnya berada di Rp220-an, atau mengalami kenaikan sekitar 10% pasca pengumuman kerjasama tersebut.

Pertanyaannya, apakah kenaikan harga saham GIAA saat ini hanya kenaikan semu ataukah akan tetap berlanjut seiring berjalannya KSO dengan Sriwijaya?

Serta bagaimanakah prospek GIAA setelah terbentuknya KSO dengan Sriwijaya?

 

Hal-Hal Yang Mendorong Terjadinya Kerja Sama Operasi (KSO)

GIAA melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia secara resmi mengambil alih pengelolaan operasional dan finansial Sriwijaya Air Group, yang terdiri dari maskapai Sriwijaya dan NAM Air.

Pengambil alihan ini direalisasikan oleh GIAA dalam bentuk Kerja Sama Operasi (KSO), yang dilakukan melalui anak usahanya yakni Citilink terhadap Sriwijaya Air Group.

Kerja Sama Operasi (KSO) tersebut resmi ditandatangani pada tanggal 9 November 2018, dan akan dikelola sepenuhnya oleh Citilink.

Bagaimana Prospek GIAA Setelah GIAA Ambil Alih Operasional Sriwijaya 02 Sriwijaya - Finansialku

[Baca Juga: Prospek BPRT Pasca Melepas Segmen Usaha Perkebunannya]

 

Pengambil alihan hanya dilakukan GIAA terhadap pengelolaan operasional dan finansialnya saja, tidak ada hubungannya dengan kepemilikan saham milik Sriwijaya Air Group yang sampai saat ini kepemilikan saham 100% masih dimiliki oleh Sriwijaya Air Group.

Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa GIAA akan memiliki saham Sriwijaya Air Group ke depannya.

Sebagai informasi tambahan sebelum terealisasikannya Kerja Sama Operasi (KSO) antara GIAA dengan Sriwijaya Air Group, sebelumnya juga sudah pernah terjalin Kerja Sama Operasi (KSO) pada 17 Mei 2018 kemarin untuk pembagian code share.

KSO untuk pembagian code share beberapa rute penerbangan domestik yang diantaranya Yogyakarta-Palembang, Jakarta-Sampit, dan Semarang-Sampit.

Dengan sudah pernahnya terjalin Kerja Sama Operasi tersebut, maka tidak heran bila saat ini GIAA membentuk kerja sama nya kembali dengan Sriwijaya Air Group.

Bedanya, jika kerjasama sebelumnya lebih bersifat operasional saja, namun kerja sama kali ini untuk menyelamatkan Sriwijaya Air Group dalam pengelolaan keuangan.

Pertanyaan berikutnya, keuntungan apa saja yang akan diperoleh GIAA dan Sriwijaya dari terbentuknya Kerja Sama Operasi (KSO)? Adapun keuntungan yang masing-masing akan diterima, adalah seperti berikut:

Benefit Bagi Sriwijaya Air Group di antaranya: Sriwijaya Air Group mendapatkan benefit berupa dukungan dari GIAA untuk memperbaiki kinerja operasi dan kinerja keuangan.

 

Tidak hanya itu, melalui Kerja Sama Operasi (KSO) ini, Sriwijaya Group akan mampu memperluas segmen pasar, jaringan, kapasitas dan kapabilitas dari Sriwijaya Air Group.

Selain itu, membantu percepatan restrukturisasi penyelesaian kewajiban Sriwijaya Group kepada GIAA berjalan dengan lancar.

Dengan kata lain, terbentuknya Kerja Sama Operasi (KSO) akan dapat membantu pemulihan Sriwijaya Air Group dalam persaingan industri penerbangan yang semakin kompetitif.

Hal ini karena didukung oleh kinerja GIAA yang memiliki kapabilitas yang baik dalam mengelola bisnis penerbangan.

Meskipun GIAA sendiri juga masih terus mengalami rugi bersih, namun secara operasional, GIAA masih jauh lebih baik dibandingkan Sriwijaya Group.

Sementara benefit bagi GIAA di antaranya: KSO ini dapat memberikan dampak yang positif melalui anak usahanya Citilink Indonesia, yang dapat bersinergi dengan Sriwijaya Group nantinya, dan dapat memperluas segmen market, network, kapasitas dan kapabilitasnya.

Dan seperti dijelaskan di atas, KSO ini juga mempercepat restrukturisasi penyelesaian kewajiban Sriwijaya Group pada GIAA.

GIAA melalui anak usahanya Citilink, yang nantinya juga akan berkolaborasi dengan Sriwijaya Air Group dapat saling bersinergi dalam mengelola pangsa pasar transportasi udara, dengan target market share hingga 51%.

Hal ini turut didukung oleh segmen keduanya yang sama sebagai Low Cost Carrier (LCC), sehingga akan terjadi efisiensi dan economic upscale bagi keduanya.

 

Kondisi Sriwijaya Air Group Sebelum KSO

Sesudah kita memahami keuntungan yang diperoleh baik Garuda Indonesia maupun Sriwijaya Group dengan Kerja Sama Operasi (KSO) tersebut, ada hal lain yang juga perlu kita ketahui dari sisi Sriwijaya Air Group.

Kondisi Sriwijaya Air Group saat ini tengah terlilit utang. Sriwijaya Group masih memiliki sejumlah komitmen ataupun kewajiban terhadap pihak ketiga, salah satunya kewajiban kepada GIAA.

Adapun berdasarkan Laporan Keuangan GIAA per LK Q3 2018, Sriwijaya masih memiliki utang kepada GIAA, baik berupa utang jangka pendek dan jangka panjang.

Per LK Q3 2018, Sriwijaya Air masih memiliki utang jangka pendek sebesar US$4,32 juta dan utang jangka panjang sebesar US$9,33 juta, dengan total utang sebesar US$13,65 juta, atau sekitar hampir Rp200 miliar jika dirupiahkan (dengan kurs Rp14.600).

Adapun utang jangka pendek digunakan untuk modal kerja, sementara utang jangka panjang digunakan oleh Sriwijaya Air untuk pengerjaan overhaul 10 engine CFM56-3.

Untuk melihat penjelasan utang Sriwijaya Air terhadap GIAA, bisa dilihat pada screenshot berikut ini:

Bagaimana Prospek GIAA Setelah GIAA Ambil Alih Operasional Sriwijaya 03 - Finansialku

Utang Sriwijaya Air Terhadap GIAA

 

Pertanyaannya sekarang, mengapa GIAA lebih pilih Sriwijaya Air Group, kenapa bukan maskapai penerbangan yang lain?

Keputusan GIAA mengambil alih operasional dan finansial Sriwijaya Air Group, terlepas dari keadaan Sriwijaya Air yang masih memiliki sejumlah utang,  Sriwijaya Air dan NAM Air memiliki kekuatan dalam hal rute yang berbeda dengan Citilink.

Jika Citilink lebih kuat dalam mengcover kota-kota besar di Indonesia, Sriwijaya Air lebih kuat dalam meng-cover area Sumatera, sementara Nam Air lebih kuat dalam meng-cover area remote dan kota-kota kecil lainnya.

Dengan masing-masing memiliki kekuatan di area tertentu, maka coverage akan semakin luas.

Demikian pula, GIAA melihat potensi Sriwijaya sebagai salah satu maskapai penerbangan yang memiliki rekam jejak yang baik dalam industri penerbangan.

Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan track record keselamatannya yang bagus, serta sejumlah predikat seperti Maskapai Paling Tepat Waktu (On Time Performance) di tahun 2017.

Sriwijaya Air tercatat sebagai maskapai paling tepat waktu urutan pertama menurut hasil rekapitulasi dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dengan persentase 92,62%, sedangkan NAM Air  menduduki peringkat kedua dengan  perolehan angka 88,69%.

Berdasarkan alasan-alasan di atas lah (penguasaan rute yang berbeda, track record keselamatan, dan On Time Performance Sriwijaya Air Group), yang membuat GIAA memutuskan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan ini.

 

Prospek GIAA Setelah KSO Dengan Sriwijaya

Kembali pada pertanyaan di atas, bagaimanakah dengan prospek GIAA setelah terbentuknya KSO dengan Sriwijaya?

Hal yang mungkin terjadi ke depannya adalah GIAA berpotensi meningkatkan economies of scale dalam operasionalnya. Untuk kelas premium akan tetap ditempati oleh Garuda Indonesia.

Sementara untuk kelas LCC akan dipegang kendali oleh Citilink, yang juga akan bersinergi dengan Sriwijaya Air serta NAM air.

Bagaimana Prospek GIAA Setelah GIAA Ambil Alih Operasional Sriwijaya 04 NAM Air - Finansialku

[Baca Juga: Setelah Akuisisi SMCB, Yuk Ketahui Prospek SMGR Di Masa Mendatang]

 

Seperti dijelaskan di atas, Citilink lebih kuat dalam meng-cover kota-kota besar di Indonesia, Sriwijaya Air lebih kuat dalam meng-cover area Sumatera, sementara Nam Air lebih kuat dalam meng-cover area remote dan kota-kota kecil lainnya.

Dengan masing-masing memiliki kekuatan di area tertentu, maka coverage akan semakin luas.

Dengan kata lain, pasca kerja sama ini, kinerja GIAA akan terdorong oleh kinerja Citilink, yang sekarang bersinergi dengan Sriwijaya Air dan NAM Air dalam operasionalnya.

Dalam Laporan Keuangan GIAA, kita dapat melihat kontribusi yang dihasilkan oleh Citilink sendiri adalah sebesar US$601,39 juta (atau setara Rp8,9 triliun) dari keseluruhan Pendapatan GIAA yang mencapai US$4,17 miliar (atau setara Rp56,6 triliun).

Adapun jika dilihat dari kontribusi pencapaian Rugi Bersih di tahun 2017, Citilink mencatatkan rugi bersih US$53,27 juta (atau setara rugi bersih Rp721 miliar), dari keseluruhan pencapaian Rugi bersih GIAA yang sebesar US$216 juta (atau setara Rugi Bersih Rp2,9 triliun).

Adapun sebagai gambaran lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel screenshot di bawah ini:

Bagaimana Prospek GIAA Setelah GIAA Ambil Alih Operasional Sriwijaya 05 - Finansialku

Kontribusi Citilink terhadap GIAA

 

Dengan Garuda Indonesia saat ini memiliki pangsa pasar sekitar 25%, ditambah Citilink yang memiliki pangsa pasar sebesar 13%, dan pangsa pasar yang dimiliki Sriwijaya Air Group sebesar 12%, maka peluang GIAA dalam menguasai pangsa pasar 51% akan semakin mendekati targetnya.

 

Hasil Kerja Sama Operasi GIAA

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah kenaikan harga saham GIAA saat ini hanya kenaikan semu ataukah akan tetap berlanjut seiring berjalannya KSO dengan Sriwijaya?

Berdasarkan pada pembahasan di atas, peluang GIAA bertumbuh akan semakin terbuka setelah terbentuknya Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Sriwijaya Air Group untuk bisa menguasai pasar domestik hingga 51%.

Namun, rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa GIAA akan otomatis mencatatkan laba bersih pasca Kerja Sama Operasi dengan Sriwijaya Group ini.

Dengan asumsi GIAA bisa memperbaiki kinerjanya tanpa harus mengalami rugi yang berulang, maka peluang bagi harga saham GIAA untuk bisa naik kembali.

Namun jika ternyata GIAA masih tetap mencatatkan rugi bersih, rasanya harga sahamnya akan kembali turun.

So, better wait and see dulu sampai GIAA membuktikan bahwa kerja sama operasi ini mampu membuat GIAA mencatatkan laba bersih.

Apakah Anda tertarik untuk menanam Saham? Jika Anda membutuhkan referensi mengenai cara berinvestasi saham bagi pemula, Anda dapat membaca ebook di bawah ini secara gratis.

Free Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Jika Anda membutuhkan bantuan dalam merencanakan dan mengelola keuangan Anda terutama ketika menanam saham, Anda dapat menggunakan bantuan Aplikasi Finansialku.

Aplikasi Finansialku dapat dengan mudah Anda download melalui link di bawah ini atau melalui Google Play Store. Selamat mencoba.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai keputusan GIAA ambil alih operasional Sriwijaya? Bagikan pendapat Anda pada kolom komentar.

Jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Garuda Indonesia – https://goo.gl/TWLsxc
  • Sriwijaya – https://goo.gl/kpS6JF
  • Utang Sriwijaya Air Terhadap GIAA – Catatan Kaki no 17 dalam Laporan Keuangan GIAA Kuartal III-2018
  • NAM Air – https://goo.gl/oeZ5Hk
  • Kontribusi Citilink terhadap GIAA – Annual Report GIAA Tahun 2017