Prospek BPRT Pasca Melepas Segmen Usaha Perkebunannya

BRPT resmi melepas perkebunannya ke perusahaan asal Korea Selatan. Bagaimana prospek BRPT untuk kedepannya Pasca melepas segmen usaha perkebunannya tersebut?

Mari simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Prospek BPRT Pasca Melepas Segmen Usaha Perkebunannya

BRPT resmi melepas perkebunannya ke perusahaan LG International Corp yang berasal dari Korea Selatan. Pelepasan kepemilikan tersebut dilakukan BRPT melalui anak usaha-nya PT Royal Mandiri yang sebesar 95%.

Kesepakatan tersebut dicapai dengan ditandatanganinya transaksi penjualan pada tanggal 7 September 2018 kemarin.

Prospek BPRT Pasca Melepas Segmen Usaha Perkebunannya 02 LG International Corp - Finansialku

[Baca Juga: Setelah Akuisisi SMCB, Yuk Ketahui Prospek SMGR Di Masa Mendatang]

 

Sekilas Bisnis BRPT

BRPT resmi berdiri pada tanggal 14 April 1979, dan berhasil mengubah status usahanya menjadi Perseroan Terbuka di tahun 1993 melalui pencatatan saham di BEI Jakarta dan Surabaya pada waktu itu.

Kemudian di tahun 1996 melakukan perubahan nama usaha-nya dari nama pertamanya PT Bumi Raya Pura Mas Kalimantan, menjadi PT Barito Pacific Timber Tbk.

Sejak mengubah nama usahanya tersebut, BRPT bertumbuh menjadi usaha sumber daya dengan produk yang terdiversifikasi.

BRPT memutuskan mengubah kembali nama usaha-nya pada tahun 2017 menjadi PT Barito Pacific Tbk, dan masih di tahun yang sama BRPT menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 70% Chandra Asri, produsen Olefin satu-satunya di Indonesia.

 

Di tahun 2018 BRPT juga mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk, produsen polypropylene terkemuka, kemudian Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia bergabung menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, yang membuat BRPT saat ini menjadi produsen petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia.

BRPT sendiri merupakan usaha yang bergerak dalam bidang bisnis kehutanan dan perkayuan, yang menjadi segmen usaha utama sejak BRPT didirikan pada 1979 silam.

Segmen usaha kehutanan dan perkayuan, berhasil menjadikan BRPT sebagai perusahaan pelopor di sektor Hutan Tanaman Industri (HTI).

Adapun lahan HTI milik BRPT turut dibantu pengelolaannya melalui anak usahanya yang terdiri dari PT Rimba Equator Permai, PT Mangole Timber Producers, PT Kirana Cakrawala, PT Kalpika Wanatama dan PT Tunggal Agathis Indah Wood Industries.

BRPT memiliki beberapa segmen bisnis lain di antaranya: Segmen usaha kehutanan dan perkayuan, segmen usaha petrokimia, segmen usaha energi, segmen usaha properti, segmen usaha pembangkit listrik, dan segmen usaha perkebunan.

Sebagai tambahan informasi, bahwa segmen perkebunan yang dimiliki BRPT adalah perkebunan yang mencakup produksi kelapa sawit, dan dijalankan oleh entitas anak usaha BRPT.

Kesepakatan penjualan ini dilakukan dengan menjual sebanyak 95% perkebunannya, yakni 2 lahan perkebunan di Kalimantan Barat yang masing-masing luasnya mencapai 8.000 ha dan 17.000 ha.

 

Latar Belakang dan Dampak BRPT Melepas Perkebunan

Dengan BRPT menyepakati penjualan perkebunannya tersebut, kini BRPT resmi melepas kepemilikan saham di PT Grand Utama Mandiri dan PT Tintin Boyok Sawit Makmur yang mengelola perkebunan BRPT di bawah naungan PT Royal Indo Mandiri.

Kemudian, hal apa yang melatarbelakangi keputusan BRPT melakukan divestasi terhadap segmen usaha perkebunannya?

Alasan utama BRPT melakukan divestasi terhadap salah satu anak usaha segmen perkebunannya, karena BRPT menilai segmen perkebunannya tidak beroperasi secara optimal, dan membuat perusahaan terkendala dalam hal efisiensi.

Prospek BPRT Pasca Melepas Segmen Usaha Perkebunannya 03 Pabrik BPRT - Finansialku

[Baca Juga: Beginilah Kinerja MPMX Ke Depannya Karena Putus Kerja Sama Dengan Nissan Datsun]

 

Sehingga langkah divestasi segmen perkebunan BRPT ini adalah sebagai strategi untuk bisa lebih fokus pada segmen usaha petrokimia dan energi yang dikelola oleh anak usahanya PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA).

Dimana kontribusi penjualan Petrokimia dan Energi menjadi kontribusi terbesar bagi BRPT yang berkisar diatas 90%.

Dengan resminya BRPT melepas salah satu asetnya yakni Perkebunan, dimana BRPT menjual perkebunannya tersebut ke LG International Corp membuat BRPT memperoleh dana segar sebesar US$67,9 juta (setara Rp991 miliar).

Transaksi penjualan ini disepakati oleh kedua belah pihak pada tanggal 7 September 2018 kemarin.

Adapun rencana BRPT dalam mengelola dana yang diperoleh dari divestasi tadi, adalah sebagai dana tambahan modal kerja perusahaan.

Dimana BRPT nantinya akan fokus pada segmen Petrokimia yang dikelola PT Chandra Asri Petrochemical dan Energi untuk pembangkit listrik tenaga terbarukan yang dikelola oleh Star Energy.

 

Dengan begitu BRPT akan menggunakan dana segar hasil divestasinya untuk membiayai pembangunan pabrik Chandra Asri Petrochemical, dan juga mengembangkan usaha bisnis Star Energy.

Pertanyaan lainnya, seberapa besar dampak divestasi ini terhadap Pendapatan dan profitabilitas dari BRPT? Menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat seberapa besar kontribusi dari masing-masing segmen usaha yang dimiliki BRPT tersebut.

Sebagai gambarannya berikut ini kontribusi dari segmen usaha terhadap pendapatan BRPT dalam tabel di bawah ini: 

Segmen Usaha

Kontribusi di Kuartal III-2018

Kontribusi di Kuartal III-2017

Petrokimia

83,23%

85,57%

Industri Perkebunan

10,31%

33,13%

Properti (Pengelolaan Gedung dan Hotel)

12,76%

21,35%

Energi dan Sumber Daya

16,59%

14,00%

 

Kontribusi Pendapatan Segmen Usaha terhadap Total Pendapatan BRPT 

Berdasarkan total kontribusi BRPT diterima melalui segmen-segmen usahanya, maka kita bisa melihat bahwa segmen bisnis Perkebunan “hanya” berkontribusi sekitar 10% dari total Pendapatan BRPT.

Singkatnya, dampak dari divestasi segmen Perkebunan BRPT tidak terlalu signifikan.

Bahkan, Penulis juga berpendapat meskipun BRPT melepas kepemilikan perkebunannya, BRPT masih mampu menghasilkan kinerja yang positif ke depannya.

Hal ini terlihat dari jumlah kontribusi yang dihasilkan dari segmen Petrokimia, yang masih mampu berkontribusi sebesar 83,23% dari total pendapatan.

Kontribusi yang dihasilkan segmen usaha petrokimia terbilang besar, jika dibandingkan dengan segmen usaha perkebunan. Bahkan kalau kita jadikan Laporan Tahunan 2017 sebagai acuan, kontribusi usaha Petrokimia adalah sekitar 91,85%.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

Download Ebook Sekarang

 

Apakah BRPT Diuntungkan atau Dirugikan dengan Pelepasan Perkebunan Ini?

Setelah kita mengetahui latar belakang dan dampak yang terjadi pasca BRPT melepas segmen perkebunannya, kita bisa melihat bahwa keputusan divestasi BRPT tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja BRPT kedepannya.

Hal ini terjadi karena kontribusi pendapatan dan profitabilitas yang tidak signifikan.

Penulis berpendapat bahwa keputusan BRPT bisa dikatakan tepat, lantaran BRPT bisa lebih fokus pada segmen usaha Petrokimia yang mampu memberikan kontribusi terbesarnya yang mencapai 83,23% di Kuartal III-2018 ini.

Namun meskipun BRPT akan fokus pada satu segmen usaha petrokimia, BRPT tetap harus memperhatikan faktor lainnya yang akan mempengaruhi kinerja segmen Petrokimia.

Dimana Petrokimia ini akan sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pergerakan harga minyak dan pergerakan Rupiah. Sedangkan kita tahu bahwa belakangan ini harga minyak dan Rupiah cenderung fluktuatif.

 

Belum lagi adanya kendala pasokan terhadap bahan baku murah dan sumber energi yang terbatas juga turut menjadi tantangan bagi BRPT ke depannya.

Sehingga menjadi poin penting yang Penulis tekankan adalah BRPT cenderung diuntungkan dengan divestasi segmen perkebunan ini.

Hal ini karena di satu sisi BRPT bisa lebih fokus mengurus bisnis petrokimianya, di mana BRPT harus bersiap menghadapi risiko dimana ketersediaan bahan baku tergantung pada naik turunnya harga minyak mentah dunia.

Dan yang kedua, BRPT juga diuntungkan karena divestasi ini membuat BRPT memperoleh dana segar sebesar US$67,9 juta (setara Rp991 miliar).

Dana ini bisa digunakan untuk memperkuat core business-nya tadi termasuk untuk membiayai pembangunan pabrik Chandra Asri Petrochemical, dan juga mengembangkan usaha bisnis Star Energy.

 

Kesimpulan

Kinerja BRPT pasca melepas kepemilikan perkebunan melalui anak usahanya PT Royal Indo Mandiri, ternyata tidak terlalu memberikan dampak signifikan terhadap kinerja BRPT.

Hal ini karena segmen perkebunan tidak terlalu signifikan terhadap pendapatan dan profitabilitas BRPT.

Bahkan, BRPT cenderung diuntungkan dengan divestasi ini, di mana BRPT bisa lebih fokus pada segmen petrokimia melalui anak usaha PT Chandra Asri Petrochemical yang mengelola segmen usaha petrokimia.

Saat ini segmen petrokimia ini mampu memberikan kontribusi paling besar yang mencapai 83,23%. Selain itu BRPT juga memperoleh dana segar sebesar US$67,9 juta (setara Rp991 miliar).

Adapun catatan penting yang harus diperhatikan investor, meskipun segmen petrokimia saat ini dapat berkontribusi besar terhadap pendapatan BRPT, namun BRPT harus mewaspadai kendala yang akan ditemuinya.

Karena segmen petrokimia sangat dipengaruhi oleh faktor pergerakan harga minyak dan pergerakan rupiah yang cukup fluktuatif di tahun 2018 ini.

Apakah Anda tertarik untuk memulai bisnis dan ingin menjadi pebisnis yang sukses? Salah satu kunci sukses pebisnis ialah mengatur keuangannya dengan tepat.

Anda dapat menggunakan bantuan Aplikasi Finansialku untuk merencanakan dan mengatur keuangan Anda. Aplikasi Finansialku dapat dengan mudah di download melalui link di bawah ini atau melalui Google Play Store, selamat mencoba.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Apakah Anda memiliki pertanyaan? Silahkan ajukan pada kolom komentar.

Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • BPRT – https://goo.gl/iwFTyf
  • LG International Corp – https://goo.gl/iwFTyf
  • Pabrik BPRT – https://goo.gl/mDwUCH

About the Author:

Rivan Kurniawan
Rivan Kurniawan adalah seorang Indonesia Value Investor. Memulai investasi pertamanya sejak tahun 2008 ketika usia 20 tahun, Rivan sempat mengalami kejatuhan di pasar saham pada tahun 2012.Namun, kejatuhan tersebut tidak membuatnya menyerah melainkan berusaha untuk bangkit kembali di pasar modal dengan menerapkan metode Value Investing.Saat ini, Rivan tidak hanya aktif sebagai praktisi di pasar saham, namun juga aktif memberikan jasa training dan konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memperdalam ilmu berinvestasi dengan metode value investing.

Leave A Comment