Harga minyak dunia dari tahun ke tahun memiliki kenaikan dan penurunan. Tahun ini harga minyak bumi mengalami penurunan. Apa ini akan berpengaruh ke setiap sektor?

Kali ini Finansialku akan membahas artikel mengenai harga minyak dunia. Untuk lebih jelasnya mari simak pembahasannya berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Harga Minyak Dunia dari Tahun ke Tahun

Keberadaan minyak bumi sangat mampu mempengaruhi tingkat ekonomi di suatu Negara. sumber minyak bumi yang melimpah tersebar di beberapa Negara bagian seperti Arab Saudi, Irak, Iran, Amerika, China dan Indonesia tentunya.

Hal ini disebabkan karena hasil minyak bumi yang melimpah bisa diekspor ke Negara lain sehingga bisa mendatangkan pendapatan bagi suatu Negara. minyak bumi sangat berperan penting bagi kehidupan manusia.

Karena jika minyak bumi sampai habis atau menipis, maka perekonomian bisa hancur, mengingat seluruh aspek kehidupan hampir semuanya berpegang pada industri minyak bumi.

Menelisik Harga Minyak Dunia dari Masa ke Masa 02 Minyak Bumi 2 - Finansialku

[Baca Juga: Menelusuri Korelasi Harga Sektor Energi: Gas Alam vs Minyak Mentah]

 

Harga minyak dunia dari masa ke masa memang tidak akan selalu konsisten. Terkadang harga minyak naik dan terkadang turun.

Melansir dari Okezone.com, pada 1988 harga minyak dunia mencapai US$17,26 per barel. Kemudian naik pada 1999 menjadi US$23,42 per barel. Pada 2000 harga minyak naik ke US$ 37,55 per barel.

Harga minyak terus mengalami kenaikan harga pada tahun 2005 menjadi US$60,45 per barel. Begitu pun pada 2007 harga minyak kembali menguat menjadi US$72,99 per barel.

Pada tahun 2008 harga minyak menginjak di US$100,1 per barel. Selain meningkat harga minyak pun sempat menurun pada 2009 menjadi US$58 per barel.

Naik kembali di tahun berikutnya sebesar US$77,11 per barel hingga pada tahun 2013 harga minyak mentah berhasil naik ke US$92,41 per barel.

Harga minyak dunia pernah ada di titik terendah untuk pertama kalinya sejak tahun 2015.

Seiring berjalannya waktu, pada awal tahun ini harga minyak anjlok 1 persen. Acuan harga minyak internasional Brent untuk pengiriman Maret 2018 berada di level US$53,27 per barel.

Sementara itu acuan harga minyak di AS West Texas Intermediate berada di level US$45,01 per barel. Angka tersebut turun 40 sen atau 0,9 persen.

Merosotnya harga minyak disebabkan oleh meningkatnya produksi minyak di AS. Sehingga dikhawatirkan perekonomian akan melambat tahun ini. Aktivitas manufaktur melemah di setiap penjuru Asia pada Desember 2018.

Sejalan dengan terkontrasinya kegiatan manufaktur di China yang merupakan importer minyak terbesar dunia. Dimana ini merupakan imbang perang dagang dari AS-China dan melemahnya permintaan di China.

Hal ini lah yang dapat menjadi pemicu di awal tahun 2019 dengan perlambatan ekonomi. seperti yang kita ketahui, minyak adalah penentu penting bagi pertumbuhan ekonomi masa depan.

Namun kenaikan harga minyak dunia masih akan terus terjadi dalam jangka pendek.

 

Harga Minyak Dunia Turun Pada 8 Maret 2019

Pasar keuangan, termasuk sektor minyak mentah terpukul usai Presiden ECB Mario Draghi mengatakan bahwa perekonomian berada dalam periode kelemahan yang berkelanjutan dan ketidakpastian yang terus menyebar.

Periode kelemahan berkelanjutan dan ketidakpastian akan terus menyebar. Kelemahan ekonomi Eropa datang karena pertumbuhan di Asia juga melambat.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini pun kemungkinan akan mengakibatkan terhentinya permintaan bahan bakar, sehingga menekan harga minyak mentah dunia.

Menelisik Harga Minyak Dunia dari Masa ke Masa 03 Minyak Bumi 3 - Finansialku

[Baca Juga: Ketahui Strategi-strategi Dasar Trading Komoditas]

 

Tahun ini, harga minyak dunia mengalami penurunan pada Jumat (8/3/2019). Hal ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran investor atas ekonomi global.

Selain itu Bank Sentral Eropa (ECB) mengeluarkan peringatan akibat merosotnya ekspor dan impor China pada bulan Februari lalu.

Pasar keuangan termasuk harga minyak, setelah presiden ECB Mario Draghi menyebut jika ekonomi Eropa akan mengalami perlambatan. Dengan begitu hal ini juga akan mempengaruhi ekonomi di Asia salah satunya Indonesia.

Harga minyak Brent tercatat US$65,83 per barel turun 47 sen atau 0,7 persen dari penutupan. Kemudian harga minyak di West Texas Intermediate berada di harga US$56,32 per barel atau turun 34 sen dari penutupan.

Berdasar data biro statistik China, ekspor dari negeri itu pada Februari mengalami penurunan hingga 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini dibawah ekspansi para analis.

Pada akhir tahun 2018, Negara anggota OPEC telah memutuskan untuk mengurangi produksi. Tapi langkah ini sempat terganggu karena pasokan minyak mentah AS meningkat hingga lebih dari 2 juta.

Barel per hari menjadi 12,1 juta barel per hari sejak awal 2018. Bahkan sejumlah analis menyebutkan jika AS berpotensi menyusul Arab Saudi sebagai Negara pengekspor minyak terbesar di dunia.

Mengutip dari Bloomberg, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) di pasar New York Mercantile Exchange untuk pengiriman minyak pada April 2019 naik 0,7 persen di posisi US$55,89 per barel.

Analis Asia Tradepoint Future, Dedy Yusuf Siregar, menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak hari ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump meminta agar Negara angora pengekspor minyak tidak lagi menurunkan suplai.

Patokan internasional Brent naik satu persen minggu ini, sementara minyak mentah berjangka WTI AS untuk pengiriman bulan April turun US$0,59 atau satu persen menjadi US$56,07 per barel.

Dibalik menurunnya saham AS bersama dengan minyak berjangka, pertumbuhan lapangan pekerjaan AS ternyata hanya menciptakan 20.000 pekerjaan di tengah pay roll di sektor konstruksi dan sektor lainnya.

Pelemahan ekonomi Eropa dan AS terjadi ketika pertumbuhan di Asia melambat. Eskpor Tiongkok pada Februari turun 21 persen dari setahun sebelumnya.

 

Jika dilihat dari segi pasokan, minyak telah menerima dukungan tahun ini dari produksi yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Produksi minyak mentah Arab Saudi pada Februari turun jadi 10,136 juta per barel per hari.

Ada beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan minyak dunia turun adalah pasokan yang berlebih, permintaan menurun. Ekonomi global saat ini sedang mengalami penurunan.

Kenaikan dolar Amerika, seperti harga komoditas lainnya, minyak pun dihargai dengan dolar Amerika.

 

Siapkan Dana Darurat

Akibat menurunnya minyak dunia, tidak hanya masyarakat yang resah, tapi investor panik dan berbondong-bondong melakukan aksi jual beli saham.

Jangan panik, sebelum terlambat lebih baik Anda persiapkan Dana Darurat. Dana ini bisa Anda gunakan ketika berbagai keadaan tidak terduga.

Anda bisa merencanakan dan mengatur dana darurat menggunakan bantuan Aplikasi Finansialku. Aplikasi ini dapat dengan mudah Anda download melalui link di bawah ini atau melalui Google Play Store.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Selain itu, kamu juga bisa membaca ebook Perencanaan Keuangan untuk usia 30 an di bawah ini secara GRATIS, agar rencana keuangan Anda tepat sasaran.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

Download Ebook Sekarang

 

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca artikel tentang harga minyak dunia? Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini.

Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Sylke Febrina. 8 Maret 2019. Harga Minyak Dunia Merosot Karena Ekonomi Dunia Melambat. Finance.detik.com – https://goo.gl/ff96sS
  • Amalia Fitri. 27 Februari 2019. Kenaikan Harga Minyak Dunia Diproyeksi Terus Berlanjut dalam Jangka Pendek. Investasi.kontan.co.id – https://goo.gl/V4H37z
  • Danang Sugianto. 2 Januari 2015. Harga Minyak Mentah Dunia Dari Masa Ke Masa. Okezone.com – https://goo.gl/k49SL3

 

Sumber Gambar:

  • Minyak Bumi – https://goo.gl/8Epgvg
  • Minyak Bumi 2 – https://goo.gl/k84qik
  • Minyak Bumi 3 –¬†https://goo.gl/8Z9Tsz