Dengan menurunnya harga minyak mentah dunia, bagaimanakah prospeknya terhadap emiten di sektor migas dan energi?

Meskipun Indonesia berpotensi mengurangi jumlah impor minyak, tren penurunan harga minyak mentah dunia tersebut ternyata memberikan dampak bagi kinerja emiten-emiten di sektor migas dan energi. Mari Simak artikel berikut selengkapnya.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Tren Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Indonesia sebagai negara net importir minyak seharusnya bisa diuntungkan dengan turunnya harga minyak mentah dunia.

Dalam beberapa bulan belakangan ini harga minyak mentah dunia harus turun, di mana penurunan harga minyak mentah dunia ini sudah dimulai sejak Oktober 2018 kemarin.

Saat artikel ini ditulis, harga minyak mentah dunia terus menurun dari sebelumnya sebesar US$75 per barel saat ini menjadi sekitar US$50-52 per barel. Adapun sebagai gambaran nya bisa dilihat pada screenshot dibawah ini:

Harga Minyak Mentah Dunia Turun! Bagaimana dengan Prospek Emiten Sektor Migas 02 Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam Setahun - Finansialku

Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam Setahun

 

Namun jika kita lihat pada pergerakan harga minyak mentah dunia dalam kurun waktu ± 5 tahun ke belakang, penurunan harga minyak mentah dunia saat ini bukan yang pertama kali terjadi.

Jika kita lihat ke belakang, harga minyak mentah dunia sempat anjlok di harga terendahnya sekitar USD 29 per barel pada Februari 2016, jauh lebih rendah dibandingkan dengan penurunan di November 2018 kemarin.

Sebagai gambarannya bisa dilihat pada screenshot di bawah ini:

Harga Minyak Mentah Dunia Turun! Bagaimana dengan Prospek Emiten Sektor Migas 03 Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam 5 Tahun Terakhir - Finansialku

Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam 5 tahun terakhir

 

Selain itu, jika dilihat berdasarkan Harga Acuan Minyak Bumi yang mayoritas digunakan di seluruh dunia adalah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent Crude.

Selama bulan November 2018 kemarin, Harga Acuan Minyak Bumi tersebut juga menunjukkan tren penurunan yang secara bersama-sama turun sekitar 22% lebih dari point to point.

Adapun sebagai gambaran lebih jelasnya bisa dilihat pada screenshot berikut ini:

Harga Minyak Mentah Dunia Turun! Bagaimana dengan Prospek Emiten Sektor Migas 04 Harga Acuan Minyak Mentah - Finansialku

Harga Acuan Minyak Mentah

 

Lantas pertanyaan nya sekarang, apa saja yang menyebabkan harga minyak mentah dunia harus kembali menurun ke US$50-52 per barel pada November 2018 kemarin? Menurunnya harga minyak mentah dunia dipicu sejumlah hal. Antara lain seperti berikut:

Faktor oversupply menjadi penyebab utamanya. Sejumlah negara produsen minyak terbesar dunia meningkatkan jumlah produksi secara besar-besaran di bulan Oktober-November 2018.

Sebagai contoh AS meningkatkan jumlah produksi dari 10,8 juta barrel/hari menjadi 11,6 juta barrel/hari.

Ternyata peningkatan jumlah produksi minyak tidak hanya dilakukan oleh AS saja, melainkan juga dari negara-negara penghasil minyak terbesar lainnya seperti Arab Saudi dan Rusia.

Arab Saudi meningkatkan jumlah produksi dari 10,0 juta barrel/hari menjadi 10,7 juta barrel/hari, dan Rusia meningkatkan jumlah produksi dari 11,0 juta barrel/hari menjadi 11,4 juta barrel/hari.

Dari ketiga negara produsen minyak terbesar ini saja, terdapat kenaikan sekitar 1,7 juta barrel/hari. Peningkatan produksi ini membuat terjadinya oversupply di pasar minyak, karena tidak diiringi dengan peningkatan permintaan.

Berdasarkan data laporan OPEC per November 2018, potensi oversupply diprediksi mencapai 1,36 juta barrel/hari, dengan jumlah permintaan minyak dunia menjadi 31,54 juta barel/hari. Sementara jumlah produksi sebesar 32,90 juta barel/hari.

Adapun faktor lainnya adalah dari adanya perang dagang AS dan China, yang juga turut menjadi penyebab turunnya harga minyak dunia.

Berlanjutnya Perang Dagang antara AS dan China menyebabkan perlambatan ekonomi global sehingga mengganggu pertumbuhan ekonomi.

 

Selain itu, perang dagang tersebut juga mengandung risiko downside, yaitu di saat ekonomi global melambat maka akan mengurangi jumlah permintaan energi.

Seperti dikemukakan sebelumnya, AS melancarkan aksi untuk terus menggenjot produksi minyak mentah yang berdampak pada jumlah pasokan minyak berlebih di pasar.

Hal inilah yang membuat pasokan minyak mentah di pasar semakin berlimpah hingga mengalami oversupply.

Dengan kondisi jumlah permintaan energi yang semakin berkurang akibat ekonomi global, justru kondisi tersebut malah diiringi dengan pasokan minyak mentah yang mengalami oversupply di pasar minyak.

Maka tidak heran jika pada November 2018 kemarin, harga minyak mentah dunia harus ikut tertekan karena kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hukum ekonomi dasar, di saat supply meningkat dan permintaan cenderung menurun, maka harga akan ikut menurun.

 

Emiten Yang Terimbas Tren Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Volatilitas harga minyak mentah dunia yang terjadi saat ini membuat sejumlah emiten harus menghadapi ketidakpastian, tak pelak beberapa industri harus merasakan dampak nya baik positif maupun negatif.

Bagi beberapa industri, penurunan harga minyak mentah dunia menimbulkan dampak negatif. Namun di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia justru memberikan dampak positif.

Adapun dampak negatif yang paling dominan dari penurunan harga minyak mentah dunia dirasakan oleh emiten di sektor migas maupun energi, seperti MEDC, ELSA, dan AKRA.

Hal ini disebabkan kinerja emiten sektor migas dan energi tersebut sangat bergantung pada harga komoditas minyak, karena harus melakukan kegiatan ekspor migas nya.

Harga Minyak Mentah Dunia Turun! Bagaimana dengan Prospek Emiten Sektor Migas 05 Penurunan Harga Minyak - Finansialku

[Baca Juga: Menelisik Harga Minyak Dunia dari Masa ke Masa]

 

Demikian pula, turunnya harga minyak dunia juga bisa menghambat proses investasi sektor migas maupun energi, terlebih jika emiten migas maupun energi akan melakukan kegiatan eksplorasi.

Dan juga biasanya emiten-emiten di sektor migas ataupun energi akan semakin meningkatkan efisiensi untuk bisa bertahan saat terjadi tren penurunan harga minyak mentah dunia.

Permasalahannya adalah efisiensi yang dilakukan secara berlebih justru akan memperlambat perputaran ekonomi secara keseluruhan.

Sementara untuk dampak positifnya dari turunnya harga minyak mentah dunia dirasakan oleh sektor industri yang menjadikan bahan bakar minyak sebagai bahan bakunya, seperti manufaktur, otomotif, penerbangan dan perkapalan.

Hal ini dikarenakan dengan turunnya harga minyak dunia maka akan mengakibatkan semakin murahnya harga bahan bakar, khususnya di Indonesia.

Turunnya harga minyak mentah dunia secara tidak langsung, juga membuat biaya transportasi dan energi juga lebih murah. Tidak hanya itu, seharusnya turunnya harga minyak mentah dunia juga bisa mempengaruhi penurunan tarif listrik.

Namun yang perlu dicatat di sini, benefit yang dirasakan tidaklah instan, melainkan butuh waktu untuk menghabiskan stok minyak yang dibeli pada US$75 terlebih dahulu.

 

Prospek Emiten Dengan Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Dengan dampak yang ditimbulkan akibat turunnya harga minyak mentah dunia, penting bagi kita untuk mengetahui prospek emiten di sektor migas dan energi, sebagai langkah antisipasi dalam reaksinya menyikapi pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun emiten di sektor migas dan energi khususnya MEDC dan ELSA, sudah melakukan langkah antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan akibat harga minyak mentah dunia melemah.

Adapun langkah antisipasi yang dilakukan oleh PT Medco Energi Internasional (MEDC) untuk menyiasati tren penurunan harga minyak mentah dunia, adalah melalui peningkatan produktivitas dan mengelola cost control-nya.

MEDC juga banyak melakukan negosiasi dengan penyedia servis. Dengan MEDC komitmen melakukan upaya-upaya tersebut, membuat MEDC selamat dari pemangkasan tenaga kerja meskipun harga minyak mentah dunia terus menurun.

Demikian pula hal yang sama dengan ELSA, juga berupaya agar tetap bertahan di tengah lemahnya harga minyak mentah dunia.

ELSA berhasil bertahan melalui upaya diversifikasi usaha dalam bentuk kontrak jasa. Di mana kontrak jasa yang ditargetkan oleh ELSA adalah jasa perawatan lapangan migas dan jasa perawatan operasional.

Melalui langkah antisipasi tersebut menjadikan MEDC dan ELSA bisa tetap survive tanpa harus melakukan pengurangan tenaga kerjanya, dan mampu membuat MEDC dan ELSA tetap mampu bertahan di tengah turunnya harga minyak mentah dunia.

 

Melihat Potensi Minyak Mentah Dunia Ke Depan

Setelah kita mengetahui dampak dari penurunan harga minyak mentah dunia, lantas bagaimanakah prospek harga minyak mentah dunia itu sendiri ke depannya?

Penulis melihat pergerakan harganya di tahun 2019 mendatang akan sangat ditentukan oleh hasil dari pertemuan G20 dan pertemuan tahunan OPEC.

Pertemuan G20 berlangsung di Buenos Aires pada 30 November 2018 sampai 1 Desember 2018, di mana salah satu agenda Pertemuan G20 tersebut membahas konflik dagang yang terjadi di antara AS dan China, termasuk dampaknya bagi penurunan harga minyak mentah dunia.

Demikian pula, pertemuan tahunan OPEC berlangsung di Austria pada 6 Desember 2018 membahas mengenai kebijakan produksi minyak mentah bersama dengan mitra produsen non-OPEC, yang termasuk di dalamnya negara Rusia sebagai negara non-OPEC yang menjadi salah produsen minyak terbesar di dunia.

Rencananya OPEC akan mengurangi produksi minyak mentah dalam kisaran 1-1.4 juta barrel/hari.

Rencana tersebut lantaran OPEC yang melihat pasokan minyak mentah berlebih, sehingga OPEC menilai penting untuk melakukan intervensi guna menstabilkan kondisi pasar, dengan estimasi akan kembali menaikkan harga minyak mentah dunia.

Dengan asumsi hasil pertemuan G20 dan pertemuan tahunan OPEC tersebut positif, di mana negara-negara besar penghasil minyak bumi sepakat untuk sama-sama membatasi produksi minyak, maka supply minyak berpeluang untuk normal kembali yang berujung pada kembali meningkatnya harga minyak mentah dunia.

Sebaliknya jika estimasi hasilnya negatif, dikarenakan kondisi pasar minyak hingga saat ini masih terbebani oleh perang dagang antara AS dan China, serta statement dari Trump yang dengan tegas menolak kenaikan harga minyak.

Maka dengan begitu, peluang harga minyak untuk terus ke harga yang lebih rendah semakin besar.

 

Wait and See

Melihat pergerakan harga minyak mentah dunia yang tengah menurun, dan pengaruhnya terhadap emiten-emiten di sektor migas dan energi. Alangkah baik nya jika saat ini investor memilih untuk wait and see lebih dulu, menunggu hingga kondisi mulai membaik.

Meskipun penurunan harga minyak mentah dunia ini, tidak serta merta mempengaruhi harga saham emiten sektor migas dan energi, namun jika ingin berinvestasi di saham tersebut Anda perlu melihat kinerjanya berdasarkan fundamentalnya.

Jika Anda seorang pemula dalam dunia investasi saham, Anda bisa membaca ebook Pedoman berinvestasi Saham untuk Pemula di bawah ini secara GRATIS.

Free Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Sebelum berinvestasi saham, pastikan kondisi keuangan Anda sudah siap menghadapi berbagai risiko yang akan di hadapi. Anda perlu merencanakannya dengan matang.

Anda bisa menggunakan bantuan Aplikasi Finansialku untuk merencanakan dan mengelola keuangan Anda. Aplikasi Finansialku dapat dengan mudah Anda download melalui link di bawah ini atau melalui Google Play Store.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai artikel di atas? Bagikan pendapat Anda pada kolom komentar di bawah.

Jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Minyak Mentah Dunia – https://goo.gl/TxGLfk
  • Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam Setahun – https://goo.gl/dfqMDP
  • Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia Dalam 5 tahun terakhir – https://goo.gl/dfqMDP
  • Harga Acuan Minyak Mentah – CNBC Indonesia
  • Penurunan Harga Minyak – https://goo.gl/LnCimz