Menunggu kepastian kapan mulainya bulan Ramadan tidak terlepas dari dua metode yaitu metode Hisab dan Rukyat. Seperti apa perbedaan kedua metode tersebut?

Agar lebih jelas, Yuk, simak ulasannya berikut ini. selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Lifestyle (rev)

 

Hisab dan Rukyat Menjelang Bulan Ramadan

Seperti yang sudah diinformasikan Kementerian Agama, sidang isbat akan dilaksanakan pada 5 Mei 2019.

Seperti diketahui di Indonesia, ada dua metode berbeda dalam menentukan awal dan akhir Ramadan dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kadang menjadikan ketetapan waktu yang berbeda.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan ini mengumumkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1440 Hijriah berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai berikut:

 

RAMADAN 1440 H

  • Ijtimak jelang Ramadan 1440 H terjadi pada hari Ahad Kliwon, 5 Mei 2019 M pukul 05:48:25 WIB.Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +05°48¢20² (hilal sudah wujud). 1 Ramadan 1440 H jatuh pada hari Senin Legi, 6 Mei 2019 M. SYAWAL 1440 H.
  • Ijtimak jelang Syawal 1440 H terjadi pada hari Senin Wage, 3 Juni 2019 M pukul 17:04:46 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT) = -00°09¢22² (hilal belum wujud). 1 Syawal 1440 H jatuh pada hari Rabu Legi, 5 Juni 2019 M.

 

ZULHIJAH 1439 H

  • Ijtimak jelang Zulhijah 1440 H terjadi pada hari Kamis Pon, 1 Agustus 2019 M pukul 10:14:35 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT) = +03°15¢41² (hilal sudah wujud). 1 Zulhijah 1440 H jatuh pada hari Jumat Wage, 2 Agustus 2019 M.

Cara Islam menentukan awal dan akhir Ramadan sudah digariskan oleh Islam melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

 

Hadits di atas menunjukkan bahwa penentuan awal Ramadan hanya dengan dua cara, tidak ada cara ketiga.

Cara pertama adalah dengan rukyatul hilal. Cara kedua adalah menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Sedangkan cara hisab hanyalah sebagai alat bantu saja untuk memperkirakan, bukan sebagai rujukan utama.

 

Apa Itu Metode Hisab?

Hisab berasal dari kata “Hasaba” yang artinya menghitung, mengira dan membilang. Metode Hisab merupakan perhitungan dengan ilmu falak (astronomi) untuk menentukan keberadaan bulan baru atau sabit dimulainya awal bulan.

Dengan metode ini posisi matahari dan bulan terhadap bumi bisa diperkirakan secara presisi tanpa perlu melihat bulan baru sebagai penanda awal bulan.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Depag, 2005: 208)

Ramadan Hampir Tiba, Ini Dia Tanggal Mulainya Puasa 2019 03 Ramadan 2019 3 - Finansialku

[Baca Juga: Ramadan Hampir Tiba, Ini Dia Tanggal Mulainya Puasa 2019]

 

Jadi metode ini memperhitungkan pergerakan atau peredaran benda langit dalam suatu data yang tersaji dari pengamatan yang dilakukan beberapa dekade untuk mengetahui posisi hilal yang menentukan awal bulan Hijriah.

Tidak sedikit para ulama kontemporer yang menggunakan metode ini. Meskipun di sisi lain ada beberapa ulama yang menganggap bahwa penggunaan hisab secara murni juga dinilai sebagai bidah.

Kecuali juga dibarengi dengan metode rukyah. Dengan hisab, posisi hilal akan bisa diprediksi ada “di sana” sekalipun wujudnya tidak terlihat. Barangnya ada, tapi tidak terlihat. 

Perbedaan ini terletak pada konsep wujudulhilal (keberadaan hilal) bagi golongan yang menggunakan metode hisab murni. Dimana “melihat hilal” dipahami sebagai melihat tidak harus dengan mata kepala tapi bisa dengan ilmu.

Sedangkan konsep rukyatulhilal (melihat hilal) melihat hilal dengan mata kepala langsung. Itulah yang kemudian perhitungan sudut azimut dan elongasi punya peran penting dalam penentuan awal/akhir puasa Ramadan.

 

Apa Itu Metode Rukyat?

Rukyatul Hilal berasal dari bahasa arab “Ra’a-Yara-Rukyat” yang artinya melihat sedangkan hilal berarti bulan sabit yang pertama kali terlihat setelah terjadinya ijtimak di awal bulan Hijriah.

Selain dapat dijadikan tanda bagi manusia dalam ibadah haji, hilal juga dapat dijadikan pertanda mulainya ibadah shaum Ramadan dan Berhari Raya yang telah dipakai sejak zaman nabi Muhammad SAW. 

Jika ada (minimal dua orang) yang melihatnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa malam itu sudah masuk tanggal 1. Namun jika hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan tersebut akan digenapkan menjadi 30 hari.

Metode Hisab dan Rukyat dalam Menentukan Awal Bulan Ramadan 02 - Finansialku

[Baca Juga: Aplikasi Finansialku: Cara Mengecek Kesehatan Finansial Setelah Ramadan. Bagaimana Hasilnya?]

 

Dengan kata lain, metode Rukyat ini mengamati dan melihat hilal yang tampak dari ufuk barat, dilakukan menjelang terbenamnya Matahari. Aktivitas rukyat dilakukan sesaat setelah Matahari berada pada waktu ijtimak.

Posisi linear antara Matahari-Bulan-Bumi dalam satu garis lurus, hampir menyerupai posisi gerhana matahari.

Untuk melihat rukyatul atau hilal ini idealnya dilakukan dengan mata telanjang, seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Yang terpenting mengetahui teknik dan ilmunya, maka rukyat dapat dilihat dengan mata telanjang.

Jarak ideal mata telanjang bisa melihat hilal adalah 7 derajat. Kurang dari itu maka diperlukan alat bantu teleskop. Batas penggunaan alat ini pun ada batasnya pada sudut 3 derajat.

 

Salah satu medan terbaik adalah lokasi yang menghadap ke laut. Setelah menentukan lokasi, para ahli rukyat membuat rincian tentang arah dan kedudukan matahari serta hilal sesuai dengan hisab bulan disertai peta proyeksi.

Yang harus diperhatikan dalam merukyat adalah seorang perukyat yang memenuhi syarat adil dan berpengalaman, adil disini ialah mampu membedakan antara hilal dengan cahaya lain yang terpantul oleh alat optik.

Pun Perukyat harus melakukan observasi dengan penuh konsentrasi beberapa menit sebelum matahari menyentuh ufuk selama waktu rukyat yang diperhitungkan.

Hal ini karena melihat hilal sangat sulit, karena hanya sekitar 1,25% bagian dari permukaan bulan saja yang terkena paparan sinar matahari. Hal ini membuat penampakan bulan dari bumi hanya seperti garis lengkung tipis saja.

Di sisi lain, hilal juga muncul sebentar saja. Sekitar 15 menit sampai 1 jam sebelum akhirnya ikut tenggelam juga bersama matahari karena gerak rotasi bumi lebih cepat daripada gerak revolusi bulan.

 

Jadi Lebih Baik Metode Hisab atau Metode Rukyat?

Dua metode ini adalah gambaran, bahwa dengan metode hisab, para ulama mencoba menggunakan pendekatan rasional. Melihat pola, membacanya, lalu menyusun prediksi-prediksinya.

Semua dilakukan dalam rumus-rumus. Sedangkan metode rukyat merupakan pendekatan empirik. Bagaimana pengalaman menyaksikan tanda-tanda alam adalah penentu sebuah hukum syariat berlaku.

Pada akhirnya, seperti yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode ini secara bersamaan. Pendekatan rasional dengan hisab dan pendekatan empirik dengan rukyat.

 

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Umur 20 an

Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 20 an Perencana Keuangan Independen Finansialku 

Download Sekarang

 

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca artikel di atas? Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini.

Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Referensi:

  • Ahmad Khadafi. 26 Mei 2017. Memahami Rukyat dan Hisab untuk Menentukan 1 Ramadan. Tirto.id – http://bit.ly/2WncJyL
  • Alfad. 1 Desember 2010. Perbandingan Metode Hisab dengan Metode Rukyat dalam Menentukan Awal Bulan Hijriyah. Mutiary.wordpress.com – http://bit.ly/2DMxiNT
  • Muhammad Abduh Tuasikal. 19 Juni 2014. Metode Hisab Wujudul Hilal dan Imkanur Ru’yah. Muslim.or.id – http://bit.ly/2GYrFxX

 

Sumber Gambar:

  • Awal Ramadan 1 – http://bit.ly/2XX4tpw
  • Awal Ramadan 2 – http://bit.ly/2WlGhNh