Passive income bukan berarti passive risk.

Bayangkan suatu hari gaji Anda berhenti. Bukan karena kehilangan pekerjaan—bisa jadi Anda memang sudah pensiun, ingin berhenti bekerja, atau ingin punya lebih banyak waktu untuk keluarga. Masalahnya, kebutuhan hidup tidak ikut berhenti. Tagihan tetap datang, biaya sekolah tetap berjalan, belanja bulanan tetap harus dibayar.

Lalu muncul satu pertanyaan: kalau ingin punya passive income Rp40 juta setiap bulan, sebenarnya butuh modal berapa?

Pertanyaan ini terdengar sederhana. Tapi jawabannya tidak cukup dengan mencari investasi yang bunganya paling tinggi. Ada deposito, obligasi, reksa dana, sampai securities crowdfunding—masing-masing punya imbal hasil, pajak, likuiditas, dan risiko yang berbeda.

Artikel ini membahas tiga hal: pilihan investasi pendapatan tetap beserta imbal hasil dan pajaknya, cara menghitung modal yang dibutuhkan untuk target Rp40 juta per bulan, dan risiko yang sering terlupakan ketika Anda benar-benar mengandalkan investasi untuk hidup.

Agar penjelasannya lebih mudah dipahami, berikut video analisis lengkapnya:

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Tingkat imbal hasil, pajak, ketentuan produk, dan kondisi pasar dapat berubah. Pelajari karakteristik setiap produk dan pertimbangkan kondisi keuangan Anda sebelum mengambil keputusan investasi.

 

Investasi Pendapatan Tetap — Pilihan, Imbal Hasil, dan Pajaknya

Jangan hanya bertanya “berapa persen cuannya?” Tanyakan juga: berapa yang benar-benar masuk ke kantong?

Salah satu cara membangun passive income adalah memiliki aset produktif yang menghasilkan pendapatan secara berkala. Dalam investasi, kelompok instrumen yang sering dipakai adalah investasi pendapatan tetap (fixed income). Tapi istilah “pendapatan tetap” jangan langsung diartikan hasilnya pasti dan bebas risiko. Ada instrumen yang memberi bunga atau kupon berkala, ada pula produk yang nilainya bisa berubah mengikuti pasar.

Sebagai gambaran kasar, berikut kisaran imbal hasil dan pajak dari beberapa instrumen (data per 18 September 2026):

Instrumen

Kisaran imbal hasil

Pajak

Deposito bank umum

±3,27%

20%

Deposito bank digital

±6–8%

20%

Deposito BPR

±6,25%

20%

Simpanan koperasi

±8–10%

10%

Obligasi pemerintah

±5–7,5%

10%

Obligasi korporasi (rating baik)

±8–10%

10%

Reksa dana dengan bagi hasil

±4–6%

Bukan objek pajak

Securities crowdfunding

>10%

Sesuai ketentuan

Catatan: kisaran di atas hanya gambaran dan dapat berubah sewaktu-waktu. Cek kembali angka terbaru sebelum berinvestasi.

Deposito: Familiar, Tapi Jangan Berhenti di Angka Bunga

Deposito paling mudah dipahami. Pilihannya mulai dari bank umum, bank digital, BPR, hingga simpanan koperasi. Tapi hati-hati ketika melihat angka 8%. Bunga deposito bank dikenakan pajak final 20%, sementara simpanan koperasi memiliki ketentuan pajak berbeda.

Sebagai ilustrasi sederhana: bunga deposito 8% per tahun yang dipotong pajak 20% menyisakan sekitar 6,4% per tahun. Itu pun belum memperhitungkan inflasi dan risiko lembaganya. Inilah yang sering terlupakan ketika orang memburu bunga deposito tertinggi.

Obligasi Pemerintah dan Korporasi

Kalau ingin imbal hasil sedikit di atas deposito, ada obligasi: surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan. Investor memberikan dana kepada penerbit, lalu menerima kupon sesuai ketentuan instrumennya. Obligasi pemerintah berada di kisaran 5%–7,5% per tahun, sementara obligasi korporasi berperingkat baik bisa 8%–10%. Pajak final bunga obligasi saat ini 10%.

Untuk SBN ritel, pembayaran kupon berkala dan jaminan pemerintah menjadi daya tariknya. Tapi karakteristik tiap seri berbeda, terutama soal likuiditas dan apakah bisa diperdagangkan sebelum jatuh tempo.

Reksa Dana yang Membagi Hasil

Anda tidak harus membeli surat utang satu per satu. Beberapa reksa dana membagikan hasil investasi secara berkala sesuai produknya, dengan kisaran sekitar 4%–6% per tahun. Untuk pembahasan lengkapnya, baca juga artikel kami tentang reksa dana bagi hasil tiap bulan.

Securities Crowdfunding dan Fintech Lending

Imbal hasilnya menarik, bahkan bisa di atas 10%. Tapi di sini Anda perlu berhenti sejenak. Pertanyaan yang lebih penting bukan “berapa persen cuannya?”, melainkan “uang saya dipakai untuk apa, dan apa yang terjadi kalau penerima dana gagal membayar?” Pajaknya pun tidak bersifat final, sehingga mengikuti ketentuan pajak penghasilan yang berlaku.

Jadi, investasi pendapatan tetap bukan sekadar soal mana yang bunganya paling tinggi. Yang perlu dilihat: berapa yang masuk ke kantong setelah pajak, seberapa konsisten pendapatannya, dan seberapa besar risiko yang ditanggung.

[Baca Juga: Reksa Dana Bagi Hasil Tiap Bulan: Benarkah Ada?]

 

Menghitung Modal untuk Passive Income Rp40 Juta per Bulan

Jawabannya mungkin lebih besar dari yang Anda bayangkan.

Simulasi dengan Kalkulator Financial Freedom

Mari kita hitung. Asumsikan kebutuhan hidup Anda saat ini sekitar Rp40 juta per bulan. Dengan Kalkulator Financial Freedom dari Finansialku, langkahnya sederhana:

  1. Buka website Finansialku, lalu pilih Kalkulator Financial Freedom (kebebasan keuangan)
  2. Masukkan pengeluaran saat ini: Rp40 juta per bulan
  3. Masukkan asumsi keuntungan investasi: 8% per tahun
  4. Masukkan asumsi inflasi: 5% per tahun
  5. Isi data dan lihat hasilnya. Laporan bisa dikirim ke email Anda, atau Anda bisa menghubungi admin untuk dijadwalkan ngobrol dengan perencana keuangan

Hasilnya: kebutuhan modal sekitar Rp16 miliar.

Gambaran sederhananya bisa dipahami dengan rumus yang sama seperti perhitungan dana pensiun: Rp40 juta × 12 bulan = Rp480 juta per tahun, dibagi selisih imbal hasil dan inflasi (8% − 5% = 3%). Rp480 juta ÷ 3% = Rp16 miliar. Selisih 3% itulah yang menjelaskan mengapa modalnya besar: sebagian hasil investasi harus “dikembalikan” ke modal agar nilainya mampu mengejar kenaikan biaya hidup.

Rp16 Miliar Bukan Angka yang Harus Dikejar Sekarang

Angka ini mungkin terasa sangat besar. Tapi fungsi kalkulator bukan untuk membuat Anda merasa harus punya Rp16 miliar hari ini. Fungsinya menunjukkan bahwa ketika target passive income besar, kebutuhan modalnya juga perlu dihitung secara realistis—termasuk inflasi, perubahan kebutuhan, risiko investasi, dan kemungkinan hasil investasi tidak sama setiap tahun.

Kalau angka itu terlalu tinggi untuk kondisi Anda, ada dua jalan:

  • Sesuaikan target: passive income yang dibidik tidak harus Rp40 juta per bulan
  • Pecah sumber penghasilannya: Rp40 juta tidak harus datang dari satu investasi

Passive Income Tidak Harus dari Satu Sumber

Kesalahan berpikir yang cukup sering terjadi: mengira harus punya satu investasi yang menghasilkan Rp40 juta per bulan. Padahal bisa dibangun dari beberapa sumber, misalnya:

  • Rp10 juta dari dividen saham
  • Rp10 juta dari sewa rumah atau rumah kos
  • Rp10 juta dari kupon obligasi
  • Rp10 juta dari deposito atau sumber investasi lainnya

Totalnya Rp40 juta per bulan. Yang dibangun bukan satu investasi senilai Rp16 miliar, tapi gabungan beberapa sumber penghasilan hingga mencapai target. Dengan begitu Anda tidak bergantung pada satu jenis aset saja—dan inilah alasan mengapa diversifikasi penting.

[Baca Juga: Dividen Saham Bank 10 Tahun: BBRI, BMRI, BBCA Dapat Berapa?]

 

Risiko Investasi Pendapatan Tetap yang Sering Terlupakan

Pendapatan tetap bukan berarti risikonya tetap.

Setelah modal terkumpul dan portofolio berjalan, rasanya menyenangkan. Tapi justru ketika investasi mulai dipakai untuk membayar kebutuhan hidup, risiko menjadi semakin penting. Mari lihat satu per satu.

Deposito: Penjaminan LPS Ada Batasnya

Risiko deposito di bank umum, bank digital, BPR, atau koperasi adalah masalah likuiditas lembaga. Memang ada LPS, tetapi penjaminannya memiliki syarat, termasuk batas tingkat bunga yang dijamin. Nilai maksimal yang dijamin Rp2 miliar per nasabah per bank. Jadi kalau dana Anda jauh lebih besar dari itu, jangan otomatis menganggap seluruhnya terlindungi.

Surat Utang Negara: Aman dari Gagal Bayar, Bukan Bebas Risiko Harga

Untuk SBN ritel tertentu, pokok dan kupon dijamin pemerintah sampai jatuh tempo. Karena itu pula kuponnya cenderung paling rendah dibanding produk pendapatan tetap lain. Tapi jika jenis SBN tersebut bisa diperdagangkan dan Anda menjualnya sebelum jatuh tempo, harganya bisa turun. Aman dari gagal bayar tidak sama dengan bebas dari semua risiko.

Obligasi Korporasi, P2P Lending, dan Securities Crowdfunding

Pada surat utang perusahaan swasta, risiko utamanya adalah gagal bayar pokok dan bunga. Hal serupa berlaku di P2P lending—OJK sendiri menekankan pentingnya manajemen risiko di industri pindar, termasuk memitigasi risiko ketika penerima dana gagal bayar. Pada securities crowdfunding, risikonya mencakup proyek tidak berjalan, tidak mendapatkan dividen, hingga saham yang tidak likuid.

Jadi kalau Anda mencari investasi P2P lending yang aman, jangan hanya melihat return. Tanyakan: siapa peminjamnya, untuk bisnis apa dana digunakan, bagaimana kemampuan mereka mengembalikan dana, dan apa yang terjadi kalau proyek tidak berjalan sesuai rencana.

Reksa Dana: Bagi Hasil Jalan, Nilai Pokok Bisa Turun

Walaupun ada produk yang rutin membagikan hasil investasi, nilai investasinya tetap bisa turun mengikuti harga aset di portofolio. Anda bisa tetap menerima bagi hasil, tapi pada saat yang sama nilai pokoknya berkurang, dan bagi hasilnya sendiri bisa menurun.

Kesimpulannya: semakin Anda bergantung pada hasil investasi untuk hidup, semakin penting mengetahui dari mana income itu berasal dan apa yang bisa membuatnya berhenti. Jangan hanya mendiversifikasi produk—cek juga siapa atau apa yang sebenarnya Anda danai.


 

FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan

Berapa modal untuk mendapatkan passive income Rp40 juta per bulan?

Besarnya modal tergantung tingkat hasil investasi, inflasi, pajak, biaya, serta berapa lama income ingin dipertahankan. Sebagai ilustrasi, dengan pengeluaran Rp40 juta per bulan, return 8% per tahun, dan inflasi 5% per tahun, Kalkulator Financial Freedom menghasilkan kebutuhan modal sekitar Rp16 miliar. Angka ini ilustrasi berdasarkan asumsi, bukan angka yang berlaku sama untuk semua orang.

Apa investasi yang bisa digunakan untuk membangun passive income?

Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain deposito, SBN ritel, obligasi korporasi, reksa dana, saham yang menghasilkan dividen, properti yang menghasilkan sewa, serta instrumen lainnya. Setiap instrumen memiliki karakteristik return, risiko, likuiditas, dan perpajakan yang berbeda.

Apakah investasi dengan return tinggi lebih baik untuk passive income?

Tidak selalu. Return yang lebih tinggi biasanya perlu dilihat bersama risiko yang menyertainya. Investor tidak hanya mempertimbangkan potensi hasil, tetapi juga keamanan aset, likuiditas, pajak, diversifikasi, dan kemungkinan terjadinya penurunan nilai atau gagal bayar.

[Baca Juga: Profil Risiko Investasi: Benar Penting atau Sekadar Alasan?]

 

Mulai dari Angka Kebutuhan, Bukan dari Return Tertinggi

Tidak ada satu produk investasi yang otomatis menjadi jawaban untuk semua orang. Cara mendapatkan passive income lebih tepat dimulai dari menentukan berapa biaya hidup yang ingin dibiayai, kapan income itu dibutuhkan, berapa modal yang tersedia, lalu memilih kombinasi aset yang sesuai dengan tujuan dan kemampuan menanggung risiko.

Mulailah dari angka kebutuhan Anda. Hitung modalnya dengan Kalkulator Financial Freedom. Setelah itu, jangan hanya mencari return tertinggi—lihat juga pajak, risiko, likuiditas, dan keberlanjutan income tersebut.

Karena pada akhirnya, tujuan investasi bukan sekadar membuat angka di rekening bertambah, melainkan membuat aset bekerja membantu membiayai kehidupan Anda, dengan risiko yang benar-benar Anda pahami. Dan semakin dekat masa pensiun, pertanyaannya semakin penting: kalau suatu hari gaji berhenti, apakah aset Anda sudah siap mengambil alih sebagian penghasilan tersebut?

Jika Anda ingin menyusun perencanaan pensiun yang lebih sesuai dengan kondisi Anda, Anda bisa ngobrol terlebih dahulu dengan tim admin Finansialku melalui WhatsApp. Tidak perlu langsung memutuskan—silakan tanya-tanya dulu dan lihat apakah layanannya memang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika Anda tertarik, hubungi Whatsapp 0813 1646 8488 atau klik banner di bawah ini ya!

bookplan