Belakangan ini, media sosial kembali ramai dengan cerita investor yang mengalami kerugian besar setelah mengikuti rekomendasi investasi dari figur publik. Mulai dari saham, kripto, hingga aset digital lainnya. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di benak banyak orang: apakah influencer investasi boleh rekomendasi?

Sebagian orang menyalahkan influencer. Sebagian lain menyebut kerugian adalah risiko pribadi investor. Di tengah perdebatan ini, yang sering hilang justru pemahaman utuh tentang aturan hukum, tanggung jawab masing-masing pihak, dan mindset keuangan yang sehat.

Melalui video ini, Melvin Mumpuni membahas isu influencer investasi secara netral dan sistematis—bukan untuk membela siapa pun, tetapi untuk membantu investor menjadi lebih kritis dan sadar risiko.

 

Fenomena Influencer Investasi dan Daya Pengaruhnya

Tidak bisa dipungkiri, influencer memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi. Dengan jumlah pengikut yang besar dan gaya komunikasi yang dekat, opini seorang figur publik sering terasa lebih meyakinkan dibandingkan laporan resmi atau penjelasan panjang yang teknis.

Masalah mulai muncul ketika konten edukasi berubah menjadi ajakan implisit. Sebuah video atau unggahan yang awalnya bertujuan berbagi insight, perlahan diterjemahkan audiens sebagai “rekomendasi”. Apalagi jika disampaikan dengan narasi hasil cuan, testimoni, atau visual keuntungan besar dalam waktu singkat. Di titik ini, batas antara edukasi dan rekomendasi menjadi kabur.

Agar penjelasannya lebih mudah dipahami, berikut video analisis lengkapnya:

 

Influencer Investasi: Boleh Memberi Rekomendasi atau Tidak?

Pertanyaan ini sering dijawab secara simplistik, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Jawabannya sangat bergantung pada instrumen investasi yang dibahas dan kerangka regulasi yang mengaturnya.

Untuk instrumen pasar modal seperti saham, obligasi, dan reksa dana, Indonesia memiliki aturan yang cukup jelas. Aktivitas rekomendasi investasi secara formal berada di bawah payung Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan OJK. Dalam konteks ini, pemberian rekomendasi bukanlah aktivitas bebas. Ia hanya boleh dilakukan oleh pihak yang memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas.

Artinya, ketika seorang influencer yang tidak berizin memberikan ajakan spesifik—misalnya menyebut saham tertentu untuk dibeli—secara regulasi, ini sudah masuk wilayah abu-abu yang berisiko.

Situasinya sedikit berbeda pada aset kripto. Kripto berada dalam rezim pengawasan yang tidak sama dengan pasar modal konvensional. Karena itulah, konten promosi kripto oleh influencer sering kali terasa “lebih longgar”. Namun, kelonggaran ini tidak otomatis berarti aman bagi investor. Regulasi yang berbeda bukan berarti risiko yang lebih kecil.

[Baca Juga: Contoh Saham Nyangkut dan Cara Mengatasinya, Jangan Nyerah!]

 

Jika Terjadi Kerugian, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Ini adalah bagian yang paling sering memicu emosi. Ketika kerugian terjadi, wajar jika investor merasa dikhianati atau ditipu. Namun dari sudut pandang hukum dan keuangan, ada satu prinsip yang perlu dipahami sejak awal: keputusan investasi selalu berada di tangan investor.

Saat seseorang memutuskan untuk membeli aset, baik karena rekomendasi influencer, mentor, atau komunitas, keputusan akhir tetap diambil oleh dirinya sendiri. Karena itu, tidak semua kerugian bisa serta-merta dibebankan kepada pihak yang memberi informasi.

Meski begitu, bukan berarti semua kasus berhenti di situ. Jika terdapat indikasi penipuan, manipulasi informasi, atau skema investasi bodong, investor tetap memiliki jalur hukum. Pelaporan ke OJK atau Indonesia Anti-Scam Centre menjadi langkah penting agar kasus tersebut bisa ditelaah secara objektif oleh otoritas.

Yang perlu dipahami, rugi dalam investasi tidak selalu sama dengan ditipu. Pasar memang berisiko, dan tidak ada instrumen yang menjamin keuntungan.

[Baca Juga: Saham Minus Semua: Cut Loss atau Tahan Aja? Ini Cara Menentukannya dengan Tenang]

 

Mengapa Kasus Serupa Terus Berulang? Masalah Mindset

Bagian terpenting dari video ini justru bukan soal boleh atau tidak bolehnya influencer memberi rekomendasi, melainkan soal mindset investor.

Jika melihat ke belakang, Indonesia sudah berkali-kali menghadapi kasus investasi bermasalah. Bentuknya berubah-ubah—emas, koperasi, saham palsu, robot trading, hingga kripto—tetapi polanya nyaris selalu sama. Janji keuntungan cepat, risiko yang dikecilkan, dan narasi “kesempatan langka”.

Mindset “cepat kaya” membuat banyak orang menurunkan kewaspadaan. Legalitas tidak dicek, mekanisme produk tidak dipahami, dan risiko dianggap remeh. Sebaliknya, mindset “pasti kaya” menuntut proses, disiplin, dan kesabaran. Ia tidak menjanjikan hasil instan, tetapi lebih realistis dalam jangka panjang.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI EMAS Untuk PEMULA

Download Ebook Panduan Berinvestasi Emas untuk Pemula - Harga Emas Hari Ini - Finansialku

 

Bagaimana Seharusnya Investor Menyikapi Influencer Investasi?

Video ini tidak mengajak kita untuk memusuhi influencer. Informasi dari media sosial tetap bisa bermanfaat, selama ditempatkan pada porsinya. Influencer seharusnya diposisikan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai penentu keputusan akhir.

Investor yang sehat akan selalu bertanya lebih jauh. Apakah produk ini legal? Apakah risikonya sesuai dengan profil saya? Apakah saya benar-benar paham apa yang saya beli? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering dilewatkan ketika keputusan diambil terlalu cepat.

 

Pentingnya Edukasi dan Pendampingan Keuangan

Banyak investor ritel mengalami kerugian bukan karena kurang cerdas, tetapi karena berjalan sendirian tanpa kerangka berpikir yang jelas. Edukasi dan pendampingan keuangan hadir bukan untuk menjanjikan cuan, melainkan untuk membantu investor memahami konteks, risiko, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Pendampingan yang sehat tidak mengambil alih keputusan, tetapi membantu investor membuat keputusan yang lebih rasional dan selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang.

Jika kamu ingin mengambil keputusan dengan lebih terarah dan tidak mengulang kesalahan yang sama, pendampingan investasi saham bisa membantu memberi sudut pandang yang lebih objektif dan terstruktur. Gunakan Program Bookplan dari Finansialku. Jika Anda tertarik, hubungi Whatsapp 0851 5897 1311 atau klik banner di bawah ini ya!

bookplan

Melalui Pendampingan Saham Finansialku, kamu tidak diarahkan untuk ikut-ikutan saham tertentu, melainkan dibantu memahami:

  • apakah saham yang kamu pegang masih layak dipertahankan,

  • kapan sebaiknya melepas dengan rasional,

  • dan bagaimana menyusun strategi investasi yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko kamu.

Pendampingan ini tidak mengelola dana kamu. Semua keputusan tetap di tangan kamu, dengan bekal analisis dan kerangka berpikir yang lebih matang.

 

Lebih Penting Kritis daripada Terpikat

Pertanyaan “influencer investasi boleh rekomendasi?” memang penting, tetapi bukan itu inti masalahnya. Inti sebenarnya adalah bagaimana investor menyikapi informasi yang diterima.

Di dunia investasi, siapa pun bisa berbicara. Namun tanggung jawab finansial tidak pernah bisa dipindahkan. Menjadi investor yang matang berarti berani berpikir kritis, memahami risiko, dan tidak menyerahkan keputusan hidup kepada popularitas seseorang.

Jika prinsip ini dipegang, influencer tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sekadar salah satu sumber informasi di tengah banyak pertimbangan rasional lainnya.

 

Ebook GRATIS, Panduan Praktis INVESTASI REKSA DANA PERTAMA Kamu!

Ebook Reksa Dana Pertama Kamu