Saham naik di beberapa sektor. Apakah kenaikan itu cukup pantas dengan harga sahamnya yang sekarang atau sudah terlalu mahal?

Agar lebih jelas, mari simak pembahasannya berikut ini. Selamat membaca.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Beberapa Sektor Mengalami Kenaikan Saham

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode kuartal I 2019 baru saja berakhir dan perdagangan saham untuk periode kuartal II/2019 sudah dimulai pada 1 April 2019 lalu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tiga bulan berturut-turut di tahun ini hanya naik sebesar 4,43%. Namun meski begitu, sejumlah saham bisa mencetak kenaikan harga yang lebih tinggi.

Kendati menjadi yang terlemah kedua di Asia, kenaikan di atas 4% yang dibukukan IHSG terbilang cukup oke.

Indeks Saham SMC Liquid 02 - Finansialku

[Baca Juga: Kuartal Satu Kurang “Oke Bagi Reksadana Saham]

 

Sepanjang kuartal satu, indeks sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi mencatatkan kinerja yang paling apik.

Pada periode tersebut, indeks sektor saham ini naik sebesar 10,50% dan disusul indeks sektor keuangan yang naik 8% serta indeks perdagangan, jasa dan investasi yang menguat sebesar 5,05%.

Ada beberapa saham yang mengalami kenaikan harga yang paling tinggi, yaitu saham dari sektor perdagangan. Karena tiga saham dengan kenaikan harga tertinggi di kuartal satu lalu, itu semua merupakan saham di sektor perdagangan.

Berikut ini adalah Kinerja Indeks Sektor di Kuartal I 2019:

Jenis Sektor Indeks

Kinerja

Agrikultur

-6,44 %

Tambang

4,12 %

Industri dasar

2,02 %

Aneka Industri

-7,53 %

Barang konsumsi

1,20 %

Properti, real estate dan konstruksi

3,82 %

Infrastruktur, Utility, dan Transportasi

10,50 %

Keuangan

8,00 %

 

Indeks saham di sektor infrastruktur menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi sepanjang kuartal satu 2019, yaitu sebesar 10,50%. Padahal pada periode yang sama pada tahun lalu, indeks saham di sektor ini minus 10,66%.

Selain itu, peraturan pemerintah yang mengedepankan peningkatan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas juga menjadi sentimen fundamental positif untuk indeks sektor ini.

Alasannya, konektivitas tersebut bakal menopang pertumbuhan ekonomi yang akhirnya meningkatkan indeks saham. Konektivitas juga berpotensi untuk membuka pangsa pasar baru.

 

Saham Pencetak Gain Tertinggi di Kuartal Satu 2019

Saham dengan kenaikan tertinggi dipegang oleh PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY). Harga sahamnya naik hingga 1.661,11% di kuartal satu lalu.

Menurut Achmad Yaki selaku Analis BCA Sekuritas mengungkapkan bahwa kebanyakan dari saham-saham yang harganya naik paling tinggi di kuartal satu lalu memiliki kapitalisasi pasar yang kecil. Ahmad mengatakan:

“Kebanyakan yang bisa naik kencang memang kapitalisasi pasarnya kecil, jadi akan lebih mudah untuk mengangkat harga.”

Trading Saham Menurut Jesse Livermore Reading Market, Stock Behaviour Dan Analyzing Leading Sector 01 - Finansialku

[Baca Juga: 10 Saham Termahal Di Dunia, Semahal Apa Yak?]

 

Bahkan tak hanya itu, saham yang baru-baru mendarat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mencatatkan saham perdana juga menjadi pencetak gain tertinggi di kuartal satu tahun ini.

Hal ini dikarenakan saham masih dalam pengawasan penjamin emisi.

Selain itu, ada minat investor dan harapan akan kinerja emiten ke depan setelah mendapatkan dana segar dari penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO).

Berikut ini adalah daftar saham pencetak gain tertinggi di kuartal I tahun 2019:

SektorKeterangan
Pertambangan
  • ZINC: 68,75%
  • TINS: 66,23%
  • MYOH: 30,62%
Keuangan
  • BNLI: 58,40%
  • PANS: 41,79%
  • BCIC: 41,18%
Konsumsi
  • COCO: 314,14%
  • WIIM: 87,23%
  • CAMP: 83,53%
Infrastruktur
  • FREN: 297,44%
  • DEAL: 142,45%
  • ASSA: 132,14%
Industri Dasar
  • CAKK: 172,34%
  • ALMI: 88,75%
  • WTON: 64,89%
Perdagangan
  • CLAY: 1.661,11%
  • OCAP: 666,42%
  • NATO: 589,32 
Aneka Industri
  • JSKY: 81,37%
  • STAR: 39,53%
  • IMAS: 29,63%
Properti
  • WEGE: 65%
  • RDTX: 41,36%
  • RODA: 40,70%
Agrikultur
  • DSFI: 23,76%
  • UNSP: 10,28%
  • SGRO: 7,59%

 

Analis menilai, harga saham naik juga disebabkan karena pelaku pasar memanfaatkan momen rilis kinerja keuangan. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan:

“Karena saat ini tengah memasuki periode sibuk pengumuman laporan keuangan, investor akan mencoba mengamati saham-saham dengan kinerja baik dan undervalue.

 

Sedangkan menurut Achmad, ada beberapa saham yang memiliki fundamental yang baik, yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Saham PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) masing-masing naik 65% dan 64,89% di kuartal satu lalu. Harga saham WEGE naik, hal ini dikarenakan kinerjanya di tahun 2018 positif.

Dengan begitu, laba bersih yang didapatkan WEGE naik hingga 59,7% yang mencapai Rp444 miliar. Begitu pun dengan laba bersih yang diterima WTON yang naik 44,26% menjadi Rp486 miliar.

 

Harga sejumlah saham menguat karena sentiment aksi korporasi seperti saham PT Smart Telecom Tbk (FREN), PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dan PT Bank Permata Indonesia Tbk (BNLI).

Saham beberapa perusahaan ini naik karena disebabkan oleh beberapa hal, seperti FREN naik 297% karena adanya isu konsolidasi. Begitu pun dengan saham BNLI dan ASSA yang naik karena adanya rencana akuisisi dan merger.

Melihat kenaikan itu, Achmad belum bisa merekomendasikan saham jawara tersebut, karena kenaikannya tidak ditopang secara fundamental. Dirinya menilai kebanyakan saham kurang cocok untuk jangka panjang.

Karena, saham tidak memiliki fundamental baik dan akan sulit bertahan dalam jangka panjang. Achmad mengatakan:

“Potensi keberlangsungan usaha dan saham pasti akan rendah sekali jika tidak dibarengi dengan kinerja baik atau aksi korporasi.”

 

Salah satu alat ukur yang biasanya digunakan sebagai indikator oleh investor dan analis saham adalah price-earning-ratio/PER.

PER merupakan salah satu bentuk analisis fundamental perusahaan dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham.

Perhitungan ini mengimplikasikan berapa yang bersedia dibayarkan oleh pasar hari ini berdasarkan perolehan pendapatan perusahaan.

PER emiten dikatakan tinggi (overvalued) jika nilainya lebih besar dibanding PER Industri, dan sebaliknya untuk PER rendah. Perlu diingat, jika perusahaan mencatatkan kerugian, maka PER tidak dapat dihitung.

Apakah Anda tertarik untuk berinvestasi saham?

jika Anda tertarik untuk berinvestasi saham dan Anda masih bingung hal-hal tentang investasi saham, Anda bisa membaca ebook Panduan Berinvestasi Saham untuk Pemula di bawah ini secara GRATIS.

Free Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca berita di atas? Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini.

Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Referensi:

  • Intan Nirmala Sari. Menjadi Jawara Meski Fundamental Penuh Tanda Tanya. Tabloid Kontan
  • Nur Qolbi. 4 April 2019. Naik Tertinggi di Kuartal I 2019, Ini Rekomendasi untuk Saham Sektor Infrastruktur. Investasi.kontan.co.id – https://bit.ly/2IsfpqS
  • Dwi Ayuningtyas. 3 April 2019. Top 5 Saham dengan Cuan Tertinggi, Sudahkan Terlalu Mahal? Cnbcindonesia.com – https://bit.ly/2VBQW5Z

 

Sumber Gambar:

  • Kenaikan Saham – https://bit.ly/2X3EGLM