Etika bisnis sangat penting dalam dunia bisnis. Mengapa? Karena jika Anda tidak menjaga etika bisnis, bisa jadi kebangkrutan menanti di pintu bisnis Anda.

Untuk itu, dalam artikel Finansialku berikut ini kami merangkum kesalahan etika bisnis yang bisa Anda hindari dalam menjalankan bisnis Anda, yuk simak hingga tuntas.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Start It Up

 

Hindari Kesalahan Ini Dalam Menjaga Etika Bisnis 

Para pelaku bisnis adalah orang-orang yang bermoral, tetapi terkadang moralitas tersebut hanya berlaku dalam dunia pribadi, begitu mereka terjun dalam dunia bisnis, mereka akan masuk dalam permainan yang mempunyai kode etik tersendiri.

Seringkali kita mendapati deretan skandal bisnis, yang menyangkut manipulasi pembukuan, penggelapan pajak, peniupan sekuritas, persaingan tidak sehat, pencucian uang, dan lain-lain sungguh memprihatinkan.

Dalam bisnis modern, sebagaimana ditegaskan oleh Richard Te De George, kelanggengan sebuah perusahaan sangat tergantung pada kualitas pengelolaan.

Etika bisnis 2

[Baca Juga: Mau Jadi Pengusaha Sukses? Wajib Miliki 10 Etika Bisnis Ini!]

 

Semakin baik pengelolaan dilakukan, semakin sehat perusahaan. Demikian sebaliknya, semakin buruk pengelolaan, semakin dekat kehancuran perusahaan. Namun manajemen perusahaan Enron kurang menyadari makna ungkapan ini dalam mengelola perusahaan mereka.

Leonard J Brook dan Paulin Dunn menyebutkan tiga prinsip tata kelola yang diabaikan oleh Enron, yakni akuntabilitas, transparansi, dan fairness.

 

Lima Penyimpangan Besar yang Dilakukan Oleh Enron.

Pelajarilah lima penyimpangan besar Enron berikut ini, sebagai pelajaran yang bisa Anda hindari dalam menjalankan etika bisnis pada perusahaan Anda.

 

#1 Minim upaya pencegahan dari dewan direksi atau manajemen

Minimnya upaya preventif Dewan Direksi. Hal tersebut menyebabkan berkembangnya tindakan sekelompok karyawan untuk memperkaya diri dengan berbagai cara. Sesuai dengan tugas utamanya, dewan direksi mempunyai kewajiban fidusial.

Yakni meninjau strategi bisnis perusahaan secara keseluruhan, memilih, dan memberikan kompensasi eksekutif senior perusahaan, mengevaluasi eksternal perusahaan dan mengevaluasi laporan keuangan perusahaan.

etika bisnis 3

[Baca Juga: Peluang Bisnis Tahun Baru Imlek 2020 yang Menggiurkan ]

 

Namun semua fungsi top management di atas tidak diindahkan oleh Dewan Direksi Enron. Dewan direksi justru mengembangkan sejumlah strategi bisnis yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, namun merugikan stakeholders.

Dan menurut Doughlas M Branson, ini bertentangan dengan prinsip Fiduciary Duty.

 

#2 Ada upaya menyembunyikan aset dan kewajiban

Upaya menyembunyikan aset dan kewajiban dengan pendirian dan penggunaan kemitraan seperti Chewco, LJMI dan LJM2, yang ketiganya milik karyawan Enron sendiri.

Perusahaan-perusahaan ini sering melakukan transaksi yang tidak dapat diatur secara independen dengan mengabaikan kejujuran dan aturan-aturan akuntansi di Amerika Serikat.

 

#3 Transaksi keuangan yang tidak semestinya digunakan untuk kepentingan pribadi

Terjadinya transaksi yang tidak semestinya dengan jumlah begitu besar yang implikasinya sangat signifikan bagi kondisi keuangan Enron. Hal ini dilakukan sebagai upaya memberi kesan positif terhadap kondisi keuangan Enron, padahal sesungguhnya situasinya tidak demikian.

 

#4 Perlakuan yang salah terhadap akuntan

Terjadinya perlakuan yang salah terhadap akuntan. Enron membayar Arthur Andersen dengan begitu mahal untuk mengaudit perusahaan Chewco dan LJMI.

Namun fungsi advisorialnya tidak berjalan, karena nasihat Arthur Andersen tidak dijadikan sebagai dasar pelaporan keuangan.

Sebaliknya Enron membayar Arthur Andersen dengan tarif yang begitu mahal agar kekeliruannya tidak dibongkar.

 

#5 Prinsip independensi pemilik perusahaan untuk membuat sebuah investasi ekuitas substantif

Eliminasi prinsip independensi. Pemilik perusahaan untuk membuat sebuah investasi ekuitas substantif sekurang-kurangnya 3 persen dari aset Special Purpose Entities (SPE) dan 3 persen sebagai berisiko di seluruh transaksi serta independensi melakukan pengendalian terhadap SPE.

 

Pelajaran dari Runtuhnya Enron

Kebangkrutan Enron dan hancurnya reputasi Arthur Andersen menjadi pelajaran yang berharga bagi dunia bisnis dan profesi. Peristiwa ini telah membangkitkan harapan dan kesadaran baru di kalangan pelaku bisnis maupun kaum profesional tentang pentingnya penerapan etika.

Kepedulian publik terhadap etika bisnis telah memunculkan upaya-upaya baru untuk menjadikan kesadaran etis sebagai bagian integral dari kebudayaan korporasi.

Sejalan dengan itu, laporan Business Round Table di Amerika Serikat pada tahun 1988 menyebut fenomena kebangkitan kembali kesadaran etis dalam praktik bisnis sebagai “a movement of conscience” di kalangan para pemimpin kunci dunia bisnis.

 

Nah, itu dia kesalahan etika dari perusahaan Enron yang bisa Anda ambil sebagai pelajaran. Mungkin Anda memiliki rekan yang baru memulai bisnisnya.

Dengan membagikan artikel ini kepada mereka, Anda telah menolong mereka untuk menghindari kesalahan etika berbisnis.

 

Sumber Referensi:

  • Rindjin, Ketut. 2008. Etika Bisnis dan Implementasinya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Sihotang, Kasdin. 2016. Etika Profesi Akuntansi. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius.

 

Sumber Gambar:

  • Etika 1 – http://bit.ly/2RAIzs2
  • Etika 2 – http://bit.ly/2Rw5tke
  • Etika 3 – http://bit.ly/2uDZ9OF