Di tengah situasi kesehatan dunia yang memburuk karena Covid-19, bagaimana kinerja dan prospek Kimia Farma (KAEF)?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Analisis Fundamental

Kimia Farma Tbk. ini merupakan salah satu emiten farmasi yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba usaha perseroan hingga 17,57% di tengah pandemi Covid-19.

Emiten pelat merah ini memiliki komposisi saham 90,025% milik pemerintah dan 9,975% milik publik. Tahun 2020 akan menjadi tahun yang sangat menantang untuk emiten farmasi.

Sejak awal tahun 2020, dunia dan juga Indonesia dilanda oleh pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang telah mengubah segalanya, termasuk dalam hal ekonomi.

Sebagai BUMN, Kimia Farma melaksanakan penugasan dari Pemerintah dalam rangka penanggulangan Covid-19.

Terkait dengan target dan rencana Perseroan, emiten juga menyatakan akan melakukan kerjasama dengan PT Pertamina (Persero) dalam hal pembuatan bahan baku paracetamol, karena yang menjadi kendala pengembangan bahan baku obat adalah rantai kimia dasar dan pihak Pertamina memiliki akses dari produksinya untuk membuat produk paracetamol, maka ini akan menjadi strategi Kimia Farma kedepannya.

Diminta Produksi Vaksin Corona, Saham Anak Biofarma Meroket 03

[Baca Juga: Sudah Tahu Kapan Waktu yang Tepat Untuk Take Profit Saham?]

 

KAEF juga menyatakan kesiapan untuk melakukan produksi antivirus Avigan dengan kapasitas produksi yang mencukupi kebutuhan dalam negeri. yang Nantinya, produk itu akan didistribusikan sesuai dengan regulasi pemerintah.

Avigan pertama kali dipakai untuk menjadi obat dalam penanganan virus Ebola serta antisipasi flu burung. Kini, obat itu menjadi salah satu obat yang dijadikan sebagai terapi untuk penyembuhan bagi pasien Covid-19.

Perseroan terus melakukan pemenuhan kebutuhan pemerintah, baik dalam hal penanganan Covid-19 maupun kebutuhan pemerintah dan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan.

Risiko yang muncul pada tahun 2020 ini akan dinamis, pandemi Covid-19 menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan.

Hal ini pun tercermin dalam pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dalam 9 bulan pertama 2020.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Kinerja Keuangan PT Kimia Farma Tbk.

Dari Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan, aset KAEF selama 9 tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang signifikan, di 2020 KAEF mencatatkan penurunan aset yang berasal dari Kas yang menurun, Aset tidak lancar dan Aset pajak tangguhan.

Aset KAEF

Data Rivan Kurniawan: Aset

 

Untuk kondisi Liabilitas, KAEF turun 1,52% menjadi Rp 10,7 triliun dibandingkan dengan posisi Desember 2019. yang terdiri dari utang jangka pendek senilai Rp 7,3 triliun dan jangka panjang Rp 3,4 triliun pada kuartal III-2020, penurunan berasal dari utang bank, beban akrual hingga utang pajak.

Adapun pos ekuitas yang turun 6,7% menjadi Rp 6,9 triliun. Kombinasi itu membuat aset perseroan turun tipis 0,19 % menjadi Rp 17,6 triliun.

Liabilitas KAEF

Data Rivan Kurniawan: Liabilitas

 

KAEF berhasil menekan utang bank, beban pokok penjualan tercatat naik 1,11 % secara year on year (yoy) menjadi Rp 4,10 triliun pada kuartal III/2020.

Dengan demikian, emiten berkode saham KAEF itu mencetak pertumbuhan laba bruto 4,69 % secara tahunan menjadi Rp 2,63 triliun.

Beban keuangan KAEF naik 25,39 % yoy menjadi Rp 447,75 miliar pada kuartal III/2020. Akibatnya, perseroan membukukan penurunan laba sebelum pajak 32,97 % secara tahunan menjadi Rp 69,41 miliar per 30 September 2020.

Pertumbuhan nilai yang signifikan atas revenue dan net profitnya atas Saham ini tidak begitu terpengaruh oleh pandemi.

Nilai penjualan perseroan naik 2,42% secara tahunan menjadi Rp 7,04 triliun pada Januari-September 2020. Adapun, laba operasi perseroan naik 17,57 % secara tahunan menjadi Rp 504,5 miliar.

Emiten BUMN farmasi, PT Kimia Farma Tbk. mencetak pertumbuhan pendapatan tipis di hingga kuartal III/2020. Namun, di sisi lain saham Kimia Farma naik drastis dalam sepuluh bulan terakhir.

Perseroan meraup pendapatan sebanyak Rp 7,04 triliun per September 2020.

Angka itu naik 2,42 % dibandingkan dengan posisi September 2019. Laba usaha perseroan masih tumbuh 17,57 % yoy menjadi Rp 504,53 miliar akhir September 2020.

Revenue KAEF

Data Rivan Kurniawan: Revenue

 

Laba bersih, perseroan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu, dengan koreksi sebesar 11,09 % yang disebabkan karena beban bunga yang mengalami peningkatan sebesar 25,39 % dibandingkan dengan tahun lalu.

Dilansir dari bisnis.com, target penurunan BBO oleh pabrikan perlu dukungan dari pemerintah.

Seperti diketahui, Kimia Farma menargetkan dapat berkontribusi dalam penurunan bahan baku obat (BBO) impor hingga 20,52% menjadi sekitar 74,48% pada 2024.

Hal ini merupakan langkah yang dilakukan perseroan untuk mendukung Kemandirian Industri Farmasi Nasional, khususnya dalam industri BBO mengingat ketergantungan impor BBO masih tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kontribusi Kimia Farma dalam industri BBO akan ditopang oleh performa PT Kimia Farma Sungwoon Pharmacopia dan kerja sama antara Kimia Farma dan PT Pertamina (Persero) dalam memproduksi parasetamol.

Saat ini, industri farmasi nasional masih mengimpor parasetamol sebanyak 7.000 ton senilai US$ 32,5 juta. Ganti belum melaporkan nilai investasi yang akan dikucurkan dalam kerja sama antara pihaknya dan Pertamina.

Adapun, kandungan bahan baku memiliki bobot 50%, penelitian dan pengembangan sekitar 30%, produksi hingga 15%, dan pengemasan hanya 5%.

Walaupun ketentuan tersebut tidak mengatur ketentuan minimum yang harus dipatuhi pabrikan farmasi lokal untuk melakukan proses produksi.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno mengatakan perseroan berencana untuk menjaga kinerja dari sisi keuangan antara lain dengan meningkatkan penjualan, efisiensi beban usaha, dan pengelolaan modal kerja hingga akhir tahun 2020.

Kinerja sampai dengan triwulan ketiga tahun 2020, emiten membukukan penjualan Rp 7,04 triliun yang mengalami pertumbuhan sebesar 2,42% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Di sisi lain, EBITDA Kimia Farma mengalami pertumbuhan 40,14% dari periode yang sama tahun lalu yakni dari Rp 565,13 miliar menjadi Rp 791,95 miliar dan laba operasi juga mengalami pertumbuhan sebesar 17,57% menjadi Rp 504,54 miliar.

Untuk menilai apakah saham ini tergolong mahal/murah, kita bisa melihat valuasi Price Book Value (PBV) nya yang ada di 4,9x, sudah dalam harga premium.

Untuk Price Earning Ratio KAEF ada di 27,9x yang menandakan KAEF berada di harga premium untuk di sektornya.

PBV n PER KAEF

KAEF PBV & PER Data: Rivan Kurniawan

 

Untuk Return on Equity KAEF pada 2020 ada di 1%, yang artinya di tahun ini KAEF tidak efisien dalam mengelola asset dan liabilities nya untuk mendapatkan profit di tengah kondisi pandemi saat ini.

Jika dibanding emiten farmasi lain KAEF lebih baik daripada INAF yang mencatatkan ROE di -2%, namun KAEF kalah dari KLBF yang mencatatkan ROE 17%.

ROE KAEF

KAEF ROE Data: Rivan Kurniawan

 

Untuk dividen Kimia Farma pernah membagikan pada 2017 dan 2018

Dividen KAEF

 

Analisis Teknikal PT Kimia Farma Tbk.

Hingga penutupan market Sesi I-27 November 2020, KAEF diperdagangkan pada 3260/lembar melemah minus 0,31%.

KAEF terlihat mengalami Uptrend dari Maret 2020 setelah pengumuman vaksin dan reaksi market terhadap adanya pandemi Covid19, berbeda dengan emiten lain yang mengalami penurunan namun saham farmasi naik tajam.

Untuk analisa teknikal jangka panjang terhadap emiten ini, dalam grafik kerangka waktu weekly. KAEF yang terpengaruh akan sentimen dan penantian kabar akan vaksin dan distribusinya.

Pada perdagangan kemarin saham berkode KAEF juga melemah ke harga 3270 dan tidak terlalu aktif di perdagangan Kamis (26/11) dan Jumat(27/11) bisa saja karena menunggu momentum yang tepat.

Sektor farmasi menjadi incaran investor seiring dengan pandemi virus corona (Covid-19) yang memantik permintaan produk farmasi.

Emiten sempat dihentikan perdagangannya di pasar reguler dan pasar tunai oleh BEI, memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk untuk mempertimbangkan secara matang dalam setiap pengambilan keputusan investasi di saham KAEF.

Laju saham KAEF terbilang impresif. Sejak awal tahun, saham KAEF telah melonjak 152%. Kinerja tersebut tentu lebih baik bila dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terkoreksi 18,59% secara YTD.

Kinerja saham KAEF terkerek berkat sentimen pengadaan vaksin virus corona. Sejak induk usaha PT Biofarma (Persero) bekerja sama dengan perusahaan farmasi asal China, Sinovac, saham KAEF terus diburu investor.

TEknikal KAEF

 

Kenaikan saham KAEF dan emiten farmasi lain seolah tidak terbendung saat Presiden Joko Widodo meminta perencanaan vaksinasi Covid-19 dipercepat.

Sebagai gambaran, saat Presiden Jokowi melontarkan pernyataan tersebut pada 12 Oktober 2020, saham KAEF naik 4,87%.

Indikator MACD, berada di atas garis nol dengan sinyal buy, namun volume transaksi yang semakin menurun, ada kemungkinan akan terbentuk harga bullish lagi seiring reaksi pasar akan kabar vaksin.

Indikator Stochastic menggunakan kerangka waktu Weekly terlihat sinyal buy.

Untuk menentukan Open position indikator EMA (20), EMA (50) dan EMA (100) masih membentuk pola bullish, akan melaju naik lagi jika ada perihal positif terkait vaksin atau saat distribusi diumumkan.

Oleh sebab itu wait and see bisa jadi pilihan, namun jika anda memilih untuk melakukan buy-sell and buyback untuk saham ini.

Jika bisa menembus garis resistance nya di 3383 atau jika ternyata nanti berbalik arah bisa melakukan take profit terlebih dahulu, supportnya di rentang harga 3000.

 

Outlook PT Kimia Farma Tbk.

Sampai saat ini supply bahan baku obat di Indonesia masih mengandalkan produk impor. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi emiten farmasi.

Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat akan berdampak pada harga bahan baku obat, sehingga setiap pelaku industri perlu melakukan mitigasi atas kondisi ini dengan baik.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, Perseroan telah mengambil sejumlah inisiatif, termasuk untuk memproduksi bahan baku sendiri.

Namun demikian, kapasitas produksi bahan baku obat yang dimiliki Perseroan belum mampu untuk memenuhi keseluruhan kebutuhan akan bahan baku yang sangat besar.

Saham emiten farmasi ini kembali melejit di kala vaksin semakin diberitakan rampung dan akan didistribusikan, saham emiten farmasi seperti Kimia Farma dan Indofarma naik setelah Presiden Joko Widodo meminta perencanaan vaksinasi Covid-19 bisa rampung dalam dua pekan mendatang (November).

Untuk saat ini (November) PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) telah menyiapkan fasilitas rantai dingin atau cold chain untuk kebutuhan distribusi vaksin corona.

Mau Punya Waralaba Apotek Kimia Farma Cek Dulu Penjelasannya 05 Kimia Farma - Finansialku

[Baca Juga: Analisa Saham: Prospek PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM)]

 

Namun terkait vaksin sudah dalam tahap uji, tiga vaksin yang dibeli pemerintah dari China telah selesai diuji klinis fase ketiga. Ketiga vaksin itu yakni Sinovac, Sinopharm dan Cansino.

Menurut Jubir Penanganan Covid-19, Kemenkes bersama Kementerian BUMN, Kemenkomarives, BPOM, Kemenag, MUI dan PT Bio Farma telah menemui ketiga produsen vaksin itu dan ketiga vaksin tersebut aman dari sisi kehalalannya.

PT Kimia Farma Tbk. (persero) menyatakan target penurunan bahan baku obat hingga 2024 merupakan tantangan besar.

Dilansir dari binsis.com, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno mengatakan target penurunan bahan baku obat (BBO) oleh pabrikan perlu dukungan dari pemerintah.

Seperti diketahui, Kimia Farma menargetkan dapat berkontribusi dalam penurunan BBO impor hingga 20,52% menjadi sekitar 74,48% pada 2024.

Hal tersebut merupakan langkah yang dilakukan perseroan untuk mendukung Kemandirian Industri Farmasi Nasional, khususnya dalam industri BBO mengingat ketergantungan impor BBO masih tinggi.

Apabila BBO dalam negeri optimal digunakan, penurunan impor BBO dapat tercapai secara optimal sebagai bagian dari kemandirian industri farmasi nasional dan alat kesehatan.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kontribusi Kimia Farma dalam industri BBO akan ditopang oleh performa PT Kimia Farma Sungwoon Pharmacopia dan kerja sama antara Kimia Farma dengan PT Pertamina (Persero) dalam memproduksi parasetamol.

Mau Punya Waralaba Apotek Kimia Farma Cek Dulu Penjelasannya 04 Obat-Obatan - Finansialku

[Baca Juga: Analisa Saham: Kinerja dan Prospek AKRA (PT AKR Corporindo Tbk.)]

 

Saat ini, industri farmasi nasional masih mengimpor parasetamol sebanyak 7.000 ton senilai US$ 32,5 juta. Ganti belum melaporkan nilai investasi yang akan dikucurkan dalam kerja sama antara Kimia Farma dengan Pertamina.

Dilansir dari bisnis.com, seperti diketahui, Kemenperin telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 16/2020 pada akhir kuartal I/2020.

Berdasarkan Permenperin No. 16/2020, asal tenaga kerja, permesinan, dan asal material memiliki peranan lebih tinggi dibandingkan nilai investasi.

Adapun, kandungan bahan baku memiliki bobot 50%, penelitian dan pengembangan sekitar 30%, produksi hingga 15%, dan pengemasan hanya 5%.

Walaupun, ketentuan tersebut tidak mengatur ketentuan minimum yang harus dipatuhi pabrikan farmasi lokal untuk melakukan proses produksi.

Sementara itu, untuk mengamankan pasokan vaksin, pemerintah Indonesia kembali melakukan kunjungan ke China.

Pertemuan itu bertujuan untuk memfinalisasi pembelian vaksin Covid-19 yang telah dijajaki oleh Menteri BUMN dan Menteri Luar Negeri dan dalam konteks persiapan eksekusi vaksinasi, transfer teknologi, dan penjajakan regional production.

Secara khusus, dalam Peraturan Presiden Nomor 99/2020, PT Bio Farma (Persero) atau Holding BUMN Farmasi mendapat penugasan sebagai produsen vaksin corona di Indonesia.

Adapun dalam pengadaan vaksin di dalam negeri, Bio Farma dapat melibatkan anak usaha, PT Kimia Farma Tbk. dan PT Indonesia Farma Tbk.

 

Kesimpulan

Sektor consumer-farmasi digolongkan sebagai sektor yang defensif, turunnya daya beli masyarakat banyak sektor mengalami penurunan kinerja, namun KAEF cukup baik Pada masa pandemi Covid-19 masih bisa mencetak Laba Bersih. Prospek emiten ini cukup cerah, terlebih setelah adanya Covid19, terkait vaksin hingga kesadaran masyarakat akan kesehatan.

Emiten memiliki prospek yang bagus, kerja sama, strategi pemasaran yang diterapkan senantiasa ditinjau secara berkala hingga evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas keberlanjutan kinerja KAEF, sektor Industri konsumsi adalah salah satu sektor yang cukup tahan dari resesi.

Namun tidak semua emiten di sektor ini memiliki fundamental dan kinerja yang cemerlang, yang pantas untuk di masukkan ke dalam Long-term Investment.

Maka dari itu analisa lebih lanjut sangat diperlukan, peluang bisnis di industri KAEF bisa jadi akan semakin menarik di tahun depan jika KAEF berhasil mendistribusikan vaksin dan menyelesaikan permasalahan terkait impor bahan baku, selalu berinovasi sesuai dengan permintaan market global dan nasional.

 

Disclaimer on: Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buy/sell atau pun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisa dari penulis berdasarkan laporan keuangan dan diambil dari sumber dianggap terpercaya. Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

Itulah analisa saham KAEF dan prospeknya ke depan yang bisa membantu pertimbangan investasi Anda. Punya pertanyaan? Anda bisa tanyakan dalam kolom komentar.

Anda juga bisa bergabung dalam grup komunitas belajar saham Finansialku untuk info terbaru dan diskusi mengenai saham dengan praktisi dan pakarnya.

 

Sumber Referensi:

  • Aplikasi IPOTGO
  • Annual Report PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Sept 2020 (www.idx.co.id)
  • Bisnis.com
  • Kompas.com – https://bit.ly/3qatmgn
  • Kimiafarma.co.id

 

Sumber Gambar:

  • Aplikasi ChartNexus
  • Consolidated Financial Statements PT Kimia Farma Tbk, Sept 2020