Prospek komoditas minyak sawit: Akankah kestabilan harga komoditas minyak sawit (CPO) terpengaruh oleh isu perang dagang AS Tiongkok? Seperti yang diketahui kedua negara adidaya ini merupakan konsumen terbesar CPO dunia.

Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia.

CPO memiliki beberapa keunggulan yaitu harga murah, mudah diproduksi dan stabil sehingga banyak digunakan sebagai bahan baku produk seperti makanan, kosmetik, produk kebersihan dan bahan bakar mesin.

Dengan banyak fungsi yang dimilikinya, tidak mengherankan jika CPO menjadi jenis minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia. Simak pembahasan selengkapnya berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Komoditas Fisik CPO

Di bursa berjangka Indonesia, CPO ditransaksikan secara fisik sehingga transaksi diikuti dengan pengiriman barang. Pasar Fisik CPO merupakan pasar terorganisir yang menggunakan sistem transaksi elektronik secara online.

Sistem ini menghubungkan transaksi pembeli dengan penjual. Pembentukan harga terjadi berdasarkan hukum permintaan dan penawaran yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta meningkatkan efisiensi perdagangan CPO.

 

Produksi dan Ekspor Minyak Kelapa Sawit di Indonesia

Industri sawit di Indonesia merupakan industri dengan pertumbuhan paling pesat dalam 20 tahun terakhir. Pertumbuhan ini tampak dalam jumlah produksi dan ekspor dari Indonesia dan juga dari pertumbuhan luas area perkebunan sawit.

Didorong oleh permintaan global yang terus meningkat dan keuntungan yang juga naik, budidaya kelapa sawit telah ditingkatkan secara signifikan baik oleh petani kecil maupun para pengusaha besar di Indonesia.

Harga CPO Merosot Inilah Strategi Ke Depannya! 04 Impor Minyak Kelapa Sawit - Finansialku

[Baca Juga: Inilah Dampak Bagi Emiten CPO Akibat Perkembangan Bea Cukai CPO ke India]

 

Sebagian besar hasil produksi minyak kelapa sawit Indonesia diekspor ke luar negeri. Negara-negara tujuan ekspor yang paling penting adalah Tiongkok, India, Pakistan, Malaysia, dan Belanda.

Walaupun angkanya sangat tidak signifikan, Indonesia juga mengimpor minyak sawit, terutama dari India.

Meski mayoritas dari minyak sawit yang diproduksi di Indonesia diekspor ke luar negeri, namun permintaan dalam negeri terus meningkat dari waktu ke waktu.

Hal ini disebabkan populasi kelas menengah di Indonesia terus meningkat dengan pesat dan dukungan pemerintah untuk penggunaan biodiesel.

 

Prospek Komoditas Minyak Sawit (CPO) di India dan Eropa

Pelemahan ekspor minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya pada tahun ini diperkirakan terus berlanjut.

Hal ini didorong oleh restriksi perdagangan yang dilakukan sejumlah negara tujuan utama ekspor dan efek lesunya ekonomi akibat perang dagang AS Tiongkok. Ketidakpastian yang muncul membuat para pelaku pasar wait and see.

Kebijakan beberapa negara yang memberlakukan pengetatan impor melalui regulasinya seperti India dan Uni Eropa, membuat kinerja ekspor komoditas CPO.

Data ini ditunjukkan dari segi harga maupun volume transaksi CPO periode Januari-Mei 2019. India memberlakukan kenaikan tarif bea masuk CPO hingga batas maksimum menjadi 54%.

Berdasarkan data Gapki, ekspor minyak kelapa sawit secara total pada April mengalami penurunan 18% menjadi 2,44 juta ton dari bulan sebelumnya.

Sementara itu, pada Mei, ekspor komoditas itu mulai naik kembali sebesar 14% menjadi 2,79 juta ton. Namun demikian, kenaikan volume ekspor pada Mei tersebut masih di bawah ekspektasi para pelaku usaha.

Selain India, ekspor CPO juga mendapatkan hambatan dagang di Uni Eropa melalui penerbitan dokumen Delegated Act Renewable Energy Directive (RED) II pada tahun 2018.

Hal ini bisa berefek negatif pada harga pasaran CPO di Eropa. Kinerja ekspor CPO dan produk turunannya pada April 2019 mengalami penurunan volume sebesar 37% menjadi 315.240 ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Tren negatif itu berlanjut pada Mei, di mana volume ekspornya kembali melorot 4% secara bulanan menjadi 302.160 ton.

 

Ekspor CPO ke Tiongkok di 2019

Di tahun 2019 ada harapan kenaikan harga CPO akibat peningkatan permintaan dalam negeri seiring dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan pencampuran bahan bakar solar dengan bahan bakar nabati sebanyak 20% atau dikenal B20.

Walau India meningkatkan tarif impor CPO dari Indonesia, namun dalam jangka panjang ia membutuhkan lebih banyak CPO.

India merilis kebijakan pemakaian biodiesel sebesar 30% di tahun 2030. Sehingga ada harapan Indonesia untuk men-supply CPO lebih banyak ke India. Bagaimana dengan pasar CPO Tiongkok?

Diperkirakan harga CPO di semester II tahun 2019 ini akan menurun karena lesunya permintaan CPO di Tiongkok.

Seperti yang kita ketahui Tiongkok merupakan negara tujuan utama ekspor CPO dan porsi terbesar dibandingkan negara lain.

Inilah Dampak Bagi Emiten CPO Akibat Perkembangan Bea Cukai CPO ke India 01 - Finansialku

[Baca Juga: Harga CPO Merosot?? Inilah Strategi Ke Depannya!]

 

Sebagai informasi, Tiongkok mengambil kebijakan untuk menerapkan bea masuk tambahan kepada minyak bunga matahari dan minyak kedelai dari AS.

Sehingga ada peluang Tiongkok mencari substitusi minyak nabati untuk menggantikan minyak-minyak dari AS.

Namun hal ini membuat pasokan kedelai dunia overload dan bisa membuat harga minyak kedelai dan minyak bunga matahari turun.

Walaupun berbeda jenis, mereka sama- sama minyak nabati. Sehingga jika harga minyak kedelai turun bisa jadi membuat pasaran harga minyak nabati turun juga yang akhirnya harga CPO juga tertekan.

 

Tidak hanya Komoditas CPO

Perang dagang tidak hanya berefek negatif pada CPO, namun juga berbagai komoditas lainnya seperti batu bara, kopi arabika, dan lain sebagainya. Perang dagang menjadi efek eksternal yang tidak dapat dihindari sektor komoditas.

Hal ini menimbulkan ketidakpastian kapan berakhirnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok.

Perang dagang menyebabkan susutnya permintaan komoditas di pasar global, baik dari AS maupun Tiongkok, serta mitra-mitra dagangnya.

Saat tensi perang dagang makin memanas, maka harga komoditas berpotensi ikut merosot lebih dalam.

Sebaliknya bila saat ada sinyal ketegangan dua negara ini mereda, maka harga komoditas berpotensi naik. Dan bisa menjadi sinyal kembalinya gairah ekonomi global.

Oh iya, Apakah Anda memiliki bisnis? Anda bisa membaca ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis dari Finansialku di bawah ini secara GRATIS lho! Selamat membaca.. 

Gratis Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

Fluktuasi harga komoditas yang disebabkan dari perang dagang sebenarnya bisa jadi peluang bagi trader lho. Trader bisa tetap meraih keuntungan ketika harga naik turun. Selamat trading komoditas 😊

Jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda juga ya! Terima kasih..

 

Sumber Referensi:

  • Admin. 10 Januari 2019. Perang dagang rentan membakar komoditas. Kontan.co.id – http://bit.ly/2LDAktn
  • Iim Fathimah Timorria. 17 Juli 2019. Indonesia Tak Perlu Alihkan Fokus Ekspor Komoditas Perkebunan dari Sawit. Bisnis.com – http://bit.ly/2SC03TO

 

Sumber Gambar:

  • Minyak Sawit – http://bit.ly/2MdDbsm