Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan nilai suku bunga acuan saat ini sebesar 5,5%. Rapat Dewan Gubernur (RDG) minggu ini akan menjadi penentu apakah suku bunga akan naik atau tetap.

Banyak pihak yang yakin bahwa BI tidak akan menaikkan suku bunga karena situasi ekonomi global tengah cukup kondusif. Namun ada juga yang memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Situasi Dilematis yang Dihadapi Bank Indonesia

Jelang Rapat Dewan Gubernur yang akan dihelat pada 26-27 September mendatang, BI menghadapi situasi yang cukup dilematis. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetianto.

Pasalnya, kondisi rupiah saat ini tengah stabil dan cenderung mengalami penguatan pada kurs tengah Rp14.700-an. Hal ini membuat BI tak perlu untuk menaikkan 7-Day Repo Rate.

Namun, Bank Central Amerika diperkirakan akan menaikkan kembali suku bunga The Fed pada rapat FMOC 25-26 September mendatang. Banyak yang memperkirakan suku bunga The Fed akan naik menjadi 2,5%.

BI Fokus Jaga Kestabilan Respon Kenaikan Suku Bunga The Fed 01 Finansialku

[Baca Juga: Perkembangan Startup Fintech di Indonesia yang Semakin Gemilang]

 

Kenaikan suku bunga tersebut tidak terlepas dari semakin membaiknya perekonomian Amerika. Dengan semakin banyaknya tenaga kerja yang terserap dan laju inflasi yang terus turun.

Menghadapi situasi seperti ini, Tony, seperti dilansir dari laman Kontan.co.id, memperkirakan bahwa BI akan sedikit menghemat energinya pada bulan ini:

“Saya duga BI akan memilih bersikap konservatif, yaitu tetap bertahan dulu di suku bunga acuan 5,5%.”

 

Namun situasi akan berbeda ketika The Fed telah menaikkan suku bunganya. Perekonomian global akan memiliki beragam respon akibat kenaikan tersebut dan pihak BI akan mengamati keadaan tersebut terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

“Tren ke depannya, saya rasa BI akan menaikkan suku bunganya. Namun belum bisa diketahui kapannya.”

 

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Kenaikkan Suku Bunga Bisa Sebabkan Ekspansi Bisnis Terganggu

Senada dengan Tony, Chief Economist Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro juga yakin bahwa BI tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada RDG mendatang.

Ia menjelaskan bahwa kondisi perekonomian saat ini memang tidak mengharuskan BI menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga justru punya potensi untuk mengganggu ekspansi bisnis.

Bond yield turun dan rupiah menguat. Kalau BI rate naik lagi, bond yield yang sudah turun bakal naik lagi.”

 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kenaikan suku bunga yang turut mengerek naik yield obligasi justru menyebabkan ekspansi bisnis terganggu. Hal ini dikarenakan ongkos untuk menerbitkan obligasi juga akan menjadi lebih mahal.

Hal yang berbeda justru diutarakan oleh Eric Sugandi, seorang ekonom sekaligus Project Consultant ADB Institute. Ia justru memprediksi bahwa BI akan menaikkan suku bunganya:

“Saya expect BI akan menaikkan 25 bps bulan ini menjadi 5,75%, apalagi jika US FFR naik pada FOMC bulan ini.”

 

Free Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

 

Rupiah Terus Menguat

Sempat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika bahkan hingga menembus angka psikis Rp15.000, rupiah berangsur stabil dan terus mengalami penguatan seminggu ini.

Bukan tidak mungkin, kondisi ini akan terus berlanjut dan rupiah masih akan mengalami penguatan lagi.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan, dolar yang terus mengalami pelemahan secara global akan membuat rupiah kembali menguat.

Bank Indonesia Diperkirakan Tidak Akan Naikkan Suku Bunga 1 Finansialku

[Baca Juga: Apakah Bisa Investasi di Komoditas Agrikultur Indonesia? Pahami Caranya!]

 

Dolar yang terus melemah sendiri disebabkan oleh banyaknya negara maju yang mulai menaikkan suku bunganya. Beberapa di antaranya adalah bank sentral Norwegia dan Bank Nasional Swiss.

Selain itu, indikasi bank sentral negara lain yang ingin menaikkan suku bunganya juga turut mendorong melemahnya dolar.

Bank sentral Australia dan Swedia juga terindikasi akan segera menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.

Nanang menganggap bahwa hal tersebut sebagai langkah awal proses arah kebijakan moneter negara maju akan mulai melakukan konvergensi.

Dengan demikian, Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya negara maju yang menaikkan suku bunganya.

Seperti yang diwartakan oleh Kontan.co.id, Nanang mengatakan:

“Bahkan dengan kemungkinan naiknya suku bunga The Fed pada pertemuan komite kebijakan moneter The Fed (FOMC) pekan depan, kalangan analis mulai meragukan akan menjadi penopang penguatan dolar.”

 

Apakah Anda merasa terbantu dengan adanya artikel ini? Jangan ragu untuk membagikan pada teman Anda. Agar semua orang bisa mendapatkan manfaat dan merasakan keuntungannya.

 

Sumber Referensi

  • Ghina Ghaliya. 23 September 2018. Proyeksi Suku Bunga Acuan: BI Diperkirakan Bakal Hemat Energi. Kontan.co.idhttps://goo.gl/TVdWG8

 

Sumber Gambar:

  • BI Takkan Naikkan Suku Bunga – https://goo.gl/7N3UVZ
  • BI Takkan Naikkan Suku Bunga 2 – https://goo.gl/uf7Ci4