Indonesia harus berhati-hati nih, pasalnya pertumbuhan ekonomi yang terlalu pesat merupakan indikator bubble burst.

Yuk, kita lihat bagaimana bubble burst di Indonesia saat ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Apa Itu Bubble Burst?

Dalam satu dekade ini, perusahaan start up mulai bermunculan. Pada 2018, tercatat jumlah start up digital di Indonesia mencapai 2 perusahaan.

Tentunya, kemunculan start up membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia. Walaupun begitu, ini patut diwaspadai.

Sebagai perusahaan pemula, start up masih banyak mengalami tantangan. Salah satunya yaitu fenomena bubble burst. Seperti arti katanya gelembung, fenomena bubble burst ini mirip seperti gelembung dimana pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi.

Fenomena bubble burst mirip dengan bubble economics.

Bubble 2

[Baca Juga: Founder & Money: 5 Kunci Cerdas Kelly Oktavian Jalankan Bisnis]

 

Hal ini menyebabkan para investor banyak melakukan pembelian aset yang sedang booming. Investasi lebih diberikan kepada bisnis yang pertumbuhannya cepat seperti start up.

Bubble burst biasanya terjadi jika ada pertumbuhan ekonomi yang tidak alami. Artinya, pertumbuhan tinggi yang terlalu tinggi.

 

Adakah Potensi Bubble Burst di Indonesia?

Tentu saja potensi bubble burst di Indonesia ada dan cukup tinggi. Apalagi saat ini banyak perusahaan start up bermunculan. Sebetulnya, jika Anda jeli, potensi bubble burst dapat kita perhatikan dari beberapa hal yang belakangan ini terjadi.

Beberapa di antaranya antara lain:

 

#1 Strategi Bakar Uang Perusahaan Start Up

Risiko bubble burst salah satunya terdapat pada strategi bakar uang perusahaan start up. Promosi dan pemasaran yang besar-besaran memang efektif dalam meningkatkan traffic pengguna.

Misalnya saja adanya cashback, diskon, voucher, juga gratis ongkir. Ini bagus, namun akan membebani arus kas perusahaan.

Tahun 2020 ini, strategi bakar uang akan terus berlanjut. Pasalnya, perusahaan start up tidak ingin volume penjualannya turun drastis. Jadi, potensi bubble burst tetap ada di tahun 2020.

 

#2 Pengalihan Arus Modal ke Indonesia

Kondisi ekonomi Amerika Serikat pun berdampak pada perekonomian Indonesia. Beberapa perusahaan start up di Amerika Serikat tidak begitu menghasilkan laba. Misalnya saja Uber dan WeWork.

Gara-gara dua perusahaan tersebut terancam bangkrut, investor menjadi sangat hati-hati dalam menanamkan modalnya.

Bubble 3

[Baca Juga: Komunitas Fotografi: Tips Jitu Menjalani Bisnis Fotografi]

 

Hal tersebut justru membuat investor melirik Asia. Pengalihan arus modal asing dari negeri Paman Sam ke pasar Asia pun mempengaruhi bubble burst di Asia. Indonesia salah satunya.

Masalahnya, jika perusahaan start up yang diberikan investasi tersebut, tidak dapat memperoleh laba yang diharapkan, investor akan berbondong-bondong menarik investasinya.

Tentu saja, investor akan memilih untuk menanamkan modalnya pada perusahaan yang sedang tren lainnya. Atau, justru bisa jadi mengalihkan investasinya ke negara lain. Apabila hal itu terjadi, akan mengguncang kestabilan nilai tukar atau biasa disebut capital outflow.

 

#3 Penurunan Pertumbuhan Penjualan E-commerce

Berdasarkan data Statistika dari tahun 2012 sampai 2018 lalu, pertumbuhan penjualan e-commerce cenderung mengalami penurunan dengan besaran 10-25 persen per tahun.

Padahal, jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat. Digital buyers yang merupakan konsumen e-commerce pun ikut meningkat. Dengan keadaan seperti itu, investor berpikir dua kali dalam menginvestasikan dananya.

 

Investor Harus Berhati-hati

Potensi bubble burst membuat para investor semakin berhati-hati dalam menanamkan modalnya, walaupun ada juga yang masih optimis.

Investor tidak ingin kasus WeWork atau Uber di Amerika Serikat terulang kembali. Karena itu, investor akan lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih model bisnis start up untuk diinvestasikan.

Bagi investor yang masih optimis, pasar Indonesia masih positif. Hal ini didukung dengan minat publik yang masih tinggi terhadap perusahaan teknologi. Nah, untuk Anda yang berencana berinvestasi di perusahaan start up, berpikirlah matang-matang.

Untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan skema kerja sama yang cukup luas, bagi para pelaku start up maupun pemerintah Indonesia.

Pihak start up pun perlu mengembangkan inovasi supaya dapat membangun iklim bisnis yang kuat. Jika hal itu terjadi, ada kemungkinan perusahaan start up Indonesia dapat bersaing dengan negara lain.

Sebelum investasi, apakah Anda sudah baik dalam mengelola keuangan pribadi? Kini, aplikasi Finansialku hadir untuk membantu Anda mengelola keuangan.

Anda juga dapat berkonsultasi dengan perencana keuangan Finansialku lewat aplikasi ini dengan berlangganan. Yuk, unduh aplikasinya di link berikut ini.

playstore icon
appstore icon

 

Itu dia, bubble burst di Indonesia yang harus Anda mengerti. Ada baiknya jika Anda share artikel ini.

Menjadi penyalur informasi yang baik Anda tidak akan rugi. Justru saat Anda menyalurkan informasi yang baik, Anda adalah seorang penolong.

 

Sumber Referensi:

  • Rifki Fadilah. 25 November 2019. Waspada Bubble Start Up Digital. Theindonesianinstitute.com – https://bit.ly/2PfB9ZI
  • Misbachuddin. 15 Januari 2020. Kondisi Iklim Investasi Start Up di Indonesia dan Potensi Bubble Burst yang Menyertai. Gresikmenulis.com – https://bit.ly/2ujrPwn
  • Idris Rusadi Putra. 28 November 2019. Waspada Krisis Dampak Bisnis StartUp Bakar Uang. Merdeka.com – https://bit.ly/32jogDe
  • Admin. 26 November 2019. Start Up Terus Bakar Uang, Waspadai Bubble Ekonomi. Kompas.com – https://bit.ly/2HXRb6t

 

Sumber Gambar:

  • Bubble 1 – https://bit.ly/2uhbacO
  • Bubble 2 – https://bit.ly/32s8m9H
  • Bubble 3 – https://bit.ly/2HLLwjE