Kenapa orang dengan gaji besar belum tentu kaya? Dan sebaliknya orang kaya belum tentu gaji besar? Mungkin Anda masih beranggapan gaji besar itu sama dengan kaya. Ternyata kondisi aslinya tidak demikian.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Wealth Mindset

 

Orang dengan Gaji Besar Belum Tentu Kaya dan Sebaliknya

Apakah Anda pernah mendengar bahwa almarhum Steve Jobs (pendiri Apple) mendapatkan gajinya sebesar US$1 per tahun?

kenapa-orang-dengan-gaji-besar-belum-tentu-kaya-dan-sebaliknya-2-finansialku

 

Apakah Anda pernah mendengar bahwa Mark Zuckerberg pendiri Facebook mendapatkan gajinya sebesar US$1 per tahun?

kenapa-orang-dengan-gaji-besar-belum-tentu-kaya-dan-sebaliknya-3-finansialku

 

US$1 itu setara Rp 13.000 – Rp 14.000. Itu gaji setahun lho? Apakah Anda mau mendapatkan gaji sebesar itu? Pasti Anda langsung protes bukan? Dalam artikel kali ini, saya akan memberi sudut pandang yang berbeda. Beberapa hal penting yang harus Anda ketahui:

  1. Gaji berbeda dengan pendapatan.
  2. Pendapatan seseorang tidak hanya berasal dari gaji.
  3. Kekayaan seseorang dilihat dari berapa besar kekayaan bersih (aset – kewajiban).

 

Tenang saja jika Anda masih belum memahami kata-kata tersebut, karena saya akan bahas dengan lebih sederhana.

 

Penghasilan / Pendapatan

Pendapatan atau Penghasilan dalam bahasa Inggris disebut dengan Income. Sejatinya seseorang memiliki tiga sumber pemasukan yang berbeda, dan sayangnya banyak orang hanya fokus membesarkan satu jenis penghasilan. Berikut ini tiga jenis penghasilan / pendapatan

  • Penghasilan Aktif (Active Income) penghasilan yang didapat karena seseroang bekerja dan menukarkan waktu, tenaga, pikiran (dan terkadang perasaan). Contoh : gaji, bonus, tunjangan dan lain sebagainya.
  • Penghasilan Investasi (Investment Income) penghasilan yang didapat karena seseorang membuat uangnya bekerja. Jadi uang bekerja untuk mendapatkan pemasukan.
  • Penghasilan Pasif (Passive Income) penghasilan yang didapat karena seseorang membuat assetnya bekerja. Jadi asset bekerja untuk mendapatkan pemasukan.

kenapa-orang-dengan-gaji-besar-belum-tentu-kaya-dan-sebaliknya-finansialku

[Baca Juga: Sudahkah Anda Mengelola Keuangan dengan Benar?]

 

Sayangnya banyak orang hanya mengoptimalkan satu sumber pemasukan, yaitu pemasukan aktif, sehingga orang hanya fokus pada gaji. Contoh di awal, seperti almarhum Steve Jobs, Mark Zuckerberg mereka memiliki penghasilan aktif sebesar US$1, tetapi mereka memiliki penghasilan investasi yang lebih besar.

 

Kekayaan Bersih (Net Worth)

Apakah Anda pernah mendengar istilah majalah Forbes? Itu lho majalah yang sering merangking orang terkaya di dunia. Jika Anda ingin merangking kekayaan seseorang, jangan lihat dari gajinya. Gaji adalah satu dari tiga jenis pemasukan, dan selain pemasukan Anda perlu melihat berapa pengeluarannya.

Coba saja ada seseorang bernama Pak White memiliki gaji bulanan Rp 100.000.000 dan cicilan utang yang harus dibayarkan Rp 101.000.000. Apakah Pak White tersebut bisa kaya?

Gaji Besar Kok Tidak Punya Tabungan, Ini Penyebabnya - Perencana Keuangan Independen Finansialku

[Baca Juga: Gaji Besar Tapi Tidak Punya Tabungan? Ini Penyebabnya]

 

Indikator yang digunakan untuk merangking kekayaan adalah kekayaan bersih (net worth). Cara menghitungnya mudah kok yaitu aset dikurangi kewajiban (liabilitas). Mark Zuckerberg dinobatkan oleh majalan Forbes menjadi orang terkaya nomor 4 dunia pada tahun 2016, karena memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 56.6 Milliar (data per 28 Oktober 2016). Kalau dikonversi ke Rupiah, maka kekayaan bersih Mark adalah Rp 734 Trilliun (kurs Rp 13.000). Wow angka yang sangat fantastis bukan?

Pertanyaan selanjutnya apa yang dimaksud dengan aset dan apa yang dimaksud dengan kewajiban (liabilitas)? Jika menggunakan definisi menurut buku teori, penjelasan cukup panjang. Saya akan menggunakan penjelasan dari Robert T. Kiyosaki (penasehat keuangan di Amerika) yang mendefinisikan:

  • Asset adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan uang ke dalam dompet atau rekening kita.
  • Kewajiban adalah segalah sesuatu yang mengharuskan kita mengeluarkan uang dari dompet atau rekening kita.

Rumah Anda Belum Tentu Aset, Bisa Jadi Malah Liabilitas - Perencana Keuangan Independen Finansialku

[Baca Juga: Rumah Anda Belum Tentu Asset, Malah Bisa Jadi Kewajiban]

 

Banyak orang yang kesulitan membedakan asset dan kewajiban. Contoh orang berasumsi bahwa tas mewahnya adalah asset, kendaraan sepeda motornya adalah asset, mobilnya adalah asset. Menurut Robert T. Kiyosaki, kita jangan menggunakan asumsi untuk menilai asset atau kewajiban, tetapi lihat baik-baik. Perhatikan penjelasan berikut ini:

  • Tas mewah Anda adalah asset jika dapat menghasilkan pemasukan, contoh disewakan.
  • Kendaraan : motor / mobil adalah asset jika dapat menghasilkan pemasukan, contoh disewakan.

 

Inilah yang Dimaksud dengan Literasi Keuangan

Saya ucapkan selamat, jika Anda sudah benar-benar mengerti artikel ini. Setidaknya Anda sudah meningkatkan literasi keuangan Anda. Anda tahu apa saja yang dimaksud dengan pendapatan, aset, kewajiban dan kekayaan bersih. Tahap selanjutnya adalah pelajari : cara meningkatkan penghasilan, cara mengurangi pengeluaran konsumtif, cara meningkatkan pengeluaran produktif, cara memperbanyak asset dan cara mengurangi kewajiban (liabilitas). Ikuti terus artikel Finansialku.com dan tingkatkan terus literasi keuangan Anda.

 

Menurut Anda, apakah bisa seorang karyawan berperan sekaligus sebagai pemilik bisnis? Jika bisa bagaimana caranya? Silahkan tinggalkan komentar Anda, terima kasih.

 

Sumber Gambar

  • Ben White. Unsplash.com – https://goo.gl/1hGhTY

 

Download Ebook Perencanaan Keuangan

dan ayo mulai menetapkan tujuan keuangan Anda!

Ebook Perencanaan Keuangan (Menetapkan Tujuan dan Mewujudkannya)