Apakah meningkatnya laba bersih ERAA di LK FY 2018 membuat saham ERAA menarik untuk dikoleksi? Mengingat harga sahamnya belakangan kembali terkoreksi ke 1700 an per April 2019.

Seiring perkembangan teknologi saat ini, fungsi dan kegunaan smartphone signifikan mengalami pergeseran. Bahkan dalam kurun waktu tertentu, berbagai produsen smartphone terus mengeluarkan versi terbaru.

Perkembangan tersebut turut mendorong sejumlah perusahaan distribusi smartphone seperti ERAA, yang mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 162% di tahun 2018 kemarin.

Lonjakan Laba Bersih tersebut sempat membuat harga saham ERAA meningkat dari 1100-an di awal 2018 menjadi Rp3.200 an per Agustus 2018.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Sekilas Profil ERAA

Berdiri pada 1996, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) saat ini tumbuh menjadi perusahaan importir, distribusi, dan perdagangan ritel peralatan telekomunikasi selular terbesar.

Mulai dari telepon selular dan tablet, subscriber identity module card (SIM Card), voucher isi ulang, aksesoris, perangkat Internet of Things (IoT), dan penjualan voucher Google Play.

Tidak hanya itu, ERAA juga menawarkan layanan produk Value Added Services, seperti layanan perlindungan ponsel melalui produk TecProtec dan juga layanan pembiayaan ponsel yang bekerjasama dengan perusahaan multifinance terkemuka di Indonesia.

Untuk mendukung kinerjanya tersebut, ERAA memiliki 3 unit bisnis yang masing-masing dijalankan oleh anak usahanya.

Pertama, unit bisnis distribusi yang dijalankan melalui PT Teletama Artha Mandiri (TAM), PT Sinar Eka Selaras (SES), PT Multi Media Seluler (MMS), dan Era International Network Sdn. Bhd. (EIN Malaysia).

Kedua, unit bisnis ritel yang dijalankan melalui anak usaha seperti yaitu PT Erafone Artha Mandiri (Erafone), PT Data Citra Mandiri (DCM), dan PT Prima Pesona Prakarsa (PPP), dan lain-lain.

Ketiga, unit bisnis E-Commerce yang dijalankan aktif oleh ERAA melalui platform Erafone Dotcom dan iBox.co.id.

Meningkat Lebih dari 2x Lipat! Inilah Laba Bersih ERAA 02 - Finansialku

Platform E-Commerce ERAA

 

ERAA sendiri pertama kali melantai di BEI pada akhir tahun 2011 dengan kode saham ERAA. Adapun kepemilikan saham ERAA saat ini adalah seperti berikut:

Meningkat Lebih dari 2x Lipat! Inilah Laba Bersih ERAA 03 - Finansialku

Para Pemegang Saham ERAA

 

Kinerja ERAA di tahun 2018

Seperti sempat dibahas pada bagian sebelumnya, baru-baru ini ERAA merilis Laporan Keuangan kuartal IV 2018 nya, di mana ERAA berhasil membukukan peningkatan kinerja.

Salah satunya dengan pencapaian Laba Bersih yang naik hingga sekitar 162%, dari Rp339 miliar di tahun 2017 menjadi sebesar Rp850 miliar di tahun 2018.

Peningkatan laba bersih tersebut tidak lain karena di mana penjualan ERAA juga berhasil naik sekitar 41,66%, dari Rp24 triliun di tahun 2017 menjadi sebesar Rp34,7 triliun di tahun 2018.

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan Penjualan ERAA adalah naiknya penjualan smartphone Xiaomi yang meningkat pesat dari Rp2,6 triliun di 2017 menjadi Rp11 triliun di 2018. Adapun gambaran yang lebih detail dapat Anda lihat pada gambar berikut:

Meningkat Lebih dari 2x Lipat! Inilah Laba Bersih ERAA 04 - Finansialku

Kontribusi Penjualan Xiaomi

 

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa kinerja ERAA ini terangkat karena meningkatnya penjualan Xiaomi. Dengan penjualan Xiaomi yang mencapai Rp11.6 triliun, artinya satu pertiga (sekitar 33%) penjualan ERAA dihasilkan dari penjualan Xiaomi.

Kemudian, sebagai tambahan informasi, ERAA sendiri sudah kembali melanjutkan hubungan kerjasama dengan Zhuhai Xiaomi Communications Co. Ltd. melalui anak usahanya yakni SES pada 10 Oktober 2018.

Perjanjian kerjasama ini berlaku hingga tanggal 9 Oktober 2019, dan secara otomatis diperpanjang untuk periode 1 tahun.

Kemudian, pada 10 Agustus 2018, SES kembali melakukan perjanjian kerjasama distribusi dengan Xiaomi H.K. Limited. Perjanjian ini berlaku hingga tanggal 9 Agustus 2019, dan secara otomatis diperpanjang untuk periode 1 tahun.

Merespon kenaikan laba bersihnya, harga saham ERAA juga sempat naik cukup signifikan sekitar dari 1100-an per awal 2018 menjadi 3200-an di pertengahan tahun 2018, sebelum harga saham ERAA harus terkoreksi menjadi 1700,-an per April 2019.

 

Relevansi Laba Bersih dengan Arus Kas Operasi ERAA?

Meskipun ERAA mencatatkan penjualan dan laba bersih yang meningkat, namun satu hal yang Penulis perhatikan adalah peningkatan laba bersihnya tersebut tidak tercermin di dalam arus kas operasi ERAA.

Arus Kas Operasi ERAA yang justru negatif dalam dua tahun terakhir (2017 dan 2018). Adapun sebagai gambaran perbandingan pertumbuhan laba dan arus kas operasi ERAA selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Perbandingan Laba dan Arus Kas Operasi ERAA dari 2014 – 2018

  2014 2015 2016 2017 2018
Laba Bersih Rp211 miliar (+) Rp226 miliar (+) Rp264 miliar (+) Rp339 miliar (+) Rp850 miliar (+)
Arus Kas Koperasi Rp19 miliar (+) Rp193 miliar (+) Rp1.4 triliun (+) Rp764 miliar (-) Rp2.4 triliun (-)

 

Berdasarkan tabel di atas terlihat meskipun laba bersih ERAA terus meningkat, namun arus kas operasi ERAA negatif dalam dua tahun berturut-turut.

Bahkan, arus kas negatif dari operasional ERAA harus melebar dari negatif Rp764 miliar di 2017 menjadi negatif Rp2,4 triliun per 2018. Artinya, ERAA justru harus “nombok” hingga Rp3,1 triliun dalam menjalankan operasionalnya di 2017 dan 2018.

Salah satu hal yang membuat arus kas operasi ERAA membengkak karena untuk memasok produk telepon selular Xiaomi, dimana ERAA harus mengeluarkan modal di depan. Sayangnya hal ini tidak diseimbangi dengan proses distribusi yang dijalankan oleh ERAA.

Di mana produk-produk smartphone (seperti: Xiaomi), didistribusikan oleh ERAA melalui unit bisnis retailnya seperti Erafone dan juga sejumlah toko retail / pengecer dengan sistem konsinyasi.

Hal yang menarik untuk diperhatikan di sini adalah toko-toko ini akan memasok barang terlebih dulu dari ERAA, dan baru akan melakukan pembayaran ke ERAA jika pasokan barang sudah terjual.

Kata kuncinya di sini adalah “jika pasokan barang sudah terjual”. Sementara jika stock smartphone tadi tidak terserap oleh end user, maka pembayaran kepada ERAA akan tertunda.

Sehingga proses distribusi ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hal inilah yang menyebabkan arus kas operasi ERAA harus negatif cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan tidak sejalan dengan kenaikan laba bersihnya.

Pencapaian arus kas yang negatif inilah yang membuat ERAA harus mengeluarkan sejumlah pinjaman, termasuk pinjaman bank sebesar Rp2,4 triliun di 2018 kemarin untuk tetap menjaga kas nya pada level aman.

Mengelola-Arus-Kas-Keuangan-2-Finansialku

[Baca Juga: TTS: Sudah Bisakah Anda Mengatur Arus Kas Keuangan?]

 

Dengan demikian hutang jangka pendek ERAA juga meningkat cukup signifikan dari Rp5,05 triliun di 2017 menjadi Rp7,74 triliun di 2018. Dengan meningkatnya hutang jangka pendek ini, likuiditas ERAA pun ikut mengering.

Sebagai gambaran, apabila kita bandingkan antara hutang jangka pendek ERAA yang sebesar Rp7,7 triliun tadi dengan jumlah kas ERAA yang per akhir 2018 sebesar Rp272 miliar, maka Cash Ratio ERAA hanya sekitar 3% saja.

Adapun sebagian besar aset lancar yang dimiliki ERAA adalah berupa persediaan atau stock sebesar Rp6,8 triliun dan piutang Rp1,4 triliun.

Anda bisa bayangkan kalau ternyata stock nya tadi macet dan tidak terjual (belum termasuk risiko barang rusak/cacat, retur dari distributor, dan sebagainya)?

Dengan kondisi tersebut, Penulis melihat bahwa posisi bisnis ERAA ini cukup berisiko.

Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas di mana saat ini perkembangan sangat agresif di pasar smartphone, bahkan seperti tidak ada habisnya orang-orang akan terus mengeluarkan uangnya untuk berbelanja smartphone.

Sayangnya agresivitas ini berpotensi membuat meningkatnya stok smartphone, seiring dengan pola pergantian smartphone yang sangat cepat antara merek satu dengan merek lainnya.

Contoh sederhananya, misalkan Xiaomi baru saja merilis Xiaomi Mi 9 dan sejumlah toko berlomba-lomba menyetok produk Xiaomi Mi 9 ini. Sayangnya dalam 2 bulan ke depan, Samsung merilis seri terbarunya Samsung Galaxy S10.

Di karenakan ERAA dan toko-toko harus mengikuti tren yang ada, maka toko sudah harus mulai menyetok Samsung Galaxy S10, meski Xiaomi Mi 9 tadi belum habis terjual.

Dengan demikian, ERAA tidak bisa instan dalam menyalurkan produk telepon selularnya ke para pelanggannya meskipun ERAA telah berhasil menjangkau 84 titik distribusi di Indonesia.

Selain itu, Penulis juga memberikan perhatian pada profit margin ERAA yang terbilang sangat tipis, mengingat business model ERAA sebagai distributor. GPM (Gross Profit Margin) ERAA saja sudah sangat tipis yakni di kisaran 9% per 2018 kemarin.

Misalnya saja harga modal smartphone Xiaomi yang dipasok oleh ERAA adalah sebesar Rp2,3 juta, kemudian Xiaomi ini disalurkan ke distributor hanya sebesar Rp2,5 juta. Ditambah lagi dengan beban operasional ERAA lainnya, maka ERAA praktis hanya dapat menikmati NPM (Net Profit Margin) sebesar 2% saja.

 

Kesimpulan: Laba Bersih ERAA

Dari uraian di atas, Penulis melihat meningkatnya laba bersih ERAA hingga sebesar 160% di tahun 2018 kemarin, bukan suatu peluang untuk mengkoleksi saham ERAA.

Terlepas dari valuasinya yang terlihat murah (PER 6,4x dan PB 1,1x), namun peningkatan laba bersih ERAA tidak serta merta menopang kinerja arus kas operasional ERAA.

Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa peningkatan laba bersih mungkin saja kembali terjadi apabila ada launching dari smartphone baru di masa yang akan datang.

Dengan business modelnya, ERAA tidak serta merta dapat mengkorversi laba bersihnya menjadi kas. Dengan kata lain, untuk mengkonversikan total laba ke arus kas operasi ERAA memang membutuhkan waktu.

Salah satu penyebabnya adalah sistem konsinyasi yang berlaku dalam pendistribusian produk telepon selular ERAA. Dengan demikian, tidak heran kalau ternyata ERAA harus “nombok” sekitar Rp3 triliun dalam menjalankan operasionalnya 2 tahun terakhir.

Di mana dengan arus kas yang negatif ini membuat ERAA harus mengeluarkan utang bank, yang justru membuat likuiditas ERAA ini justru mengering.

Apakah Anda memiliki bisnis? Jika ya, Anda perlu membaca ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis dari Finansialku di bawah ini. Selamat membaca.

Gratis Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

Semoga artikel ini bermanfaat, jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda ya! Terimakasih..

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • ERAA – http://bit.ly/2yfsn4I
  • Platform E-Commerce ERAA – Website resmi platform
  • Para Pemegang Saham ERAA – Laporan Tahunan ERAA 2017
  • Kontribusi Penjualan Xiaomi – Laporan Keuangan Kuartal IV-2018 ERAA