Memilih Saham Ketika Market Bearish? Ini Dia Caranya!

Tahun 2017 merupakan tahun Bullish yang panjang bagi pasar saham. 

Tidak heran, sekarang mulai banyak pihak yang menghembuskan isu bahwa akan ada market bearish di 2018. Tentunya memilih saham pun tidak akan mudah.

Bila Bearish atau Crash betul terjadi, apa yang akan Anda lakukan? Sewajarnya investor saham pun pasti akan panik, namun artikel kali ini akan membahas tips cara untuk memilih saham ketika market bearish.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

Jejak Pergerakan IHSG di Tahun 2017

Tahun 2017 merupakan tahun yang cukup spesial bagi para investor saham Indonesia, di mana sepanjang tahun 2017 IHSG bisa dikatakan menunjukkan trend strong bullish sepanjang tahun.

Tercatat, IHSG hanya menorehkan return negatif hanya 2 bulan sepanjang tahun 2017 ini, yaitu di bulan Januari 2017 dan November 2017. Itu pun, hanya minor di bawah 1% (Januari -0,05%, dan November -0,99%).

Selebihnya, IHSG lebih banyak bergerak positif dengan kenaikan YTD sebesar 15,5% (Ketika artikel ini ditulis, IHSG baru saja kembali mencatatkan rekor harga tertinggi yaitu 6119. Data pertumbuhan IHSG yang lebih lengkap, dapat Anda lihat pada tabel di bawah ini.

 Jan’17Feb’17Mar’17Apr’17Mei’17Jun’17
Growth MoM(0,05%)1,75%3,42%2,22%0,99%1,73%
Growth YTD(0,05%)1,70%5,12%7,34%8,33%10,06%
 Jul’17Agu’17Sep’17Okt’17Nov’17Des’17
Growth MoM0,21%0,44%0,70%1,98%(0,99%)6,77%
Growth YTD10,27%10,71%11,41%13,39%12,40%19,99%

 

Market Bullish dan Market Bearish

Market bullish (uptrend) adalah masa-masa paling menyenangkan bagi seorang investor saham, di mana probabilitas untuk meraih profit dapat dikatakan lebih besar saat periode tersebut.

Apalagi saat market bullish, ada saja saham yang menghasilkan profit jumbo hanya dalam hitungan bulan, seperti yang terjadi pada KBLIINDY, ataupun MBSS.

Namun, sayangnya dalam siklus pasar saham tidak mungkin IHSG naik secara terus-menerus, melainkan pasti ada masanya dimana market akan bergerak ke arah yang berlawanan.

Fase di mana pasar bergerak turun inilah yang disebut dengan market bearish (downtrend). Pada saat market bearish di mana kebanyakan harga saham biasanya akan mengalami penurunan pada periode tersebut.

Saya punya kabar buruk dan kabar baik untuk Anda: Kabar buruknya, setiap kali IHSG menembus level psikologis, biasanya akan mengalami koreksi yang cukup lumayan setelahnya.

Mau lihat faktanya? Oke kita lihat fakta-faktanya selama beberapa tahun terakhir (2010 – 2017):

  • IHSG tembus level psikologis 3000 pada Juli 2010, kemudian koreksi sampai 2514 pada September 2010 (2 bulan –> koreksi 15%).
  • IHSG tembus level psikologis 4000 pada Juli 2011, kemudian koreksi sampai 3373 pada September 2011 (2 bulan –> koreksi 11%).
  • IHSG tembus level psikologis 5000 pada Mei 2013, kemudian koreksi sampai 3967 pada September Agustus 2013 (4 bulan –> koreksi 25%).
  • IHSG tembus level psikologis 5000 kedua kalinya pada April 2015, kemudian koreksi sampai 4120 pada September 2015 (6 bulan –> koreksi 23%).

 

Memilih Saham Market Bearish

Saat Market Bearish, Kendalikan Diri Anda, Kenali 2 Jebakan Psikologis Greed dan Fear

 

Kalau kita lihat data-data di atas, IHSG kebanyakan mengalami koreksi di atas 10% setiap kali menembus level psikologis. Mengerikan?

Okay itu tadi kabar buruknya, lalu apa kabar baiknya? Kabar baiknya adalah, kalau Anda perhatikan lagi data dan fakta di atas, masa bearish IHSG tidak pernah di atas 1 tahun.

 

Fase Market Bearish di IHSG

Masa bearish IHSG paling lama adalah 6 bulan pada tahun 2015. Sebetulnya, sebelumnya IHSG juga pernah mengalami masa bearish 10 bulan pada tahun 2008, itu pun karena terjadi krisis global.

Namun jika 2 periode itu tidak kita perhitungkan, maka masa bearish akan terjadi “hanya” 2-4 bulan saja.

Dalam artikel ini, saya akan mencoba untuk sharing bagaimana strategi jika nanti (seandainya) kita menghadapi market bearish.

Periode Bearish IHSG April – September 2015

 

Terakhir kalinya IHSG mengalami koreksi yang cukup dalam adalah periode April 2015 – September 2015, di mana IHSG mengalami koreksi sebesar 23%-25% dari 5,523 ke 4,120.

Nah kalau kita tarik snapshot pergerakan 510 saham (tahun 2015 jumlah saham yang listing adalah 510 emiten) antara April 2015 dan September 2015 itu, maka akan didapatkan hasil sebagai berikut:

  • Harga saham naik >10%: 44 saham
  • Harga saham naik 0-10%: 45 saham
  • Harga saham turun 0-10%: 131 saham
  • Harga saham turun >10%: 290 saham

 

Total saham yang justru bergerak naik saat IHSG bearish periode  April 2015 – September 2015 adalah 89 saham. Artinya jika kita mulai invest sepanjang periode bearish tersebut, maka peluang kita untuk meraih profit adalah 18% saja.

Katakanlah Anda memegang 10 emiten, maka kemungkinan hanya 2 saham yang naik, sementara 8 saham akan turun.

Apakah itu berarti kita harus keluar sama sekali dari market? Jawabannya adalah tidak harus. Meskipun peluang Anda adalah 20%, namun apabila kita cermat memilih saham, tetap ada kemungkinan kita untuk mencetak profit dalam masa bearish.

Siklus Market Bearish IHSG 10 Tahunan, Mitos atau Fakta?

 

Berikut ini adalah beberapa tips berinvestasi yang dapat membantu Anda apabila nantinya kita harus menghadapi kembali periode market bearish:

 

#1 Pilihlah Saham Defensif Berfundamental bagus Dan Undervalued

Ini adalah kunci yang paling utama. Sebelum Anda memutuskan untuk membeli saham, pastikan saham tersebut memenuhi 3 hal:

  1. Fundamentalnya bagus (laba bersih, pendapatan, dan ekuitas meningkat),
  2. harga sahamnya masih undervalued(PER < 5,0 dan PBV < 1,0), serta
  3. Margin of Safety/ MOS masih tinggi (MOS > 50%).

 

Pengalaman yang saya alami selama ini, saham-saham yang terjun bebas (minusnya paling besar) adalah saham-saham yang fundamentalnya jelek (apalagi perusahaannya rugi) atau saham-saham yang harganya sudah overvalued.

Sementara saham-saham yang memenuhi 3 hal tadi, meskipun tidak ada jaminan harganya naik, namun penurunannya tidak akan sedalam saham-saham yang fundamentalnya jelek atau overvalued tadi.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

#2 Batasi Portofolio Pada 5-8 Emiten Saja

Jika Anda termasuk investor atau trader yang gemar memiliki banyak saham, dan terbiasa menyimpan banyak saham, strategi tersebut biasanya tidak berjalan pada saat market bearish.

Pada fase ini, Anda akan kesulitan mengatur portfolio saham Anda sendiri. Lebih parah lagi, hal tersebut bisa membuat psikologis Anda menjadi terganggu karena secara psikologis warna merah mengirimkan pesan negatif pada otak kita.

Namun apabila Anda fokus pada 5-8 emiten, Anda bisa fokus dan konsentrasi mengatur portfolio Anda. Ingat, portfolio Anda Harus memenuhi syarat nomor 1 di atas tadi.

Jangan panik ketika nyangkut saat Market Bearish! Inilah yang perlu Anda lakukan

 

#3 Jangan Belanja Full Power

Jika saat market bullish biasanya kita full power belanja saham (tidak menyisakan cash), maka saat market bearish Anda tidak bisa melakukan strategi itu lagi.

Peringatan: Jangan menggunakan fasilitas margin atau utang saat market bearish).

Selalu siapkan cash selama masa market bearish. Sisakan setidaknya 30-40% cash on hand untuk berjaga-jaga.

Jangan terlalu ngotot untuk full power belanja saat market bearish, karena Anda akan kalah langkah apabila saham-saham pegangan Anda bergerak turun.

 

#4 Milikilah Money Management Yang Baik

Dengan Anda memegang setidaknya 30%-40% cash, maka Anda punya cukup “peluru cadangan” apabila saham yang Anda pegang benar bergerak turun.

Namun, saya menyarankan agar jangan terlalu cepat menembakkan peluru Anda tadi. Hal yang biasa saya lakukan adalah scaling in, atau masuk secara bertahap.

Misalnya, Anda membeli saham A di harga 200 (harga wajar misalkan di 300), kemudian harga saham bergerak turun ke 180, maka Anda bisa melakukan scaling in kedua.

Ternyata harga sahamnya masih bergerak turun lagi ke 160, maka Anda bisa melakukan scaling in ketiga, dan seterusnya.

 

Apakah Anda tertarik untuk memulai berinvestasi saham? Silahkan download Gratis ebook: Panduan Berinvestasi Saham Untuk Pemula.

Gratis Download Ebook Panduan Berinvestasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Strategi Berinvestasi Saham Saat Market Bearish

Kesimpulannya, kombinasikan langkah 1 sampai dengan langkah 4 di atas. Dimulai dari pemilihan saham, pilihlah saham dengan fundamental bagus dan harganya masih undervalued, serta memiliki margin of safety yang besar.

Kemudian analisa 5-8 saham terbaik yang menurut Analisa Anda akan mampu bertahan dari market bearish. Atau bila Anda beruntung bahkan bergerak naik selama masa market bearish.

Mulai susun portfolio Anda namun jangan langsung belanja full powerAlokasikan 30%-40% cash, untuk kemudian Anda average down dengan metode scaling in.

Dengan memegang saham bagus pada harga murah, anda akan mendapatkan profit jumbo saat market dan saham yang Anda pegang berbalik arah.

Semoga Anda dan saya tetap bisa mencetak profit meskipun IHSG dalam masa bearish sekalipun.

Selamat Berinvestasi!

 

Disclaimer: Artikel ini adalah sebagai edukasi, bukan sebagai saran investasi. Keputusan pembelian saham tetap ada pada masing-masing investor.

 

Setelah pembahasan di atas, apakah Anda tertarik untuk berinvestasi saham? Mari ceritakan pendapat Anda mengenai prospek pasar saham.

Anda bisa mengisi comment berikut atau share ke pembaca lainnya ya. Terima Kasih.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Bull vs Bear – https://goo.gl/kFznvr
  • Bear Crash – https://goo.gl/zPm4vf
  • Big Bear – https://goo.gl/BmpBDz
  • Board – https://goo.gl/1CN7K8
By | 2018-04-12T09:51:41+00:00 January 12th, 2018|Categories: Investasi, Paper Asset, Saham|Tags: , , , , |0 Comments

About the Author:

Rivan Kurniawan
Rivan Kurniawan adalah seorang Indonesia Value Investor. Memulai investasi pertamanya sejak tahun 2008 ketika usia 20 tahun, Rivan sempat mengalami kejatuhan di pasar saham pada tahun 2012.Namun, kejatuhan tersebut tidak membuatnya menyerah melainkan berusaha untuk bangkit kembali di pasar modal dengan menerapkan metode Value Investing.Saat ini, Rivan tidak hanya aktif sebagai praktisi di pasar saham, namun juga aktif memberikan jasa training dan konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memperdalam ilmu berinvestasi dengan metode value investing.

Leave A Comment