Apakah itu Moving Average? Bagaimana cara perhitungannya? Bagaimana cara menggunakannya dalam bertransaksi saham? Berikut ini ulasannya!

 

Moving Average Sebagai Indikator Dalam Trading Saham

Moving Average, atau juga kita singkat MA, yaitu garis yang kita dapat dari perhitungan harga sebelum hari ini, yang mana garis tersebut menampilkan pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang waktu tertentu.

Misalnya dalam rentang 5 hari (1 minggu), 20 hari (1 bulan), 60 hari (3 bulan), maupun 120 hari (6 bulan). Oleh sebab itu dapat kita katakan Moving Average 60 berarti pergerakan harga 3 bulan ke belakang.

 

Menggunakan Moving Average merupakan cara yang ampuh untuk mengukur momentum serta untuk memastikan tren dan menentukan support area dan resistance area.

Moving Average yaitu indikator lagging yang bereaksi terhadap peristiwa yang sudah terjadi. Indikator ini tidak kita gunakan sebagai alat untuk memprediksi harga ke depan, melainkan kita gunakan untuk memastikan dan menganalisis tren harga saham.

[Baca juga: 5 Indikator Teknikal Analisis Paling Penting Untuk Trader Pemula!]

 

Jenis-jenis Moving Average

Moving Average yaitu indikator yang biasa kita pakai dalam analisis teknikal. Indikator ini cukup populer di antara para trader. Ada banyak versi Moving Average yang biasa investor gunakan sebagai indikator Analisis Teknikal, yaitu contohnya:

  1. Simple Moving Average (SMA)
  2. Weighted Moving Average (WMA)
  3. Exponential Moving Average (EMA)

 

Cara menggunakan ketiga jenis Moving Average tersebut mirip satu sama lain, namun yang membedakan dari semua jenis MA tersebut adalah pola hitungan rata-ratanya yang memberatkan suatu nilai periode tertentu dengan bobot yang berbeda.

Misalnya apabila pada SMA hanya menggunakan rata-rata biasa, WMA dan EMA menggunakan sistem pembobotan, sehingga dari pembobotan ini dapat menghasilkan nilai rata-rata yang berbeda.

Jadi, bisa disimpulkan perbedaannya ada pada tingkat sensitivitas yang masing-masing indikator tersebut berikan terhadap harga saham.

Sebenarnya masih banyak lagi jenis Moving Average lainnya dari metode perhitungan lainnya, namun pada kali ini kita akan membahas jenis Moving Average yang paling sering terpakai, yaitu SMA, WMA dan EMA.

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 2 - SMA EMA WMA

[Baca Juga: Darimana Asalnya Candlestick dan Mengapa Trader Saham Harus Tahu Candlestick?]

 

Gambar di atas menunjukkan perbandingan ketiga jenis MA tersebut dengan periode yang sama. Kita dapat melihat dari ketiga jenis MA tersebut yang paling sensitif dengan pergerakan harga adalah WMA, berikutnya EMA dan yang terakhir adalah SMA.

Karena sifatnya ini, WMA dan EMA sering trader pakai untuk trading dalam jangka pendek, sedangkan SMA investor gunakan untuk investasi jangka panjang.

 

Simple Moving Average

Simple Moving Average (SMA) yaitu aritmatika Moving Average yang hitungannya dengan menambahkan harga penutupan saham untuk sejumlah periode waktu dan kemudian dibagi sejumlah periode waktu tersebut.

Dalam SMA, data yang masuk memiliki pembobotan yang sama. Ini artinya yaitu bahwa setiap harga penutupan pada hari yang terhitung dalam kumpulan data tersebut, memiliki tingkat kepentingan dan bobot yang sama. Karena setiap hari baru berakhir, titik data yang tertua dibuang dan yang terbaru ditambahkan.

SMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 3 - SMA Rumus

Mari kita ambil contoh kasus, misalnya harga sebuah saham dalam 15 hari berturut-turut adalah: 20, 24, 22, 21, 20, 18, 17, 22, 26, 30, 31, 34, 33, 30 dan 28. Dengan perhitungan rumus di atas, maka kita akan mendapatkan nilai SMA-nya sebagai berikut:

Hari Closing SMA 5
1 20 – 
2 24 – 
3 22 – 
4 21 – 
5 20 21,4
6 18 21
7 17 19,6
8 22 19,6
9 26 20,6
10 30 22,6
11 31 25,2
12 34 28,6
13 33 30,8
14 30 31,6
15 28 31,2

 

Dengan mengetahui nilai SMA-nya, maka dapat kita buat grafik sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 10 - SMA

[Baca Juga: Ini 8 Jenis Investasi Properti yang Dapat Anda Gunakan #Part 1]

 

Weighted Moving Average

Dalam perhitungannya, WMA memiliki kemiripan dengan SMA, namun yang membedakannya yaitu adanya pembobotan pada data yang terbaru. Sama seperti SMA, WMA juga setiap harinya membuang harga penutupan yang tertua dan menambahkan yang terbaru.

WMA mengalikan faktor untuk memberikan bobot yang berbeda untuk data pada waktu yang berbeda. Dalam sejumlah (n) hari, WMA hari terbaru memiliki berat (n), (n) terbaru kedua – 1, dll, hingga bobotnya ke satu.

Rumus WMA dapat kita lihat sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 4 - WMA Rumus

Misalnya dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus WMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai WMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5
1 20
2 24 – 
3 22 – 
4 21 – 
5 20 21,4 21,2
6 18 21 20,1
7 17 19,6 18,7
8 22 19,6 19,5
9 26 20,6 21,7
10 30 22,6 24,8
11 31 25,2 27,6
12 34 28,6 30,5
13 33 30,8 32
14 30 31,6 31,7
15 28 31,2 30,5

 

Dengan mengetahui nilai WMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 11 - WMA

[Baca Juga: Warren Buffet Mengharuskan Anda Ikuti 5 Aturan Investasi Saham Agar Sukses]

 

Exponential Moving Average

Exponential Moving Average (EMA) adalah jenis MA yang menyaring data secara infinite, dimana data-data lama tidak ada yang terbuang, melainkan hanya berkurang saja bobotnya secara eksponensial, namun bobotnya tidak sampai nol.

EMA memiliki kemiripan dengan WMA dalam hal membedakan bobot data antara data terdahulu dan yang terbaru, di mana dengan perhitungan ini, EMA dan WMA sama-sama lebih sensitif dengan pergerakan harga saham daripada dengan SMA.

Rumus EMA dapat kita lihat sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 5 - EMA Rumus

Misalkan dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus EMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai EMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5 EMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4 21,2 17
6 18 21 20,1 17,3
7 17 19,6 18,7 17,2
8 22 19,6 19,5 18,8
9 26 20,6 21,7 21,2
10 30 22,6 24,8 24,1
11 31 25,2 27,6 26,4
12 34 28,6 30,5 28,9
13 33 30,8 32 30,3
14 30 31,6 31,7 30,2
15 28 31,2 30,5 29,5

 

Dengan mengetahui nilai EMA-nya, maka dapat kita buat grafik sebagai berikut:

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 12 - EMA

[Baca Juga: Ini 8 Jenis Investasi Properti yang Dapat Anda Gunakan #Part 2]

 

Penggunaan Moving Average

Penerapan yang paling umum dari MA yaitu untuk mengidentifikasi arah tren dan untuk menentukan support level dan resistance. Melihat dari fungsinya sendiri, maka kita dapat membagi fungsi MA sebagai berikut:

  1. Untuk mengidentifikasi tren harga saham.
  2. Untuk mengetahui pembalikan arah tren.
  3. Untuk menentukan support level dan resistance.

Dalam penggunaannya, Anda bisa saja menggunakan lebih dari 1 MA, baik secara jenis MA, maupun secara periodenya. Berikut penjelasan cara penggunaan MA.

[Baca juga: Ketahui Indikator Saham dan Jenisnya, Belajar Bareng Yuk!]

 

#1 Mengidentifikasi Tren Harga Saham

Untuk mengetahui arah tren harga saham, sederhananya Anda dapat melihat posisi MA terhadap harga saham, apakah di atas atau di bawahnya.

Pada prinsipnya, jika harga saham berada di atas nilai MA, maka harga saham tersebut sedang dalam tren naik, sebaliknya bila harga berada di bawah MA, maka harga saham sedang dalam tren turun.

Cara lain untuk mengidentifikasi tren adalah dengan menggunakan dua atau lebih MA yang berbeda, misalnya MA 5, MA 20 dan MA 60. Posisi MA yang periodenya lebih pendek terhadap MA yang periodenya panjang, apakah di atas atau di bawahnya.

Sama pula prinsipnya, apabila MA 5 (jangka pendek) di atas MA 20 (jangka panjang), maka harga saham tersebut sedang dalam tren naik, sebaliknya bila MA 5 berada di bawah MA 20, maka harga saham sedang dalam tren turun.

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 6 - BRPT

[Baca Juga: Awas! Hindari 4 Kesalahan Besar Trading Saham untuk Pemula]

 

Contoh di atas menunjukkan saham dengan Harga berada di atas MA 5, dan MA 5 berada di atas MA 20, serta MA 20 berada di atas MA 60. Oleh karena itu, hal ini menandakan bahwa harga saham tersebut sedang dalam trend naik yang kuat.

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

#2 Mengetahui Pembalikan Arah Tren

Fungsi kedua penggunaan MA adalah untuk menentukan titik reversal (pembalikan arah) tren. Dengan kata lain, Anda dapat melihatnya saat harga saham menembus Moving Average.

Jika yang tertembus adalah garis MA periode jangka pendek, maka pembalikan aranya pun untuk jangka pendek. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 7 - GJTL

[Baca Juga: Apa Bedanya Perdagangan Forex dengan Saham, Reksa Dana dan Obligasi?]

 

Bila harga menembus ke atas, mengindikasikan pembalikan arah menjadi tren bullish (naik) atau juga kita sebut sebagai sinyal Golden Cross, sebaliknya bila harga menembus ke bawah, maka hal itu mengindikasikan pembalikan arah menjadi tren bearish (turun) atau juga kita sebut sebagai sinyal Dead Cross.

Cara lain untuk mengidentifikasi pembalikan arah tren juga dapat dilihat dari perpotongan antara 2 jenis MA atau lebih.

Sama prinsipnya dengan saat harga menembus MA, bila MA 5 (jangka pendek) menembus ke atas MA 20 (jangka panjang), mengindikasikan pembalikan arah menjadi tren bullish (naik), sebaliknya bila MA 5 menembus ke bawah MA 20, mengindikasikan pembalikan arah menjadi tren bearish (turun).

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 8 - BEST

[Baca Juga: Sistem Auto Rejection dalam Perdagangan Saham di Indonesia]

 

Contoh gambar di atas menunjukkan saham yang harganya menembus ke atas nilai MA 5 dan MA 20. Dalam hal ini, grafik tersebut menunjukkan bahwa saham tersebut sedang reversal menguat.

 

Menentukan Support Level dan Resistance

Kegunaan lain dari MA adalah sebagai level psikologis untuk support dan resistance harga saham. Bila harga mendekati MA, seringkali harga akan mental kembali sehingga seolah-olah MA bertindak sebagai tembok penghalang pergerakan harga. Dari hal ini pula bila harga menembus MA, maka dikatakan sebagai sinyal pembalikan arah.

Pahami Dulu Moving Average - Gambar 9 - PPRO

[Baca Juga: Investor Pemula, Ini Modal Dasar untuk Berinvestasi Saham yang Penting]

 

Contoh di atas, MA 20 berperan sebagai support yang menyanggah harga saham agar tidak jatuh dan kembali memantul.

 

Masih bingung bagaimana cara memulai berinvestasi saham? Tak perlu khawatir, Finansialku telah merangkum semua hal yang perlu Anda ketahui sebelum berinvestasi saham. Silahkan Download Ebook Gratis: Panduan Berinvestasi Saham Untuk Pemula.

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Inilah Moving Average

Pada prinsipnya, MA sangat membantu trader saham dalam mengambil kesimpulan dan menentukan keputusan dalam waktu yang cepat karena sifatnya yang sederhana dalam penggunaannya dan sangat cocok untuk digunakan dalam melakukan Swing Trading.

 

Untuk lebih jelasnya, Finansialku sudah merangkum mengenai manfaat alasan wajib memulai investasi saham. Anda bisa mengambil beberapa tips langsung dari video berikut ini:

 

Anda ingin mendapat rekomendasi saham pilihan? Jika iya, yuk segera gabung grup belajar saham. Dapatkan rekomendasi saham pilihan dari pakarnya, serta dapatkan konsultasi secara gratis dengan mentor berpengalaman. Tunggu apalagi, dapatkan promonya sekarang juga. Klik link berikut ini untuk gabung Grup Belajar Saham.

 

Apakah Anda pernah melakukan Trading Saham, Forex maupun Komoditas? Apakah Moving Average membantu anda menentukan kepuasan dalam aktivitas trading Anda? Share jawaban Anda pada kolom dibawah ini, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Wijaya, Ryan Filbert (2014). Investasi Saham Ala Swing Trader Dunia. Jakarta: Kompas Gramedia
  • Wira, Desmond (2010). Analisis Teknikal Untuk Profit Maksimal. Jakarta: Exceed Books

 

Sumber Gambar:

  • Best Offer Stock Trading Overstock – https://goo.gl/16tn57/