Apakah Anda pernah merasakan pendapatan yang diterima selalu terasa tidak cukup, bahkan sampai berhutang? Berikut beberapa alasan yang bisa menjadi penyebab dari hal tersebut.

Simak ulasan selengkapnya dalam panduan belajar dari Finansialku berikut ini. Selamat membaca…

 

Pernahkah Anda, setiap mendekati waktu krisis di akhir bulan, menerka-nerka, kenapa pendapatan Anda selalu kurang, padahal sudah hemat dan nabung susah payah?

Buat beberapa orang mungkin penyebab permasalahan ini adalah karena tidak bisa mengurus keuangan mereka.

Padahal nyatanya, ada masalah yang cukup kompleks daripada itu. Misalnya, ketika generasi milenial yang kurang cekatan dalam menambah pemasukan.

 

Penyebab Pendapatan Selalu Terasa Kurang

Beberapa penyebab yang juga punya andil yang membuat pendapatan Anda selalu terasa kurang, seperti:

 

Middle Income Trap

Middle Income Trap adalah sebuah istilah yang digunakan oleh bank dunia untuk menyebut fenomena yang dialami oleh negara-negara yang rakyatnya punya pendapatan menengah ke bawah dan tidak bisa naik ke status yang lebih tinggi.

Bank Dunia sendiri punya klasifikasi negara-negara di dunia berdasarkan Gross National Income (GNI), salah satu indikator yang digunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan rata-rata suatu negara, yang dibagi menjadi empat kategori:

  • Low income: <US$1.036
  • Lower middle income: US$1.036 – US$4.045
  • Upper middle income: US$4.046 – US$12.535
  • High income: >US$12.535

 

Indonesia sendiri, pada tahun 2019, berada di angka US$4.050 di mana rata-rata kesejahteraan masyarakat Indonesia berada di angka Rp 58 juta-an per tahunnya.

Dengan angka itu, Indonesia kemudian masuk ke dalam kategori negara upper middle income class.

Lalu bagaimana caranya agar Indonesia bisa naik kelas? Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan kalau sebenarnya Indonesia punya peluang yang besar untuk bisa naik kelas karena jumlah penduduk Indonesia yang produktif sangat besar dan serentak melakukan ini:

  • Menambah pemasukan baik itu aktif maupun pasif
  • Menyiapkan dana darurat
  • Melunasi pinjaman konsumtif
  • Punya proteksi
  • Mulai investasi.

 

Tapi semua itu menjadi hal yang nggak mudah, karena ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para kelas menengah, seperti:

  • Besar di gengsi
  • Pemasukan terbatas tapi kemauan tidak terbatas.
  • Tidak investasi
  • Tidak punya aset

 

Sandwich Generation

Anda mungkin sudah paham dengan istilah ini, ‘kan? Istilah yang dipakai untuk orang yang mengalami kondisi terjepit antara dua generasi dan harus bisa memenuhi kebutuhan serta kewajiban dua generasi tersebut.

Fenomena ini di Indonesia agaknya jadi warisan turun menurun yang bersembunyi di balik istilah ‘berbakti kepada orangtua.’

Padahal, dua istilah ini jauh berbeda. Berbakti kepada orangtua dapat diekspresikan oleh banyak hal, bukan cuma membiayai hidup orangtua seolah-olah hubungan anak dan orangtua sekedar hubungan transaksional, tidak lebih.

Apakah Anda sedang berada dalam keadaan ini? Bertahanlah, dan ikuti beberapa saran dari Melvin Mumpuni ini:

  • Mengubah Pola Pikir. Ketimbang terus-terusan menyalahkan keadaan, bagaimana kalau kita alokasikan energi itu mencari jalan keluar bersama dengan anggota keluarga yang lainnya?
  • Ngobrol Bareng Keluarga. Finansialku ingat dan tahu betul kalau keadaan ini bukan salah Anda. Tapi apa yang bisa Anda lakukan selain mencari jalan keluar? Karena rasanya sia-sia dan menghabiskan energi semata kalau Anda cuma menyalahkan orang lain, sementara Anda sendiri tidak mencoba cari solusi. 

Pertama, Anda mungkin bisa mengobrol bareng keluargamu untuk sama-sama mencari solusi dari permasalahan ini. Dalam kesempatan ini, Anda juga bisa ceritakan apa saja usahamu untuk bisa memenuhi kebutuhan tiga generasi selama ini, lalu tanyakan pengeluaran apa yang kira-kira bisa ditiadakan atau dikurangi. Selain itu, Anda juga bisa minta bantuan kepada anggota keluargamu.

  • Menambah Pemasukkan. Kalau selama ini penghasilanmu masih kurang untuk membiayai pengeluaran tiga generasi, Anda bisa menambah pemasukan di sela-sela hari liburmu. Agar tidak terlalu melelahkan, Anda bisa ajak kerja sama anggota keluargamu juga, lho! Agar mereka juga bisa tahu seberapa besar usahamu dalam mencari pemasukan untuk menghidupi keluarga.
  • Menyiapkan Dana Darurat. Setelah penghasilanmu mulai bertambah, Anda bisa mulai untuk pertimbangkan untuk menyiapkan dana darurat sebagai tameng ketika Anda berada dalam keadaan darurat yang mengharuskan Anda untuk mengeluarkan sejumlah dana.
  • Jangan Menambah Utang. Ini berhubungan dengan poin di atas. Ketika Anda punya dana darurat, maka Anda tidak perlu menambah deretan utangmu ketika terjepit keadaan suatu hari nanti. Bukan cuma itu, Anda juga sepertinya nggak perlu menambah utang-utang konsumtif yang sebenarnya tidak Anda perlukan, seperti utang alat elektronik, atau cicilan-cicilan kecil yang tidak Anda sadari sedikit demi sedikit akan menghabiskan danamu.
  • Punya Proteksi. Anda adalah tulang punggung keluarga. Anda adalah pilar kehidupan keluarga Anda. Kalau sesuatu terjadi pada Anda, mungkin arus keuangan keluarga Anda akan mengalami kesusahan.

Makanya penting banget untuk Anda punya proteksi seperti asuransi kesehatan atau pun asuransi jiwa. Lebih bagus apabila semua anggota keluarga juga punya.

  • Mulai Investasi. Kalau Anda sudah berhasil memenuhi semua poin-poin di atas, Anda bisa mulai untuk investasi.

 

Tidak Memiliki Rencana Jangka Menengah dan Panjang

8 dari 10 orang di Indonesia kurang menyadari pentingnya perencanaan keuangan. Baik untuk kebutuhan jangka menengah (3 – 5 tahun) dan kebutuhan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). 

Padahal ada banyak sekali pengeluaran besar di masa depan, contoh: menyekolahkan anak, membeli rumah, kendaraan, perjalanan ibadah, biaya untuk masa pensiun dan pengeluaran lainnya.

 

Tidak Memiliki Anggaran Keuangan

Tahukah Anda, ada sebuah alat keuangan yang mampu membantu Anda mengelola keuangan dengan lebih mudah. 

Anda hanya cukup meluangkan waktu 5 – 10 menit setiap bulannya. Ya dengan 10 menit setiap bulan, keuangan Anda bisa menjadi lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat anggaran keuangan.

Nah langkah pertama yang harus Anda buat adalah anggaran. Anggaran membantu Anda untuk membagi ke mana saja uang Anda akan digunakan.

  • Berapa yang digunakan untuk berdonasi (Zakat, Perpuluhan atau Sumbangan lainnya)?
  • Berapa yang digunakan untuk tabungan dan investasi?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar premi asuransi?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar cicilan dan utang?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar pengeluaran anak dan pendidikan?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar rumah tangga?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar kesehatan?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar kendaraan?
  • Berapa yang digunakan untuk bayar pengeluaran pribadi?

Dan lainnya.

 

Tidak Pernah Memiliki Catatan Keuangan

Apakah Anda tahu letak kebocoran-kebocoran dalam keuangan Anda?

  • Berapa yang Anda keluarkan untuk makan di luar?
  • Berapa yang Anda keluarkan untuk parkir?
  • Berapa yang Anda keluarkan untuk sumbangan pernikahan?
  • Berapa yang Anda keluarkan untuk ngopi dan kongkow di kafe?

Tahukah Anda, berapa uang yang dapat dihasilkan jika Anda menghemat biaya ngopi dan menginvestasikannya?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah dengan memiliki catatan keuangan. Memang mencatat pengeluaran dan pemasukan bukanlah hal yang nyaman. Diperlukan sebuah kedisiplinan untuk dapat mencatat keuangan.

Anda dapat menggunakan aplikasi Finansialku untuk membantu Anda mengelola dan merencanakan keuangan. 

Dengan mencatat keuangan, diharapkan Anda dapat memiliki kontrol atas keuangan Anda.

 

Tidak Bisa Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu masalah keuangan yang paling dasar adalah membedakan dan memprioritaskan kebutuhan dan keinginan.

Apakah Anda pernah bingung:

  • Uangnya mending untuk jalan-jalan ke luar negeri atau invest beli rumah ya?
  • Uangnya mending untuk beli smartphone baru atau invest beli mobil ya?
  • Uangnya mending untuk beli baju baru atau untuk donasi ya?

 

Tidak Pandai Menggunakan Utang

Pemasalahan yang sering dihadapi oleh orang-orang degan gaji besar adalah Utang. 

Sebagian besar klien-klien Finansialku yang berurusan dengan utang adalah orang – orang dengan penghasilan besar (rata-rata 8 – 10 kali upah minimum regional / UMR).

Coba bayangkan, UMR adalah upah yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk hidup layak dalam satu bulan. 

Nah, orang ini sudah memiliki gaji dengan besaran 8 – 10 kali UMR. Secara sederhana pendapatan 1 bulan orang tersebut, sebenarnya sudah bisa hidup layak untuk 10 bulan bukan? Kenapa mereka masih hidup dalam utang?

Jawabannya adalah karena mereka salah menggunakan utang. Berawal dari perkenalan dengan kartu kredit, kemudian menjurus kepada gali lubang tutup lubang, kemudian masuk ke KTA. Bukannya KTA makin selesai tetapi makin besar dan makin besar hingga melebihi kemampuannya.

 

Konsumtif dan Gengsi

Terakhir dan yang paling sering dihadapi oleh orang-orang gaji tinggi adalah hidup KONSUMTIF dan penuh GENGSI. Contoh:

  • Jika membeli baju harus yang merk A, tidak mau yang lain.
  • Jika ada gadget terbaru, langsung beli tidak mau ketinggalan.
  • Jika ada film terbaru di bioskop, langsung nonton pada penayangan perdana.
  • Jika mau membeli mobil, beli mobil yang mewah.
  • Jika menikah ingin pesta mewah, padahal rumah masih ngontrak. 

Orang-orang dengan gaji besar cenderung ingin mendapat PENGAKUAN dan ‘WOW’. 

Sebenarnya hal tersebut tidak salah, jika memang kebutuhan jangka menengah dan panjang sudah terpenuhi. Permasalahannya adalah jika merasa kaya padahal belum mampu.

 

Mengatur Kebiasaan dan Memaksimalkan Pendapatan

Lalu, apa yang harus saya lakukan agar tidak berputar dalam lingkaran ini?

Anda mungkin bisa mulai melakukan beberapa hal berikut ini untuk mendapatkan kebiasaan mengatur keuangan yang baik dan memaksimalkan pendapatan Anda:

 

Menentukan Tujuan Keuangan

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah, menentukan tujuan keuangan Anda. Kalau tujuan belum jelas, biasanya Anda tidak akan termotivasi.

Semakin jelas tujuan keuangan Anda, semakin penting tujuan keuangan Anda, semakin genting tujuan keuangan Anda, tentu saja Anda akan lebih termotivasi untuk mewujudkannya. Dalam membuat tujuan keuangan, jangan lupa rumusan SMART ya!

 

Buat Analisis Pendapatan

Setelah menentukan tujuan keuangan, Anda harus membuat analisis singkat pendapatan Anda. Tujuan utamanya adalah Anda perlu mengetahui berapa rata-rata pendapatan Anda setiap bulannya?

Tentu saja menghitung rata-rata pendapatan bulanan tidak terlalu sulit jika Anda sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Nah, bagaimana dengan karyawan baru? 

Jika Anda sudah lama bekerja, Anda dapat menghitung rata-rata penghasilan bulan-bulan sebelumnya.

Contoh Pak Roy bekerja sebagai tenaga pemasaran di perusahaan swasta, dengan gaji Rp 6 juta – Rp 10 juta per bulan.

Total penghasilan pak Roy dalam setahun adalah Rp 90 juta, maka rata-rata penghasilan Pak Roy per bulannya adalah Rp 90 juta / 12 bulan = Rp 7,5 juta. Bagaimana jika Anda adalah karyawan baru?

Teknik analisis yang dapat dilakukan oleh karyawan baru adalah memproyeksikan atau membuat perkiraan (forecast) rata-rata pendapatan bulanan.

Contoh Bu Kyra, saat ini sedang membuat salon kecantikan. Rata-rata keuntungan bersih yang didapat adalah Rp 50.000 per pelanggan. Bu Kyra memperkirakan (forecast) terdapat 10 – 15 pelanggan yang datang.

Perkiraan pendapatan dalam setahun adalah: (20 hari x 12 bulan x 10 pelanggan x Rp 50.000) =  Rp 120.000.000 per tahun. Kurang lebih pendapatan salon Bu Kyra per bulannya adalah Rp 120.000.000 / 12 bulan = Rp 10.000.000. 

 

Membuat Strategi Menabung

Meneruskan contoh di atas, misal keduanya (Pak Roy dan Bu Kyra) masing-masing memiliki pengeluaran tetap sebesar Rp 5 juta per bulan. Itu artinya Pak Roy dapat menabung sebesar Rp 2,5 juta per bulan dan Bu Kyra dapat menabung sebesar Rp 5 juta per bulan.

Selain menabung, Anda juga dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi, misal reksa dana online

Tetapi satu hal yang harus Anda ingat sebelum berinvestasi yaitu pastikan Anda sudah memiliki rencana keuangan. 

Sebagai contoh, misal Pak Roy dan Bu Kyra memiliki tujuan keuangan yang sama, yaitu menyiapkan biaya kuliah anaknya.

Setelah dilakukan perhitungan, ternyata perlu investasi sebesar Rp 2.300.000 untuk diinvestasikan.

 

Menjalankan Rencana

Apakah Anda tahu rencana keuangan yang terbaik itu seperti apa? Rencana keuangan yang paling baik adalah rencana keuangan yang dijalankan.

Percuma saja kalau seseorang menggunakan jasa perencana keuangan, tetapi tidak menjalankan rencananya.

Seperti contoh di atas, sudah jelaskan Pak Roy dan Bu Kyra perlu berinvestasi sebesar Rp 2.300.000 untuk dana pendidikan anaknya. Bagaimana menyiasati target investasi bulanan, jika ada pendapatan tidak tetap?

Skenario terbaik: Penghasilan rata-rata di atas kebutuhan investasi. Misal Pak Roy dan Bu Kyra pendapatan bulan ini berada di atas Rp 2.300.000, tentu saja mereka dapat berinvestasi dengan mudah. Tidak perlu bingung, ‘kan?

Skenario terburuk: Pada bulan ini, insentif penjualan yang diterima Pak Roy ternyata berkurang. Tiba-tiba bulan ini pelanggan salon bu Kyra menjadi sepi.

Baik Pak Roy dan Bu Kyra masing-masing kekurangan uang untuk diinvestasikan. Nah, mereka dapat mengurangi pos pengeluaran lainnya. Tentu saja biar mudah mereka perlu membuat anggaran keuangan rumah tangga. 

 

Selanjutnya, Sobat Finansialku dapat membaca panduan belajar: Pendapatan yang Sedikit Sekali.

 

Jika Sobat Finansialku ingin memiliki perencanaan keuangan yang baik dan tujuan keuangan yang jelas, Anda dapat berkonsultasi dengan Financial Planner Finansialku.

Yuk download aplikasinya di Google Play Store maupun Apple Apps Store sekarang! Nikmati konsultasi dan cek kesehatan keuangan dengan akses premium gratis selama 30 hari. 

Jika Anda merasa terbantu dengan aplikasi Finansialku premium, silakan gunakan kode voucher WEBTAHUNAN saat melakukan upgrade aplikasi premium dan dapatkan diskon langsung Rp 50 ribu.

 

Solusi untuk menambah income untuk Anda yang merasa income saat ini kekecilan. Simak selengkapnya dalam video berikut ini. Jangan lupa untuk subscribe Youtube Finansialku untuk update tips keuangan lainnya.

 

Editor: Nurdevi Noviana

Sumber Gambar:

  • Cover – https://bit.ly/3kWlaAd