Diibaratkan sebagai nadi dalam perekonomian global, bagaimana prospek harga minyak dunia hingga akhir tahun 2019 ini?

Pada pertengahan September 2019 ini harga minyak bumi mendadak meroket. Dalam 1 hari harga dari berbagai minyak rata-rata naik 10%. Bahkan menjadi lonjakan harga terbesar sejak 14 Januari 1991. Fluktuasi harga minyak tentu bisa mengganggu perekonomian dunia.

Yuk simak ulasan berikut!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Minyak Bumi

Adakah teman-teman pembaca yang merasa heran, mengapa minyak bumi begitu penting dalam perekonomian dunia? Naik turun harganya selalu disimak para pelaku ekonomi!

Minyak bumi merupakan komoditas tambang yang memiliki banyak kegunaan. Dalam keseharian, mungkin secara tidak sadar kita menggunakan berbagai produk olahannya lho!

Menelisik Harga Minyak Dunia dari Masa ke Masa 01 - Finansialku

[Baca Juga: Begini Korelasi Harga Minyak terhadap Ekonomi Dunia]

 

Minyak bumi berperan utama sebagai sumber energi seperti bensin, solar, kerosin. Tidak hanya energi, minyak bumi juga menjadi bahan baku pembuatan plastik, karet sintetis, detergen, dll.

Ada 2 jenis minyak yang paling terkenal dalam perdagangan dunia yaitu brent dan WTI (West Texas Intermediate).

Brent dihasilkan dari laut Utara Eropa. Sedangkan WTI dihasilkan di Amerika Utara dan bersifat lebih ringan sehingga lebih banyak digunakan bahan bakar.

 

Perkembangan Harga Minyak Saat Ini

Pada Sabtu, 14 September 2019 subuh pabrik produsen minyak terbesar dunia bernama Saudi Aramco di Abqaiq diserang oleh 10 pesawat tanpa awak alias drone sehingga terjadi kebakaran besar.

Drone tersebut menyerang 2 fasilitas pabrik Saudi Aramco.

Karena hal ini harga minyak brent sempat naik 19.5% menjadi US$62.90 per barel, sedangkan harga WTI naik 15.5% menjadi US$62.90 per barel pada Senin 16 September 2019.

Serangan ini tentu sangat mengganggu proses produksi minyak Saudi. Aramco memproduksi 7 juta barel minyak per hari, diperkirakan karena insiden ini bisa mengganggu 5% cadangan minyak dunia.

Sebagai informasi, Saudi merupakan perusahaan produsen minyak terbesar nomor 2 di dunia, oleh karena itu, hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu ketersediaan minyak dunia.

Siapa pelaku dibalik serangan drone ini?

Rahasia Dibalik Penguatan Logam Mulia dan Pelemahan USD. Apakah Keduanya Saling Terhubung 02 Dollar dan Minyak Dunia - Finansialku

[Baca Juga: Harga Minyak Merosot, Tapi Masih di Level Tertinggi 2019]

 

Banyak pihak termasuk Amerika Serikat mempercayai bahwa insiden ini berkaitan dengan konflik antara Saudi dengan Yaman. Selama bertahun-tahun Saudi mengirimkan pesawat tempur yang membunuh masyarakat sipil Yaman.

Sebagai balasannya Yaman menyerang Arab Saudi dengan drone dan misil serta mengincar Laut Merah. Namun pihak Iran, presiden Hassan Rouhani menolak mengakui berperan dibalik insiden serangan ini.

Banyak pihak mengakui serangan tersebut merupakan serangan terbesar di Arab Saudi. Serangan besar tersebut setara dengan serangan Saddam Hussein di tahun 1991 mengirimkan sejumlah misil pada perang Teluk Persia.

Dicurigai pula serangan ini terjadi akibat meningkatnya tensi antara Tehran dan Washington setelah AS berencana memberikan sangsi baru terhadap Iran serta ketika AS menarik diri dari perjanjian nuklir.

Pengurangan pasokan yang terjadi saat ini tentu membuat Saudi kebingungan memenuhi permintaan minyak dari negara yang berlangganan.

Namun perusahaan akan berkomitmen untuk mencukupi kebutuhan tersebut bagaimanapun caranya. Diklaim Pangeran Abdulaziz, produksi minyak sebanyak 5,7 juta barel per hari akan pulih pada akhir September 2019 mendatang.

Setelah lonjakan harga tersebut, beberapa hari selanjutnya harga minyak mulai kembali pulih seperti sedia kala.

 

Perkiraan OPEC atas Penurunan Demand

Di tahun 2019 ini, OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) sempat menurunkan perkiraan permintaan minyak global sebanyak 80.000 barel per hari menjadi 1.02 juta barel per hari.

Penurunan ini mengacu pada perlambatan ekonomi global yang diperkirakan melanda sepanjang tahun 2019 ini.


Sedangkan untuk tahun 2020, diperkirakan permintaan global minyak bumi naik 60.000 barel menjadi 1.08 juta barel per hari.

Proyeksi OPEC ini sesuai dengan prediksi para analis dan ekonom bahwa permintaan global tidak akan melampaui 1 juta barel per hari di tahun 2019.

 

Prospek Harga Minyak Hingga Akhir Tahun 2019

Dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi global, Morgan Stanley menurunkan proyeksinya terhadap harga minyak.

Hal ini didasari oleh ketidakstabilan permintaan dan meningkatnya bahan baku minyak serpih (shale oil) yang dimiliki Amerika yang bisa mengimbangi OPEC menjaga kestabilan harga minyak di pasaran.

Harga Minyak Merosot, Tapi Masih di Level Tertinggi 2019 02 Harga Minyak 2 - Finansialku

[Baca Juga: Menelisik Harga Minyak Dunia dari Masa Ke Masa]

 

Bank Amerika menurunkan perkiraan harga minyak Brent menjadi US$60 per barel, sebelumnya di harga US$65. Tidak hanya brent, minyak WTI juga diperkirakan menjadi US$55 dari US$58.

Dengan menggabungkan analisa ekonomi global dan kondisi persediaan minyak pasca insiden drone di Saudi Aramco, diperkirakan harga minyak akan sesuai prediksi Bank Amerika.

Namun hal ini berpotensi terjadi jika cadangan minyak Saudi Aramco tidak mencukupi permintaan dunia. Sebaliknya jika Aramco benar-benar bisa kembali pulih produksi minyaknya, maka harga kembali stabil.

 

Bagaimana Dengan Pengaruh di Indonesia?

Menurut Menteri Ekonomi Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah sedang melakukan analisa mendalam terhadap kondisi cadangan minyak dunia. Sebab jika cadangan menipis, maka harga akan melonjak.

Sebagai catatan, Indonesia masih bergantung pada supply minyak bumi tersebut untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

Jika harga minyak naik, maka bisa membebani subsidi pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi bengkak. Tidak hanya BBM, tarif listrik juga masih bergantung pada harga minyak dunia.

Hal ini bisa membuat neraca dagang Indonesia menjadi tekor karena nilai impor minyak naik mengikuti harga minyak dunia yang naik.

Pekerjaan Gaji Tertinggi di Indonesia 09 Ahli Teknik Perminyakan - Finansialku

[Baca Juga: Menelusuri Korelasi Harga Sektor Energi: Gas Alam vs Minyak Mentah]

 

Sebenarnya tidak hanya Indonesia, namun banyak negara Asia lainnya juga terguncang jika harga minyak melambung seperti Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan, dan lain-lain.

Jika persediaan minyak bumi tidak mencukupi dan terjadi kelangkaan maka bisa membuat harga minyak menjadi US$100 per barel. Walaupun jika hal ini terjadi tidak akan bertahan lama kenaikannya.

Khawatir dengan keuangan untuk masa depan? Seharusnya tidak lagi terjadi apabila Anda tahu bagaimana mengatur keuangan Anda dengan baik.

Miliki e-book Finansialku tentang mengelola keuangan Anda sesuai usia yang bisa di-download secara gratis berikut ini.

 

Kesimpulan Prospek Harga Minyak Dunia

Bagi trader maupun investor kontrak berjangka, naik turunnya harga minyak ini tidak menjadi masalah karena bisa melakukan buy maupun sell. Yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi pasar yang galau dan sangat fluktuatif.

Sehingga sebagai trader dan investor kita perlu senantiasa mengikuti perkembangan pasar. Khususnya apakah cadangan minyak bumi bisa benar-benar pulih tidak terganggu oleh insiden drone di Saudi ini.

 

Kini Anda sudah lebih memahami prospek harga minyak dunia, bukan? Artikel ini informatif? Bila saat Anda membaca artikel ini pengetahuan Anda semakin bertambah, ini juga akan terjadi pada rekan-rekan Anda.

Oleh karena itu, bagikanlah artikel informatif ini pada mereka agar dapat mengambil bagian untuk turut mencerdaskan anak bangsa dengan literasi finansial dari Finansialku.com!

 

Hati-hati terhadap penipuan mengatasnamakan Finansialku! Finansialku.com tidak pernah memungut biaya atau pun menjanjikan produk apa pun di luar aplikasi dan official media kami.

 

Sumber Gambar:

  • Prospek Harga Minyak 01 – http://bit.ly/2mjYw8F