Para investor, bagaimana risiko investasi dan prospek saham ULTJ? Apakah bisa menguntungkan? Apa saja fakta-fakta menarik dari bisnis ULTJ?

Semuanya bisa Anda ketahui setelah Anda selesai membaca artikel ini! So, baca sampai akhir ya…! Semoga bermanfaat.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Mencermati Risiko Investasi dan Prospek Saham ULTJ

ULTJ merupakan perusahaan multinasional yang juga merupakan market leader produsen produk susu cair segar, minuman ringan dan beberapa minuman siap saji lainnya dengan proses UHT.

Produk-produk ULTJ juga menjadi market leader di bidang industri minuman dalam kemasan di Indonesia. Sebut saja Susu Ultrajaya, yang menjadi kontributor pendapatan terbesar ULTJ, saat ini menjadi Market Leader 41%.

Produk keluaran ULTJ lainnya seperti Teh Kotak juga menjadi Market Leader sebesar 71%.

Di sisi lain, data menunjukkan bahwa tingkat konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 12 liter per kapita, jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), dan Filipina (22,1 liter). So, bagaimana prospek saham ULTJ ke depannya?

 

Sekilas Profil ULTJ

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Co. Tbk. dirintis sejak tahun 1960 oleh Ahmad Prawirawidjaja (Alm.), seorang pengusaha Tionghoa dan sudah bermukim di Bandung.

Usaha ini mulanya hanyalah industri rumah tangga berlokasi di jalan Tambong Dalam – Bandung, dan hanya memproduksi susu.

Seiring perkembangannya tepat di tahun 1970, ULTJ mulai memperkenalkan teknologi pengolahan secara UHT (Ultra High Temperature), yaitu proses pemanasan dengan suhu 140 derajat Celcius dalam waktu 3-4 detik.

Melalui proses UHT ini produk minuman menjadi lebih steril karena bakteri bisa terbunuh tanpa mengurangi nutrisi dan vitamin di dalamnya. Dan selanjutnya produk susu steril ini dikemas menggunakan teknologi pengemasan dengan kemasan karton aseptik (Aseptic Packaging Material).

Risiko Investasi dan Prospek Saham ULTJ 02 - Finansialku

[Baca Juga: Ingin Berinvestasi Saham? Inilah Tips Membeli Saham Untuk Investor Pemula]

 

Sejak saat itu, ULTJ memutuskan untuk menjadikan usahanya sebagai entitas perseroan terbatas pada tahun 1971. Dan tahun 1975, ULTJ mulai memproduksi secara komersial produk minuman susu cair UHT dengan merek Ultra Milk.

Sekaligus di tahun 1978 ULTJ juga mulai memproduksi minuman sari buah UHT dengan merek Buavita dan Gogo sekitar tahun 1978, dan di tahun 1981 ULTJ memproduksi minuman teh kemasan UHT dengan brand Teh Kotak, Sari Asem Asli, dan Sari Kacang Ijo.

Memasuki tahun 2008 produk minuman sari buah UHT Buavita dan Gogo milik ULTJ di akuisisi oleh PT Unilever Indonesia (UNVR), sehingga ULTJ hanya memproduksikan minuman sari buah-nya untuk UNVR.

Tidak hanya itu, ULTJ juga memproduksi susu untuk perusahaan lain termasuk untuk kebutuhan ekspor. ULTJ sendiri hingga saat ini, memiliki satu pabrik produksi skala besar yang berlokasi di Padalarang – Jawa Barat.

Pada Juli 1990, ULTJ melantai di Bursa Efek Indonesia (pada saat itu masih bernama Bursa Efek Jakarta), dengan melakukan penawaran perdana sahamnya kepada masyarakat.

Adapun pembagian kepemilikan saham ULTJ adalah sebagai berikut:

Prospek Saham ULTJ 01 Kepemilikan Saham - Finansialku

Kepemilikan Saham ULTJ. Sumber: Laporan Tahunan 2017

 

Hal-hal Menarik dari Bisnis ULTJ

ULTJ sebagai perusahaan yang telah berdiri hampir 60 tahun ini, memang menjadi salah satu perusahaan yang memiliki sejumlah kelebihan.

Beberapa kelebihan ULTJ adalah sebagai berikut:

 

#1 Bisnis Anti Krisis

ULTJ sebagai perusahaan yang memproduksi minuman UHT berhasil menjadi perusahaan dengan bisnis yang anti krisis

Salah satu contohnya di tahun 2015 pada saat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di titik terendah di 4,8%.

ULTJ justru mampu mencatatkan kinerja yang kinclong di tengah emiten BEI yang cenderung mengalami penurunan laba bersih. Di mana ULTJ meraih Pendapatan sebesar Rp4,3 triliun, dan juga Laba sebesar Rp519 miliar di 2015.

Demikian halnya dengan pelemahan Rupiah hingga ke Rp15.000 an pada 2018 kemarin, ULTJ tidak serta merta ikut terkena dampaknya.

Sebaliknya, ULTJ masih mampu mencatatkan pencapaian kinerja yang cemerlang hingga akhir tahun 2018 kemarin. Bahkan pencapaian kinerja ULTJ di 2018 kemarin adalah paling besar dibandingkan dengan Pendapatan di tahun sebelumnya, dengan rata-rata CAGR 14,6%.

Prospek Saham ULTJ 02 Data- Finansialku

Peningkatan Pendapatan ULTJ dari 2011 – 2018

 

#2 Perusahaan Sangat Likuid dengan Kas Besar

Menurut catatan, ULTJ ini merupakan salah satu perusahaan yang paling likuid di BEI. Bukan dalam hal volume perdagangannnya, melainkan dalam hal neraca keuangannya.

Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, ULTJ termasuk perusahaan yang memiliki pertumbuhan kas yang konsisten bertumbuh.

Berdasarkan Laporan Keuangan ULTJ FY 2018, ULTJ memiliki kas dan setara kas sebesar Rp1,4 triliun.

Jika dibandingkan dengan liabilitas jangka pendeknya, yang sebesar Rp635 miliar dan liabilitas jangka panjang yang sebesar Rp146 miliar, maka bisa dikatakan ULTJ ini mampu melunasi seluruh utang jangka pendek dan jangka panjangnya hanya dengan menggunakan kas nya saja.

Risiko Investasi dan Prospek Saham ULTJ 03 - Finansialku

[Baca Juga: Tentu Bisa! Berinvestasi Saham untuk Dana Pendidikan dan Dana Pensiun]

 

Cash Ratio ULTJ berkisar 2,3x per tahun 2018, yang mengindikasikan bahwa Cash yang dimiliki ULTJ 2,3x lebih besar dibandingkan dengan liabilitas jangka pendeknya.

Jadi kasar kata, kalaupun katakanlah Piutang ULTJ yang sebesar Rp530,5 miliar tidak tertagih, ataupun persediaan ULTJ yang sebesar Rp708,8 miliar hanya menumpuk di Gudang, maka detik ini juga ULTJ bisa melunasi utang-utangnya hanya dengan menggunakan cash-nya saja dan masih menyisakan kas sebesar Rp663 miliar.

Hal ini menjadi salah satu penyebab di mana ULTJ, hampir tidak pernah mengandalkan utang untuk menjalankan bisnisnya, maupun untuk ekspansi di tahun-tahun sebelumnya.

Prospek Saham ULTJ 03 Data- Finansialku

Peningkatan Cash ULTJ dari 2011 – 2018

 

#3 Prospek Pertumbuhan Pasar ULTJ di Indonesia Masih Terbuka Lebar

Konsumsi susu di Indonesia masih relatif rendah, bahkan bisa dikatakan konsumsi susu di Indonesia berada di urutan terendah di ASEAN.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian konsumsi susu masih sekitar 11,09 liter per kapita per tahun, atau jika di rata-rata dalam 5 tahun terakhir, hanya mencapai 12 liter per kapita saja hingga 2018 kemarin.

Angka ini terbilang sangat rendah bila dibandingkan dengan sejumlah negara di ASEAN yang konsumsi susunya jauh lebih tinggi, misalkan seperti Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), Filipina (22,1 liter).

Lakukan Diet Makanan 08 Susu Murni - Finansialku

[Baca Juga: Perbedaan Trading Saham dan Komoditas Berjangka]

 

Meskipun konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah, sekitar 75% kebutuhan susu di Indonesia masih harus di-supply dari import dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Sedangkan 25% nya berasal dari lokal termasuk dari ULTJ ini. Belakangan ini Pemerintah mencanangkan agar 40% dari kebutuhan susu di Indonesia harus bisa di-supply oleh produsen lokal.

Tentunya ini menjadi peluang tersendiri bagi ULTJ, untuk terus meningkatkan produksinya dan meluaskan kembali pemasarannya.

 

Risiko Berinvestasi di ULTJ

Setelah melihat ULTJ ini dari sudut pandang positif-nya, penulis juga ingin membagikan sudut pandang negatif atau risiko dalam berinvestasi di ULTJ ini.

Sedikit catatan bahwa kendati ULTJ unggul dari kepemilikan kas dan setara kas yang sangat besar, namun di sisi lain, manajemen kurang memanfaatkan kasnya secara maksimal.

Misalkan dengan jumlah kas yang sempat mencapai Rp2,1 triliun di 2017, ULTJ justru menggunakan kasnya untuk membeli Obligasi Pemerintah sebesar US$53 juta (setara Rp735 miliar) sehingga kasnya saat ini berkurang menjadi Rp1,4 triliun.

Dan dari Rp1,4 triliun kas ULTJ saat ini, Rp1,0 triliun di antaranya hanya ditempatkan dalam bentuk deposito.

Permasalahannya adalah baik pembelian Obligasi Pemerintah (Rp735 miliar) dan Deposito (Rp1,0 triliun), hanya menawarkan return yang kecil.

Sebagai gambaran, pembelian Obligasi Pemerintah hanya menawarkan suku bunga 4,6 – 4,7% per tahun. Demikian pula, deposito hanya menawarkan suku bunga 4,4 – 5,7% per tahun.

Prospek Saham ULTJ 04 Suku Bunga Obligasi -Finansialku

Suku Bunga Obligasi Pemerintah. Sumber: Laporan Keuangan Kuartal IV-2018

Prospek Saham ULTJ 05 Suku Bunga Deposito -Finansialku

Tingkat Suku Bunga Deposito ULTJ. Sumber: Laporan Keuangan Kuartal IV-2018

 

Keputusan ULTJ yang menaruh sebagian besar kasnya di dalam deposito, termasuk keputusan membeli Obligasi Pemerintah di atas, sebenarnya cukup agak disayangkan dari sudut pandang investor.

Artinya, dengan menaruh kas di deposito dan pembelian obligasi pemerintah, per tahunnya ULTJ hanya mendapatkan bunga sekitar Rp60 miliar per tahunnya.

Dengan kepemilikan Kas dan Setara Kas ULTJ yang sebesar Rp1,4 triliun di 2018, seharusnya bisa digunakan untuk pengembangan pabrik, ataupun ekspansi lainnya yang dapat membuat Perusahaan bisa mendapatkan return lebih besar dari itu.

Selain itu, meski ULTJ berkemampuan baik secara finansial, hal tersebut tidak turut tercermin dalam pembagian dividen. Bahkan, bisa dikatakan ULTJ termasuk perusahaan yang “cukup pelit” dalam membagikan Dividen.

Kondisi ini ditunjukkan pada pembagian Dividen 2018 kemarin, di mana ULTJ hanya membagikan Dividend per Share Rp10 per lembar saham (setara total Rp116 miliar).

Jika dibandingkan dengan pencapaian laba bersih 2017 yang sebesar Rp708,2 miliar, maka Dividend Payout Ratio (DPR)-nya hanya sekitar 16%. Dan jika dibandingkan dengan harga saham yang di kisaran Rp1.200 – Rp1.300 an, maka Dividend Yield-nya hanya sekitar 0,8%.

Penulis sendiri berpendapat, seharusnya ULTJ dapat memberikan dividen yang lebih besar daripada itu sehingga bisa memberikan value lebih kepada pemegang saham.

 

Prospek Saham ULTJ Ke Depan

Terlepas dari Pro dan Kontra sebelumnya, ULTJ sendiri memang masih terus melanjutkan tren positif pertumbuhannya.

Berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal IV-2018 kemarin ULTJ memang mengalami peningkatan Pendapatan menjadi Rp5,4 triliun, atau naik sekitar 12,5% dari Pendapatan sebesar Rp4,8 triliun di 2017.

Seiring meningkatnya Pendapatan, Beban Pokok Penjualan ULTJ pun turut mengalami kenaikan menjadi Rp3,5 triliun atau naik sekitar 16,6% dari Beban Pokok Penjualan sebesar Rp3,0 triliun di 2017.

Meski mengalami kenaikan Beban Pokok Penjualan, namun Gross Profit ULTJ di 2018 masih mencatatkan peningkatan menjadi Rp1,9 triliun, meningkat sekitar 5,5% dari Gross Profit sebesar Rp1,8 triliun di 2017.

Risiko Investasi dan Prospek Saham ULTJ 05 - Finansialku

[Baca Juga: 10 Saham Termahal Di Dunia, Semahal Apa Yak?]

 

Sayangnya, ULTJ harus mencatatkan penurunan tipis dari Laba Bersih sebesar Rp708 miliar di 2017, turun sekitar -1,5% menjadi Rp697 miliar di 2018 (karena faktor selling expenses).

Meski Laba Bersih menurun, kinerja ULTJ secara keseluruhan memiliki daya tarik tersendiri untuk investasi jangka panjang.

Hal itu bisa terlihat mulai dari Neraca Keuangan ULTJ yang bisa dikatakan hampir tidak pernah bermasalah, apalagi dipusingkan soal utang-utangnya.

Peluang ULTJ untuk bertumbuh ke depannya juga masih berpotensi lebar, tingkat konsumsi susu yang masih rendah dibandingkan dengan negara lainnya justru merupakan suatu opportunity untuk bertumbuh.

Di sisi lain, akan semakin ditingkatkan juga bersamaan dengan rencana Pemerintah yang akan menargetkan industri lokal mampu men-supply 40% dari kebutuhan susu domestik pada tahun 2025 mendatang.

Bersamaan dengan itu, pemerintah juga menargetkan peningkatan konsumsi susu menjadi sekitar 23 liter per kapita di tahun 2025 mendatang dengan asumsi potensi konsumsi susu akan meningkat sekitar 2x lipat dalam waktu 5 – 6 tahun ke depan.

ULTJ sendiri sudah aware akan hal ini, sejalan dengan progres ULTJ akan mengembangkan proyek peternakan sapi perah milik anak usahanya PT Ultra Sumatera Dairy Farm, yang sekitar 69% sahamnya dimiliki oleh ULTJ dan berlokasi di Berastagi – Sumatera Utara.

Nantinya, pengembangan peternakan ini selain untuk meningkatkan produksi susu segar sesuai rencana Pemerintah, juga untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ULTJ.

Bahkan ULTJ melalui anak usahanya ini, sudah menerima populasi sapi dari Australia sejak 2 Oktober 2018. Sedangkan di tahun ini, anak usaha ULTJ ini sudah siap beroperasi dengan sekitar 2.000 sapi perah. Di samping itu untuk jangka panjang, akan beroperasi dengan 6.000 sapi perah.

Di sisi lain, bisnis produk susu ULTJ pun akan terbantu oleh fokus Pemerintah di tahun ini dengan adanya rencana program menggenjot sektor manufaktur dengan penerapan industri 4.0 di lima sektor: Makanan dan Minuman (termasuk ULTJ), Tekstil dan Pakaian, otomotif, Elektronik, dan Kimia.

 

ULTJ di Harga 1200,-an, Apakah Menarik?

Jika dilihat secara valuasi ULTJ yang saat ini dihargai pada 1200-an, mencerminkan valuasi dengan PER 20,4x dan PBV 3,0x.

Sedangkan ROE dari ULTJ saat ini adalah sebesar 15%, tentu valuasi ULTJ ini memang belum bisa dikatakan sangat murah. Namun sebagai catatan, ULTJ sendiri nyaris tidak pernah diperdagangkan pada valuasi yang sangat murah, karena kinerjanya yang memang sangat konsisten.

Namun demikian, jika valuasi saat ini dibandingkan dengan valuasi ULTJ di tahun sebelumnya, di mana ULTJ ini lebih banyak diperdagangkan pada PER 24-30x  dan PBV 3,7-6,0x, maka valuasi saat ini masih terbilang acceptable

Berikut adalah valuasi PER dan PBV ULTJ dalam beberapa tahun terakhir yang bisa Anda jadikan sebagai referensi.

 

Perbandingan Valuasi ULTJ dari 2013 – 2018

Valuasi ULTJ
 PERPBVROE
201820,4x3,0x15%
201721,1x3,7x17%
201618,8x3,0x20%
201522,0x4,1x19%
201436,9x4,8x13%
201340,0x6,5x16%

 

ULTJ ini lebih cocok dijadikan dipegang dalam time frame jangka panjang untuk memberikan profit yang lebih maksimal.

Jika Anda memegang ULTJ ini hanya kurang dari 1 tahun, kemungkinan besar Anda memang belum mendapatkan apa-apa, sehingga ULTJ ini juga kurang cocok untuk trader jangka pendek apalagi scalper.

 

Kesimpulan

Investor perlu mencermati sejumlah kelebihan dan risiko dalam berinvestasi di saham ULTJ.

Beberapa kelebihan ULTJ di antaranya adalah pertumbuhan profitabilitas yang sangat konsisten (Ultrajaya dan Teh Kotak konsisten mempertahankan posisi sebagai market leader), jumlah kas yang sangat besar (sangat likuid), dan potensi pertumbuhan yang masih terbilang sangat besar.

Risiko Investasi dan Prospek Saham ULTJ 04 - Finansialku

[Baca Juga: Mengenal Apa itu Bursa Saham dan Bursa Efek]

 

Namun ULTJ tidak lepas dari beberapa risiko, seperti pengelolaan kas dan setara kas yang kurang maksimal (sebagian besar hanya ditempatkan di deposito dan obligasi pemerintah), dan juga pembagian dividen yang relatif kecil.

Terlepas dari pro dan kontra, Bisnis ULTJ masih memiliki potensi besar di pasar minuman kemasan, seiring dengan tingkat konsumsi susu yang relatif rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Selain itu, kinerja ULTJ juga dapat terdorong dengan program Pemerintah yang ingin industri lokal mampu men-supply 40% dari kebutuhan susu domestik, dan meningkatkan konsumsi susu dari 12 liter per kapita menjadi 23 liter per kapita di tahun 2025 mendatang.

Dengan valuasi saat ini, yaitu PER 20,4x dan PBV 3,0x, ULTJ belum dapat dikatakan salah harga. Namun demikian, valuasi saat ini masih jauh di bawah valuasi ULTJ di tahun-tahun sebelumnya.

Nah, penulis sudah mencoba untuk menjelaskan positive side dan negative side dari ULTJ ini. Sekarang keputusannya di tangan Anda!

 

Apakah artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin investasi?

Jika iya, yuk bagikan artikel ini kepada rekan investor terdekat Anda supaya mereka sama-sama mengetahui informasi berharga ini.

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Prospek Saham ULTJ – https://bit.ly/2YlXniU
  • Produk ULTJ – https://bit.ly/2MAKMS2
  • Kepemilikan Saham – Laporan Tahunan 2017
  • Perusahaan ULTJ – https://bit.ly/2OBndLE
  • Suku Bunga Obligasi Pemerintah – Laporan Keuangan Kuartal IV-2018
  • Tingkat Suku Bunga Deposito ULTJ – Laporan Keuangan Kuartal IV-2018
  • Saham ULTJ 01 – https://bit.ly/3377Ai8
  • Saham ULTJ 02 – https://bit.ly/2LXgUQa