Istilah Purchase Order atau PO pasti sudah sangat familiar di kalangan para pecinta belanja online.  Namun, apa sih arti dari PO tersebut?

Simak ulasannya dalam artikel Finansialku berikut ini.

 

Definisi Purchase Order Adalah

Pernah mendengar istilah purchase order atau PO? Tahu maksud dari istilah ini? Istilah purchase order seringkali kita dengar beberapa waktu belakangan.

Meskipun lumrah digunakan sehari-hari, rupanya masih banyak orang yang bingung maksudnya.

Nah, biar Anda tak mengalami hal serupa, ada baiknya membahas istilah PO dari dasar. Istilah-istilah tersebut sebaiknya dimengerti sehingga akan membuat lebih lega saat melakukan transaksi.

 

Hal-hal yang Wajib Diketahui Tentang Purchase Order (PO)

Purchase order (PO) bisa diartikan sebagai dokumen pembelian barang dari supplier. Dokumen ini biasanya diajukan oleh pembeli untuk disetujui oleh supplier atau pemasok.

Dokumen-dokumen ini sebaiknya dimengerti baik oleh penjual dan pembeli. Menariknya, ada beberapa hal yang berkaitan dengan sistem satu ini, yaitu sebagai berikut.

 

#1 Detail Pembelian

Pengajuan dokumen PO biasanya berisi informasi detail terkait barang yang ingin disuplai. Semakin detail rincian dokumen dibuat, maka makin mudah pula proses pembelian barang tersebut.

Detail pembelian yang dibuat serinci mungkin akan menjadi lebih baik karena bisa meminimalisasi penafsiran ganda.

Definisi Purchase Order PO Adalah 02 - Finansialku

[Baca Juga: Mau Tetap Hemat Saat Belanja Online? Tiru 5+ Jurus Ampuh Berikut Ini]

 

Walaupun hanya berupa dokumen, purchase order bersifat mengikat. Sebab ada aturan hukum yang melindungi proses penyuplaian barang. Sehingga akan memudahkan kedua belah pihak dan menghindari terjadinya kecurangan.

 

#2 Purchase Order dan Purchase Requisition

Kedua istilah ini sering disalahpahami oleh banyak orang. Sebagian besar masih menganggap kedua hal tersebut sama, tak ada bedanya.

Padahal ada perbedaan antara purchase order (PO) dan purchase requisition (PR). Perbedaan antara keduanya ini sebaiknya dimengerti oleh pihak yang melakukan jual beli.

Ini harus benar-benar dipahami oleh para pelaku usaha, agar tidak terjadi kesalahan. Biar Anda tak bingung, kita akan membahas keduanya secara detail.

Untuk PO, Anda tentu telah memahaminya dari penjelasan di atas. Bagaimana dengan istilah purchase requisition?

Purchase requisition atau PR adalah dokumen yang berisi daftar barang pembelian dari konsumen. Secara sederhana, PR bisa dikatakan sebagai dokumen awal sebelum dokumen PO disetujui.

Dari PR inilah manajemen akan mengecek ketersediaan barang yang diinginkan.

Mengapa dokumen PR dibuat kalau sudah ada PO? Supplier tentu harus menjamin ketersediaan barang, agar tak terjadi pembatalan pemesanan sepihak. Oleh sebab itu, PR harus dibuat terlebih dahulu sebelum PO disetujui.

Hal ini untuk menghindari kekecewaan yang dialami oleh pihak pemesan atau masalah di kemudian hari.

 

#3 Invoice dan Purchase Order

Setelah PO dan PR, ada lagi istilah invoice. Berbeda dari PO, invoice lazimnya dikeluarkan oleh pihak supplier. Dokumen ini tetap berisikan daftar pesanan barang sekaligus persetujuan atas PO.

Di dalamnya, pembeli akan menemukan berbagai informasi lengkap terkait pemesanan. Saat invoice dikirimkan ke konsumen, artinya konsumen harus segera melakukan pembayaran.

Kekuatan hukum invoice pun sudah sah di mata hukum.

 

#4 Metode Pembayaran

Akhir dari purchase order tentu saja sistem pembayaran yang jelas. Sebenarnya, metode pembayaran serta pengiriman barang telah diatur secara rinci dalam invoice.

Semuanya telah disesuaikan dengan keinginan dan kesepakatan kedua belah pihak. Bahkan metode pengiriman barang pun telah ditentukan bersamaan dengan pembayaran.

Pembeli tidak bisa melakukan pembatalan atau perubahan sepihak, ketika semua proses telah berjalan. Itulah mengapa pembeli butuh memastikan semua detail informasi sedari awal.

 

Pentingnya Sistem PO dalam Sistem Jual Beli Digital

Sudah tahu bukan arti dari purchase order? Di era serba modern seperti sekarang, sistem PO ini hadir dalam bentuk digital.

Pembeli tak perlu lagi mengirimkan dokumen secara manual. Kini, supplier telah menerima pemesanan barang melalui digital.

Cara ini dinilai lebih efektif, sebab meminimalisasi terjadinya kesalahan input serta kehilangan dokumen. Seperti yang kita tahu, dokumen memang rentan terselip atau hilang begitu saja.

Tulisan di lembar dokumen tak jarang rusak akibat beberapa hal. Pada akhirnya, PO digital dirasa lebih efektif bagi kedua belah pihak.

Jika Anda sudah memulai bisnis, ada baiknya, yuk, pelajari cara memisahkan dan mengalokasikan keuangan pribadi dan bisnis. Anda bisa membacanya dalam ebook gratis Finansialku berikut ini.

Free Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

Jadi, apakah Anda lebih suka memesan barang secara PO atau lainnya? Bagikan artikel menarik ini kepada para pelaku bisnis terutama di era digital ya, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Karunia Saputra Hidayat. 29 December 2018. Contoh Purchase Order (PO) dan Perbedaannya dengan Purchase Requisition (PR). Jurnal.id – http://bit.ly/2Mfgk1t
  • Diana Kusumasari, S.H., M.H. Apakah Purchase Order (PO) Bisa Dianggap Sebagai Perjanjian? Hukumonline.com – http://bit.ly/2HM31jc
  • Kanya Anindita. 01 Agustus 2018. Apa itu Purchase Order dan Apa Kegunaannya bagi Bisnis Anda? Hashmicro.com – http://bit.ly/2HJQ49N
  • Shan. 27 Februari 2018. Pengertian, Manfaat Purchase Order dan Cara Membuatnya. Siscomonline.co.id – http://bit.ly/2WgNh1e

 

Sumber Gambar:

  • PO 1 – http://bit.ly/2LZWebh
  • PO 2 – http://bit.ly/2JDf4mH
  • PO 3 – http://bit.ly/2M2Np0f