Apakah Sobat Finansialku tahu definisi nilai buku per saham (PBV)? Yuk, temukan jawabannya di artikel kali ini.

Jangan sampai melewatkan informasi penting ini ya, selamat membaca.

 

Mengenal Definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah

Sobat Finansialku, dalam dunia saham terdapat berbagai istilah yang sering digunakan, salah satunya Price to Book Value yang disingkat PBV.

PBV atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Rasio Harga terhadap Nilai Buku, yaitu rasio valuasi investasi yang digunakan para investor untuk membandingkan nilai pasar sebuah saham perusahaan dengan book value (nilai buku)-nya.

Nilai buku yang dimaksud adalah nilai per lembar saham (nilai saham saat saham dijual untuk pertama kalinya kepada investor).

Definisi lain mengenai nilai buku dilansir dari bigbrothersinvestment.com, yaitu nilai atau valuasi suatu perusahaan apabila diharuskan untuk dilikuidasi (dijual karena bangkrut).

Sebagai nilai aset perusahaan, nilai buku ini tercantum dalam laporan keuangan atau balance sheet dan dihitung dengan cara mengurangkan kewajiban perusahaan dari asetnya (Nilai Buku = Aktiva – Kewajiban).

Definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah - 02 - Finansialku

[Baca Juga: Definisi Dividend Yield Adalah]

 

Manfaat Mengetahui Definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah

Bagi investor, adanya PBV sangat membantu dalam mengambil langkah tepat di dunia saham apakah akan membeli atau tidak membeli suatu saham tertentu. Beberapa manfaat dari PBV ini antara lain:

  1. Investor bisa melihat jumlah pemegang saham yang membiayai aset bersih perusahaan;
  2. Menilai perusahaan yang memiliki aset tetap berwujud (tangible assets) yang besar. Aset-aset tetap berwujud itu diantaranya, bangunan, mesin, peralatan, dan lain-lain;
  3. Memeriksa posisi finansial sebuah perusahaan dengan tepat
  4. Membantu investor membandingkan nilai pasar atau harga saham yang mereka bayar per saham dengan ukuran tradisional nilai suatu perusahaan.

 

Merujuk pada beberapa manfaat diatas, Rasio PBV ini dapat menunjukan apa yang akan didapatkan oleh pemegang saham setelah perusahaan terjual dengan semua hutangnya telah dilunasi.

FYI, Rasio PBV cocok digunakan pada perusahaan yang memiliki aset tetap berwujud (tangible assets) yang besar karena tidak memperhitungkan aset yang tidak berwujud (intangible assets).

Misalnya pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, seperti bank dan perusahaan asuransi, mengingat perusahaan-perusahaan tersebut memiliki aset keuangan yang sangat besar.

Umumnya, nilai PBV yang banyak dicari berada di atas satu, tapi juga tidak terlalu tinggi, karena rasio PBV yang rendah merupakan tanda yang baik bagi perusahaan. Hal ini dianggap sebagai indikator harga saham yang masih murah.

Melansir laman kamus.tokopedia.com, jika nilai buku per saham perusahaan lebih tinggi dari nilai pasar per sahamnya, maka sahamnya “Undervalued” atau “Murah” yang berarti perdagangan saham lebih rendah dari harga yang ditentukan pasar.

Tapi apabila nilai buku per saham perusahaan lebih rendah dibandingkan dengan nilai pasar per sahamnya, maka saham perusahaan tersebut dapat dikatakan kemahalan atau “Overvalued” atau harga saham lebih tinggi dari harga yang ditentukan Pasar.

So, PBV ini dapat menentukan apakah saham suatu perusahaan telah “Overvalued” atau masih “Undervalued”.

 

Rumus Menghitung Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah

Sobat Finansialku, untuk melihat rasio PBV atau rasio harga terhadap nilai buku ini, terdapat rumus perhitungannya, yaitu dengan membagi harga per lembar saham sebuah perusahaan dengan nilai buku per lembar saham (Book Value per Share).

Price to Book Value (PBV) = Stock Price per Share / Book Value per Share

 

Atau dalam bahasa Indonesia yaitu:

Rasio Harga terhadap Nilai Buku = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham.

 

Itulah rumus untuk menghitung rasio PBV atau harga terhadap nilai buku yang bisa Anda gunakan, sebelum memutuskan untuk membeli atau tidaknya saham tertentu. Supaya lebih jelas, kali ini saya akan memberikan contoh perhitungannya.

Jika diperlukan, Anda bisa menyiapkan buku catatan ya..

Definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah - 03 - Finansialku

[Baca Juga: Apa Manfaat dan Keuntungan Emiten Buyback Saham?]

 

Contoh Perhitungan Rasio PBV

Merujuk pada rumus perhitungan yang sudah dijelaskan, berikut adalah contoh perhitungannya dilansir dari ilmumanajemenindustri.com:

Dalam laporan keuangan Bank Tabungan Negara Tbk per tanggal 03 November 2017, Harga per lembar saham Bank Tabungan Negara Tbk dengan kode emiten BBTN adalah sebesar Rp 2.880

Sementara nilai buku per saham adalah sebesar Rp 1.944

Diketahui:

Harga per lembar saham = Rp 2.880

Nilai buku per lembar saham = Rp 1.944

Rasio harga terhadap nilai buku = ??

Pertanyaan:

Berapakah rasio PBV atau rasio harga terhadap nilai buku BBTN?

Jawaban:

Price to Book Value = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham

Price to Book Value = Rp 2.880 / Rp 1.944

Price to Book Value = 1,48 kali

Jadi Price to Book Value atau PBV Bank Tabungan Negara Tbk adalah sebesar 1,48 kali.

FYI, perusahaan dengan PBV dibawah angka “1” biasanya dianggap sebagai saham yang harganya murah sedangkan rasio PBV diatas nilai “1” dapat dianggap sebagai saham yang berharga mahal.

banner_jangan_asal,_ketahui_ini_dulu_sebelum_investasi_saham

 

Kekurangan Rasio PBV

Berbagai manfaat rasio PBV sebagai indikator bagi investor dalam mengambil keputusan memang sangat berguna.

Sayangnya, rasio PBV ini memiliki kekurangan yaitu untuk beberapa jenis perusahaan, rasio PBV dinilai kurang relevan karena adanya kesulitan mendasar bagi akuntansi tradisional untuk perusahaan berbasis teknologi tinggi.

Sebagaimana diketahui, aset utama perusahaan jenis ini adalah “intellectual property” yang merupakan “great value” yang sulit dicatatkan dalam akuntansi keuangan biasa.

Sehingga book value perusahaan jenis ini tidak merefleksikan kekayaan sebenarnya dari perusahaan teknologi ini.

Secara umum nilai PBV ini lebih diminati oleh value investor ketimbang growth investor.

 

Selain PBV, Pertimbangkan 5 Rasio Keuangan Ini Sebelum Membeli Saham

Sobat Finansialku, meskipun rasio PBV memiliki berbagai manfaat yang bisa membantu investor dalam mengambil keputusan. Namun perlu diketahui bahwa rasio PBV hanya merupakan salah satu indikatornya saja.

Selain rasio PBV, terdapat beberapa rasio keuangan lainnya yang bisa digunakan untuk memilih saham yang akan dibeli atau dijual. Tentunya, Anda tidak ingin salah mengambil langkah, kan?

Nah, rasio keuangan berikut ini bisa Anda gunakan untuk melihat harga wajar saham, apakah perusahaannya bertumbuh, melihat proporsi hutang, dan imbal hasil yang diberikan jika kamu berinvestasi di saham tersebut untuk jangka panjang.

Penasaran? Simak beberapa rasio keuangan yang harus Anda perhatikan sebelum mengambil keputusan, berikut ini:

Definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) Adalah - 04 - Finansialku

[Baca Juga: Investasi Saham dengan Cuan Ratusan Persen, Jawab Pertanyaan Ini]

 

#1 Earning per Share (EPS)     

Rasio keuangan yang pertama adalah Earning Per Share (EPS) yaitu laba perusahaan dibagi per lembar saham.

Semakin meningkat nilai EPS dari tahun ke tahun, maka perusahaan tersebut semakin baik karena laba perusahaan meningkat, serta perusahaan dapat dikatakan bertumbuh.

Apabila suatu saham memiliki nilai EPS Rp 500, maka saham tersebut menghasilkan laba sebesar Rp 500 setiap lembar sahamnya.

 

#2 Price to Earning Ratio (PER)

Selanjutnya, rasio keuangan kedua yaitu Price to Earning Ratio disingkat dengan PER. Adalah rasio yang menggambarkan harga saham sebuah perusahaan dibandingkan dengan keuntungan atau laba yang dihasilkan perusahaan tersebut (EPS).

Analisa PER suatu perusahaan dapat dilakukan dengan cara membandingkan PER dalam industri sejenis.

Jika PER lebih kecil dari rata-rata emiten lainnya dalam industri sejenis, maka harga perusahaan dianggap relatif lebih murah. Saham dengan PER yang rendah banyak diminati oleh investor. 

 

#3 Return on Equity (ROE)

Rasio keuangan yang ketiga adalah Return on Equity atau ROE. Semakin tinggi ROE, maka perusahaan tersebut semakin baik.

Biasanya, investor memilih perusahaan dengan ROE yang tinggi karena perusahaan tersebut dapat mengelola modalnya sehingga menghasilkan laba besar.

ROE bisa dianalisa dengan membandingkan ROE pada perusahaan dalam industri sejenis dan juga membandingkan ROE dengan periode sebelumnya. Semakin meningkat ROE, artinya perusahaan tersebut semakin bertumbuh.

 

 

#4 Debt to Equity Ratio (DER)

Nah, rasio keuangan yang keempat adalah Debt to Equity Ratio (DER). Yaitu rasio untuk melihat berapa besar utang dibandingkan total ekuitas yang dimiliki perusahaan. Utang yang besar dapat menjadi risiko bagi suatu perusahaan.

Dalam menilai kesehatan utang suatu perusahaan, berikut dapat dijadikan acuan dalam menganalisis:

  • DER > 1: Berarti utang suatu perusahaan lebih besar daripada ekuitasnya.
  • DER < 1: Berarti utang suatu perusahaan lebih kecil daripada ekuitasnya.

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki DER < 1. Hal ini menunjukkan utang masih dapat ditoleransi.

 

#5 Dividend Yield (DY)

Rasio keuangan kelima adalah Dividend Yield (DY) atau rasio hasil dividen merupakan dividen per lembar saham dibagi dengan harga saham.

Rasio ini menunjukkan seberapa besar keuntungan yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham. Apabila suatu saham memiliki dividend yield (DY) yang tinggi, biasanya harga saham akan naik pada saat pengumuman dividen.

Investor jangka panjang sangat tertarik dengan dividend yield (DY) karena mengharapkan return yang konsisten setiap tahunnya.

Nah, dengan rasio PBV maka total terdapat 6 rasio yang harus dipertimbangkan investor, dan menganalisa saham yang lebih baik.

 

Jangan Salah Melangkah

Sobat Finansialku, sekarang Anda sudah paham definisi Nilai Buku Per Saham (PBV) kan?

Melihat cukup banyak manfaat ketika memperhitungkan rasio PBV sebelum memutuskan membeli saham, jadi Anda harus lebih berhati-hati supaya tidak salah melangkah.

Selain memperhatikan rasio PBV sebagai salah satu indikator, Anda pun mendapat referensi mengenai rasio keuangan lainnya yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum berinvestasi.

Selamat mencoba..

 

Setelah membaca artikel ini, apakah ada yang ingin Anda diskusikan? Silakan tulis di kolom komentar di bawah ini.

Semoga artikel ini memberikan manfaat yang bisa menambah referensi Anda dalam menggeluti dunia saham. Akan lebih baik jika informasi ini juga diketahui lebih banyak orang, Anda bisa membantu untuk membagikannya ya. Terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Akaibara. 12 Juni 2020. Cara Menghitung Rasio Price to Book Value (PBV). Pikirantrader.com – https://bit.ly/3kUvhU0
  • Budi Kho. 5 November 2017. Pengertian PBV (Price to Book Value) dan Rumus PBV. Ilmumanajemenindustri.com – https://bit.ly/2OvXLYm
  • Redaksi. 22 Agustus 2019. CARA MENGHITUNG PRICE TO BOOK VALUE PBV. Bbigbrothersinvestment.com – https://bit.ly/2Owsc0n
  • Redaksi. Nilai Buku Per Saham. Kamus.Tokopedia.com – https://bit.ly/3ekWiyI
  • Redaksi. 1 November 2019. Pelajari 6 Rasio Keuangan Berikut untuk Memudahkan Kamu dalam Memilih Saham. Most.co.id – https://bit.ly/30lUHjV

 

Sumber Gambar:

  • 01 – https://bit.ly/3qPOsji
  • 02 – https://bit.ly/2P391M4
  • 03 – https://bit.ly/3bSYP1C
  • 04 – https://bit.ly/3rScFH0