Apakah sobat Finansialku tahu istilah latte factor? Apakah kamu ingin tahu bagaimana caranya supaya kamu bisa menghadapi latte factor tersebut?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Memiliki Gaji Pertama

Saat pertama kali mulai berkarir, tentu saja kita baru bisa menikmati pendapatan pertama kita.

Dari yang awalnya waktu kuliah mau beli barang apapun harus menabung dan berhemat.

Saat mulai memiliki gaji pertama, tentu kita ingin membeli barang apapun yang kita inginkan semasa kuliah yang tidak bisa kita beli.

Selain itu, saat kita mulai bekerja, biasanya sudah mengenal dengan kartu kredit atau bahkan pinjaman online.

Lalu, apakah hal tersebut salah?

Sebenarnya, kalau sobat Finansialku sudah memahami betul bagaimana keadaan keuanganmu, tidak ada salahnya untuk mengambil utang tetapi kamu harus tahu bagaimana kamu akan membayarnya.

Tidak jarang juga kita membeli barang tanpa berpikir apakah kita masih memiliki anggarannya atau tidak, yang penting kita bahagia, meskipun sesaat.

Buat sobat Finansialku yang masih ada di fase ini, saran saya adalah nikmati saja.

Karena nanti pun kalian akan sampai di sebuah titik di mana “this kind of habit is not healthy, I need to stop it immediately!”

Tips Perencanaan Keuangan yang Tidak Musti Anda Lakukan 1 Finansialku

[Baca Juga: 6 Tips Perencanaan Keuangan yang Tidak Musti Anda Lakukan!]

 

Kembali lagi, guru terbaik dalam hidup ini adalah pengalaman, jika kamu belum pernah mengalaminya biasanya omongan orang kanan dan kiri tidak akan didengar.

Maka, jika kamu masih dalam fase beli ini itu seenak jidat, I think this is your moment. But you should know when to stop before it’s too late 😊

Bagi kalian yang masih di fase menikmati gaji pertama atau yang sudah mulai sadar beli barang impulsif ini itu, tahukah kamu bahwa kamu memiliki latte factor.

Apa sih latte factor ini?

 

Latte Factor

Istilah Latte factor dipopulerkan oleh David Bach dalam buku The Automatic Millionaire.

Dalam buku tersebut, latte factor ini dideskripsikan sebagai pengeluaran-pengeluaran yang kecil dan dikeluarkan setiap hari tetapi jika dijumlahkan dalam jumlah tahunan, pengeluaran tersebut menjadi sangat besar.

Pengeluaran kecil-kecil ini juga ternyata tidak membawa value ke kehidupan kita.

Bisa pengeluaran pembelian boba setiap hari, yang sebenarnya kita juga tidak haus-haus amat dan masih bisa minum air putih.

Atau misalnya, pesan makan online, semakin banyak jumlah orderannya nanti bisa menambah untuk mendapatkan diskon.

Ternyata kalau kita menggunakan ini setiap hari, bukannya hemat yang didapat tetapi malah jadi jauh lebih boros.

Faktor latte ini juga menunjukkan kalau kamu secara tidak dasar bisa hidup dengan gaya hidup seperti orang kaya dengan membelanjakan uang kamu tanpa berpikir panjang apakah uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih utama.

Oke, sampai penjelasan latte factor apakah kamu sudah mendapatkan the whole idea of latte factor?

If yes, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk menghentikan kebiasaan latte factor ini?

 

Bagaimana Caranya Menghentikan Latte Factor?

Sekarang, saya akan memberi tahu bagaimana caranya menghentikan latte factor.

Sambil membaca penjelasannya, Sobat Finansialku bisa menonton video penjelasan saya soal mengatasi latte factor di bawah ini, lho!

 

Tips Hentikan Latte Factor #1 Membuat Rencana Belanja

Langkah pertama adalah ketahui rencana sobat Finansialku dalam membelanjakan gaji bulanan.

Sobat Finansialku yang ingin lebih mudah membuat rencana belanja, sobat Finansialku bisa mendownloadnya di Google Play Store dan Apple App Store, ya!

Sobat Finansialku bisa coba urutkan pengeluaran yang wajib dan pasti dikeluarkan, sehingga sobat Finansialku bisa mengetahui sebenarnya berapa pengeluaran sobat Finansialku perbulannya.

5 Cara Saya Membuat Perencanaan Keuangan Pribadi dengan Aplikasi Finansialku 04 - Finansialku

[Baca Juga: 6 Manfaat Perencanaan Keuangan Untuk Keluarga Anda]

 

Dalam aplikasi finansialku, terdapat menu anggaran keuangan yang bisa dimanfaatkan untuk melihat beberapa daftar pengeluaran.

Di aplikasi ini, kita bisa membaginya berdasarkan pengeluaran produktif dan konsumtif.

Pengeluaran produktif ini adalah pengeluaran yang kita keluarkan saat ini tetapi kita akan mendapatkan manfaatnya di masa depan.

Contoh dari pengeluaran produktif adalah; pajak, sedekah atau donasi, tabungan dan investasi, premi asuransi, cicilan dan utang.

Selanjutnya adalah pengeluaran konsumtif, pengeluaran yang kita konsumsi sehari-hari.

Contoh dari pengeluaran konsumtif adalah; anak, belanja bulanan rumah tangga, hobi, kendaraan, liburan, makanan, dll.

Akan lebih tepat jika sobat Finansialku menulis rencana pengeluaran secara lebih rinci.

Rencana pengeluaran ini dinamakan anggaran keuangan yang berfungsi untuk mengetahui rencana pengeluaran bulanan sobat Finansialku.

Piramida Keuangan (Perencanaan Keuangan) - Finansialku

[Baca Juga: Begini Lho, Tips Perencanaan Keuangan Usia 40 an! Terbukti Sukses]

 

Anggaran keuangan ini bisa dimasukkan ke dalam data di aplikasi setiap kita mendapatkan gaji atau pendapatan.

Fungsinya anggaran keuangan ini juga untuk menjadi pedoman dalam mengalokasikan gaji per bulannya.

 

#2 Catat Pengeluaran Harian

Setelah membuat rencana pengeluaran bulanan, saatnya sobat Finansialku membelanjakan gaji sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.

Nah, ketika membelanjakan uang untuk kebutuhan sehari-hari, jangan lupa untuk mencatatnya, ya!

Sobat Finansialku bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran menggunakan aplikasi Finansialku di menu catatan keuangan dan nanti di menunya akan terlihat uang masuk, uang keluar dan transfer.

Catatan keuangan ini hanya diisi uang yang masuk dan keluar baik dari rekening maupun dari dompet.

Dengan membuat catatan keuangan, sobat Finansialku akan lebih mudah untuk memantau ke mana saja uang perginya.

 

#3 Tuliskan Apa Saja yang Ingin Dibelanjakan

Oh ya, sobat Finansialku juga harus menulis kamu apa saja yang ingin dibelanjakan setiap bulannya.

Hal ini dilakukan supaya memudahkan sobat Finansialku untuk mengatur dan mengalokasikan uang untuk pengeluaran yang wajib.

Tidak ada salahnya jika sobat Finansialku ingin jajan boba atau membeli barang yang diinginkan.

Dengan catatan, sobat Finansialku sudah menganggarkannya dan pengeluaran produktif tidak sampai terganggu.

Yang salah adalah ketika sobat Finansialku tidak menganggarkan belanja keinginan kamu atau untuk keperluan self-love kamu dan mengganggu pengeluaran produktif.

 

Yuk #HargaiKerjaKerasmu Dengan Mengatur Keuangan

Sudah saatnya sobat Finansialku #HargaiKerjaKerasmu mencintai diri dengan mengatur keuangan.

Apalagi jika sobat Finansialku ingin mendapatkan hidup yang tenang dan sejahtera.

Jika sobat Finansialku ingin belajar lebih banyak mengenai perencanaan keuangan, bisa membaca ebook mengenai perencanaan keuangan usia 20-an di bawah ini, gratis!

Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 20 an Perencana Keuangan Independen Finansialku

 

Download Sekarang

 

Kalau sobat Finansialku masih bingung untuk mengatur keuangan, jangan ragu untuk meminta bantuan pada ahlinya.

Sobat Finansialku bisa menghubungi saya atau perencana keuangan Finansial lainnya melalui aplikasi Finansialku.

 

Caranya:

  1. Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store.
  2. Gunakan menu Konsultasi Keuangan
Cara Konsultasi Keuangan dengan aplikasi Finansialku

Cara Konsultasi Keuangan dengan aplikasi Finansialku

 

Setelah membaca artikel ini, saya yakin sobat Finansialku telah mengetahui bagaimana caranya mengurangi bahkan menghentikan latte factor.

Jangan lupa untuk bagikan informasi ini kepada teman atau saudara yang belum mengetahui tentang bagaimana caranya mengurangi bahkan menghentikan latte factor yang dialaminya. Semoga bermanfaat!

 

Sumber Referensi:

  • Jeremy Biberdorf. 19 Juni 2012. The Latte Factor Explained. Modestmoney.com – https://bit.ly/39S6SIh