Sudah kenalkah Anda metode Price to Cash Flow Ratio untuk menghitung valuasi harga saham?

Dalam artikel ini Rivan Kurniawan akan membahas perhitungan valuasi harga saham yang lebih akurat dengan metode Price to Cash Flow Ratio

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Ini Dia Metode Perhitungan Harga Saham yang Harus Anda Pahami

Untuk menilai murah atau mahalnya harga saham, kebanyakan investor menggunakan metode Price to Earning Ratio (P/E Ratio). Metode ini lebih sering digunakan karena lebih familiar bagi para investor, terutama yang masih pemula.

Padahal ada metrics lain yang bisa menggambarkan valuasi sebuah perusahaan dengan tingkat akurasi lebih tinggi, yaitu metode Price to Cash Flow Ratio (P/CF Ratio).

Mengenal Model Bisnis Saham 04 Memahami Kompetitor - Finansialku

[Baca Juga: Tips Membeli Saham yang Kurang Likuid, Apakah Menguntungkan Beli Saham yang Kurang Likuid?]

 

Price to Cash Flow Ratio memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan Price to Earning Ratio, namun sudut pandangnya berbeda.

Meskipun mirip, Price to Cash Flow Ratio memiliki keunggulan dibandingkan dengan Price to Earning Ratio. Apa yang membedakan keduanya? Dan apa saja elemen yang diperlukan sebagai bahan perhitungan?

 

#1 Price to Earning Ratio (P/E Ratio)

Dalam metode P/E Ratio, kita dapat melihat saham mana yang undervalued dan overvalued dengan berfokus pada laba bersih (net profit) yang ada di laporan laba rugi.

Padahal, seperti kita ketahui dalam beberapa situasi, bisa jadi Laporan Laba Rugi sebuah perusahaan mengandung yang disebut non-cash earnings.

 

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Bentuk non-cash earnings di antaranya adalah depresiasi dan amortisasi, selisih kurs mata uang asing, serta revaluasi aset tetap yang akan memengaruhi jumlah laba bersihnya.

Itulah mengapa, jika kita menggunakan P/E Ratio, yang di dalam laporan laba ruginya mengandung elemen-elemen tersebut, hasilnya menjadi kurang valid.

 

#2 Price to Cash Flow Ratio (P/CF Ratio)

Apabila P/E Ratio berfokus pada laba bersih, metode ini menaruh perhatian pada arus kas operasi, yang secara akurat melacak jumlah uang tunai masuk dan keluar di dalam operasional sebuah perusahaan.

Dengan begitu, rasio ini lebih mencerminkan valuasi sebuah perusahaan. Rasio ini juga lebih berguna untuk memvaluasi saham yang memiliki positive cash flow namun memiliki laba bersih yang negatif (misalkan karena non-cash charges).

P/CF Ratio dipercaya merupakan indikator valuasi yang lebih baik ketimbang P/E Ratio, karena faktor Laporan Arus Kas yang jauh lebih sulit untuk dimanipulasi (seperti depresiasi dan non-cash items yang dijelaskan pada bagian sebelumnya).

Meskipun demikian, penting untuk Anda ingat bahwa tidak ada rasio tolok ukur yang 100% akurat menunjukkan apakah suatu saham undervalued atau tidak.

Sebaliknya, Anda harus membandingkan rasio tersebut dengan rasio perusahaan yang sebanding untuk mendapatkan nilai relatifnya.

Untuk mencegah Anda salah mengambil keputusan dalam berinvestasi saham, pelajari dasar-dasar dan kiat sukses investasi saham lewat ebook Finansialku. Download ebook Panduan Berinvestasi Saham Bagi Pemula sekarang juga, gratis!

 

Free Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Formula Perhitungan Price to Cash Flow Ratio

Setelah membahas perbedaan antara kedua metode di atas, kini kita akan bahas cara perhitungan metodenya.

Ada 2 cara untuk menghitung P/CF RatioCara pertama adalah dengan membagi market cap perusahaan dengan operating cash flow di tahun fiskal yang terbaru.

Cara kedua adalah dengan membagi harga saham saat ini dengan operating cash flow per lembar saham. 

Cara kedua ini cukup mudah, karena Anda cukup membagi operating cash flow dengan jumlah saham yang beredar.

 

Iklan Banner Perencanaan Dana Membeli Rumah - 728x90

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Agar lebih mudah dimengerti, saya akan paparkan contoh kasus perhitungan P/CF Ratio dengan menggunakan formula sebagai berikut:

 

Contoh Kasus Perhitungan Price to Cash Flow Ratio

Kita akan menggunakan saham GJTL (PT Gajah Tunggal Tbk) sebagai contoh kasus kali ini.

Saya menggunakan GJTL sebagai contoh kasus, karena kebetulan GJTL ini secara laba bersih sedang tertekan (akibat pengaruh non-cash charges seperti selisih kurs mata uang asing).

Catatan: Penulis menggunakan Laporan Keuangan Audit 2017, karena operating cash flow Q1 2018 GJTL sebesar Rp1 triliun cukup anomali jika dibandingkan dengan historical tahun-tahun sebelumnya.

Harga Saham Murah Gajah Tunggal 02 Finansialku

[Baca Juga: Para Investor, Ketahuilah Bahwa Setiap Investor Itu Unik dan Berbeda!]

 

Di dalam laporan keuangan GJTL Audit 2017, kita akan mendapatkan informasi sebagai berikut:

  • Laba Bersih: Rp45,0 miliar
  • Earnings per Share: Rp12,9 per lembar saham
  • Operating Cash Flow: Rp738,8 miliar
  • Jumlah Saham Beredar: Rp3.485 miliar

 

Untuk menghitung P/CF Ratio, kita perlu menghitung Cash Flow per Share terlebih dahulu dengan formula berikut:

Cash Flow per Share = Operating Cash Flow : Jumlah Saham Beredar

 

Dengan formula di atas, kita mendapatkan hasil Cash Flow per Share GJTL sebagai berikut:

Cash Flow per Share = Rp738,8 miliar : Rp3.485 miliar = Rp212,0

 

Setelah kita mendapatkan hasil Cash Flow per Share, maka sekarang kita bisa menghitung Price to Cash Flow Ratio dengan formula sebagai berikut:

Price to Cash Flow Ratio = Share Price : Cash Flow Per Share

 

Dengan formula di atas, kita akan mendapatkan hasil Price to Cash Flow Ratio GJTL sebagai berikut:

P/CF Ratio = 700 : Rp212,0 = 3,3 x 

 

Contoh Kasus Perhitungan Price to Earning Ratio

Untuk membandingkan mana metode yang lebih akurat untuk menggambarkan valuasi sebuah perusahaan, mari kita coba hitung menggunakan metode P/E Ratio GJTL:

Price to Earning Ratio = Share Price : Earnings Per Share

 

Dengan formula di atas, kita akan mendapatkan hasil Price to Earnings Ratio GJTL sebagai berikut:

P/E Ratio = 700 : Rp12,9 = 52,6 x

 

Dari kedua perhitungan di atas, Anda bisa amati sendiri ‘kan perbedaannya?

Sebelumnya, saya sudah mengatakan bahwa Laba Bersih GJTL sedang tertekan karena faktor non cash charges.

Karena faktor non cash charges tadi yang menyebabkan laba bersih GJTL tertekan, maka Price to Earning Ratio-nya secara formula menjadi 52,6 x alias sangat mahal.

Namun, jika kita membandingkannya dengan Price to Cash Flow Ratio, secara formula hasilnya adalah 3,3 x alias masih undervalued.

Inilah yang saya maksud di atas bahwa Price to Cash Flow Ratio merupakan indikator valuasi yang lebih baik dan lebih akurat.

 

Interpretasi Price to Cash Flow Ratio

Angka yang Anda terima saat menggunakan Price to Cash Flow Ratio (P/CF Ratio) disebut kelipatan arus kas.

Misalkan di atas kita telah menghitung bahwa P/CF Ratio GJTL adalah 3,3. Dengan kata lain, investor berani untuk membayar Rp3,3 untuk setiap 1 rupiah kas yang dihasilkan.

Level yang optimal dari rasio tergantung pada sektor di mana perusahaan beroperasi dan juga di level mana perusahaan saat ini.

Perusahaan yang masih dalam tahap growth company misalkan, bisa saja divaluasi lebih mahal daripada bisnis yang sudah dalam tahap mature company.

Investor berani membayar lebih mahal untuk perusahaan dalam growth company karena prospek pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan prospek pertumbuhan perusahaan dalam mature company.

Kenali Metode Price To Cash Flow Ratio dalam Valuasi Harga Saham, Lebih Akurat 1 Finansialku

[Baca Juga: The Beauty of Investing: Pahami Seluk Beluknya dan Nikmati Keuntungannya]

 

Anda juga bisa mengevaluasi P/CF Ratio ini terhadap emiten lain di industri yang sama sebagai perbandingan.

Jika P/CF Ratio dari perusahaan yang Anda invest lebih rendah ketimbang P/CF Ratio kompetitor, maka bisa jadi Anda sedang memegang saham yang lebih undervalued ketimbang kompetitor.

Secara konsep, tidak ada patokan berapa P/CF Ratio yang optimal, namun yang bisa kita jadikan pegangan adalah semakin rendah P/CF Ratio, maka bisa dikatakan harga sahamnya semakin undervalued.

Sebaliknya, semakin tinggi P/CF Ratio, maka bisa dikatakan semakin mahal harga sahamnya (overvalued).

Namun pada praktiknya, saya sendiri menggunakan P/CF Ratio < 8.0 sebagai patokan.

 

Kesimpulan

Price to Cash Flow Ratio (P/CF Ratio) merupakan indikator valuasi yang mencerminkan perbandingan antara harga saham saat ini dengan Cash Flow per Share yang bisa dihasilkan oleh sebuah perusahaan.

Besaran P/CF Ratio ini berbanding lurus dengan harga sahamnya. Semakin rendah rasionya, semakin undervalued harga sahamnya. Sebaliknya, semakin tinggi rasionya, maka harganya semakin overvalued.

Namun, jangan menelan mentah-mentah hasil perhitungan ini. Anda juga perlu mengkritisi mengapa P/CF Ratio perusahaan bisa dinilai rendah. Apakah memang karena sedang “salah harga” atau karena prospek dan kinerja fundamentalnya yang buruk, sehingga memang sudah sepantasnya dihargai murah.

Atau mungkin ada keadaan khusus lainnya mengapa rasio sangat rendah. Sebagai contoh, perusahaan mungkin akan melalui litigasi yang sangat melelahkan yang menekan harga sahamnya, atau perusahaan mungkin berada di tengah-tengah skandal akuntansi.

Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya mengandalkan satu rasio ini saja. Anda tetap perlu memperhatikan metrics keuangan lainnya untuk memastikan kesehatan keuangan perusahaan.

 

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda! Jika Anda memiliki pendapat tentang metode perhitungan yang telah dibahas di atas, silakan tuangkan ke dalam kolom komentar di bawah ini. Terima kasih!

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Price to Cash Flow Ratio – https://goo.gl/VSaLZw
  • Price to Cash Flow Ratio 2 – https://goo.gl/fXb92E