Tahun 2019, MNCN cukup agresif berekspansi, termasuk aksi korporasi. Tak pelak saham MNCN bergerak fluktuatif. Apa saham ini layak dikoleksi?

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Company Profile MNCN

PT Media Nusantara Citra Tbk. berdiri pada 17 Juni 1997 dan resmi tercatat dalam BEI pada 22 Juni 2007 dengan kode saham MNCN.

Hingga saat ini, MNCN mengoperasikan 4 dari 11 stasiun Free-To-Air (FTA) TV dan juga memiliki bisnis inti dalam memproduksi dan mendistribusikan konten televisi.

MNCN juga memiliki radio, media cetak, talent management, dan perusahaan produksi TV.

MNCN terbentuk sebagai bentuk konglomerasi perusahaan yang cukup besar, terdiri dari grup Media dan grup Jasa Keuangan.

Dari sisi grup Media, MNCN memiliki dan mengendalikan aset media terbesar di Asia Tenggara yang terdiri dari 4 stasiun televisi Free-To-Air Nasional (RCTI, MNCTV, GITV, dan iNewsTV), DTH TV Berlangganan terbesar (MNC Vision), jaringan broadband tetap dan IPTV (MNC Play), dan layanan OTT (MNC Now).

Beserta dengan media lainnya, termasuk portal umum dan berita (Okezone, Sindonews.com, iNews.id), Koran Sindo, jarigan radio nasional dan beberapa aplikasi digital.

Banyak Aksi Korporasi, Layakkah Saham MNCN Dikoleksi_ 02

[Baca Juga: Tunda Spin Off Unit Usaha Syariah, Bagaimana Kinerja BBTN?]

 

Sebagai gambaran, per akhir 2018 MNCN memiliki audience share mencapai 34,7%, yang kemudian disusul oleh SCMA dengan pangsa pasar 31,2%, VIVA dengan pangsa pasar sekitar 16%, terakhir Transmedia dengan pangsa pasar 14,1%.

Sementara dari sisi Jasa Keuangan, grup MNCN ini memiliki MNC Bank, MNC Life & Insurance, MNC Finance & Leasing, MNC Securities & Asset Management.

Dan terakhir dari sisi Pengembangan Properti, grup MNCN memiliki proyek hiburan & gaya hidup paling bergengsi di MNC Lido City dengan proyek dan themepark Trump yang ikonik.

Termasuk juga ada MNC Smart City, MNC Trump Bali, Westin Hotel Bali, Park Hyatt Jakarta, Oakwood Surabaya, sekaligus dengan sejumlah gedung perkantoran di Jakarta dan Surabaya.

Adapun sebagai gambaran lebih ringkasnya lagi, sekaligus dalam bentuk yang lebih terstruktur Anda bisa melihatnya dalam screenshot di bawah ini:

Source_ Public Expose MNCN Grup 2019

Source: Public Expose MNCN Grup 2019

 

Ekspansi dan Aksi Korporasi MNCN

Kembali kepada topik utama, Penulis ingin menyoroti sejumlah ekspansi dan aksi korporasi yang dilakukan oleh MNCN.

Bukan hanya di tahun 2019 ini, di tahun-tahun sebelumnya pun perusahaan media ini juga sudah melakukan ekspansi.

Adapun ekspansi yang dilakukan di tahun kemarin adalah memperluas format periklanan ke iklan kreatif, seperti built-in, iklan virtual, dan juga squeeze frame.

Banyak Aksi Korporasi, Layakkah Saham MNCN Dikoleksi_ 01

[Baca Juga: Mau Beli Saham Tanpa Dag Dig Dug? Harus Baca Ini!]

 

Lantas apakah ekspansi itu cukup bagi MNCN? Ternyata tidak! Hal itu ditunjukkan dengan sejumlah rencana ekspansi yang akan kembali dilakukan di tahun 2019 ini.

Pertama, MNCN menjalin kerja sama strategis dengan Iflix yang merupakan layanan hiburan digital Asia Tenggara. Dengan kerjasama itu, Iflix bisa membeli 10.000 jam konten dari program utama MNCN untuk melakukan streaming di Iflix.

Kedua, MNCN juga berencana meluncurkan platform digital baru bernama RCTI+ yang ditargetkan pada kuartal III-2019.

RCTI+ ini merupakan platform digital yang terdiri dari streaming langsung untuk televisi FTA dengan berbagai fitur (TV, perpustakaan, dan perusahaan kreatif lainnya).

Ke depannya RCTI+ ini memiliki konten kreatif yang terdiri dari bloopers, tayangan belakang layar, action, quiz, web series berdurasi pendek-sedang-panjang.

Ketiga, MNCN juga akan memperkenalkan layanan terbarunya sebagai hasil kemitraannya dengan YouTube.

Di mana MNCN memperoleh alat roll up untuk beroperasi sebagai Multi Channel Network (MCN) di saluran Youtube. Sehingga kemitraan ini disinyalir akan meningkatkan aktivitas digital.

Keempat, MNCN juga berencana meluncurkan inisiatif digital terbaru di Agustus 2019 yang disebut FTA+, merupakan aplikasi streaming langsung untuk 4 stasiun televisi Free To Air (FTA) yakni RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews.

FTA ini dinilai akan menjadi bagian penting dari pertumbuhan MNCN di masa depan, karena diproyeksikan mampu menangkap tren tontonan online yang berdasarkan permintaan dan pendapatan iklan digital.

Kelima, MNCN juga berencana untuk IPO PT MNC Vision Networks (MVN) yang akan melantai di BEI yang juga merupakan anak usaha BMTR.

Rencananya dalam IPO tersebut, MVN akan melepas 2.52 miliar saham baru, dan kisaran harga yang ditawarkan Rp231-Rp243/saham. Sehingga di asumsikan MNCN juga akan mengantongi dana sebesar Rp855 miliar.

 

Fluktuasi Harga Saham MNCN & Spekulasi Pasar

Sejumlah aksi korporasi yang sudah dilancarkan oleh MNCN di atas, ternyata tidak serta merta direspon positif oleh pasar.

Meskipun sepanjang tahun 2019 ini, harga saham MNCN meningkat dari 700-an ke 1400-an, namun harga saat ini masih jauh di bawah harga saham tertinggi MNCN ketika di tahun 2015 yang sempat mencapai 3200-an.

Artinya ketika harga saham MNCN turun dari 3200 di 2015 menjadi 700 di akhir 2018, maka harga saham MNCN jatuh bebas sekitar – 80% dalam waktu 3 tahun.

Fluktuasi harga saham MNCN ini menciptakan ketidakpastian bagi investor.

Meskipun pada dasarnya MNCN mengklaim aksi korporasi itu akan mampu mendongkrak kinerja MNCN Grup ke depannya, namun ternyata market tidak melihat hal tersebut sebagai hal yang positif.

Di bawah ini ada gambaran lebih jelasnya untuk fluktuasi harga saham MNCN.

Harga Saham MNCN terjun bebas dari 3200-an di 2015 ke 700-an di 2018. Source_ finance.yahoo.com

Harga Saham MNCN terjun bebas dari 3200-an di 2015 ke 700-an di 2018.
Source: finance.yahoo.com

 

Kinerja Fundamental MNCN

Lantas bagaimana kinerja fundamental MNCN ini?

Jika dilihat dalam jangka pendek (2018 VS 2019), memang terlihat bahwa laporan keuangan MNCN terlihat cukup baik. Setidaknya, kondisi itu tercermin dalam kinerjanya di sepanjang Kuartal I-2019 kemarin.

Namun Penulis harus mengingatkan bahwa seringkali investor akan mislead jika hanya melihat jangka pendek saja.

Oleh karenanya, kita juga perlu melihat dalam jangka panjang. Jika Anda melihat kinerja MNCN dalam jangka panjang, Anda akan melihat dengan perspektif yang berbeda. Okay langsung aja, Penulis jelaskan dengan lebih detail di bawah ini.

Berdasarkan Laporan Keuangan MNCN Kuartal I-2019, MNCN mencatatkan kenaikan Pendapatannya sekitar 12,5% YoY dari Rp1,6 triliun di Kuartal I-2018 naik menjadi Rp1,8 triliun per Kuartal I-2019.

Jika dilihat secara YoY, mungkin kinerja tersebut akan terlihat menarik. Namun jika ditarik jauh ke belakang, sebenarnya kinerjanya tidaklah semenarik itu.

Di tahun 2012, MNCN mencatatkan Pendapatan Rp6,2 triliun. Sementara dengan pencapaian di Kuartal I 2019 di atas, secara Annualize MNCN diperkirakan Pendapatan MNCN di tahun 2019 akan mencapai Rp7,5 triliun.

Artinya Pendapatan MNCN di 2012 – 2019 hanya bertumbuh dengan CAGR 2,7% per tahun.

Revenue MNCN 2012 – 2019_ Cheat Sheet

Revenue MNCN 2012 – 2019: Cheat Sheet

 

Demikian pula dengan laba bersih. Di mana pada LK Q1 2019 ini, laba Bersih MNCN meningkat cukup signifikan dari Rp274 miliar di Q1 2018 menjadi Rp547 miliar per Q1 2019 (+99% YoY).

Namun jika dilihat dalam jangka Panjang, kembali sebenarnya kinerjanya tidaklah semenarik itu. Di tahun 2012, laba bersih MNCN adalah Rp1,6 triliun, sementara di 2019 Annualized diperkirakan laba bersihnya mencapai Rp2,2 triliun. Artinya, laba bersih MNCN di 2012 – 2019 hanya bertumbuh dengan CAGR 4,1% per tahun.

Laba Bersih MNCN 2012 - 2019. Source_ Cheat Sheet

Laba Bersih MNCN 2012 – 2019. Source: Cheat Sheet

 

Dengan kata lain, kinerja MNCN terlihat menarik jika hanya dilihat secara jangka pendek (YoY). Namun jika dilihat jangka panjang, kinerjanya justru di bawah inflasi tahunan yang rata-rata mencapai 7%.

 

Jadi, Saham MNCN Layakkah Dikoleksi?

Meskipun MNCN dalam beberapa tahun terakhir ini gencar melakukan serangkaian aksi korporasi dan ekspansi, namun market tidak menganggap hal tersebut sebagai hal yang positif.

Hal tersebut yang membuat harga saham MNCN sempat terjun bebas dari 3200-an di 2015 menjadi 700-an di akhir 2018 (- 80%).

Meskipun secara kinerja tahunan (2018 VS 2019), kinerja MNCN terlihat positif dan menarik, namun jika dilihat dalam jangka Panjang (2012 – 2019), sebenarnya kinerja MNCN tidaklah semenarik itu.

Banyak Aksi Korporasi, Layakkah Saham MNCN Dikoleksi_ 04

[Baca Juga: Cerita Pribadi Saya Sukses Investasi Saham]

 

Apalagi jika dilihat dari pertumbuhan Pendapatan dan laba bersih yang justru secara CAGR berada jauh di bawah inflasi tahunan.           

Dengan serangkaian aksi korporasi baik yang sudah dijalankan, maupun yang belum dijalankan, menyiratkan bahwa MNCN ini bukanlah perusahaan yang simpel dalam mengembangkan usahanya.

Meskipun terlihat seksi karena lini bisnisnya bisa dikatakan cukup banyak, namun hal tersebut hanya akan membuat perusahaan menjadi tidak fokus dalam mengembangkan bisnis utamanya.

Dalam hal ini, Penulis sendiri harus mengakui bahwa Penulis tidak terlalu menyukai perusahaan yang terlalu banyak melakukan aksi korporasi ketimbang fokus membenahi kinerja operasional perusahaan.

Sudah cukup banyak perusahaan yang akhirnya failed karena terlalu agresif dalam berekspansi.

Bagi Penulis sendiri, ada hal yang jauh lebih penting ketimbang Laporan Keuangan, yaitu: MANAJEMEN.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju Anda dengan pandangan Penulis, akan lebih baik jika Anda juga melakukan riset yang lebih mendalam secara komprehensif sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

 

Apa respon Anda setelah membaca artikel ini? Berikan komentar dan pendapat Anda pada kolom di bagian bawah artikel ini. Terima kasih!

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • MNC Group 01 – http://bit.ly/399kBdJ
  • MNC Group 02 – http://bit.ly/2I65BBw
  • MNC Group 03 – http://bit.ly/2Py9a7p
  • MNC Group 04 – http://bit.ly/2Tl0brm