Sebelum memulai investasi, penting untuk mengetahui mana yang lebih menguntungkan antara DCA vs Lump Sum. Manakah yang akan Anda pilih?

Penting untuk Anda memilih strategi sebelum memulai berinvestasi di pasar modal. Di artikel kali ini, Finansialku akan menjelaskan dua strategi investasi yang cukup sering disebutkan, baik saham maupun reksadana, yaitu Dollar Cost Averaging (DCA) dan Lump Sum.

Nah, cari tahu yuk, apa itu Dollar Cost Averaging (DCA) dan Lump Sum serta bagaimana implementasi strateginya melalui TTS berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Strategi Investasi Saham

Untuk mewujudkan keinginan hidup baik untuk diri sendiri maupun keluarga, seseorang perlu melakukan perencanaan keuangan secara matang.

Terdapat banyak instrumen investasi yang dapat Anda pilih, di antaranya saham dan reksadana, untuk membantu Anda lebih cepat mencapai tujuan keuangan yang Anda miliki.

Saham merupakan salah satu instrumen investasi jangka panjang yang paling mudah dipindahtangankan dengan potensi keuntungan atau imbal hasil yang cukup tinggi.

Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa risikonya juga tinggi. Maka dari itu saham juga disebut investasi yang high risk high return.

Saham dulunya merupakan aset keuangan yang berbasis kertas (paper based asset). Akan tetapi, seiring berkembangnya teknologi saat ini saham sudah berubah menjadi instrumen keuangan yang berbasis elektronik atau digital yang mudah untuk dipindahtangankan.

Instrumen lainnya yang dahulunya berbasis kertas juga telah beralih menjadi berbasis elektronik, yakni: reksa dana, ETF (reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa), obligasi, waran, HMETD dan beberapa efek lainnya.

Terdapat dua metode yang biasanya digunakan dalam berinvestasi, yakni membeli secara sekaligus atau lump sum dan mencicil atau Dollar Cost Averaging/DCA.

Mari kita bahas secara kedua pendekatan tersebut, lebih untung berinvestasi dengan metode DCA vs Lump Sum? Namun sebelum itu, yuk mainkan dulu Teka Teki Silang (TTS)-nya dengan klik tombol di bawah ini:

Main TTS di Sini!

 

Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum

Istilah Dollar Cost Averaging (DCA) dan Lump Sum juga dikenal dalam dunia investasi. Keduanya adalah strategi yang bisa dipilih oleh investor dalam berinvestasi di pasar modal.

 

Dollar Cost Averaging (DCA)

Dollar Cost Averaging (DCA) atau sering dikenal dengan strategi investasi berkala. Dengan strategi ini, pemodal dapat membeli produk investasi secara teratur atau berkala dengan nominal investasi yang biasanya tetap pada setiap periode pembelian, serta tanpa melihat kondisi pasar.

Lebih Untung Mana DCA vs Lump Sum 01 - Finansialku

[Baca Juga: 4 Strategi Jitu Untuk Investor Ketika Saham Anjlok]

 

Kelebihannya, pilihan ini cocok untuk investor yang fokus untuk mencapai tujuan investasinya tanpa harus melihat apakah pasar sedang naik atau turun.

Strategi ini juga cocok juga investor dengan modal terbatas, tetapi yakin untuk konsisten mencapai tujuan keuangannya.

Kelemahannya, cara berinvestasi ini bisa saja keuntungannya tidak sebesar dengan cara investasi sekaligus (jika timing investasinya saat harga rendah).

Akan tetapi, bagi investor pemula yang belum tahu pergerakan pasar, disarankan lebih memilih cara investasi secara berkala ini.

 

Lump Sum

Strategi lump sum merupakan strategi menyetor sejumlah dana besar di awal investasi dan membiarkan uang investasi tersebut bergerak naik turun mengikuti perkembangan pasar, tanpa melakukan tambahan investasi (top up) sampai investor memutuskan untuk mencairkannya.

Kelebihannya, pilihan strategi ini efektif memberikan hasil investasi yang baik jika dilakukan dengan timing yang tepat, yaitu saat harga-harga NAB (nilai aktiva bersih) atau per lotnya sedang turun pada posisi terendah sehingga memungkinkan investor memperoleh lebih banyak unit investasi pada harga yang lebih murah.

Karena sedang turun, secara logika investasi akan naik kembali (swing) pada posisi sebelumnya. Bahkan bisa lebih tinggi dan memberi hasil yang lebih maksimal.

Lebih Untung Mana DCA vs Lump Sum 02 - Finansialku

[Baca Juga: Lebih Untung yang Mana, Beli Saham Sekaligus atau Berkala?]

 

Akan tetapi, posisi terendah tidak selalu dapat diprediksi dengan baik. Selain itu, investasi dengan model lump sum memerlukan modal yang cukup besar sehingga dapat menyulitkan sebagian calon investor.

Terutama untuk investor yang memiliki alokasi investasi minim dan terbatas.

Kelemahan dari strategi ini adalah jika waktu yang digunakan untuk melakukan investasi kurang tepat dan investor tidak berorientasi jangka panjang, maka ketika harga reksadana dan/atau saham mengalami penurunan, kerugian yang dialaminya bisa lebih besar.

Karena sulitnya mengetahui waktu yang tepat itu, investor yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekalipun sulit melakukannya secara konsisten.

Oleh karena itu, cara investasi ini sebaiknya dilakukan oleh investor yang berorientasi jangka panjang dan siap menghadapi risiko penurunan harga.

 

Ketahui Risiko Sebelum Berinvestasi

Penting bagi Anda untuk mengerti risiko sebelum berinvestasi. Selain risiko produk, strategi yang Anda pilih juga memberikan risiko yang berbeda.

Investor pemula dianjurkan untuk menerapkan strategi DCA dikarenakan strategi ini dapat membantu meminimalkan risiko berinvestasi.

Hal ini dikarenakan dalam strategi DCA Anda berinvestasi di periode yang berbeda-beda yang artinya dalam kondisi pasar yang berbeda-beda juga.

Seperti yang diketahui, kondisi pasar modal cukup bervariasi sehingga cukup sulit untuk menebak arah pasar. Dengan berinvestasi secara berkala di periode yang berbeda-beda, Anda telah mendiversifikasikan risiko investasi.

Lain halnya dengan berinvestasi dengan cara lump sum di mana Anda menginvestasikan semua dana dalam satu periode saja.

Akan tetapi, kamu juga bisa menggabungkan kedua strategi diatas dan menyesuaikan dengan trend pasar.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Studi Kasus: Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum

Agar dapat lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk mengaplikasikan strategi DCA maupun lump sum, ada baiknya kita mengambil contoh kondisi pasar dalam dua kondisi berbeda: trend naik serta trend turun.

 

Tahun 2008 – trend turun (bearish)

Pada tahun 2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami penurunan -51% selama setahun. Mari kita coba melakukan perbandingan hasil untuk kedua strategi DCA dan lump sum.

Sebagai contoh, jika menggunakan strategi lump sum pada kondisi ini dengan menginvestasikan total Rp 120 juta sekaligus di awal periode investasi selama setahun.

Maka, nilai investasi Anda akan mengalami penurunan sebesar -51% atau sekitar Rp 59 juta saja.

Lain halnya jika menggunakan strategi DCA dan menginvestasikan uang dengan total yang sama, Rp 10 juta per bulannya, maka nilai investasi Anda di akhir periode mengalami penurunan sebesar -34% atau Rp 79 juta.

Dalam kondisi ini, strategi DCA dapat mengurangi risiko menurunnya nilai investasi Anda sebesar kurang lebih 17%.

Tahun 2008 – trend turun (bearish)

 

Tahun 2014 – trend naik (bullish)

Untuk kasus yang lain saat trend pasar cenderung naik (bullish), apakah hasilnya akan sama?

Ambil contoh pada tahun 2014 di mana pasar mengalami kenaikan sebesar 22%.

Jika Anda mengimplementasikan strategi lump sum dan menginvestasikan total Rp 120 juta di awal periode investasi selama satu tahun, nilai investasi mengalami kenaikan sebesar 22% atau menjadi Rp 146 juta.

Berbeda dengan strategi DCA, jika Anda menginvestasikan dana Rp 10 juta setiap bulannya, nilai investasi pada akhir periode mengalami kenaikan sebesar 8% atau menjadi Rp 129 juta.

Tahun 2014 – trend naik (bullish)

 

Setelah melihat studi kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa dari kedua strategi investasi, baik DCA atau lump sum memiliki keuntungannya masing-masing tergantung pada kondisi pasar tertentu.

Anda dapat memilih strategi investasi yang paling sesuai dengan tujuan keuangan, profil risiko, serta jangka waktu investasi Anda.

Akan tetapi, menebak arah pasar tentunya memang bukan hal mudah. Dibutuhkan keahlian untuk bisa melakukan hal tersebut.

Maka dari itu, bagi investor pemula disarankan untuk menggunakan strategi DCA sehingga dapat mengurangi risiko investasi serta mendapatkan keuntungan dari kondisi pasar di setiap periode.

 

Nah, itulah penjelasan mengenai strategi DCA vs Lump Sum yang bisa menjadi referensi Anda sebelum melakukan investasi. Strategi mana yang akan Anda pilih? Anda boleh berbagi pengalaman Anda di kolom komentar di bawah ini.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda. Jangan lupa bagikan pula artikel ini pada Sobat Finansialku lainnya, ya. Terima kasih.

 

 

Sumber Referensi:

  • Indo Premier Online Trading. 14 Februari 2020. Strategi Lump Sum Vs Dollar Cost Averaging. Harnas.co – https://bit.ly/3sK5kdl
  • Yazid Muamar. 16 Agustus 2019. Pilih Mana, Beli Saham Sekaligus atau Dicicil? Cnbcindonesia.com – http://bit.ly/3itKRox
  • J. Arnanta. 24 April 2020. Strategi Investasi: Dollar Cost Averaging vs Lump Su. Moduit.id – http://bit.ly/2LPPayr

 

Sumber Gambar:

  • DCA vs Lump Sum 1 – http://bit.ly/3qEEmCm
  • DCA vs Lump Sum 2 – http://bit.ly/2LPPayr