Berpengaruh pada masa depan keuanganmu, jangan sepelekan delayed effect dan direct effect!

Ketahui informasi selengkapnya di artikel Finansialku di bawah ini!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Apa itu Delayed Effect dan Direct Effect?

Pernahkah Sobat Finansialku mendengar dua istilah tersebut? Kalau belum, mari kita ketahui lebih dalam bersama-sama!

Secara sederhana, delayed effect dapat kita sepakati sebagai sebuah hasil atau akibat yang tidak langsung dirasakan dari perilaku atau pilihan kita.

Sementara direct effect, bisa kita sepakati sebagai sebuah hasil atau akibat yang langsung dirasakan dari perilaku atau pilihan kita.

Pada kenyataannya, manusia adalah makhluk yang paling sulit untuk bersabar. Apa yang dia tanam saat itu, harus dia tuai di waktu yang sama.

Karyawan Menjadi Pengusaha__ BISA Lho! Ini Rahasia Suksesnya 04

[Baca Juga: Cara Membantu Teman Shopaholic: Mengerem Kebiasaan Belanja Impulsif]

 

Sifat tidak sabaran ini, punya keterkaitan dengan delayed effect dan direct effect yang dijelaskan di atas.

Direct effect, pada praktiknya, adalah kita yang ingin mendapatkan hasil secara instan dan cenderung ekstrim.

Sementara delayed effect, adalah efek jangka panjang, akibat jangka panjang, dari apa yang kita lakukan di masa kini. Perlu waktu yang cenderung lama untuk merasakan efek yang kita inginkan.

Pada praktik kehidupan sehari-hari, kita tidak jarang menemukan keadaan di mana kita dihadapkan pada dua buah pilihan.

Pilihan pertama, adalah tentang menahan nafsu dari godaan-godaan duniawi yang selama ini susah payah kita hindari.

Sementara, pilihan kedua adalah tentang kita yang memilih untuk menutup mata dari risiko-risiko yang membayangi, lebih memilih mendapatkan kepuasan dalam waktu singkat dan cuma sesaat.

Jika kita kaitkan pada delayed effect dan direct effect, semuanya berhubungan pada hasil akhir yang kita dapatkan setelah mengambil keputusan antara dua kondisi di atas.

 

Contoh Delayed Effect dan Direct Effect

Oke, apabila pembahasan mulai bertele-tele, mari kita aplikasikan pada sebuah contoh nyata, ya!

Suatu hari, ketika kita sedang menjalani diet, menerapkan pola makan sehat, menghindari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang memabukkan.

Setiap hari makan sayuran dan buah yang tinggi serat, sebisa mungkin menghindari makanan manis dan berminyak.

Orang-orang mungkin bertanya-tanya, kenapa kita harus ‘menyiksa diri’ dengan memberi tubuh kita asupan nutrisi dari makanan-makanan baik?

Mereka juga mungkin mulai menerka, apa yang menyenangkan dari gaya hidup membosankan seperti itu?

Tapi mereka tidak tahu, apa yang kita lakukan adalah, investasi untuk tubuh yang lebih sehat dan lebih baik di masa depan, ‘kan?

Ini lah yang dimaksud dari delayed effect. Hasil atau buah dari hal yang kita tanam, tidak secara langsung kita dapatkan saat itu juga.

Tapi perlu waktu, konsistensi, dan komitmen yang serius ketika kita memantapkan hati, sampai kita tiba di mana kita dapatkan delayed effect yang kita inginkan.

Karyawan Bahagia Bisa Meningkatkan Kinerja dan Produktivitas Kerja 02 - Finansialku

[Baca Juga: Fakta Membuktikan: Belanja Impulsif dan Hedonisme adalah Tanda Seseorang Tidak Tahu Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga]

 

Lalu bagaimana dengan direct effect?

Kita sepakati bahwa hari ini adalah hari yang sangat panas. Matahari bersinar sangat terik.

Kita, yang berjalan tepat di bawahnya, merasa kepanasan, haus bukan main, dan mulai kesal, karena keringat mulai membasahi pakaian kita.

Menemukan sebuah stand penjual minuman yang bervariasi, kita putuskan untuk berhenti sejenak, dan membeli salah satu produknya.

Apa yang kita rasakan setelah meneguk minuman itu?

Rasa nikmat, kesegaran yang sempat terlupakan, dan perasaan senang, semuanya muncul di waktu bersamaan.

Itulah yang dimaksud dari direct effect. Kita tidak memedulikan efek jangka panjang, tapi kita hanya ingin mendapatkan efek sesaat yang bisa memperbaiki keadaan kita untuk sementara.

Dalam hal ini, minuman itu, memberikan direct effect pada kita dalam bentuk kesegaran dan membaiknya mood yang sempat hancur karena terik matahari.

 

Delayed Effect, Direct Effect dan Pengaruhnya pada Keuangan Masa Depan

Pada contoh di atas, kita telah mengetahui lebih dalam mengenai istilah Delayed Effect dan Direct Effect.

Sekarang, kita mulai untuk berandai-andai menggunakan dua efek itu, pada kondisi keuangan kita saat ini dan di masa depan nanti.

Ketika mendapatkan penghasilan atau pemasukan baru, apa yang mayoritas orang lakukan?

Ya, menghabiskannya as if there’s no tomorrow. Apakah Sobat Finansialku termasuk salah satunya?

Kita, cenderung memperlakukan keuangan kita sebagai objek untuk mendapatkan direct effect.

10+ Contoh Slip Gaji Karyawan Perusahaan 02 Slip Gaji 2 - Finansialku

[Baca Juga: Impulsive Buying (Pembelian Impulsif) + Solusinya]

 

Contohnya, membeli hal-hal yang tidak terlalu penting, mencoba makanan dan minuman unik yang tidak pernah kita sadari, menyedot anggaran lebih banyak dari seharusnya.

Apa direct effect yang kita dapatkan dari perilaku-perilaku di atas? Ya, perasaan puas.

Lalu, apa pengaruhnya untuk kondisi keuangan kita di masa depan?

Betul! Kerugian atau bahkan lebih buruk dari itu, kebangkrutan.

Apakah terpikirkan oleh kita ketika melakukan hal itu? Tentu tidak, karena kita sudah dibutakan dengan direct effect yang lebih dulu menutupi logika.

Sementara Sobat Finansialku yang melihat masa depan, yang tidak hidup hanya untuk hari ini, apa yang akan dilakukan ketika mendapatkan pemasukan?

Mungkin mengalokasikannya untuk tabungan pensiun, tabungan umrah, atau investasi.

Apa efek yang kita dapatkan saat itu? Tidak ada. Setuju?

Lalu, apa yang kita dapatkan di masa depan? Banyak.

Bisa beli rumah impian dengan down-payment yang besar, sehingga tidak terlalu pusing mengurusi cicilan yang terlalu lama.

Atau bahkan, bisa memenuhi keinginan untuk pensiun dini karena sudah mengumpulkan sejak bertahun-tahun lalu.

Melalui contoh-contoh sederhana ini, kita seharusnya semakin mengerti kalau menggapai sesuatu yang besar, butuh pengorbanan yang besar juga.

Yang jadi persoalan adalah, apakah kita rela mengorbankan ‘hal’ itu untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan di masa depan?

 

Sobat Finansialku jangan khawatir, Finansialku.com hadir membantu kamu semua. Jika kamu membutuhkan jasa konsultasi perencana keuangan, kamu bisa menghubungi kami melalui menu Tanya Perencana Keuangan di Aplikasi Finansialku.

Biaya konsultasi melalui Apps tersebut GRATIS untuk 1 bulan pertama, namun kamu perlu download dulu Aplikasi Finansialku di Google Play Store atau Apple App Store.

playstore icon
appstore icon

 

Jika kamu tertarik untuk berlangganan selama 1 tahun kamu Cuma perlu bayar Rp300.000 aja (gunakan kode voucher CUAN50, jika tidak kamu perlu bayar Rp350.000). Murah!! Hitung-hitung kamu bayar Rp900 perak per hari.

Pikirkan manfaatnya supaya sobat Finansialku bisa menghadapi dan melewati setiap masalah keuangan, termasuk cara mencapai semua tujuan keuangan kamu!

“Don’t give up what you want most for what you want now.” – Richard G. Scott

 

Jadi, melalui artikel di atas, apakah Sobat Finansialku mulai mengerti soal delayed effect dan direct effect?

Atau bahkan, ada yang sudah menerapkannya sejak jauh-jauh hari? Tuliskan pengalaman menarik Sobat Finansialku terkait hal ini di kolom komentar, ya!

Apabila artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk bagikan pada rekan dan keluarga melalui pilihan platform yang tersedia di bawah ini. Terima kasih!

 

Sumber Gambar:

  • Asian Man – Freepik – https://bit.ly/39o2UGB