Net Interest Margin BBNI Tertekan? Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan?

Dengan kondisi Net Interest Margin BBNI yang saat ini tergerus, lalu bagaimana prospek BBNI di masa depan? Bagaimana pula BBNI menyiasati dampak kenaikan suku bunga acuan BI?

Simak penjelasan selanjutnya pada artikel berikut ini

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Net Interest Margin BBNI Tertekan, Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan?

Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI 7DRRR sebesar 150 basis poin menjadi 5,75%, ternyata memberikan dampak terhadap menurunnya Net Interest Margin (NIM) sejumlah Perbankan, termasuk BBNI.

Di tahun 2017 sendiri, Net Interest Margin BBNI masih berada di kisaran di 5,5%. Namun pada Kuartal III-2018, Net Interest Margin BBNI mengalami penurunan sekitar 21 basis poin. Saat ini per Kuartal III-2018, Net Interest Margin BBNI menjadi 5,31%.

Saat ini, Perbankan harus memutar otak lebih keras lagi dalam menjaga Net Interest Margin-nya.

 

Pengertian Net Interest Margin

Untuk memudahkan Anda memahami tentang kondisi Net Interest Margin yang dialami Bank saat ini, mari kita simak analogi berikut ini:

“Bapak Andi, seorang karyawan swasta, mendepositokan sebagian dari penghasilannya di Bank. Dengan mendepositokan uang nya di Bank, maka Pak Andi akan mendapatkan bunga deposito dari Bank sebesar, katakanlah 5,0%.

Dari pihak Bank, sejumlah uang yang sudah masuk ke Bank tersebut akan diputarkan lagi oleh Bank sebagai sumber dana pinjaman dalam bentuk pinjaman kredit.

Di lain pihak, katakanlah Pak Budi, seorang pengusaha di bidang tekstil, sedang berencana untuk mengembangkan usahanya.

Langkah yang Pak Budi ambil adalah melakukan pinjaman dana ke Bank. Setelah Pak Budi memperoleh dana pinjaman dengan jangka waktu tertentu, maka Pak Budi ini mempunyai kewajiban untuk membayar suku bunga kredit ke Bank sebesar, sebut saja 10,5 % dari pinjaman tersebut.”

 

Net Interest Margin BBNI Tertekan Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan 02 - Finansialku

[Baca Juga: VIDEO: Kunci Sukses Investasi Saham Ala Lo Keng Hong]

 

Artinya, besaran bunga deposito yang diberikan Bank terhadap Pak Andi adalah 5,0%, sedangkan Bank memperoleh bunga kredit yang masuk dari Pak Budi sebesar 10,5%.

Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 5,5% yang merupakan Net Interest Margin tadi (selisih antara bunga yang dibayarkan Bank dalam bentuk bunga deposito, dan bunga yang didapatkan Bank dalam bunga kredit).

 

“Beberapa bulan kemudian, Pak Andi kembali melakukan deposito uangnya ke Bank.

Namun, kali ini Bank sudah menaikkan bunga depositonya (karena kenaikan suku bunga acuan BI), maka Pak Andi akan mendapatkan bunga deposito yang lebih besar, katakanlah sebesar 5,5%. Uang deposito tersebut akan diputarkan lagi oleh perbankan sebagai sumber dana pinjaman.

Kali ini, Pak Budi, akan kembali melebarkan usahanya. Meskipun Bank sudah menaikkan suku bunga deposito, namun Bank masih mempertahankan suku bunga kreditnya di tingkat yang sama, misalnya 10,5%.

Maka Bank yang tadinya bisa mendapatkan selisih sebesar 5,5%, kali ini harus puas dengan selisih yang lebih kecil, yaitu 5,0%.”

 

Artinya, jumlah bunga deposito yang diberikan Bank terhadap nasabah semakin besar di 5,5%. Sedangkan, Bank hanya menerima bunga kredit masuk masih tetap sebesar 10,5%. Hal ini membuat margin yang diterima Bank menjadi lebih kecil.

Net Interest Margin BBNI Tertekan Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan 03 - Finansialku

[Baca Juga: Apa Saja 5 Pantangan Dalam Investasi Saham? Ketahui Sekarang]

 

Sebelum dilanjutkan pada pembahasan berikutnya, sudahkah Anda memiliki ebook panduan investasi saham untuk pemula? Jika Anda pemula dan tertarik untuk belajar investasi atau trading saham, maka sudah saatnya Anda membaca dan men-download ebook yang keren ini.

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Jika Demikian, Mengapa BBNI Tidak Menaikkan Suku Bunga Kredit?

Analogi sebelumnya cukup menjelaskan kondisi Perbankan saat ini, salah satunya pada BBNI yang Net Interest Margin-nya menurun.

Turunnya Net Interest Margin BBNI, lantaran BBNI telah mendongkrak bunga simpanan, namun tidak diimbangi dengan menaikkan suku bunga kredit.

Pertanyaan berikutnya, mengapa BBNI tidak menaikkan suku bunga kreditnya saja? Bukankah jika suku bunga deposito naik 1% (misalnya), maka Bank tinggal menaikkan suku bunga kredit sebesar 1% juga? Namun permasalahannya, bagi Bank tidaklah sesederhana itu.

Ada beberapa alasan yang membuat sejumlah Perbankan termasuk BBNI tidak serta merta menaikkan suku bunga kreditnya antara lain:

 

#1 Adanya Permintaan Dari Pemerintah

Salah satu permintaan dari pihak pemerintah, Bank Indonesia, dan sejumlah regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan adalah agar Perbankan tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga kredit.

Di satu sisi, Pemerintah menginginkan agar suku bunga kredit tetap di level yang sama agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa tetap terjaga.

Selain alasan tersebut, Perbankan sebenarnya bisa memperoleh keuntungan dengan melakukan efisiensi operasionalnya. Semakin besar angka efisiensi, semakin baik.

 

#2 Kondisi Likuiditas BBNI yang Baik

Bagi Bank Besar (Bank BUKU IV) seperti BBNI masih memiliki likuiditas yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan CAR nya saat ini sebesar 17,80% per Kuartal III-2018.

Dengan likuiditas yang baik, maka tidak ada urgensi bagi BBNI untuk langsung merespon kenaikan suku bunga acuan BI dengan menaikkan suku bunga kredit. Namun tentu saja kondisi nya berbeda dengan Bank BUKU III yang lebih agresif.

Net Interest Margin BBNI Tertekan Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan 04 - Finansialku

[Baca Juga: VIDEO: 5 Alasan Wajib Kamu Investasi Saham Sekarang!]

 

#3 Potensi dari Pendapatan Non-Bunga

Selain likuiditas yang baik, BBNI juga bisa mengupayakan kenaikan pendapatan non bunga (fee based income) yang tumbuh sekitar 6% menjadi Rp7,18 triliun. BBNI sendiri menilai Net Interest Margin nya yang saat ini sebesar 5,31% masih tergolong cukup.

 

#4 Risiko Kredit yang Tinggi Karena Suku Bunga yang Lebih Tinggi

Menaikkan suku bunga kredit bukan berarti bebas risiko. Karena, jika perbankan menaikkan suku bunga kredit maka justru berpotensi menimbulkan jumlah kredit macet yang mungkin bertambah. Belum lagi adanya persaingan dengan Bank lain dalam mendapatkan debitur.

Kondisi itu yang membuat pihak Perbankan harus berhati-hati untuk menaikkan suku bunga kredit.

 

Kinerja BBNI dalam Kondisi Net Interest Margin yang Tertekan

Penulis sendiri melihat bahwa penurunan Net Interest Margin (NIM) BBNI adalah hal yang normal. Karena bukan hanya BBNI yang mengalami penurunan NIM, melainkan hampir semua Perbankan di Indonesia juga terkena dampak dari kenaikan suku bunga acuan BI.

Sekarang, setelah Anda memahami alasan mengapa BBNI tidak serta-merta langsung menaikkan suku bunga kredit nya, yang membuat Net Interest Margin nya tergerus sampai 21 basis poin, apakah mempengaruhi kinerja BBNI secara fundamental?

Untuk mengetahui kinerja BBNI, bisa dilihat berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal III-2018 yang baru saja dirilis. Kita akan melihat bagaimana pertumbuhan kinerja BBNI yang berdasarkan rasio perbankan.

Melalui rasio-rasio perbankan ini kita bisa dengan mudah membandingkan BBNI secara internal dalam pencapaian kinerja Kuartal III-2017 dengan pencapaian kinerja Kuartal III-2018. Berikut rasio-rasionya:

 

Permodalan BBNI Kuartal III 2018 VS Kuartal III 2017

 BBNI Kuartal III-2018BBNI Kuartal III-2017
CAR / KPMM17,80%19,01%

 

Berdasarkan tabel diatas, yang pertama kali bisa kita lihat adalah kemampuan modal BBNI. Dimana CAR (Capital Adequacy Ratio) BBNI ini sedikit mengalami penurunan dari 19,01% di Kuartal III-2017 menjadi 17,80% di Kuartal III-2018.

Penurunan CAR ini menunjukkan bahwa kemampuan BBNI dari segi permodalan saat ini sedang sedikit menurun untuk menanggung risiko-risiko kerugian. Meskipun terlihat menurun, namun sebenarnya CAR BBNI masih tergolong baik karena ketahanan modalnya diatas batas minimal CAR sebesar 14%.

 

Profitabilitas BBNI Kuartal III 2018 VS Kuartal III 2017

 BBNI Kuartal III-2018BBNI Kuartal III-2017
Laba BersihRp11,4 triliunRp10,1 triliun
Pendapatan BungaRp26,0 triliunRp23,5 triliun
Pendapatan Non BungaRp8,7 triliunRp8,3 triliun
ROE16,77%15,94%

 

Dengan CAR yang masih baik di 17,80% pada Kuartal III-2018 ini, BBNI juga mampu membukukan sejumlah pertumbuhan yang konsisten naik.

Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian Laba Bersih BBNI dari Rp10,1 triliun Kuartal III-2017 menjadi Rp11,4 triliun Kuartal III-2018 (naik 12,8%). Yang juga disertai peningkatan pada pendapatan bunga dari Rp23,5 triliun Kuartal III-2017 menjadi sebesar Rp26,0 triliun Kuartal III-2018 (naik 10,6%).

Net Interest Margin BBNI Tertekan Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan 05 - Finansialku

[Baca Juga: Pahami Perbedaan Prinsip Trading Saham vs Investasi Saham Sebelum Membeli Saham]

 

Sementara pendapatan non bunga juga mengalami peningkatan dari Rp8,3 triliun Kuartal III-2017 menjadi Rp8,7 triliun Kuartal III-2018 (naik 4,8%).

Dengan demikian, ROE BBNI juga meningkat dari 15,94% di Kuartal III-2017 menjadi 19,77% di Kuartal III-2018. Hal ini menunjukkan meskipun NIM BBNI tertekan, tidak serta merta menekan laba bersihnya seperti yang banyak diberitakan sejumlah media. Bahkan, BBNI tetap mampu mencatatkan pertumbuhan yang baik.

 

Kualitas Kredit dan Efisiensi BBNI Kuartal III 2018 VS Kuartal III 2017

 BBNI Kuartal III-2018BBNI Kuartal III-2017
Penyaluran KreditRp487,1 triliunRp421,4 triliun
NPL  Gross2,01%2,75%
NPL Net0,84%0,79%
BOPO70,30%70,30%

 

Tidak hanya dari profitabilitas saja yang meningkat, BBNI sampai saat ini pun BBNI masih terus menjaga pertumbuhan kreditnya, di mana jumlah penyaluran kredit meningkat dari Rp421,4 triliun di Kuartal III 2017 menjadi Rp487 triliun di Kuartal III 2018 (naik 5,6% YoY).

Meskipun jumlah kredit meningkat, BBNI tetap menjaga kualitas kreditnya. Hal ini terlihat dari NPL (Net Performing Loan) BBNI pada dua rasio berikut:

 

NPL Gross 2,75% Kuartal III-2017 turun menjadi 2,01% Kuartal III-2018. Menurunnya NPL Gross BBNI menunjukkan turunnya jumlah kredit kurang lancar BBNI.

Sedangkan, untuk NPL Net dari 0,79% Kuartal III-2017 naik menjadi 0,84% Kuartal III-2018 menunjukkan bahwa adanya sedikit kenaikan jumlah kredit yang sudah jelas status macetnya.

Meskipun sedikit meningkat, akan tetapi NPL Net BBNI yang sebesar 0,84% di Kuartal III-2018, masih jauh dari batas maksimal NPL Net yang sebesar 2%.

Besarnya jumlah kredit macet BBNI tersebut,  juga tidak mempengaruhi angka BOPO BBNI yang masih stabil di 70,30% di Kuartal III-2018. Dengan stabilnya BOPO BBNI menunjukkan bahwa sampai saat ini BBNI masih konsisten dalam melakukan efisiensi operasionalnya.

 

Rasio Rentabilitas BBNI Kuartal III 2018 VS Kuartal III 2017

 BBNI Kuartal III-2018BBNI Kuartal III-2017
NIM5,31%5,52%
LDR89,04%87,86%
CASA61,9%60,4%

 

Meskipun BBNI masih konsisten melakukan efisiensi, tidak demikian halnya dengan Net Interest Margin (NIM) BBNI yang justru menurun.

NIM (Net Interest Margin) BBNI 5,52% di Kuartal III-2017 turun menjadi 5,31% pada Kuartal III-2018 ini. Tergerusnya angka Net Interest Margin BBNI tidak lain adalah disebabkan oleh kenaikan suku bunga acuan BI, sedangkan BBNI sendiri tidak ikut menaikkan suku bunga kreditnya.

Net Interest Margin BBNI Tertekan Bagaimana Prospek BBNI di Masa Depan 06 - Finansialku

[Baca Juga: Mau Belajar Investasi Saham Tapi Modal Terbatas dan Masih Awam? Begini Caranya!]

 

Tergerusnya Net Interest Margin BBNI, justru tidak mempengaruhi Loan to Deposit Ratio (LDR) BBNI. Sehingga LDR BBNI ini naik tipis dari 87,86% Kuartal III-2017 menjadi 89,04% Kuartal III-2018. LDR ini merupakan gambaran dari meningkatnya jumlah kredit macet yang sudah jelas statusnya.

LDR ini mencerminkan perbandingan antara besarnya kredit yang disalurkan dengan besarnya dana yang diterima dari pihak ketiga. LDR BBNI yang meningkat ini merupakan indikator positif, karena mengindikasikan dana yang diterima dari pihak ketiga, terserap dengan baik untuk diputarkan kembali dalam bentuk kredit.

LDR ini juga meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan karena dampak dari BBNI yang belum menaikkan suku bunga kreditnya.

Namun dilihat dari sisi lain, dari keseluruhan rasio perbankan diatas kita bisa mendapatkan bahwa demikian pula, Bank BBNI juga mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan BI dengan terus mengejar Rasio CASA (Dana Murah).

Rasio CASA (Dana Murah) adalah perbandingan antara Dana Murah (Tabungan + Giro) dengan Total Dana Pihak Ketiga (Tabungan + Giro + Deposito).

Rasio CASA (Dana Murah) dari BBNI saat ini diperlihatkan dengan meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK). Dana Pihak Ketiga (DPK) BBNI sendiri meningkat dari Rp480,5 miliar menjadi Rp548,6 miliar.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BBNI dikontribusi dari Tabungan dan Giro, yang membuat Rasio CASA BBNI meningkat dari 60,4% di Kuartal III-2017 saat ini menjadi 61,9% per Kuartal III-2018.

 

Kesimpulan

Setelah kita melihat kinerja BBNI, kita dapat menarik kesimpulan meskipun dengan Net Interest Margin yang tertekan karena BBNI tidak turut menaikkan suku bunga kredit.

Justru BBNI masih mampu menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang positif dan likuiditas yang tetap baik.

 

Selain itu, keputusan BBNI untuk menjaga suku bunga kredit juga berdampak positif dengan meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan, dan Loan to Deposit Rasio (LDR) yang juga meningkat.

Salah satu strategi yang dilakukan BBNI untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan BI adalah menggenjot pendapatan non bunga (fee based income), bahkan BBNI mampu mengelola efisiensi operasional nya dengan baik (rasio BOPO menurun), menjaga kualitas aset yang disalurkan (NPL turun).

Selain menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan efisien,  BBNI mampu meningkatkan rasio CASA-nya hingga saat ini dengan melakukan ekspansi dana murah.

 

Berikan komentar dan pendapat Anda pada kolom di bawah ini, terima kasih!

 

Sumber Referensi

 

Sumber Gambar:

  • Prospek BBNI 01 – https://goo.gl/7gHa2v
  • Prospek BBNI 02 – https://goo.gl/h6B4U4
  • Prospek BBNI 03 – https://goo.gl/5BGHjh
  • Prospek BBNI 04 – https://goo.gl/s6Fpv8
  • Prospek BBNI 05 – https://goo.gl/Nn3ghV
  • Prospek BBNI 06 – https://goo.gl/mV7Y8W

About the Author:

Rivan Kurniawan
Rivan Kurniawan adalah seorang Indonesia Value Investor. Memulai investasi pertamanya sejak tahun 2008 ketika usia 20 tahun, Rivan sempat mengalami kejatuhan di pasar saham pada tahun 2012.Namun, kejatuhan tersebut tidak membuatnya menyerah melainkan berusaha untuk bangkit kembali di pasar modal dengan menerapkan metode Value Investing.Saat ini, Rivan tidak hanya aktif sebagai praktisi di pasar saham, namun juga aktif memberikan jasa training dan konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memperdalam ilmu berinvestasi dengan metode value investing.

Leave A Comment